Tersesat

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Chapter 5

Qiran

Setelah dihadapkan dengan situasi dan menyelesaikan masalah ini satu persatu terkuak sisi lemah ataupun buruk yang ada dalam diriku. Tentang aku yang ternyata lemah. Aku yang tidak begitu percaya diri, kurang optimis, tidak begitu teguh dalam pendirian. Dan tentang aku yang mudah disulut amarah. Selama ini aku hampir tidak pernah terlihat begitu; marah. Selama ini aku cenderung bersikap manis kepada siapa saja. Entah tulus entah nggak, orang lain mungkin tidak dapat membedakannya, termasuk aku sendiri.

Sekarang inilah aku yang sebenarnya; terlihat tidak menyenangkan. Aku sudah sering merutuki hal-hal di sekitar yang menurutku menyebalkan dan menyulitkan. Seperti, aku sangat mengutuk si penulis lagu itu. Aku sangat muak pada ulahnya. Karenanya aku terjebak. Karenanya aku menghadapi masalah besar begini.

Namun, dari sini juga aku pelan-pelan sadar bahwa mungkin ini takdirku untuk menjadi manusia yang lebih baik. Ini cara agar aku mengenal diriku untuk aku langsung perbaiki jika itu suatu sikap yang buruk. Aku harus lebih tulus tanpa kamuflase apa pun. Mungkin ini awalnya aku akan menjadi manusia yang bukan hanya berkepentingan untuk diri sendiri. Supaya aku tidak terlalu egois. Ya, mungkin ini cara agar aku menjadi sosok idol yang sesungguhnya.

Aku masih beruntung Adhira ada menyertaiku. Sosok teman yang tepat dalam menghadapi masalah begini. Aku tidak berani membayangkan jika masalah ini harus aku hadapi sendiri. Betapa ini terlalu runyam bagiku. Dan, aku rasa aku tidak akan pernah kepikiran menemukan jalan keluar yang tepat andai Adhira tak ada atau ia menjadi salah satu dari bentuk lain seperti kebanyakan yang menimpa orang-orang yang telah mendukung kami itu. Bisa jadi saat sekarang aku sudah menyerah. Aku sudah pasrah untuk menjadi seperti Tarika dan Vimala. Seperti yang pernah aku ucapkan pada Adhira di saat kakiku diseret wujud baru Tarika waktu itu. Aku benar-benar menyesal telah mengatakannya dan semoga pernyataan itu tidak pernah terulang!

Hari ini, aku dan Adhira akan pergi ke rumah musisi itu, sesuai petunjuk darinya. Saat ini aku memang belum tahu caranya. Namun, aku berharap kami tiba dengan selamat sampai sana.

Aku membuka pintu kamar. Aku akan mencari tempat keluar yang tepat tanpa mengorbankan siapa pun lagi.

Menurut pertimbangan konyolku, andai semua orang mau mendengarkanku, keinginan untuk 'kabur' ini bisa saja berjalan mulus. Maksudku, asal sebagian orang atau semua orang yang ada di sini mau dijadikan umpan bisa saja aku dan Adhira lebih cepat mencapai tujuan---atau dua jam seperti perkiraan normal. Toh pada akhirnya nanti semua orang akan normal---jika musisi itu tidak membohongi kami.

Namun, jangankan untuk mendengar penjelasan konyolku itu, baru melihat wajahku saja orang-orang yang tak ingin bernasib sial sudah langsung memandangku sinis. Mereka menghujat, merasa menyesal mengidolakan kami. Menurut mereka, sudah benar dugaan banyak orang dulu bahwa kami ini idol grup penyembah setan. Makanya, bahkan ada yang hendak menghakimiku (beruntung masih ada yang mencegat walau tatapan ia sendiri masih sinis kepadaku).

"Saya minta maaf. Saya berjanji akan menyelesaikan masalah ini. Saya berjanji akan membuat keadaannya menjadi lebih baik." Aku mengatakan itu tanpa berani memandang siapa pun.

Dan, seperti dugaanku, mereka tentu tidak seringan itu menerima permintaan maafku apa lagi janjiku yang dianggap omong kosong itu. Aku semakin dimaki, dilempari dengan benda apa pun. Saat begitu Adhira langsung datang menolongku. Ia merangkulku masuk kembali ke kamar.

"Belum sekarang, Qir. Tidak sekarang kita bisa meyakinkan mereka."

"Aku ingin keluar dari masalah ini secepatnya, Ra. Aku tidak tahan lagi melihat mereka menderita. Aku tidak tahan lagi melihat wajah-wajah ketakutan dari orang-orang. Aku ingin semuanya segera normal!"

"Aku tahu. Aku juga menginginkan hal itu."

"Sekarang bagaimana? Bagaimana cara kita keluar? Melewati manusia-manusia yang tampak normal saja kita belum sanggup, apa lagi makhkuk-makhluk menyeramkan yang kian banyak itu."

"Pasti ada cara. Hanya saja saat ini kita belum menemukannya."

Aku mengumpat. Aku kesal. Aku benar-benar sudah muak. "Tidak bisakah makhluk-makhluk biadab itu tidur?! Bisakah mereka tidak berkerumuman seperti lalat di sini?! Aku benci situasi ini! Aku benci!!!"

"Sabar, Qir. Kita pasti bisa melewatinya."

"Tapi aku sudah tidak tahan lagi. Aku sudah tidak tahan memandang mereka di luaran sana yang menderita. Aku tidak tahan menyesali dosa ini. Kamu mengerti, kan, Ra?!"

Sementara aku sudah menangis histeris dan makin frustrasi, Adhira tidak menanggapiku lagi. Ia berpandangan ke arah tumpukan makhluk yang terlihat lebih kecil dari sini. Wajahnya tampak merah padam. Napasnya kulihat sedikit pengap. Ya, Adhira sedang emosi padaku!

"Sekarang ikut aku," katanya tanpa memandang ke arahku. Ia berjalan cepat dan lekas membuka pintu kamar. "Aku akan menyetir. Kamu, pikirkan cara menghalau mereka, menyelamatkan dirimu. Kita harus selamat sampai rumah itu---hanya aku atau kamu. Kita akan pergi sekarang juga!"

Kami keluar. Dan kami tidak peduli lagi pada orang-orang yang memandang kami sinis ataupun melempari dengan botol atau apa pun. Adhira merangkulku. Melindungiku.

Hingga kami tiba di sebuah jendela lantai bawah, orang-orang tetap meneriaki kami.

"Idol sesat!"

"Penyembah setan!"

"Terkutuk!"

"Mati saja kalian!"

"Enyahlah ke neraka!"

"Hidup kekal bersama junjungan kalian di sana!"

Sejauh itu kami masih abai. Kami masih bisa menahan diri, menebalkan kuping. Sabar. Tapi, begitu mereka berteriak mau pergi, ya; dasar pecundang, tak punya sisi tanggung jawab, mataku langsung nyalang. Aku lantas menyambar dengan berapi-api, "Dengarlah wahai manusia-manusia tanpa dosa. Jangan pernah sekali lagi mengatakan kami pecundang. Jangan lagi mengatakan kami tak punya sisi tanggung jawab. Jangan pernah berpikir kami akan mengorbankan diri kepada mereka. Justru kami pergi untuk menyelamatkan kalian. Tapi sudahlah, kalian tidak akan mengerti!"

Dengan nada bicara yang lebih ringan, Adhira menambahkan, "Walau sulit, beri kami kepercayaan sekali ini. Kami akan memperbaiki keadaan ini. Kami akan menebus kesalahan kami. Biarkan kami pergi dan tetaplah kalian berlindung."

Hening. Aku tidak tahu segejolak apa hati mereka mendengar ocehan kami itu. Dan, tanpa mengulur waktu lagi Adhira menarik tanganku. Kami meloncat dari jendela dan berlari cepat-cepat menuju mobil.

Dan ya, aku tidak menduga orang-orang dalam apartemen justru keluar dan mencegat makhluk-makhluk itu menjangkau kami. Sebisanya mereka menahan kaki-tangan makhluk-makhluk gepeng itu. Alhasil, perhatian makhluk-makhluk itu teralihkan atau bisa jadi mereka merasa kerepotan.

Sementara kami sudah berhasil masuk mobil dan mengemudikannya, menghindar dan melindas makhluk berkepala oleng itu, satu-dua orang di antara yang normal menjerit sambil berusaha menutup rapat telinga mereka. Kami kembali melihat pemandangan yang kacau. Kami tidak bisa menolong. Kami harus terus melaju. Karena pertolongan sesungguhnya ada di depan. Kami akan menemuinya. Akan kami jemput.

Kemudian, di saat kami sudah berada cukup jauh dan lengang dari makhluk-makhluk itu, Adhira hampir membanting stir ketika sesosok dari mereka menjatuhkan diri ke atap mobil lalu menuju kaca depan. Sosok itu masih bisa kami kenali; Vimala!

"Jatuhkan, Ra. Lindas. Dia bukan teman kita. Teman-teman kita belum menemukan dirinya," cetusku genting, iba tak iba melihat jelmaan Vimala yang memprihatinkan sekaligus menyeramkan di depan mata kami itu.

"Tapi, raganya masih milik Vimala, Qir. Apa kita tidak akan menyakitinya?"

"Aku tidak tahu. Tapi ingatlah tujuan kita. Kita harus selamat. Kita harus menyelamatkan semuanya, termasuk Tarika dan Vimala."

Adhira tidak berkomentar lagi. Ia langsung menarik kencang gas dan menabrakkan mobil ke sebuah pohon. Sosok baru Vimala yang terapit lantas mengeluarkan darah dari mulutnya, memuntahkannya di kaca mobil.

Adhira memundurkan mobil. Beruntung, meski bagian depan sudah retak mobilnya masih berfungsi. Dengan lesat kami pun meninggalkan tubuh baru Vimala yang jatuh mendebam tanah begitu mobil dimundurkan.


Other Stories
Dream Analyst

Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...

Romance Reloaded

Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Konselor

Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...

Download Titik & Koma