Chapter 2
Adhira
Begitu masuk stage kami disambut teriakan dan tepukan meriah dari fans. Terus terang rasa gugup yang sempat mengurung kami di belakang stage berubah menjadi semangat yang berapi-api. Kami sangat bahagia. Terharu. Selama perjalanan karier AT ini adalah konser raya terbesar kami. Panggung begitu megah dengan latar pink mendominasi. Manis. Lampu latar siap menyorot atau meremang kapan saja, sesuai kebutuhan lagu. Studio sebuah televisi yang menyiarkan konser kami secara langsung ini penuh sesak. Ada yang duduk—mereka langsung berdiri bersorak dan bertepuk tangan begitu melihat kami masuk—di kursi yang memang sudah dipersiapkan. Ada juga yang berdiri berdesak-desakan di samping panggung hingga berderet tak beraturan ke belakang.
Pokoknya konser ini sangat meriah! Padat oleh fans yang memang sudah lama menanti-nantikan momment ini. Mereka seolah berebutan menggaungkan nama member yang paling mereka favoritkan: namaku! Qiran! Tarika! Vimala! Tidak ada yang mau kalah suara. Semua member unggul di masing-masing hati mereka.
Sepasang host (cewek dan cowok) menyapa kami. Kami bersalaman dan cipika-cipiki. Semacam buat 'pemanasan', mereka mengajak kami berbasa-basi.
"Tunggu. Tunggu. Tunggu," kata host cowok berlagak cool dan sok tampan—walau sebenarnya ia tampan. "Biar kutebak satu persatu nama kalian."
"Bertaruh, pasti kamu meleset. Mereka terlihat mirip begini, kok. Kostum mereka sama semua pula," goda host cewek yang membuat kami tergelak, masuk dalam 'skenario' basa-basi mereka.
"Oke, siapa takut. Aku memang tahu, kok. Aku, kan, salah seorang penggemar mereka. Penggemar rahasia gitu, deh," ujar Host itu terkikik dan percaya diri yang membuat mata kami membola, skeptis. Benarkah?
"Wah, jangan-jangan dia haters kalian, lho, Guys!"
"Oh, tentu tidak, dong," kilah host cowok itu semakin terlihat santai. "Biarkan aku menebak, ya. Nah, yang paling kecil imut-imut ini Adhira."
Aku mengangguk, membenarkan.
"Selanjutnya, member yang tembem sudah pasti Qiran. Si member yang paling heboh. Oh ya, dia ini punya chanel youtube, lho. Namanya ATQiran. Kalian pada subscribe, nggak? Aku, sih, udah ya. Otomatis itu. Sudah kubilang, aku penggemar mereka."
Yang disebut dan dipromosikan namanya lagi-lagi skeptis. Qiran langsung tersenyum penuh merona dan heboh. Sementara sang host merasa 'menang', para penggemar pun kian menyoraki nama Qiran. Rasanya, konser tiga tahun usia AT ini menjadi Qiranable.
Seterusnya tebakan host itu tidak ada yang meleset. Kurasa benar, ia memang penggemar kami. Yeah!
"Oh ya, gimana perasaan kalian? Apakah konser semeriah ini termasuk impian kalian. Dengar-dengar kalian selalu menaruh harapan di setiap lagu kalian." Yang memberi pertanyaan adalah host cewek. Yang aku tahu ia adalah artis pendatang baru. Namanya meledak baru-baru ini. Mantan model. Ia sangat cantik, putih, tinggi, dan malam ini memakai gaun putih panjang yang mengesankan.
Aku yang mewakili teman-teman mengungkapkan dengan jujur. Sejuta rasa haru aku uraikan. Dan ya, tentu saja ini adalah salah satu impian terbesar kami. Bahkan bisa dibilang ini pencapaian terlalu awal dari usia karier kami. Tentu, kami sangat bersyukur untuk semua cinta kasih penggemar. Makanya ini adalah sekaligus konser terima kasih kami kepada mereka.
Dengan aba-aba dari kedua host itu kami langsung berdiri siap menampilkan lagu pertama; Kuncup Harapan.
Di bawah sinar mentari kita berlari mengejar impian
Harapan-harapan menguncup di dalam dada
Apa pun aralnya kita pasti bisa hadapi
Gunung bisa kita daki
Sungai bisa diseberangi
Apa lagi hanya jalanan terjal: lewat! Kita lewati saja, ha!
Lagu tersebut berakhir dengan lirik percayalah bahwa kuncup akan bermekaran, yang ketika kata 'mekar' serentak kami merentangkan tangan ke atas membentuk kelopak bunga merekah sebagai lambang optimis.
Lalu, tanpa jeda kami menyambungnya dengan dua lagu lain: Matahari Bersinar untuk Kita dan Danau yang Tertawa Bersama Burung di Saat Senja.
Ya, karena di dua lagu pertama bernuansa mengentak-entak, Danau yang Tertawa Bersama Burung di Saat Senja sengaja dipilih sebagai lagu ketiga---sebelum break pertama – karena nuansanya cukup slowly. Lagu itu hanya memerlukan gerakan yang simpel dan santai. Hitung-hitung supaya kami tidak terlalu boros tenaga. Konser masih panjang. Masih banyak lagu yang mesti kami bawakan dan ada juga kolaborasi dengan band dan beberapa penyanyi solo.
Ya, aku flashback sedikit tentang lagu itu. Di awal rilis lagu itu cukup menuai perbincangan. Kontroversial. Viral. Berbagai program infotaiment mengincarnya. Kami diwawancarai di sana-sini sampai rasanya bosan dan mau mual.
Memang, ketika proses penggarapan videp klip lagu tersebut kami dan produser mengambil tema dunia dongeng atau fantasi. Latar danau dan tetek bengeknya dibuat sedemikian rupa. Seindah mungkin. Senyata mungkin. Lalu bak cerita tujuh bidadari kami menari dan bermandian di tepian danau itu yang disaksikan berbagai jenis burung dan hewan kecil lainnya. Namun, tanpa kami duga, begitu pembuatan video klip itu rampung dan kami rilis pertama kali sebuah fakta berhasil mengentak kami. Kabar miring langsung menyerang kami. Nama AT waktu itu bergejolak!
Jadi, di saat pengambilan adegan mandi itu, di tengah danau tiba-tiba muncul sesosok makhluk entah apa yang hanya memiliki satu mata. Sosok itu menyeringai dan terlihat cukup jelas. Dari situ mencuat berbagai isu yang oleh kami sampai bingung menanggapinya. Kami hampir kewalahan. Kami hampir kerap mengeluarkan kalimat-kalimat tak bijak di setiap kali menanggapinya. Image AT benar-benar anjlok! Banyak sekali spekulasi dari masyarakat. Yang bijak mengatakan itu hanya kebetulan, antara keberuntungan atau kesialan buat kami, begitu pendapat mereka. Ada juga yang berpendapat itu hanya setingan untuk mendongkrak popularitas dan penjualan lagu itu. Kami dituduh sengaja memasukkan penampakan lalu kemudian berkilah itu di luar skenario. Atau, yang lebih sadis kami dituduh sebagai idol grup penyembah atau pembawa simbol-simbol setan!
Namun, seiring berjalannya waktu kabar itu bisa tertepis. Malah surut sendiri berkat kegigihan kami membuktikan diri. Dan tentunya berkat campur tangan fans juga yang sangat setia mendukung. Karya-karya kami setelahnya berhasil meledak nyaris tanpa cela. Lambat laun, lagu yang masuk ke dalam album kedua itu bisa kami bawakan dengan santai, sesuai isi lagunya, di berbagai acara televisi maupun offair. Ya, seperti halnya pada konser kali ini juga.
Sekitar pukul satu dini hari konser berada di pengujung. Kami menutupnya dengan me-medley lagu Fire, Kekuatan dari Kalian, dan Mekarnya Harapan (Kejayaan: sekuel lagu Kuncup Harapan). Para fan terlihat sangat puas. Kami menerima itu sebagai suatu keberhasilan dan kebahagiaan bersama. Ya, ini sangat berkesan. Namun, sebagai ungkapan rasa terima kasih yang tak terhingga, kami masih punya kejutan untuk mereka.
"Ehem! Sudah siap-siap mau bubar aja, nih? Serius? Padahal kami masih ada kejutan, lho, untuk kalian." Suaraku menggaung dari atas panggung sehingga membuat para fan dengan cepat kembali fokus menoleh ke depan stage sambil berkasak-kusuk. Wah, apa ya? Apa ya?
"Hm, kejutannya kira-kira apa, ya? Ada yang bisa menebak?" Aku berusaha makin memancing rasa penasaran mereka. Dan, di saat begitu Qiran mencolek bahuku dan membisiki sesuatu di telingaku. Aku mengangguk dan ia langsung bergegas keluar dari stage. "Dan inilah kejutan untuk kalian. Let's play!"
Fans bersorak. Mereka langsung ngeh. Ya, kejutannya adalah lagu dari deep web itu!
Kabu pu madamu
Dama pu la wilimu
Ringa pu oi marai nari-nari dei maimu
Batu nari-nari pu rai oi re
Aina sampe satunu
Lampa sambil bayangkan pu oi saroga ma ngenamu
Batu!
Batu!
Batu terus!
Aina hengga mada ra tando mbari
Sedikit mengabaikan kekhusyukan sendiri, aku memperhatikan semuanya. Mereka memejam sambil meletakkan kedua tangan di dada. Semburat semringah menghiasi wajah mereka. Aku melihat mereka sangat menikmatinya. Karenanya, siapa pun penyanyi dan pencipta lagu asing ini aku berutang kata terima kasih. Fans kami bahagia berkat buah karyanya.
Batu!
Batu!
Batu terus!
Aina hengga mada ra tando mbari
Ma hengga si madamu ro tando mbari ma edaku susa nahu
Ma iuku pa'i iu nahu
Ma nangi ora kaiku
Ma kalosa koneku oi mada ra'amu
Ma alamiku tersesat ra terkutuk na mori ra iu nahu ake
Tunggu. Bait itu. Kenapa di saat bait itu mereka gusar? Bait itu membuat mereka menangis. Iya, aku percaya bait itu menyedihkan. Memilukan. Tetapi, haruskah ekspresi kesedihan ditunjukkan dengan sesuatu yang menakutkan? Kenapa mereka sangat kacau? Rusuh! Kenapa mereka menyakiti diri mereka sendiri? Kenapa mereka memukul-mukul dadanya dan membanting kepalanya ke lantai dan kursi? Ini tidak benar. Ini tidak beres. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus menghentikan lagu ini. Mungkin, seperti dugaanku sebelumnya, lagu ini tidak beres. Mempunyai suatu energi. Sugesti. Yah, mungkin lagu ini sesat. Membawa kutukan!
Aku lalu berlari keluar dari stage. Aku akan ke ruang operator. Aku akan menghentikan lagu itu. Aku akan menyuruh mereka menghentikan lagu itu. Aku tidak mau lagu itu terus mendengung! Tapi, arrrgggh! Celaka. Ini kabar buruk. Tidak ada yang bisa aku lakukan di ruang operator. Aku tidak berani mendekat. Ternyata di ruang operator sama kacaunya. Mereka juga tersugesti oleh lagu itu. Mereka juga menyakiti diri mereka. Gusar dan gelisah. Dan, di titik ini aku mulai bingung mau melakukan apa. Kepalaku penuh sesak tak keruan.
Lagu terus mengalun. Liriknya semakin mengiris ulu hati. Meski aku tidak tahu persis artinya, aku bisa merasakan liriknya seperti menyeru. Merintih kesakitan. Memberitahukan tentang dirinya. Memberitahukan keberadaannya. Tetapi ia di mana? Ia siapa?
Pala... ma kantaba poda kai si ba ademu
Horu oci japu nahu
Wa'a kalosa japu nahu ta ake
Cou-cou kombi ke mai horu pu nahu ke...
Mai!
Mai!
Mai!
Hore pu nahu!
Nahu ta ake!
Nahu ta ake!
Nahu ma ngenamu ta ake!!!
Dengan kepala yang rasanya berputar-putar, pusing, aku kembali berlari ke stage. Dan aku semakin bingung. Panik. Shock! Sekian saat aku terpaku. Napasku tercekat. Pengap sekali rasanya. Pemandangan di sekelilingku benar-benar sudah di luar nalar. Begitu kacau. Rusuh. Menyedihkan... sekaligus menyeramkan!
Setelah lagu yang belakangan kuketahui berjudul Nahu Ta Ake itu mencapai akhir, Tarika melengking panjang seperti orang yang kerasukan. Ia begitu gusar dan gelisah. Disusul Vimala. Disusul para fans dan semua orang yang menyaksikan konser (artinya, mungkin juga dialami oleh pemirsa di rumah?). Setelahnya, serentak mereka ambruk. Satu persatu, dalam sekejap kaki dan tangan mereka memanjang, melengkung, menumpu badan mereka yang perlahan gepeng namun tampaknya berat. Praktisnya, mereka seperti laba-laba empat kaki yang baru dilindas mobil. Gepeng tetapi tidak mati. Mereka berjalan kayang dengan kepala oleng, lidah menjulur panjang dan beriler, amis!
Qiran yang baru kembali dari toilet tak kalah shock-nya. Ia memberondong pertanyaan kepadaku lewat tatapan bingungnya. Tak ada waktu untuk menjelaskannya, aku cepat-cepat menarik Qiran kabur saat manusia-manusia yang berubah aneh itu perlahan bergerak mengepung kami.
"Cepat lari, Qiran!"
Kami berlari melewati lorong dan ruang demi ruang studio. Berlari, mendobrak banyak pintu, menguncinya cepat-cepat namun nyatanya sangat lamban karena tangan kami yang gemetaran.
Hingga kami tiba di pintu ketujuh, sebuah kunci lebih memilih jatuh ketimbang mengganjal pintu. Tidak ada waktu untuk kami memungut kunci itu kembali. Makhluk-makhluk itu terus mengejar kami. Mereka kian mendekat. Seringai mereka menyeramkan. Bertumpuk-tumpuk. Suara mereka parau namun sangat memekakkan telinga. Dengan tampang linglung mereka bertanya, "Di mana? Di mana? Di mana...."
Lekat-lekat kami menutup telinga. Dan sial! Kami mendapati jalan buntu. Kami terpojok. Sudah tidak ada pintu keluar!
"Lakukan sesuatu, Ra. Lakukan sesuatu!" Qiran berkata genting. Napasnya memburu. Peluhnya tak terelakkan lagi membahasi seluruh tubuhnya. Demikian pula denganku.
Tapi, tentu saja aku masih bisa melakukan sesuatu. Kami masih bisa menemui jalan keluar. Tembok kaca di samping kananku... masih bisa kupecahkan.
Meski tidak mudah, akhirnya kaca itu pecah. Aku lolosn tapi tidak dengan Qiran. Ia terjatuh dan kakinya langsung ditarik salah satu makluk itu; Tarika! Dengan cekatan dan tenaga yang kian terkuras aku berusaha mempertahankan Qiran. Aku terus memegang erat tangannya dengan kaki menumpu pada besi pembatas fans mengantre saat akan masuk stage.
Aku tahu Qiran sangat kesakitan. Aku tahu posisinya sangat tidak menguntungkan. Betapa tidak? Tangan dan kakinya sama-sama ditarik. Beruntung tangan dan kakinya itu tidak saling lepas. Terpaksa. Aku sudah tidak bisa menemukan cara lain. Otakku buntu. Aku semakin panik!
Sementara kami saling menarik begitu, jelmaan Vimala menyusul di belakang Tarika. Tampang Vimala yang sebelumnya sangat feminim dan teduh dalam sekejap berubah menjadi sosok lain yang sangat menyeramkan. Sumpah, aku sangat prihatin dan sedih. Aku tidak pernah menduga hal buruk bakal menimpa sahabat-sahabatku. Kecantikan mereka benar-benar bias!
Kembali ke lagu yang membawa malapetaka ini. Aku tidak berbohong, lagu itu memang sangat memikat di bagian awal makanya banyak orang yang langsung suka dan penasaran dengan versi lengkapnya. Berjuta-juta rasa bahagia seperti masuk ke dalam jiwa. Hati rasanya begitu tenang dan terang. Namun, masuk bagian reff lagu itu malah mencabik-cabik perasaan. Sakit dan sesaknya luar biasa. Jiwa terasa amat kelam. Lalu, terakhir seruannya sangat memekakkan telinga. Membuat orang-orang yang tak mampu mengendalikan diri bingung, linglung, tersesat!
Kini, di belakang sosok baru Tarika dan Vimala itu berjejeran pula makhluk serupa lainnya (para fan). Mereka berimpitan. Berdesakkan berebut paling cepat menjakau dan 'memangsa' kami. Mereka sangat seram dan menjijikkan karena mereka saling tindih dan bertumpukkan begitu, ada yang semakin gepeng serta kepalanya lepas menggelinding ke arah kami. Seumur hidup baru sekarang aku menyaksikan makhluk seseram dan semenjijikkan begitu!
"Ra, kumohon, lepaskan saja aku. Pergilah. Tinggalkan aku." Qiran berkata lirih dengan tatapan penuh sesal. "Ini ulahku. Aku yang melakukan kesalahan ini. Jadi, biarkan aku mempertanggungjawabkannya. Tolong lepaskan aku, Ra. Pergilah."
Apa Qiran bilang? Mau menyerahkan dirinya? Sumpah, aku terkejut mendengar ucapannya. Aku tak menyangka Qiran yang selama ini kukenal anti pada keputusasaan ingin pasrah dalam keadaan begini? Seperti kataku padanya, tidak, aku tidak akan membiarkan ia menjadi pecundang. Mengorbankan diri adalah cara menebus kesalahan? Tentu saja tidak, Qiran!
Aku menatapnya murka, dan bilang, "Tidak! Tidak akan! Ya, kamu memang harus bertanggung jawab, tapi tidak dengan cara menjadi pecundang. Bertahan dan lawanlah, Qir!"
"Kamu harus selamat. Kita harus selamat. Dan, kita harus bertanggung jawab!" Di titik ini aku juga baru tahu kalau aku punya tekad yang sedemikian kuat. Ternyata aku memang memiliki jiwa pemberani. Pemimpin. Ya, selama berkarier di AT aku memang dipercayakan sebagai kapten. Tetapi, aku sama sekali merasa tidak becus! Selama ini aku merasa teman-teman member yang lain masih jauh lebih tegas dan profesional daripada aku (terutama Qiran dan Tarika). Sekarang, aku telah menyadarinya. Lewat hal segenting ini aku telah mengenal diriku!
Tepat ketika aku mengatakan itu, aku pun melihat perubahan mimik muka Qiran; dari yang menangis pasrah menjadi sangat gusar. Ia menarik napas kencang, menyudahi tumpahan air matanya dengan memejam rapat-rapat matanya untuk kemudian ia berteriak dan menendang telak kepala Tarika. Alhasil, tangan panjang Tarika spontan melepas kakinya. Kepala wujud baru Tarika itu juga hampir terlempar karenanya.
Other Stories
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
The Truth
Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...