Tersesat

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Chapter 8

Suatu malam aku bermimpi didatangi sesosok makhluk yang tinggi besar. Ia menawariku bekerja sama. Ia berjanji akan membantuku keluar dari penjara. Dijanjikan pula aku menjadi musisi terkenal, kaya raya. Karena sungguh-sungguh tergiur aku menerima berikut dengan syarat-syaratnya: aku harus mau menjadi pengikutnya. Aku harus menyembahnya, Mammon!

Untuk kamu tahu, Mammon adalah iblis yang memegang takhta keserakahan, kekayaan, ketidakadilan, termasuk kelicikan. Tapi aku tidak peduli dengan background-nya. Aku setujui saja. Aku menyambutnya. Aku langsung berikrar, menyaksikan diri menjadi pengikutnya. Ya, sejak saat itu aku menjadi pengikut Mammon!

Maka benar saja, aku bebas. Lewat campur tangan Mammon produser itu mencabut tuntutannya. Ia mengaku salah. Ia meminta maaf padaku. Malah pun ia kembali menawarkanku kerja sama. Tapi,  dengan tegas bahkan terkesan angkuh aku menolaknya.

"Cari orang lain saja. Aku bisa membangun karier sendiri."

Maka demikianlah, aku membangun karier serangkak demi rangkak. Berjalan mulus. Lalu pesat menuai sukses. Lagu-laguku selalu sukses di pasaran. Baik pasar nasional lebih-lebih ke pasar internasional (aku malah lebih terkenal di luar negeri). Ya, aku bisa dibilang mendunia.

Aku memang tidak memiliki nama. Sudah kuputuskan selamanya akan begitu. Aku sudah tidak mau pusing dan terpuruk lagi mengenai itu karena kemudian identitasku yang tanpa nama ini aku jadikan sebagai salah satu branding. Semacam hal lain yang ternyata membuatku mudah dikenal, lebih terkenal. Menjadi sesuatu yang unik. Sebelum aku, belum ada orang terkenal yang tak punya nama, bukan?

Aku sangat puas begitu tahu seorang produser musik yang telah 'melecehkan' karyaku dahulu berubah menjadi gembel. Dunia berbalik. Ia merasakan kenistaan yang pernah aku rasakan!

Lima tahun pertama karierku kian cemerlang. Berbagai penghargaan bergengsi berhasil aku raih. Penghargaan nasional. Penghargaan internasional. Berbagai nominasi seolah berdatangan padaku lalu aku dengan mudah menyabetnya, menyingkirkan lawan-lawanku. Nominasi sebagai penyanyi. Nominasi sebagai musisi.

Hidupku benar-benar ditimang kesuksesan. Ditimang kekayaan. Aku mandi dan tidur dengan penghasilan-penghasilanku. Aku begitu mengagumi diriku. Aku mengagumi pencapaianku. Aku mengagumi harta-hartaku yang kian menyebar di mana-nama namun tentu saja akan kujaga dengan sebaik-sebaiknya. Aku tidak mau secuil pun dari yang telah kumiliki ini pergi begitu saja. Aku juga tidak mau membaginya kepada siapa pun, terutama kepada orang-orang yang menistaku di masa lalu. Ya, mungkin sifat Mammon benar-benar sudah merasuk kuat dalam jiwaku. Aku sudah menyatu atau malah mungkin semakin bersaing dengannya.

Aku mencintai hartaku lebih dari apa pun. Di usiaku yang terbilang sudah matang aku bahkan tidak memusingkan akan memiliki pendamping hidup atau tidak. Namun, kurasa itu memang sudah tidak kuperlukan. Aku bisa hidup sendiri. Jika perlu aku cukup memperistri harta-hartaku saja. Hidup bahagia dengan harta-hartaku. Jangankan istri yang jelas-jelas akan berfoya-foya dengan hartaku, memanfaatkan kekayaanku, menggaji pekerja pun tidak aku lakukan. Aku masih bisa mengurus semuanya sendiri (toh tidak perlu aku urus bagaimana-bagaimana juga). Seperti kataku sebelumnya, sedari kecil aku sudah terbiasa hidup sendiri, melarat seorang diri. Sedangkan kini aku sudah di posisi enak, mengapa aku tidak sanggup hidup sendiri?

Oke, aku tak memungkiri pernah berhubungan dengan seorang wanita. Pernah ada seorang wanita cantik jelita yang masuk ke kehidupanku. Aku menjalani hubungan yang baik-baik dengannya selama dua tahun, atau tepat di tiga tahun pertama karierku menanjak. Namun, seperti yang sudah aku duga, wanita itu tidak tulus mencintaiku. Ia hanya ingin hartaku. Ia hanya ingin memanfaatkan namaku untuk mendongkrak popularitasnya. Ya, ia seorang penyanyi juga. Aku berduet dengannya. Sempat pula kubuatkan album untuknya. Namun, setelah merasa sukses ia pergi dengan alasan mau memperlebar sayap di luaran. Ia mau mencari pengalaman dan tantangan yang lebih besar lagi di luar 'jangkauanku'. Tentu aku tidak percaya. Betapa itu alasan yang menggelikan, bukan? Namun, ia tetap aku lepas. Ia pergi dengan nama yang ikut meredup. Kembali merengek padaku? Tidak bisa! Ia tidak kuterima lagi.

Makanya, sejak kejadian itu aku tidak mau percaya lagi pada siapa pun. Aku tidak mau percaya pada seseorang atau sekelompok orang yang melebihi kepercayaanku pada diriku sendiri. Memang iya, sebagai penyanyi dan musisi aku melakukan banyak kerja sama dengan pihak mana saja. Namun, itu sebatas mitra. Tidak lebih. Setelah 'proyek' selesai, sudahlah. Atau, jika memungkinkan untuk tetap lanjut bekerja sama, aku juga masih bisa lanjut, tetapi tetap tidak akan menaikkan level kepercayaanku. Yang penting bagiku mendatangkan uang. Supaya kekayaanku kian menumpuk!

Namun, seharusnya aku juga mesti sadar pada satu hal. Hidup sendiri bergelimpangan harta dengan tak memiliki apa-apa ternyata masih jauh lebih aman saat tidak memiliki apa-apa. Ketika tidak punya apa-apa hanya sedikit yang hendak berbuat jahat padamu---atau mungkin tidak ada sama sekali. Paling dirimu hanya dihina, dimaki. Tapi, kalau bergelimangan harta, kejahatan bisa datang kapan saja, dari mana, dan dari siapa saja. Nyawaku tak jarang terancam. Beberapa mobilku raib. Aku dicegat di jalan, diancam lalu mereka membawa kabur mobilku. Rumahku juga sering kemalingan. Barang-barang istimewaku sering raib. Namun, sekalipun aku takut nyawaku benar-benar hilang, aku lebih mementingkan hartaku. Aku tetap tidak percaya siapa pun untuk menjaga dan mengelolanya. Karena bisa saja, suatu hari, ialah pencuri yang paling bar-bar, seperti yang dilakukan Mammon kini padaku.

Ya, betapa liciknya Mammon itu. Setelah di titik ini rupanya ia sendiri sudah tidak senang kepadaku. Ia iri pada keberhasilanku. Ia ingin ambil bagian. Ia juga ingin namanya turut disebut-sebut atas keberhasilanku. Tentu aku menolaknya. Tentu aku menentangnya. Biarlah kami saling licik. Saling mengingkari janji.

"Persetan dengan perjanjian kita. Aku punya bakat sendiri sejak lahir. Aku mendapatkan semua ini berkat kerja kerasku, sedangkan kamu tidak melakukan apa-apa!"

"Bicara apa kamu? Aku yang mengubah takdirmu. Aku yang membawamu kepada nasib seperti sekarang!"

"Omong kosong! Pergi dari hidupku. Engkau bukan sesuatu yang diperlukan lagi. Aku bisa melakukannya sendiri!"

"Manusia tak tahu diuntung! Cabut ucapanku atau aku akan..."

"Silakan saja. Aku tidak keberatan. Aku punya cara sendiri menjaga harta-hartaku."

Dan, Mammon rupanya benar-benar serius dengan kemarahannya. Ia memegang ucapanku. Ia merasa sangat tertantang.

Pada suatu malam ia menjebakku. Ia menawanku di sebuah ruangan, hingga kini. Aku tidak bisa ke mana-mana. Aku lalu menduga sesuatu yang lebih buruk. Lagu itu... akhirnya lagu itu aku persiapkan untuk menyelamatkan kalau-kalau yang lebih buruk menimpaku (dan sudah terjadi, masih kualami hingga kini). Ya, aku menulis lirik lagu itu pakai tetesan darahku!

Aku menulis lirik lagu itu dengan tiga bagian. Tiga suasana berbeda. Bagian pertama suasananya menyenangkan. Melenakan. Seperti sebuah terapi, orang yang mendengar akan merasa hatinya seringan kapas. Kehilangan beban hidup. Kehangatan bersemayam dalam hatinya. Damai.

Tapi, di bagian tengah aku memasukkan rintihanku. Aku memasukkan kesedihanku. Aku mempertontonkan duka nestapaku.

Namun, sebenarnya, sebelum masuk ke bagian reff aku sudah mengimbau, memberi pantangan agar siapa pun yang mendengarkan laguku untuk tidak membuka mata dan menoleh (selagi dari awal mereka sudah memejamkan mata). Makanya, yang mendengarkan pantanganku atau tidak mengikuti perintah lagunya sejak awal pasti akan selamat. Tapi aku tahu, tidak semua orang bisa melakukannya. Tidak semua orang bisa lepas terhipnotis. Bahkan aku sendiri, ketika merekamnya hampir tak bisa menguasai diri. Aku hampir menyerupai makhluk gepeng berlendir amis!

Di bagian ketiga itu aku menulis seru-seruan. Aku memanggil siapa pun agar bisa menolongku. Aku menjerit minta diselamatkan, dikeluarkan dari penderitaan. Karena Mammon... sudah mulai menghakimiku.

Ia memukulku. Menindihku dengan bobot tubuhnya yang berat, menginjak-injak kepalaku hingga rasanya gepeng dan darah bermuncratan keluar dari mulut dan telingaku. Aku tidak diberi ampunan sesaat pun!

Ia juga merantaiku dengan kepala terbaik. Ia mengulitiku serupa hewan kurban. Hingga aku dipotong-potong. Tetapi entah kenapa aku tidak bisa mati. Ya, hingga kamu membaca ini aku belum mati. Aku masih hidup dengan segala siksaan yang mendera. Setelah semua tubuhku raib (sisa kepala) tubuhku kembali utuh, dan aku disiksa lagi seperti dari awal. Tak selesai-selesai. Entah kapan bisa selesai. Aku harap secepatnya, dan itu ada di tanganmu.

Penderitaanku tidak berkesudahan. Aku terus disiksa, sudah tak terhingga badanku menyisakan kepala, lalu utuh lagi.

Walau begitu aku tidak pernah menyerah. Aku tidak sekalipun memohon iba kepada Mammon. Sebab aku masih tak mengiyakan keinginan Mammon (atau menyetujui perjanjian berikutnya: Mammon mau saja melepaskanku dan membuatku semakin kaya asal namanya turut disebutkan dalam keberhasilanku. Aku harus terlihat terbuka menyembahnya). Aku tetap membantahnya. Aku terus menentangnya dan membiarkan ia menikmati kesengsaraanku, sembari tentu aku menunggu pertolongan dari luar. Dari orang-orang yang mungkin memang dipilihkan. Dan, itu mungkin kamu atau berapa pun jumlah kalian yang tiba di sini.


Other Stories
Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

People Like Us

Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...

Percobaan

percobaan ...

Kukejar Impian Besarku

Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Download Titik & Koma