Tersesat

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Chapter 3

Qiran

Dengan segudang rasa sesal aku berdiri mematung di samping dinding kaca lantai tiga apartemen---melihat ke bawah. Melihat makhluk-makhluk yang entah harus kusebut apa itu memadati kota, mengacaukan kota, mempengaruhi kejiwaan orang-orang lewat pertanyaan gusar dan gelisah mereka, "Di mana? Di mana? Di mana?"

Sepertinya, hanya kata itu yang bisa mereka ucapkan. Sepertinya, takdir mereka sekarang hanya untuk mencari suatu tempat yang entah berada di mana itu. Karenanya, jiwa orang-orang yang menerima pertanyaan itu terombang-ambing lalu perlahan menjadi seperti mereka. Sepertinya, mereka juga ingin menemukan diri mereka yang lama. Namun, kedua pintu itu, jika bisa disebut pintu, tak kunjung mereka temukan. Mereka bagai orang yang tersesat!

Bayangkan, melihat situasi yang kacau begini, bila kau menjadi aku, bagaimana perasaanmu? Sedih, frustrasi, menyesal, dan boleh jadi akan menghakimi diri sendiri, bukan?

Ya, karena ulahku kerusuhan ini harus terjadi. Karena obsesiku orang-orang yang aku cintai, banggakan, dan hargai dalam hidupku harus mengalami dampak buruknya. Aku menginginkan popularitsku terdongkrak tetapi ternyata harus mengorbankan orang lain. Tentu... aku menyesal. Aku sangat menyesal!

Tak kumungkiri, aku memang suka hal-hal baru. Aku suka mencari apa pun yang sekiranya bisa menarik perhatian orang agar mereka turut mencintaiku. Makanya tebersitlah sebuah ide untuk mengakses deep web. Aku men-challenge diriku dengan mengakses sembarang situs itu lalu tanpa sengaja aku menemukan lagu Aku di Sini.

Karena lagunya terdengar bagus dan menyenangkan, makanya aku pamerkan kepada teman-temanku saat mengambil video vlog usai latihan itu. Dan, tentu saja vlog itu aku upload ke akun youtube. Aku yang sudah mengantongi tiga juta subcribers mudah saja menyebarkan potongan lagu itu lewat unggahan vlog. Bahkan vlog-ku itu sempat menjadi trending topic selama tiga hari dengan viewers yang hampir mencapai angka sepuluh juta!

Dari situ aku mendapat banjiran pertanyaan penasaran dari mereka. Mulai dari fans sampai barangkali orang-orang yang sebelumnya tidak mengenalku ataupun AT. Mereka menanyakan judul lagunya, lirik lagunya, aku mendapatkan lagunya dari mana. Karena, katanya, mereka tak kunjung mendapatkan kata kunci yang tepat dari lagu itu di search enging mana pun yang mereka ketahui.

Namun, karena aku sangat usil, reaksi mereka itu membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Membuatku, oke, sepertinya seru bila mereka terus penasaran. Akhirnya, ketika sudah tiga vlog aku memakai potongan lagu itu sebagai backsound, mereka terus menyerbuku dengan komentar: Qiran, tolong putarkan lagu itu di akhir konser AT nanti, dong. Ya, nyaris tidak ada lagi komentar lain. Tidak hanya di vlog kedua dan ketiga, di vlog pertama yang semula ber-backsound lagu itu pun kembali diserang dengan komentar request yang sama.

Karena itu bagian dari targetku (aku ingin dianggap sebagai member paling berpengaruh di idol grup ini) aku lantas bertekad menyetujui permintaan mereka. Tentu saja aku membujuk Adhira, si kapten. Seandainya aku yang kapten, aku bisa langsung meminta persetujuan sendiri ke manajer. Ya, inilah watakku yang sesungguhnya yang tidak diketahui oleh siapa pun. Aku membungkusnya dengan sikap sok hebohku dan sesuatu yang menurut orang lain 'aku menyukai hal-hal baru'.

"Tidak apa-apa, Qir. Mungkin kamu harus menyesal, tetapi tidak perlu meminta maaf kepadaku. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah memperbaiki ini semua." Hanya itu komentar Adhira ketika aku menceritakan tentang diriku yang bisa dibilang iri padanya ini. Pantas saja manajer mengangkatnya sebagai kapten. Ia selalu paling bijak dalam berkata-kata, dewasa, dan cenderung menimbang sesuatu sebelum akhirnya memutuskannya.

Kepadanya pula aku sudah menceritakan pengalaman-pengalaman ganjil usai 'mempromosikan' lagu itu. Hal-hal yang ia alami sebenarnya aku alami juga. Bahkan aku lebih sering lagi. Aku sering dihantui hal-hal ganjil yang sama sekali tidak menyenangkan di setiap kali aku mau tidur. Seperti, ketukan pintu tengah malam, raungan minta tolong, suara pukulan, cambukkan, tendangan, dan suara rantai yang diseret-seret.

Ya, satu hari sebelum konser itu aku mendengar suara rantai yang diseret-seret di emperan rumahku. Suaranya terdengar mondar-mandir. Mengundang tanda tanya. Membuatku penasaran.

Jika aku menyimpulkan itu sebagai anjing yang kabur dirantai tuannya, tentu tidak mungkin. Di sekitar tempat tinggalku tidak ada yang memelihara anjing. Tidak ada yang menyukai anjing. Dan, semisal anjing itu datang dari jauh, ia masuk lewat mana? Pintu pagar sudah aku kunci sejak pukul enam malam. Lalu aku tidak keluar lagi. Dan tidak ada pula orang yang datang masuk. Mama sudah meninggal beberapa hari sebelumnya. Papa ada urusan di luar kota. Jika sudah begitu aku akan sendirian di rumah. Sebab, aku anak tunggal dalam keluarga kecil kami yang semakin sepi setelah ditinggal Mama ini.

Malam itu, karena penasaran, aku memutuskan mengintip. Dengan perasaan was-was, pelan-pelan aku menarik gorden. Deg! Aku menyesal melakukannya. Aku menyesal menyibak gorden itu. Saat itu kudapati sebuah kepala tanpa badan yang dikail rantai memekik mengagetkan!

Kejadian sama persis yang kami alami adalah ketika kami diculik itu. Jika Adhira pernah melihatku diculik oleh dua orang tak dikenal, di hari yang berbeda atau sehari sebelum Mama meninggal, di mimpiku Adhira-lah yang diculik. Lalu aku berusaha menolong. Mengejar penculik itu di sebuah jalan yang lengang. Lalu berakhir kepala Adhira yang terlindas ambulans. Sama persis!

Alhasil, sejak aku menceritakan itu Adhira menjadi sangat protektif terhadap mamanya. Ia selalu menanyakan kabar mamanya. Ia selalu memastikan mamanya baik-baik saja. Adhira bahkan sampai melarang mamanya agar tak sering keluar rumah atau tidak keluar sama sekali.

Menurut orang kebanyakan pasti itu sangat berlebihan. Aku tahu mamanya kurang nyaman. Tapi aku juga tahu kalau mamanya sangat memahami kekhawatiran Adhira. Sebab, itu bukan tanpa alasan. Sebab di luar juga sudah tidak aman. Makhluk-makhluk itu sudah berkeliaran, mendominasi sudut-sudut kota. Ya, kota kami sedang sakit!

Pertanyaannya, apa yang membuatku begitu rapat menyimpan ataupun mengabaikan hal-hal ganjil itu? Ya tentu saja karena aku masih mencintai karierku. Tentu saja karena aku tidak mau ditinggal kecewa oleh fans-ku. Namun, tentu pula aku tidak pernah menduga kalau akhirnya akan seperti ini. Aku menyesal!

"Kita tahu, kan, apa yang mesti dilakukan," ujar Adhira, mengentak semua pikiran di kepalaku.

Aku memandang wajahnya lekat. "Tentu."

Ya, tentu kami sudah tahu harus melakukan apa. Lagu itu datang dari sebuah sumber, dan sumber itulah yang mesti kami telusuri kembali. Kami harus mencari tahu siapa penyanyi atau pengarang lagu itu. Kami harus mencari tahu bagaimana sosoknya. Kami harus mencari tahu alasan diciptakannya lagu yang penuh sugesti itu!


Other Stories
Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Pintu Dunia Lain

Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...

Turut Berduka Cinta

Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...

Tes

tes ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Mendua

Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...

Download Titik & Koma