Tidak ada kata menyerah. Bahkan, semakin kuat saja. Mafia-mafia ini bak militer yang selalu siap tempur. Dan pastinya bagai pasilan10 ang hidupnya bergantungan pada orang lain. Sikap serakahnya pun tidak tanggung-tanggung. Mafia Tagus dari Barat ini ingin semua negara yang telah jaya menjadi miliknya. Berbagai cara akan ia lakukan untuk mendapatkan yang ia inginkan walau dengan cara hina sekalipun.
Orang-orang dari Tagus ini bak komunis saja. Ia akan menjadikan negara orang lain milik bersama dan nantinya dia yang akan berkuasa. Seperti sekarang ini. Mereka berhasil mencuri hati Yang Mulia Sultan dari Negeri Indera—yang tadinya pun berseteru, dengan begitu mereka punya sekutu untuk melawan Kutaradja. Dalam kurung waktu yang cukup lama juga bagi orang-orang Sultan Athmar Alamsyah berseteru dengan para Mafia Tagus, tetapi tetap saja orang-orang di Kutaradja tidak mau mengalah. Para pemuda yang rela mati demi negaranya tidak akan rela mengalah begitu saja, walau sudah beberapa kali penyerangan selalu kalah melawan para mafia dari Tagus itu.
Hasil bumi dari kutaradja selalu hilang begitu saja. Saat para pekerja ingin mengeksporkannya ke negara lain, selalu digagalkan. Kerajaan Indera pun begitu. Padahal dulu sempat saling membantu, tetapi entah kenapa tiba-tiba saja meradang kembali kemarahannya.
Kini semua senjata milik Mafia Tagus dibawa ke Negara Indera, dengan alasan untuk menjaga-jaga kalau nantinya diserang oleh para Kutaradja. Ada banyak senjata dengan berbagai macam bentuknya. Ada pistol, senapan, bahkan sampai meriam dibawanya dari Tagus negara itu sendiri berada jauh dari Kutaradja dan juga Negeri Indera. Ada di sebelah yang berbeda. Namun, minatnya untuk menguasai Kerajaan Indera, dan bahkan Kutaradja sangat besar.
“Bos, itu Yang Mulia menyuruh kita untuk menghadapnya.” Seorang laki-laki gemuk berwajah putih menyampaikan pesan dari Diraja Kerajaan Indera.
“Oke. Sekarang kita pergi menuju istana Indera,” ucapnya. “Barangnya bagaimana? Ada kau bawa?” lanjut bos mafia tersebut. Ternyata bukan hanya senjata saja yang dibawa dari Barat, melainkan benda yang berharga pun ikut dibawa.
“Ada, Bos.”
“Bagus. Yasudah, siapkan mobil. Aku mau jumpai Pak Tua itu di istananya.”
Kutaradja, 1 Agustus 2018
Kabar yang mengatakan bahwa; para Mafia Tagus sudah siap untuk berperang sudah sampai di Kutaradja. Ada kerisauan mendalam di hati sebagian warga. Namun, banyak yang tetap tegar dan yakin akan Perang Fii Sabilillah mereka yang nantinya akan membuahkan hasil bahagia. Padahal Sultan Athmar Alamsyah yang memimpin warganya tidak ingin lagi berurusan dengan mafia tersebut. Tetapi mau dikata apa, para Tagus akan terus menyerang selagi belum mendapatkan apa yang diinginkannya. Bak penjajah, mereka tidak membiarkan musuhnya senang sedikit pun.
Sultan Athmar yang kini berada di rumahnya, mencari cara agar bisa melawan mafia tidak beradab tersebut. Namun, dia merasa risau hati juga. Senjata mereka cukup canggih. Beda dari yang dulu. Sedangkan Athmar hanya menggunakan senapan yang seadanya dan juga parang serta rencong11 yang mampu diandalkan.
“Bagaimana ini Sultan?” Ahmad memecahkan kesunyian.
“Persiapkan hati dan tenaga kalian. Dan dengan Bismillah kita bisa mengatasinya.” Hanya itu yang bisa dikatakan oleh seorang Athmar.
“Baiklah. Lebih baik sekarang untuk berjaga-jaga kita lihat senjata yang bisa kita gunakan nantinya.” Ahmad mengajak kawan-kawannya yang ada di halaman rumah Athmar.
Sebagian sudah meninggalkan Athmar yang duduk di bawah pohon jambu. Hanya tinggal Ahmad dan juga dua orang lainnya.
“Sultan Athmar, ini yang kau pesan waktu itu,” seorang laki-laki tua memberikannya sebuah benda. Seperti benda pusaka yang sangat berharga. Bentuknya kecil, tapi terbuat dari emas asli. Warna kuning emasnya menyilaukan mata.
“Terima kasih, Teungku12.”
“Itu apa Athmar?” Ahmad penasaran dengan benda tersebut.
“Ah, ini ... bukan apa-apa sih, hanya benda biasa saja.”
“Seperti ‘Gunongan’13 ukuran mini, ya?”
“Iya, dan kamu tidak boleh minta, karena cuma ada satu. Ya, kan Teungku.”
Ahmad hanya bisa ikut tersenyum melihat kawannya tahu kalau dia pun ingin memiliki benda kecil itu.
***
Setiba di istana Kerajaan Indera. Para laki-laki dengan setelan jas hitam menghadap Yang Mulia Sultan Murtaza Syah, yang dikawal oleh beberapa orang pengawal kerajaan. Sebelum sampai ke singgasana, ketua dari rombongan Tagus melihat seorang gadis nan ayu sedang duduk di taman kerajaan. Seorang gadis yang menjadi incarannya untuk dijadikan istri.
Mata elangnya memandang dari ujung kaki hingga ujung kepala Kamaliah. Kamaliah yang sadar diperhatikan merasa tidak senang. Saat itu, dia hanya seorang diri di taman. Lela dan Mila pergi melihat asrama yang sudah siap di Bukit Kincir. Sedangkan Irham sedang menemani Ayahanda. Karena tidak suka dilihat seperti itu, sang Putri Raja ini pun masuk menuju mahligainya. Laki-laki yang memandanginya ketawa sinis melihat sikap Kamaliah yang enggan dipandang.
"Tuan, silakan masuk. Yang Mulia sudah menunggu di dalam.” Irham yang berada di depan pintu utama mempersilahkan mereka untuk masuk istana.
Dengan sangat hormat salah seorang pemimpin dari Mafia Tagus memberi salam pada Baginda Yang Mulia Sultan. "Yang Mulia Sultan Murtaza Syah, kami datang ke sini untuk memenuhi permintaan Yang Mulia untuk menghadap Yang Mulia Sultan."
"Terima kasih Tuan, Tuan, sudah mau datang ke istanaku," kata Diraja Murtaza.
"Kalau hamba boleh tahu, ada gerangan apa hamba diundang ke istana nan megah ini wahai Yang Mulia?"
"Aku mendengar, Tuan telah membawa bermacam senjata api ke Negeri Indera. Apakah itu benar?"
"Oh, ya. Kami membawanya dari Barat. Seperti Yang Mulia Sultan ketahui, musuh kita para Kutaradja pasti akan menyerang kembali. Bisa jadi dalam waktu dekat ini," ungkap laki-laki dengan rambut cepaknya.
"Maaf Tuan, apa kita harus berperang kembali dengan Kutaradja?" Irham bertanya yang sebelumnya meminta izin pada Diraja Murtaza.
"Mereka pantas mati! Apalagi si Sultan Athmar Alamsyah itu." Irham mencoba bertanya lagi. Namun, Diraja Murtaza melarangnya.
"Wahai Yang Mulia Sultan Murtaza, bukankah mereka—para Kutaradja—pantas mati? Mereka sangat merugikan kita. Kutaradja sekarang sudah berjaya. Namanya sudah dikenal di seluruh penjuru dunia. Terus kita apa? Kita tidak ada apa-apanya, Yang Mulia."
Pemimpin Tagus itu pun membuat Yang Mulia Sultan terpancing dengan omongannya.
"Semua senjata perang itu akan saya berikan untuk Kerajaan Indera. Semoga Yang Mulia mau menerimanya," lanjut laki-laki itu.
Rakyat Tagus dari Barat, musuh bebuyutan Kutaradja, belum puas meski sering menang dari pasukan parang. Kini mereka berniat membunuh Athmar dan menguasai Kutaradja, memanfaatkan situasi di Negeri Indera.
Tiga jam kemudian, para mafia tiba di Bukit Kincir. Dari puncak tower, pemimpin mereka, Alfonso, mengamati sekelompok orang di tanah lapang dan sebuah asrama putih-hijau yang menarik perhatiannya.