3. Awal Yang Baik
Semua urusan yang dilakukan Kamaliah berjalan lancar selama sebulan belakangan ini. Tidak ada rintangan yang berlebih. Hanya saja Kamaliah ingin asramanya selesai sebelum akhir tahun karena di tahun akan datang, ia ingin benar-benar menjadi guru bagi anak didiknya nantinya.
Di mahligainya Kamaliah mengingat kembali saat mereka di Bukit Kincir. Seorang pemuda—yang tidak asing—terlihat jelas sedang memperhatikannya. Rasa kaget sempat ia rasakan. Entah kenapa, seperti tidak menyangka dia bisa dipertemukan kembali dengan pemuda tersebut, tetapi ada rasa tidak yakin kalau itu pemuda yang dimaksudnya. Ada keinginan untuk menegur, tapi diurungkan. Namun, bukan Kamaliah namanya kalau tidak bisa apa yang dia inginkan. Gadis yang paling senang dipanggil Alia ini akan mencari cara agar bisa keinginannya terpenuhi, dan saat itu Lela pun harus menjadi korban atas keinginan sang Putri.
“Lela, engkau nak bantu saya?” pertanyaan itu terlintas jelas dalam lamunan Kamaliah saat ini.
“Pastinya, Tungku. Apa yang tak buat Tungku sorang.” Lela gadis imut ini lucu juga kalau diperhatikan.
“Engkau lihat tak, laki-laki yang berada di sana?” Kamaliah memberi isyarat dengan mata binarnya. “Jangan ketara melihatnya, Lela,” Kamaliah mengingatkan.
“Kenapa, Tungku? Suka, ya, ya, ya ...,” Lela ini benar-benar ingin ditinju oleh Kamaliah.
“Engkau nak tolong atau tak nak?!” suara Kamaliah sedikit meninggi. Terkadang gadis yang juga manis ini kalau sedang dongkol sedikit menakutkan.
“Janganlah, panas hati macam tu, Tung—“
“Panggil Alia saja boleh tak?” potong Kamaliah yang semakin geram.
“Yelah, yelah, nak bantukan apa ini?” Lela mulai serius.
“Cuba tanya pada pemuda itu, tahu tak sungai ada di selah mana?”
“Oh, itu saya tahu. Ada di sebelah Timur sana, tidak jauh. Hanya sekitar sepuluh menit saja dengan jalan kaki,” kata Lela dengan polosnya diringi dengan tunjukan tangan menghadap Timur.
“Engkau tak nak, kan, bantu saya?” ungkap Kamaliah.
“Nak, Tung ... eh, Alia. Nak sangat, tapi kenapa pula harus tanyakan pada pemuda itu? Bukankah saya juga tahu.”
“Ada apa ini?” Mila tiba-tiba saja hadir.
“Untung ada kau Mila. Tak sanggup saya lama-lama bersama dara satu ni,” jilbab yang tiup angin kini telah dicepitkan bros.
“Ada apa, Lela? Kenapa kau buat dara cantik ni, berang seperti ini Lela?” tanya Mila lagi.
“Dara ini, sepertinya suka pada bujang tu, lah.” Lela dan Mila terkadang tak segan lagi untuk bercanda gurau dengan Sang Putri. Mereka sudah menjadi dayang-dayang Kamaliah semenjak kecil. Lebih tepatnya kawan, bukan sekadar dayang-dayang.
“Ooo, macam tu,” Mila malah ikut-ikutan Lela.
“Kalian nak tak bantu saya?” rasanya Kamaliah ingin sendiri menghampiri Athmar daripada menyuruh mereka berdua, yang ada hanya membuat dirinya berang.
“Bantu apa?” Mila sedikit bisa diandalkan ketimbang Lela.
“Tapi jangan bagi tahu Bang Irham,” katanya sembari melihat ke arah rumah yang dituju Irham beberapa jam tadi.
“Tuan Irham masih lama di sana.” Mila tahu kalau Kamaliah tidak ingin Irham datang lebih cepat sebelum keinginannya terpenuhi. “Nak bantukan apa?”
“Saya tak suka dia melihat saya seperti itu. Bak menerkam mangsa saja,” alasan Kamaliah. “Saya mahu kau Mila menghampiri bujang tu, terus tanyakan—“
“Sungai ada di sebelah mana?” Lela memotong ucapan Kamaliah dan langsung lari menjauh agar tidak kenak tinju.
“Ish, LELA!” teriak Kamaliah terdengar sampai ke telinga Athmar. Dan Mila hanya menahan tawa.
Kejadian itu terkadang membuat Kamaliah ingin ketawa juga. Keinginan Kamaliah untuk menegur Athmar gagal. Setelah teriakan dari Kamaliah, Irham hadir membawa seberkas map berwarna hijau tua. Dan mereka pun meninggalkan Bukit Kincir begitu saja. Namun, saat di dalam mobil Kamaliah melihat pemuda itu tersenyum padanya. Melamunkan itu membuat Putri Kerajaan Indera ini tidak sadar dengan kehadiran Mila dan Lela di hadapannya.
“Aku tahu, pasti lagi melamunkan bujang di Bukit Kincir yang tersenyum manis padanya saat itu,” kali ini Lela tidak bisa menghindar. Kamaliah dengan gerak cepat memiting batang leher Lela. Mila yang melihat hanya ketawa saja.
***
“Bos tadi ada bagi tahu, Abang. Katanya, pengambilan gambar sekitar satu bulan lagi.” Irham yang baru saja ikut gabung di taman mahligai Sang Putri, langsung memberi tahu tentang kerjaan yang masih harus dilakukan Kamaliah.
“Dan masalah asrama itu, sudah mulai dikerjakan. Ia seolah-olah butuh masa dua atau tiga bulan ke depan,” lanjutnya.
“Baik, Bang. O, ya, lakukan promosi untuk merekrut budak-budak yang nak belajar bela diri tu, lebih baik dari sekarang sahaja. Jadi, nanti langsung diajari jurus-jurusnya tanpa harus mikir untuk merekutnya lagi.”
“Betul sangat Tuanku Putri Shazana Syafara Kamaliah,” ucap Irham dengan nada candanya.
“Apa perlu kita libatkan para pengawal untuk memasang poster atau membahagikan selembaran?” Mila yang sedari tadi berada di balik tanaman itu mengejutkan Irham dengan pertanyaannya.
“Hei, Cik Mila. Sejak kapan berada di situ?”
“Tiga jam yang lalu saya sudah berada di sini bersama Tungku Alia,” jawaban dari Mila mengingatkan Irham akan janji yang tertunda. “Sejak Tuan Irham tak respon akan kemahuan saya,” lanjutan jawaban Mila membuat laki-laki dengan bulu tipis di dagunya tidak enak hati.
“Ooo ... maafkanlah diri ini wahai Cik Mila,” senyuman Irham ternyata manis juga.
Luluh sudah hati Mila. Dia hanya bisa diam dengan kembali pura-pura sibuk dengan rangkaian bunga di genggamannya. Senyuman dari seorang Raiq Irham Hasanudin adalah kelemahan bagi Mila. Kamaliah saja terkadang pun jadi salah tingkah kalau melihat senyuman Irham, tetapi tidak lagi untuk saat ini. Senyuman mautnya Irham telah dikalahkan oleh Sultan Athmar Alamsyah bagi Kamaliah, tetapi tetap menghanyutkan bagi seorang Mila.
Kamaliah yang melihat sikap Mila dan Irham sedikit curiga, “Tidak usah Mila. Saya tidak ingin merepotkan orang lain lagi.”
***
Kurang lebih tiga bulan berlalu begitu saja. Syuting drama laga pun telah usai dengan rating memuaskan pula. Nama Kayla Aulia Aisy menjadi bahan omongan para remaja yang suka drama tersebut. Nama aslinya Shazana Syafara Kamaliah pun sering disebut-sebut. Followersnya semakin bertambah banyak. Benar-benar sukses sudah Sang Putri Raja ini.
Tidak hanya aktingnya yang menjadi sukses dan memuaskan. Kini impiannya telah terwujud, dan itu lebih membahagiakan dari sekadar followers yang semakin berjibun. Laga yang nyata kini akan ia lakukan. Semua proses yang terjadi selama tiga bulan belakangan ini memang menjadi awal yang baik. Tidak sia-sia dia berusaha meraih mimpinya. Kalau dilihat-lihat memang lucu juga. Seorang Putri Raja yang anggun dan ayu itu, malah menyukai silat ketimbang duduk manis di mahligainya. Tidak hanya itu saja, tujuan dari impian itu sebenarnya ingin anak-anak kecil tersebut mampu menjaga dirinya sendiri. Terlebih bagi para gadis kecil yang kerap menjadi bahan kekerasan.
"Kita banyak mendapatkan murid, Tungku," ungkap Lela diiringi senyumnya.
"Ada berapa?" tanya Kamaliah. Ia melihat selembaran kertas putih bertinta hitam, "itu apa?"
"Ah, ya. Ini nama-nama peserta yang hendak belajar bela diri, Tungku," terang Lela sembari memberikan selembaran tersebut.
Berkat bantuan Irham, Mila, dan juga Lela, akhirnya promosi untuk merekrut peserta didik bela diri ini membuahkan hasil yang memuaskan. Poster-poster yang ditempel di semua sudut kota dan juga Bukit Kincir menjadi bahan perhatian orang banyak. Apalagi untuk bergabung dalam asrama bela diri itu, tanpa ada pemungutan biaya sedikit pun.
Sebenarnya tidak hanya karena gratis saja, melainkan guru yang akan mengajari jurus-jurus bela diri itu adalah seorang artis terkenal saat ini. Siapa coba, yang tidak ingin diajari oleh seorang artis terkenal? Cantik lagi. Sempurna sudah.
"Mila mana, Lela?" Kamaliah tidak melihat Mila sedari pagi tadi, dan ini sudah hampir senja.
"Mila sedang bersama Tuan Irham," Lela memainkan gelang karet dengan cara berputar-putar di pergelangannya.
"Ke mana mereka? Kenapa cuma bedua saja?" Kamaliah berdiri dari sofa menuju luar mahligai.
"Entah, tadi Mila minta izin katanya ada perlu dengan Tuan Irham." Kamaliah mengingat perkataan Mila saat di taman mahligainya kepada Irham tempo hari.
"Tungku, maaf cakap ini." Lela walau polosnya kebangetan terkadang kalau serius dia akan menjadi lebih baik, "saya melihat bujang di Bukit Kincir yang waktu itu ... tidak jauh dari istana." Kamaliah terkejut mendengar ucapan Lela.
"Sepertinya bujang itu ada hubungannya dengan Mafia Tagus,” lanjutnya.
Kamaliah hanya diam saja. Jadi benar, pemuda tersebut adalah yang pernah ia tolong. Ada hubungan apa sebenarnya antara pemuda itu, dengan Mafia Tagus? Kenapa dia berada di sekitaran istana? Apa ada hubungannya juga dengan Yang Mulia? Dan kenapa saat syuting di dermaga para mafia itu memperhatikannya. Ada yang tidak beres, batin Sang Putri.
"Tungku ...." Lela mengagetkan Sang Putri.
"Ya. Hmm, saya nak menghadap Ayahanda," keinginan itu terucap begitu saja.
"Izinkan saya mendampingi Tuanku Putri." Permintaan Lela disetujui oleh anggukan pelan dari Kamaliah, dan mereka berdua pun berjalan menuju singgasana Yang Mulia Sultan Murtaza.
"Wahai Anandaku, ada apa gerangan kau menghampiri Ayahandamu ini? Rindu sangat kah, Ananda pada Ayahanda?" Sang Ibunda yang berada di samping Yang Mulia pun tersenyum melihat anaknya.
"Rindu sangat lah Ayahanda. Pada Ibunda tercinta pun Ananda rindu sangat." Pelukan kedua perempuan beda usia yang cukup jauh itu membuat Yang Mulia bangkit dari singgasananya dan ikut memeluk kedua perempuan yang sangat dicintainya.
"Pastilah, ada masalah, kan Permaisuriku." Tepat sekali ucapan Yang Mulia Kerajaan Indera ini.
"Tak lah, Ayahanda. Hanya Ananda hendak bertanya saja. Bolehkah, Ananda menanyakan sesuatu pada Ayahanda?"
"Hendak bertanya apa Anandaku? Tanyakan saja, jangan sungkan."
"Maaf, beribu-ribu maaf wahai Ayahanda. Ananda hanya ingin tahu akan Mafia Tagus.” Lela yang sedang menunggu di luar sedikit mendengar suara Sang Putri yang sayup-sayup itu.
"Ada hubungan apakah Ayahanda dengan mereka Mafia Tagus? Bukankah mereka tidak baik untuk dijadikan teman, wahai Ayahanda," lanjutnya.
"Tidaklah usah Ananda pikirkan tentang orang-orang Tagus itu," Yang Mulia Sultan Murtaza kembali duduk di singgasananya. "Ananda pikirkan saja tentang niat baik Ananda, perihal asrama silat tersebut. Ayahanda telah tahu pasal itu dari Irham."
"Tapi ... hmm, Ananda tanyakan ini bukan tidak ada hal. Mereka pernah memantau Ananda saat di tempat pengambilan gambar sekitar empat bulan lalu, Ayahanda," ungkap gadis yang sangat disayangi oleh Baginda Yang Mulia.
"Tidaklah usah takut! Mereka tidak akan mengganggumu. Bahkan yang ada, mereka akan menjagamu dari orang-orang jahat."
"Ananda tak nak dikawal oleh mereka! Cukuplah, Bang Irham sahaja yang Ayahanda suruh untuk menjaga Ananda.” Kamaliah akhirnya mengeluh juga, dan karena kecewa tidak mendapat jawaban yang diinginkannya Kamaliah hendak minta izin, tetapi seorang pengawal istana menghadap Baginda Yang Mulia.
"Wahai Yang Mulia Sultan Murtaza, maafkan hamba yang harus menyampaikan kabar tidak menyenangkan kepada Baginda Yang Mulia Sultan." Pengawal tersebut berkata yang sebelumnya memberi hormat terlebih dahulu.
"Kabar apa yang tidak menyenangkan itu, wahai pengawal?" Kamaliah ikut mendengar, karena ia yakin perihal yang hendak disampaikan tersebut ada hubungannya dengan laki-laki yang telah membuat dia tidak tidur beberapa hari belakangan ini.
"Pasukan dari Tagus, telah membawa banyak senjata pemungkasnya ke Negeri kita; Kerajaan Indera, Baginda Yang Mulia Sultan," jelasnya.
Sebelum Yang Mulia Sultan Murtaza berkata pada pengawalnya, Kamaliah yang masih berada di tempat Ayahanda sudah siap dengan pertanyaannya. "Ada apa sebenarnya ini, Ayahanda? Apakah akan ada peperangan lagi?"
"Permaisuriku," panggil Yang Mulia Sultan pada istrinya. "Ajaklah, Ananda Alia untuk kembali ke mahligainya."
"Ayahanda ...," Kamaliah yang ingin sekali mengetahui akan tiga negara yang sering berseteru itu mau tidak mau harus ikut Ibundanya untuk kembali ke mahligai. Lela yang sedang menunggu di luar pun merangkul tangan Sang Putri.
Kenapa di saat impiannya sudah diraih, tetapi pikiran dan hatinya kini menjadi tidak tenang. Kamaliah tidak ingin ada peperangan lagi di negerinya. Apalagi kalau sampai berkaitan dengan pemuda yang telah mencuri hatinya.
Other Stories
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...