Bab 2 - Keempat Rumah Itu
Jakarta adalah kota dengan banyak wajah. Di balik gedung pencakar langit dan restoran bintang lima, tersembunyi jalan-jalan sempit yang sunyi, kompleks perumahan mewah yang tak disebutkan di peta, dan kehidupan-kehidupan rahasia yang dirancang dengan cermat. Reza tahu itu. Ia hidup di dalamnya.
Empat rumah. Empat zona waktu emosional. Empat wanita yang tak pernah saling tahu, tapi semuanya merasa mereka satu-satunya.
Di Cipete, ada Nadya. Rumahnya bernuansa monokrom, dengan desain interior ala Skandinavia dan aroma lilin kayu manis yang menyambut setiap kedatangan Reza. Nadya adalah wanita yang menyukai dominasi dan kendali. Tapi dalam pelukan Reza, ia melepaskan semuanya. Mereka selalu minum anggur merah setelah bercinta, membahas filsafat atau teori hukum. Nadya menginginkan cinta, tapi diam-diam tahu bahwa ia hanya bagian dari puzzle gelap Reza.
Senopati menyimpan Tari, si mahasiswi pascasarjana jurusan sosiologi yang masih labil secara emosional namun menawan. Rumahnya penuh buku, catatan kecil, dan aroma dupa. Tari jatuh cinta pada Reza seperti gadis SMA jatuh cinta pada guru favoritnya. Ia menulis puisi untuk Reza. Mengirim voice note tengah malam. Dan mulai berharap lebih. Lebih dari yang bisa Reza berikan.
Di Rawamangun, rumah Sheila lebih terasa seperti rumah sungguhan. Ia seorang ibu tunggal dengan satu anak yang tinggal bersama neneknya. Rumahnya hangat, penuh foto, dan selalu ada masakan rumahan. Sheila tidak terlalu banyak menuntut. Ia hanya ingin sesekali disentuh, diajak tertawa, dan diberi perhatian. Ia tahu Reza tidak bisa hadir penuh, tapi tetap membuka pintunya setiap kali ia mendengar suara mobil di depan pagar.
Dan di PIK, ada Riri—si selebgram. Rumahnya seperti galeri konten. Dinding berwarna pastel, ring light di setiap sudut, dan lemari penuh pakaian endorsement. Riri tidak jatuh cinta, ia jatuh nyaman. Reza memberinya keamanan. Uang. Gaya hidup. Dan perhatian sesekali yang membuat followers-nya iri. Tapi di balik layar ponsel, Riri kesepian. Dan Reza, baginya, adalah filter penghalus luka.
Setiap rumah punya jadwal. Senin dan Rabu untuk Nadya. Kamis malam untuk Sheila. Jumat malam untuk Tari. Dan Sabtu atau Minggu untuk Riri, tergantung kondisi. Sisanya, untuk rumah utamanya—bersama Vania dan anak-anak mereka.
"Kamu tuh seperti penulis skrip sinetron," kata adik Reza suatu malam, sambil menyeruput kopi. "Empat episode, satu season, satu bintang utama."
Reza hanya tertawa. Ia tak merasa bersalah. Semua berjalan rapi. Semua bahagia. Atau setidaknya, terlihat bahagia.
Tapi benih masalah sudah mulai tumbuh. Nadya mulai meminta lebih. Tari makin posesif. Sheila mulai merasa sepi lagi. Dan Riri… mulai mengupload foto dengan pria lain. Reza merasa kendalinya mulai goyah. Tapi ia masih menepis itu.
"Aku arsitek hidupku sendiri," katanya suatu malam pada dirinya sendiri, di balkon rumah Nadya.
Namun bahkan arsitek terbaik pun bisa gagal kalau fondasinya retak. Dan Reza tak sadar, ia sedang membangun istana kebohongan di atas tanah yang bergetar.
Other Stories
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Kutukan Yang Kupanggil Cinta
Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...