Chapter 1
Adhira Tarika mengempaskan badannya di sebuah kursi kayu samping cermin besar di ruang latihan. Meski badannya terbilang kurus, kursi itu terdorong keras ke belakang begitu ia duduki dan merenggangkan punggung beserta kakinya.
"Ah, capek!" keluhnya usai latihan dance dan menyanyi yang membabat hampir semua tenaga kami itu.
"Iya, sih. Tapi ini sudah risiko kita. Kita harus tetap menyiapkan dan memberi performa terbaik untuk fans. Dan, tentu saja di hadapan mereka kita tidak boleh terlihat lemah-rapuh-payah begini." Aku menanggapi sambil mengelap keringat di sekujur wajah dengan handuk kecil yang kukalungkan di leher.
Seperti biasa, seperti halnya aku, Tarika langsung menarik manis bibirnya begitu mendengar kata yang dirangkai itu. Ya, kata lemah-rapuh-payah memang cukup membuat kami tergeletik. Bahkan kami kerap menjadikannya semacam bahan pelecut semangat alih-alih tersinggung.
Dari kamar mandi, Qiran, member AT yang paling cerewet di antara kami tampak heboh dengan sebuah kamera di tangannya. Jika diperhatikan dari jarak dekat akan terlihat dua wajah tembem berponi lebat yang berhadapan dan berceloteh tentang apa saja. Ya, selalu begitu. Entah sehabis latihan, sebelum tampil atau sesudahnya, Qiran selalu punya waktu untuk membuat vlog alih-alih mungkin beristirahat. Itulah yang membuat sosoknya tampak unik dibandingkan kami. Dan, kurasa fans AT yang jatuh cinta kepadanya lebih dulu berkesan dari sikapnya yang heboh itu. 'Gesrek', begitulah istilahnya di zaman sekarang.
"Ih, itu anak nggak ada capek-capeknya, ya. Nge-vlog lagi, nge-vlog terus. Aku aja nih, ya, yang ibaratnya cewek tomboy begini punya juga stok tenaga. Lah, dia?" ujar Tarika antara heran dan sensi. Dadanya kembang-kempis. Bukan. Bukan karena ia kesal betulan. Ia masih ngos-ngosan.
Menanggapinya aku hanya tertawa kecil, tidak menambah komentar lagi.
"Hei, Guys, kemari!" Penuh antusias Qiran melambaikan tangannya ke arah kami. Dan, di sudut ruang latihan ia sudah merangkul Vimala, member terkalem dan rada pemalu yang memiliki gigi sangat menawan; bergigi kelinci.
"Kamu bahas apaan lagi sih, Mbem?" tanya Tarika sambil ngaca, antara mengacak atau merapikan model rambut lakinya di kamera vlog itu. Ya, model rambut member bermata sipit itu cepak! Laki abis!
"Ih, Om diam dulu, deh. Dilarang rusuh, ya. Bentar." Qiran terlihat sibuk mencari-cari entah apa di ponselnya.
Ya, kami punya panggilan akrab buat sesama member. Panggilan iseng. Dipakai sesekali tapi rupanya cukup cepat menular ke fans. Maksudku, para penggemar pun mulai senang memanggil kami dengan semacam julukan itu.
Aku Adhira, kapten tim, dipanggil Kapten Mungil karena badanku terbilang kecil dibandingkan member yang lain. Lalu Vimala, ia dipanggil Nona Kelinci lantaran barisan gigi atasnya yang seperti gigi kelinci itu. Dan, dua member lainnya tentu sudah diketahuilah dipanggil apa berikut alasannya.
"Nah, ketemu. Kalian dengarin, ya. Dua hari terakhir aku men-download dan mendengarkan lagu ini. Sumpah, lagunya bagus banget. Aku sukaaa." Qiran langsung menekan tombol on. Intro pun berjalan, mengalun pelan.
"Eh, iya. Kok bagus, ya. Kayak adem gitu syairnya. Duh, santai...." Vimala mulai ambil suara. Ia tampak terhipnotis dengan lagunya. Antusias. "Lah, kok lagunya dimatiin, Mbem? Aku lagi menikmati, oi! Ayo lanjut. Nanggung, tahu!"
"Ih, si Nona Kelinci sudah bisa bawel, ya. Sudah, segitu aja dulu." Qiran mengibaskan sebelah tangan di depan mukanya. Berlagak tak acuh. Songong!
"Eh, tapi seriusan, lagunya memang bagus. Adem. Aku kayak merasa bahagia mendengarnya. Lanjut dong, Mbem!" Aku menambahkan dengan ungkapan jujur sekaligus bertampang bodoh---atau barangkali tampang analisis? Iya, aku berani bersaksi, lagu itu benar-benar asing.
"Pokoknya, ENGGAK! Ini lagu kayaknya belum ada yang tahu. Dan, sebagai 'penemu' aku nggak mau, ya, merilisnya secara utuh langsung di depan kalian. Pokoknya, ini lagu bakal aku jadikan backsound vlog-vlog selanjutnya. Tentu saja bakal aku putar irit-irit. Ya, ini namanya 'strategi marketing', Guys!" Qiran berkata sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia tampak berbinar karena merasa mendapatkan ide cemerlang. Namun, bagi kami itu sangat menyebalkan!
"Ih, apaan, sih! Dasar cewek tembem tukang halu. Oke, terserah kamu bilang itu strategi marketing atau apa pun. Aku tanya, kamu dapatin lagunya dari mana? Sumpah, aku jatuh cinta begini mendengarnya. Jarang-jarang, kan, aku kayak gini. Duh, meleleh...." Dengan enteng Tarika menjatuhkan dirinya ke belakang. Beruntung kami cekatan menumpu badannya yang terbilang pipih dan ringan itu. Namun, aku tak begitu heran pada reaksinya mengingat aku sendiri merasakan hal yang sama. Hanya saja, sebagai kapten, aku tetap menjaga 'wibawa'. Gengsi!
"Deep web," sahut Qiran kemudian, membuat mataku terbelalak.
"Deep web?!"
"Ada apa lagi, sih, Qir? Kamu ganggu saja, deh!" Di tempat tidur aku menceletuk sebal menanggapi keisengan Qiran berkasak-kusuk dan mengetuk pintu kamarku. Betapa tidak? Baru berselang sesaat ia pamit keluar sekarang ia sudah kembali berulah. Kenapa ia tidak membicarakannya sekalian saja tadi? Daripada membuatku harus bangun lagi dan mondar-mandir membuka pintu, kan? Atau, jika itu tak penting-penting amat bisa, kan, dibicarakan esok pagi saja?
Dasar Qiran! Ya, aku tahu ia memang terkenal usil. Ia sangat 'bandel' makanya tak jarang beradu nyolot dengan Tarika. Namun, untuk sekarang aku benar-benar tidak suka dengan ulahnya. Aku sebal. Aku sudah ingin beristirahat. Bahkan tadi, ketika ia datang memohon lagu unduhannya di deep web itu diputar di akhir konser kami yang tinggal seminggu ini agak malas kutanggapi. Aku sangsi. Entah kenapa aku semacam mendapat firasat yang tidak baik dari lagu itu. Pokoknya aku sempat bilang "Big No"! Sebab, pada dasarnya aku memang parno terhadap deep web. Menurutku deep web sangat berbahaya. Aura-aura kontennya banyak yang mengerikan. Negatif. Banyak yang mengundang malapetaka. Aku khawatir lagu itu memberi sugesti yang sama seperti lagu Humburger Lady. Atau lagu Gloomy Sunday (lagu pemicu orang bunuh diri). Atau seperti sebuah lagu, entah berjudul apa, yang menimbulkan adanya semacam ritual mengoyak isi perut oleh suatu komunitas. Bukankah itu terdengar sangat mengerikan?
Namun, pada akhirnya aku harus luluh karena Qiran tampak begitu memohon. Pintar sekali ia dalam mengiba. Ditambah ia menjebak keputusanku dengan pernyataan: "Aku rasanya ini demi kelanjutan nama idol grup kita juga, lho. Kamu masih setuju, kan, dengan ungkapan 'tanpa fans kita ini bukan apa-apa dan siapa-siapa?' Jadi, menurutku tak ada salahnya kita menuruti keinginan mereka kali ini."
Karena demikian, sedikit terpaksa aku pun bilang: "Baiklah. Aku akan coba membicarakannya dengan manajer. Tapi aku tidak janji!"
Qiran, ya, langsung terlonjak kegirangan. Ia berloncatan, memeluk dan mencubit kedua pipiku dengan sangat gemasnya. Lalu ia keluar, ber-na-na-na ria sambil menyumbat kedua lubang telinganya dengan headset.
"Kamu dengar nggak, sih, Qir? Ini sudah jam berapa, coba? Aku mengantuk. Butuh istirahat. Ingat, besok pagi juga kita ada show, oke!"
Aku menutup telingaku dengan bantal. Namun, Qiran sepertinya tidak memperbolehkanku mengabaikannya. Ia tidak menghiraukan keluhanku itu. Ia terus saja mengetuk pintu bahkan lebih lama dan keras lagi. Alhasil, mau tidak mau aku bangun untuk membukakannya pintu. Namun, aku sangat kaget. Setelah pintu kubuka ... aku tidak melihat Qiran! Aku hanya mendengar gelak tawa dari sosok tak berwujud yang sambil berlari kencang dari lorong asrama ini menuju tangga ke lantai bawah. Karena ketakutan aku cepat-cepat mengunci pintu dan meringkuk di balik selimut dengan mata yang enggan terpejam hingga pagi!
Dalam keadaan gagal tidur seharian, jam tujuh pagi kami pergi ke acara musik salah satu stasiun televisi. Kami akan tampil live. Di sana kami juga sekalian mempromosikan konser (promosi konser juga kerap kami lakukan saat tampil offair di berbagai kota atau saat ada event).
Sekarang kami berada di ruang make up.
"Hello, Kapten Mungil. Come on, deh. Itu muka atau pakaian yang enggak disetrika, sih. Kusut amat." Sambil tergelak Qiran menyikut lenganku.
Tarika dan Vimala yang sibuk memasang alis pun ikut tergelak mendengarnya. Mereka menambah-nambahi, menggodaiku, "Kasihan, ya, kapten kita. Qir, setrikain, gih! "
"Ogah!" tepis Qiran, disusul tawa yang lebih meledak lagi.
Aku hanya tersenyum miris. Sebab ini efek dari aku yang tidak tidur semalam. Seharian. Namun, aku tidak mungkin menceritakannya kepada Qiran ataupun ke teman-teman yang lainnya. Aku tidak ingin mengganggu konsentrasi mereka (cukup aku saja). Atau, jika aku menceritakannya, yang paling membuatku sebal kalau-kalau mereka tak percaya dan makin menertawakanku. Ogah!
"Ah masak, sih? Aku masih cantik begini, kok. Noh lihat, aku masih Kapten Mungil bermuka bak princess!" sanggahku menutupi rasa gugup, bersolek-solek centil di depan cermin. Pe-make up yang sibuk menyapu-nyapukan kuas ke wajahku pun tergelak di balik masker yang dikenakannya. "Oh ya, kita tampil berapa menit lagi? Masih lama, tidak?"
Ya, kemudian aku sengaja mengganti topik pembicaraan. Aku tidak mau mereka keasyikkan membahas muka dan mataku yang hampir seperti mata panda ini.
Memanyunkan bibirnya, Qiran menengadah ke jam dinding di atas cermin. "Setengah jam lagi kayaknya."
Tiga puluh menit kemudian kami benar-benar tampil. Jujur, kepalaku sedikit pening. Aku hampir kehilangan semua tenaga usai tampil. Makanya, aku meminta izin kepada manajer untuk tidak berbicara banyak di sesi promosi konser. Maksudku, yang akan mewakili adalah Qiran. Dan Qiran tidak keberatan---atau malah ia senang karena hitung-hitung jadi branding dirinya?
Usai tampil membawakan lagu Matahari Bersinar untuk Kita kami kembali ke belakang stage. Seperti biasa, Qiran langsung beraksi dengan kamera vlog-nya. Entah ia membahas apa lagi kali ini aku tidak ingin tahu. Namun yang pasti heboh adalah pemandangan mutlaknya.
Sembari menanti penampilan berikutnya, aku menepi dari yang lainnya. Aku pergi mencari udara segar di sebuah ruangan dengan jendela yang terbuka.
Namun, baru mengerling ke arah taman aku tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah insiden. Qiran! Qiran diculik oleh dua orang tak dikenal. Mereka membawa Qiran menggunakan sepeda motor. Aku panik. Sangat panik. Tanpa berusaha berteriak mencari pertolongan aku cepat-cepat berlari keluar dan mengejar penculik itu.
Namun, celakanya, jalanan yang aku lewati rupanya sangat lengang dan menuju sebuah jalan yang curam. Di sepanjang jalan aku hanya melihat motor penculik itu yang terus melaju kencang dan diriku yang tertatih-tatih mengejar.
Lalu aku merasa kepanasan. Terik sekali. Matahari seperti berada persis di hadapanku.
Sadar dengan keadaan yang tidak menguntungkan, aku baru berteriak minta tolong. Dalam cemas dan panik aku mencari dan menunggu siapa atau apa pun. Tapi, di sini benar-benar tidak ada orang atau satu kendaraan pun yang lewat. Aku menyesal mengambil langkah segenting begini seorang diri!
Sementara Qiran terus melambai dan berteriak minta tolong, aku sudah kelelahan. Peluhku membasahi semua tubuhku yang saat ini berpakaian kotak-kotak lengan pendek dan rok di atas lutut; pakaian show.
Saat aku berjongkok karena lelah, tiba-tiba terdengar bunyi yang memekakkan telinga. Motor penculik itu menabrak trotoar. Telak! Keras! Bunyi debamnya membuat dadaku ikut tersentak. Dan, aku rasanya berhenti bernapas ketika melihat Qiran terpental, disusul sebuah ambulans yang melaju kencang melindas kepalanya hingga pecah!
"Qiran!" Aku menjerit tertahan. Terpaku. Lututku lemas, lantas ikut jatuh terkulai!
Perlahan aku menggerakkan jariku. Kulitku pun sudah mulai bisa merasakan kerasnya sesuatu yang menumpu badanku. Kepalaku masih pusing. Napasku masih megap-megap. Aku masih sangat kelelahan.
Lalu, kurasakan tangan lembut menepuk pelan pipiku.
"Ra! Ra! Bangun, Ra!" Samar-samar aku mendengar suara lembut Vimala. Perlahan-lahan aku membuka mata.
Begitu melihat jelas Vimala dan Tarika yang memangku dan duduk di samping aku langsung histeris. Aku menjerit gusar dan berkali-kali berucap,"Maafkan aku! Maafkan aku! Aku tidak bisa menolongnya!"
"Tenang, Ra. Kendalikan dirimu. Kamu kenapa, sih?"
DEG!
Aku berhenti bergerak brutal; tersentak kaget. Aku kenapa? Vimala bertanya aku kenapa? Apa ini artinya...
"Qiran! Di mana Qiran???" tanyaku panik dan memaksakan diri bangun.
"Qiran... Qiran... dia...," ujar Vimala sedih dan terbata. Di saat yang bersamaan aku juga melihat Tarika tertunduk sedih. Apa itu artinya...
Ah, tidak! Aku menjerit lagi. Aku berteriak histeris lagi. Sejadi-jadinya. Rasanya aku tidak sanggup menerima kenyataan. "Kumohon, kalian jangan bilang kalau Qiran..."
"Ya, Ra. Kita menerima kabar buruk. Qiran... mama Qiran mengalami kecelakaan. Mamanya meninggal dan kini Qiran menyusul jenazah mamanya ke rumah sakit. Mungkin kita harus susul juga. Tapi kamu kenapa, sih?" terang Tarika sehingga membuatku tak mampu berkata-kata lagi.
Senin pagi kami mengantar peristirahatan terakhir mama Qiran. Meski terlihat cukup tegar, aku tahu Qiran sangat merasa kehilangan mamanya. Aku cukup tahu kedekatan hubungan emosional keduanya. Seperti juga mamaku dan mama rekan member lainnya, mama Qiran sangat setia mengantar dan menunggui Qiran di setiap latihan ataupun show. Mamanya sangat mendukung karier Qiran di AT ini. Dan, salah satu motivasi terbesar Qiran masuk AT adalah mamanya. Mamanya yang ingin melihat ia maju, sukses dan dicintai banyak orang. Sekarang cita-cita itu mungkin perlahan tercapai. Namun, mamanya harus pergi lebih awal dari yang ia duga. Sungguh, aku turut bersedih yang mendalam.
Kami memeluknya di atas pusara mamanya itu. Aku tahu, saat ditimpa musibah seperti ini keberadaan orang terdekat adalah sesuatu yang dibutuhkan. Sesuatu yang bisa menghangatkan dan membesarkan jiwa itu kembali.
"Yang sabar, ya, Qir. Kamu mesti tegar. Kamu tidak sendirian, kok. Kamu masih memiliki kami. Percayalah, hubungan kita tidak sebatas sister di idol grup ini saja, oke," ujarku yang dibalas anggukan setuju Tarika dan Vimala.
Qiran bangkit berdiri. Ia mengangguk lesu. Ia mengangkat wajahnya. Tapi, ketika ia lirih berucap 'terima kasih', aku tersentak. Wajahnya... aku melihat wajah orang lain saat ia mengatakan kalimat itu. Wajah seorang lelaki yang entah siapa!
Dua hari pasca meninggalnya mama Qiran kami melakukan aktivitas sebagaimana biasanya. Di sela-sela menghadiri acara televisi kami masih rutin latihan untuk pemantapan konser nanti. Dari sini aku melihat usaha luar biasa diberikan Qiran. Meski ia sedikit lebih muda dibandingkan aku (usianya terpaut dua tahun dari usiaku yang sudah dua puluh satu), ia sangat profesional dan masih memperlihatkan diri sebagaimana Qiran sebelumnya.
"Biar bagaimanapun AT adalah cita-cita Mama juga. Jadi, apa pun yang terjadi aku harus tetap semangat di sini. Dan, aku sangat beruntung memiliki kalian."
Ya, dari kemalangan menimpanya ia justru memberikan semangat yang luar biasa kepada kami. Kami jadi bertambah termotivasi memberikan hal terbaik untuk fans. Makanya aku pikir akan lebih baik jika berhenti mengubangkan diri dengan hal-hal tabu yang kulihat kemarin-kemarin. Akan aku abaikan. Anggap saja aku tidak pernah mengalami ataupun melihatnya.
Other Stories
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Pintu Dunia Lain
Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...