Chapter 7
Sejak kecil aku sudah hidup dengan caraku. Aku tidak memiliki siapa-siapa sehingga setelah dewasa aku berpikir untuk tidak memerlukan siapa-siapa pula.
Biasanya, jika ada anak tentu ada orang tua. Baik manusia maupun binatang-binatang. Mustahil ada anak yang keluar dari sebuah lubang di tanah, sekalipun itu lubang yang dibuat 'khusus'. Mustahil ada anak yang keluar dari benda mati. Atau mustahil ada anak manusia yang dilahirkan pohon ataupun tumbuh-tumbuhan lainnya.
Karena memang sudah kepastian adanya anak tentulah berawal dari adanya orang tua. Baik dari pasangan yang sudah sah menikah maupun tidak.
Namun, aku perhatikan, seumur hidup, aku tidak memiliki mereka. Aku tidak mengenal mereka. Aku tidak pernah melihat orang tua menyertaiku. Siapa mereka, aku sama sekali tidak tahu. Bahkan, aku juga tidak tahu namaku. Rasanya aku memang tidak memiliki nama. Tidak ada yang memberiku nama. Ya, tidak ada orang yang mau memanggil pakai nama!
Suatu kali aku mengikuti seorang anak seusiaku yang pulang ke rumahnya sehabis petang. Ia pulang dari bermain. Itu sewaktu aku berusia sepuluh tahun. Karena mendapatkan respons yang baik akhirnya aku bertanya kepadanya, "Apakah kamu punya orang tua?"
Ia menoleh sinis, seolah berkata: pertanyaan macam apa itu? Dasar aneh!
Namun, karena ia semacam merasa bangga, ia tetap memberi jawaban sehingga membuatku ingin bertanya lagi.
"Ya," katanya, "tentu aku punya orang tua."
"Kamu mengenal mereka?"
"Ya tentu saja aku kenal. Aku tinggal bersama mereka. Setiap hari aku melihat mereka. Setiap pagi mereka membangunkan, mengantarku pergi sekolah lalu menjemputku saat pulang. Ya, aku diberi perhatian dan kasih sayang oleh mereka." Meskipun wajahnya semakin terlihat tidak menyenangkan dan tidak suka padaku, anak itu tetap menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan serius.
"Kamu tahu nama mereka?"
"Sudah pasti, walau aku masih agak kesulitan menyebut nama mereka. Kamu tahu, orang dewasa menganggap aksen kita aneh, lucu, dan menggemaskan." Ia tergelak sendiri. Aku juga tergelak. Ikut-ikutan saja walau sebenarnya aku tidak mengerti maksudnya.
"Pertanyaan terakhir," kataku. "Kamu punya nama? Kamu tahu siapa namamu?"
Anak itu berhenti. Ia berkata dengan suara yang lebih keras, kasar. Mungkin kesabarannya sudah habis. "Dasar aneh! Jelas aku punya nama. Namaku Cheta. Jelas aku tahu namaku. Ayah ibuku memanggilku pakai nama itu. Mereka memberiku nama itu sejak aku lahir!"
Aku tertegun dan berkata dengan lemas, "Tapi aku tidak tahu. Mungkin aku tidak punya nama. Aku tidak tahu siapa namaku. Tidak ada yang memanggilku pakai nama. Aku tidak punya orang tua yang bisa memanggilku setiap hari."
Tadinya, aku berpikir anak itu akan iba padaku. Anak itu malah tertawa mengejek. Terbahak-bahak. Dasar aneh, katanya padaku, orang gila!
Sebagai anak kecil, ia tentu belum paham. Sama dengan aku waktu itu. Mungkin aku dianggapnya tukang khayal dan pembual. Tapi percayalah, aku mengatakan dengan sejujur-jujurnya.
Sejak saat itu, anak itu menceritakan pada teman-temannya soal aku yang tak punya nama dan tak ada yang memanggilku pakai nama ini. Jadi, setiap bertemu mereka aku selalu diejek, diusili, ditertawai, dan mereka kompak tak mau bermain bersamaku. Aku hanya diarak-arak seperti orang gila. Padahal aku tidak gila!
"Kami tidak suka bermain denganmu. Kamu tidak punya nama, bagaimana kalau kami ingin memanggilmu? Dasar aneh! Anak gila!"
"Panggil saja sesuka kalian," kataku.
"Tidak sudi. Kamu lebih baik memang tidak punya nama. Nama apa pun sepertinya terlalu bagus buatmu. Tidak cocok." Sementara mereka tertawa puas aku hanya bisa menunduk, sedih.
Oleh orang tua mereka aku juga diperlakukan tak jauh berbeda. Mereka, para orang tua sengaja menyuruh anak-anak mereka agar tak bermain bersamaku. Aku aneh, kata mereka. Nanti bisa-bisa menularkan keanehan pada anak-anak mereka. Aku tidak jelas anak siapa. Tidak jelas datang dari mana. Jangan-jangan aku anak iblis, begitu tuduhan mereka. Betapa itu jahat!
Dari saat itu aku selalu berpindah-pindah tempat hidup. Tinggal di hutan, mendatangi satu kampung ke kampung lain. Mencari kampung atau orang yang bisa menerimaku. Mencari orang yang mau kujadikan orang tua (kebalik, ya. Seharusnya ada orang yang mau menjadikanku anak). Tetapi, di kampung mana pun aku tidak pernah menemukannya. Mereka sama saja. Mereka menilai aku aneh kemudian menjauhiku (aneh, karena aku selalu mengaku tak punya nama dan tak dilahirkan oleh orang tua). Mereka mengusirku karena takut aku mendatangkan malapetaka. Hah, yang benar saja!
"Pergi kamu, Anak iblis! Tinggallah ke tempat asalmu!"
Bukan serta merta menuruti perkataan mereka, sampai aku tumbuh remaja aku tetap berpindah-pindah tempat hidup. Menumpang tidur di mana saja. Makan apa saja yang aku temui di jalanan asal bisa mengenyangkan. Di berbagai tempat itu aku mempelajari lebih banyak hal-hal dari setiap yang aku lihat dan dengar. Dari hal kecil sampai hal-hal besar menurut pikiran dan pengetahuanku.
Beberapa kali aku menyelinap ke sekolah-sekolah. Aku mengamati anak-anak yang belajar. Aku diam-diam mempelajari apa yang mereka pelajari.
Angka-angka, huruf-huruf, semuanya aku pelajari. Sampai akhirnya aku bisa terbata menghitung, terbata membaca, lalu pada akhirnya lancar berkat kegigihanku. Aku kemudian akrab dengan huruf-huruf. Aku suka main corat-coret di mana saja. Menulis apa saja. Menulis nama setiap orang yang kutemui dan tanyai namanya. Ya, siapa tahu, di antara nama mereka ada namaku. Tapi kenyataannya memang tidak pernah ada.
Menyelinap ke sekolah-sekolah awal-awalnya aku ketakutan. Sebab aku sering ketahuan. Aku pernah ketahuan gara-gara ada seorang anak yang duduk di dekat jendela mendengar suara corat-coretku di tembok. Iya, aku menyalin tulisan di papan dengan mencorat-coret tembok kelas itu pakai batu. Sebab, aku tidak paham harus menulisnya di mana dan pakai apa. Aku tidak memiliki alat tulis apa pun.
Karena anak itu menyeru lantas guru melihatku. Ia memanggilku dengan pandangan mata yang menakutkan. Aku, ya, langsung kabur dan mulai keesokan harinya tidak pernah lagi datang ke sekolah atau kampung itu.
Di sekolah yang lain aku menyalin tulisan di tanah. Beberapa kali aku berhasil mempelajarinya kembali di saat semua orang sudah pulang (dan aku juga mempelajari tulisan yang tertinggal di papan. Biasanya itu pelajaran terakhir di hari itu). Namun, pernah dua kali tulisanku raib karena dicakar-cakar ayam yang mencari makanan di situ. Waktu itu aku mengejar ayam-ayam itu. Lalu orang-orang melihatku, mengejarku karena dituduh sebagai pencuri ayam. Lagi-lagi, sejak saat itu aku tidak mau datang ke tempat yang sama. Aku mendatangi lagi tempat lain. Ke sekolah yang lain. Aku menulis lagi di tanah.
Di sekolah ini aku ketahuan gara-gara ada anak yang membuang ludahnya. Mungkin karena semula ia tidak melihatku, ia membuang ludahnya persis kena mukaku. Aku sama sekali tidak marah. Aku justru memberi senyum kepada anak itu.
Namun, melihat reaksi yang biasa-biasa saja atau malah terkesan ramah padanya, anak itu malah menertawaiku.
"Ada orang gila!" serunya sambil tertawa girang.
Alhasil, aksinya itu mengundang perhatian anak-anak yang lainnya. Teman-temannya lalu berebutan melihatku. Disusul guru mereka yang bisa kupastikan tidak sempat menangkap wajahku (sebab aku langsung kabur begitu melihatnya clingak-clinguk mencari tahu sumber tawa anak-anak).
Begitulah perjalananku dalam mengenyam pendidikan yang tidak pernah secara resmi itu. Berliku, cukup seru, dan menantang!
Lalu, bagaimana ceritanya sehingga aku berkecimpung di bidang seni sehingga menjadi penyanyi sekaligus musisi terkenal?
Ya, aku punya bakat yang cukup baik di bidang tarik suara. Aku menyanyi di mana saja. Aku bisa dibilang penyanyi jalanan waktu itu. Musisi jalanan.
Aku belajar alat musik secara otodidak. Aku membuat alat musik tiruan dari barang-barang bekas yang barangkali tak pernah orang lain pikirkan.
Aku mengamen ke jalanan. Mengumpulkan uang untuk membeli alat musik sungguhan. Sebuah gitar kecil dan bekas, itu alat musik pertama yang bisa kubeli.
Sampai aku berusia dua puluhan tahun aku mulai berani pergi ke kota. Aku mencari lebih banyak hal di sana. Mencari lebih banyak uang. Sekalipun aku hanya pengamen, penampilanku sudah terlihat lebih baik, jauh dari kesan aneh.
Ya, sebenarnya aku tidaklah aneh. Aku tidak gila seperti yang orang tuduhkan. Aku normal. Sedari kecil aku normal. Orang-orang menganggapku aneh karena sewaktu kecil aku terlalu bingung memahami hal-hal yang belum aku ketahui. Siapa yang tidak bingung, bagai tersesat sendirian, nama sendiri dan orang tua saja tidak tahu, tidak punya!
Aku mulai menulis-nulis lagu. Lagu pertamaku berjudul Nista. Sering aku bawakan karena rata-rata orang menyukainya. Aku promosikan kepada orang-orang yang sudi mendengar dan membayarku seala kadarnya.
Sampai akhirnya aku bertemu seorang produser. Aku diajaknya bekerja sama. Awal-awalnya hubungan kerja sama kami baik-baik saja. Semua berjalan sesuai harapan. Aku dapat keuntungan, ia dapat keuntungan. Tapi, karena di awal aku mengaku tak punya nama dan tak perlu harus dicarikan nama, produser itu malah mengambil kesempatan, mengambil lebih banyak keuntungan dariku. Setelah karya-karyaku booming, tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu karya-karyaku diatasnamakan pada dirinya. Akhirnya aku tidak diperhitungkan secara hak dan materi. Aku dibayar seperlunya. Jelas aku tidak terima. Aku menuntut hak ciptaku. Tetapi, karena semula aku memang sudah lemah (tak bernama) mudah saja bagi produser itu menuntutku balik. Aku diperkarakan, mendekam dalam penjara selama sekian tahun dengan perkara perbuatan tidak menyenangkan dan diskriminasi. Dunia begitu terbalik. Mestinya ia yang dihukum. Ia melakukan hal-hal itu padaku. Sungguh, sampai kapan pun kedudukan dan uang memanglah memihak segalanya.
Namun, di penjara aku tetap berkarya. Aku tetap menulis banyak lagu. Rekan-rekan setahan menyukainya. Aku menjadi penghibur bagi mereka dan lambat laun aku yang tak punya nama ini terkenal di situ.
"Bagaimana ceritanya kamu bisa tidak punya nama? Seharusnya kamu punya nama. Nama yang besar. Dengan kemampuanmu ini namamu bisa menggaung di mana saja," kata mereka tertawa, tapi juga terdengar serius.
Aku menanggapi dengan santai, sama sekali tidak merasa tersinggung. Sudah biasa. "Aku tidak tahu. Mungkin karena aku tidak punya orang tua."
"Tidak punya orang tua? Oh, hujan kali orang tuamu. Kamu dilahirkan oleh hujan. Hahaha."
"Dilahirkan hujan? Oh, bisa jadi. Atau jangan-jangan aku dilahirkan bersama hujan. Jadi, hujan adalah saudara kembarku."
"Orang tuaku adalah hujan, dan dia saudara kembarku."
"Aku bersaudara kembar dengan orang tuaku."
"Atau, aku punya saudara kembar, dan namanya Orang Tua."
"Pokoknya terserah kalian, deh."
Begitulah. Malam itu kami hanyut dalam canda tawa. Menghibur diri sampai pada akhirnya mendapat teguran dari sipir yang garang, yang berkumis lebat.
Dan, dari perbincangan konyol itu pula bermunculanlah hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku pikirkan. Aku jadi membayangkan, bagaimana seandainya aku tidak pernah ada di dunia. Aku tidak pernah dilahirkan. Misalkan aku hanya menjadi jadi sebuah roh, tidak ditiupkan kepada jasad mana pun. Sepertinya aku akan lebih berbahagia. Diam saja di sebuah tempat tanpa mungkin memikirkan apa-apa atau menerima macam-macam perlakuan buruk seperti yang selama ini aku alami. Ah, andai saja.
Lagi pula, untuk apa, sih, aku berada di dunia ini? Orang tua nggak punya – anggap saja nggak punya karena aku benar-benar tidak tahu siapa mereka. Nama nggak punya. Siapa pun, aku tak memilikinya. Aku baru punya teman ngobrol setelah mendekam dalam penjara. Itu pun sebenarnya aku tak begitu nyaman. Aku sedikit berpura-pura. Sebab aku sudah terbiasa sendiri.
Other Stories
Hati Diatas Melati ( 17+ )
Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...