6. Kecewanya Seorang Sultan Athmar Alamsyah
Kejadian di Bukit Kincir masih mengusik pikiran Kamaliah. Seperti mengingat seorang Sultan Athmar yang rela begadang setiap malam. Benda pusakan itu pun tidak kalah dengan wajah Sultan yang menari-nari di pelupuk matanya. Sungguh mencintai orang yang tidak dikenal itu sangatlah tidak mengasyikkan. Apalagi harus menahan rindu tanpa pernah ada penawarnya. Lupakan pemuda itu sejenak. Kamaliah kembali mengingat perkelahiannya dengan segerombolan laki-laki yang tidak dikenalinya. Dan hari ini ia akan mencari tahu siapa dalang dari masalah ini.
Lela dan Anisa sudah siap menunggu Kamaliah. Mereka akan pergi ke kota untuk mencari tahu siapa orang yang berani sekali memfitnahnya.
“Siapa di antaraalian yang boleh menyetir?” tiba-tiba Kamaliah hadir dengan pertanyaannya.
Lela dan Anisa saling pandang, dan Anisa menggeleng pelan. Sedangkan Lela memberi jawabannya dengan senyam-senyum tidak jelas.
“Ah, kalian tidak asyik. Masa iya, saya yang harus menyetir?” keluh Kamaliah.
“Sekali-kali kenapa?” Lela tersenyum lagi. Melihat dua orang gurunya, Anisa pun ikut tersenyum.
Akhirnya, Kamaliah menyetir mobil sedan miliknya. Baru kali ini dia menyetir sendiri, biasanya selalu supir pribadinya atau Irham. Sebenarnya dia bisa menyuruh supirnya untuk mengantar mereka, tetapi lagi-lagi Kamaliah tidak ingin merepotkan orang lain. Kini mobil sedan itu berjalan menuju pusat kota Negeri Indera. Banyak kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya. Sesampainya dikeramaian kota, mereka berjalan untuk melihat-lihat keadaan yang ada. Kamaliah yang memakai kacamata hitam dengan gaun serta jilbab sutra tampak terlihat anggun. Sapu tangan transparan sedikit menutupi wajahnya. Menjadi seorang artis terkenal itu terkadang tidak mengasyikkan, ia harus menutupi wajahnya agar tidak dikerumuni oleh penggemarnya.
“Pada siapa kita mencari tahunya, Guru?” Anisa celingak-celinguk seperti ada yang dicarinya.
“Cuba pada orang yang di situ,” tunjuk Kamaliah ke arah laki-laki tua yang sedang membaca surat kabar.
Anisa dan kedua gurunya pun menghampiri laki-laki tua itu. “Maaf Tuan, mengganggu waktunya. Kami ingin bertanya sedikit.”
“Oh, ya silakan.”
“Apa Tuan pernah melihat benda seperti digambar ini?” sebuah sketsa benda pusaka yang unik dilukiskan oleh Mila dua hari pasca penyerbuan di asrama.
“Tidak, Cik. Tetapi ...,” Pak Tua itu seperti ada yang diingatnya.
“Tetapi apa, Tuan?” tanya Anisa.
“Coba Cik datang ke toko barang langka yang ada di sudut sana,” ucapnya sembari menunjukan ke arah toko yang dimaksud.
“Terima kasih, Tuan. Sekali lagi maaf telah mengganggu waktunya.”
“Tak apa-apa, Cik.” Senyuman laki-laki tua itu dibalas oleh ketiga dara tersebut.
Kini dengan hanya berjalan, mereka telah tiba di toko barang langka. Begitu banyak barang-barang kuno yang tersedia di sana. Ada yang asli dan ada juga yang tidak asli. Seorang wanita muda dengan kerudung warna merah muda tersenyum pada mereka yang baru saja masuk. “Ada yang bisa dibantu?” tanya wanita tersebut dengan ramahnya.
“Iya, kami hendak bertanya.” Lela mendekat ke arah lemari kaca sepinggang.
“Mahu tanyakan apa?”
“Begini Kak, ada benda yang kami cari. Lebih tepatnya, orang yang memiliki benda tersebut.” Anisa menjelaskan maksud tujuan mereka.
“Boleh lihat bendanya? Mungkin, saya tahu.”
Lela menunjukkan selembaran sketsa dengan tinta emas bagian gambarkepada wanita tersebut. “Ini, Kak.”
Wanita itu melihat dengan tatapan serius. “Dari mana, Cik mendapatkan gambar ini?” tanyanya.
“Kawan kami yang melukisnya, dan benda itu sempat berada di asrama kami,” ungkap Anisa. Kamaliah yang melihat ekspresi wanita itu dapat menebak kalau wanita yang menjaga toko barang langka itu mengetahui banyak hal tentang benda pusakan tersebut.
“Anda mengetahuinya?” Kamaliah mencoba menatap mata wanita itu dengan tatapan yang sukar untuk dikatakan.
“Iya. Saya tahu benda ini, karena benda ini hanya ada satu saja di dunia.”
“Hanya ada satu?” Lela dan Anisa tidak menyangka, ternyata benda itu hanya ada satu di dunia.
“Akak, mengetahui siapa pemiliknya?”
“Pastilah, saya tahu. Benda tersebut Ayah saya yang membuatnya.”
“Jadi, benda itu milik Ayah, Akak?”
“Bukan. Ayah saya hanya membuatnya saja. Itu pun karena permintaan dari kerabat saya,” jelasnya.
“Jadi yang punya benda itu siapa?” Kamaliah akan merasa senang setelah mengetahui siapa pemilik benda itu.
“Sultan Athmar Alamsyah,” sebut wanita yang berkulit putih langsat itu.
“Sepertinya, nama itu tidak asing,” kata Kamaliah pelan. Dia mencoba untuk mengingat kembali di mana nama itu dia dengar sebelumnya.
“Guru tahu nama itu?” tanya Anisa.
“Saya lupa mendengar nama itu di mana.”
“Dia seorang pemuda dari Kutaradja, Cik.” Wanita itu akhirnya mengingatkan Kamaliah pada Irham. Ya, Irham yang telah membertitahukan tentang pemuda bernama Sultan Athmar Alamsyah.
“Dia ada di mana sekarang?” Kamaliah ingin sekali berjumpa dengan yang namanya Athmar itu.
“Dia ada di negerinya, Kutaradja.”
“Bagaimana caranya agar kami boleh menghubunginya dan berjumpa dengannya?”
“Cik bisa memberikan sepucuk surat melalui saya atau Cik bisa langsung pergi ke Kutaradja.”
“Lebih baik saya titipkan sepucuk surat saja.”
Akhirnya mereka mengetahui siapa dalang dari semua ini. Kamaliah tidak sabar ingin melihat bagaimana tampang seorang Sulthan Athmar Alamsyah. Sesampai di asrama dengan tergesa-gesa Kamaliah menjumpai Irham yang sedang melatih jurus kepada anak-anak di lapangan.
“Bang Irham, saya nak cakap. Hanya bedua saja,” kata Kamaliah yang langsung masuk ke asrama tanpa mendengar jawaban dari Irham. Irham yang melihatnya tahu kalau ada pertanyaan yang penting yang akan ditanyakan oleh Sang Putri nantinya.
“Ada apa?” tanya Irham pada Lela.
“Kami sudah tahu siapa dalangnya.”
“Siapa?”
Sebelum Lela menjawab, suara teriakan dari dalam membuat Irham berjalan secepat mungkin.
“Kenapa lama sekali!” Kamaliah tidak sepertinya.
“Ada apa? Kenapa teriak-teriak seperti itu.”
“Katakan pada saya siapa itu; Sultan Athmar Alamsyah?”
“Kenapa dengan Sultan Athmar?”
“Dia adalah dalang dari penyerbuan kemarin itu, Bang!”
Dengan wajah heran Irham pun berkata, “Hah? Yang benar saja. Tidaklah mungkin dalangnya adalah Sultan Athmar. Dia adalah pemuda yang sangat berwibawa dan baik hati.”
“Apanya yang tidak mungkin? Sekarang saya nak Bang Irham buatkan surat untuk dikirimkan ke sana.”
“Sabarlah dulu. Jangan gusar seperti itu, tak baik.”
“Saya nak lihat tampangnya bagaimana. Berani sekali dia menuduh kita sebagai pencuri.”
“Sepertinya ada salah paham,” Irham yang sedari tadi berdiri mencoba untuk duduk.
“Salah paham bagaimana? Cuba kau datang sendiri ke toko barang langka itu. Wanita yang menjaga toko tersebut adalah kerabat dari Athmar. Dan benda yang dikatakan pusaka itu yang buatnya adalah Ayah dari wanita tersebut.”
Irham masih tidak percaya, “Sultan Athmar Alamsyah yang Abang kenal, tidaklah mungkin seperti itu.”
“Sudahlah, saya nak Bang Irham membuatkan surat dan berikan kepada wanita yang ada di toko barang langka sana. Nanti Lela akan menunjukan di mana tokonya.”
***
Surat dari Kamaliah akhirnya sampai ke tangan Athmar. Ada rasa tidak percaya saat membaca surat tersebut.
Kepada Tuan Sultan Athmar Alamsyah
di- Kutaradja
Maksud dan tujuan kami mengirimkan sepucuk surat ini kepada Tuan, tidak lain tidak bukan karena sikap Tuan yang telah membuat kami kecewa.
Sepenggal kalimat itu membuat Athmar mengerutkan dahi. Ahmad yang ikut membaca pun tidak percaya. Bukankah, terakhir mereka menginjakan kaki di tanah Indera saat menghadap Yang Mulia Sultan sekitar setengah tahun yang lalu? Dan tidak ada kejadian yang menimbulkan masalah saat mereka di sana. Terus surat ini apa?
Anak buah Tuan telah memporak-poranda asrama kami. Tidak hanya itu saja, kami sangat kecewa karena Tuan dan anak buah Tuan telah memfitnah kami dengan menuduh mencuri benda pusaka milik Tuan. Sungguh, kejadian itu membuat kami khususnya pemimpin kami, Shazana Syafara Kamaliah sangat marah.
“Apa pula ini? Siapa lagi itu Shazana?” Athmar mulai marah.
Ahmad yang melihat sketsa yang ikut dilampirkan bersama surat tersebut tidak percaya. “Kau kata benda kecil berbentuk Gunongan itu hanya ada satu saja di dunia.” Athmar tidak mengerti maksud temannya, kenapa tiba-tiba tanyakan benda itu?
“Memang iya, hanya ada satu.”
“Terus ini?” Ahmad menujukan selembar kertas pada Athmar.
“Dari mana kau dapatkan ini?”
“Dalam amplop bersama dengan surat itu.”
Athmar masuk ke kamarnya dan melihat peti kecil yang berada di dalam lemari. Ia membuka dan melihat benda itu masih di tempatnya. Dari mana mereka tahu tentang benda ini, batinnya.
Sebenarnya dalam surat itu tidak disuruh bagi Athmar untuk pergi ke Negeri Indera. Namun, rasa penasaran akan dari mana mereka tahu benda itu akhirnya Athmar memutuskan untuk pergi ke asrama Bukit Kincir; sesuai dengan tempat di akhir surat tersebut.
***
“Guru, ada tamu yang ingin bertemu dengan Guru. Katanya beliau dari Kutaradja.” Tidak salah perkiraan Kamaliah. Dia yakin kalau Athmar akan menjumpainya walau dia tidak menyuruh untuk menghadap.
“Suruh mereka masuk!” Kamaliah tidak sabar melihat orang yang telah memfitnahnya langsung berjalan menuju ruang tamu.
Dua orang pemuda tampan memasuki ruangan bercat biru langit, dan di sana sudah ada tiga orang gadis yang sedang duduk sembari mengerjakan tugas mereka. Serta seorang gadis yang hendak duduk, tetapi alangkah terkejutnya dia. Bukan hanya Kamaliah saja, melainkan Lela dan Mila pun tidak percaya akan siapa yang dilihatnya.
“Bujang ... Bukit Kincir.” Lela yang langsung berdiri menunjuk ke arah Athmar dan memandang arah Kamaliah.
Kaki Kamaliah lemas. Ia tidak mampu berkata-kata. Seorang pemuda yang selama ini menghantui isi pikirannya, seorang pemuda yang selama ini dirindukannya, seorang pemuda yang telah mencuri hatinya, seorang pemuda yang ..., Kamaliah jatuh terduduk karena tidak mampu untuk berdiri. Benar-benar sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Tidak jauh beda dengan Kamaliah. Athmar pun tidak menyangka kalau ia bisa bertemu kembali dengan wanita yang juga menjadi bahan lamunannya belakangan ini dan terlebih terkejutnya saat Mila dan Lela memanggil nama Putri Raja tersebut.
“Shazana Syafara Kamaliah,” suara pelan Athmar menyebut nama gadis yang hanya bisa diam seribu bahasa. Hanya tatapan sendu Kamaliah yang membuat Athmar mengetahui siapa nama gadis pujaannya sekarang.
Athmar tidak menyangka kalau gadis yang pernah menolongnya telah menuduhnya sebagai seorang yang memfitnah. “Maksud kedatangan kami ke sini, ingin mengetahui maksud dari isi surat dari pimpinan asrama ini; Shazana Syafara Kamaliah.” Kamaliah tak sanggup mendengar namanya disebut oleh laki-laki itu.
Putri Raja ini dari kemarin-kemarin dan sampai sebelum Athmar datang ia sangat marah dan semangat sekali ingin melawan orang yang telah memfitnahnya. Namun, sekarang ia tidak kuasa. Irham yang melihat kejadian itu dari ruang tengah akhirnya menghampiri mereka. Dengan nada pura-pura tidak tahu ia menyapa Athmar dengan santainya.
“Hei, Tuan Sultan Athmar Alamsyah. Apa kabarnya, Kawan?”
Athmar yang masih tidak percaya dengan gadis di depannya itu pun membalas sapaan Irham dengan singkat. “Baiklah, Kawan.”
“Ahmad Rayyan, gimana punya kabar?”
“Seperti biasa. Baik.”
“Kenapa dengan suasana di sini? Kenapa dingin sekali? Ada apa gerangan?” Pertanyaan Irham hanya dibalas dengan tatapan sinis dari Mila.
“Duduklah dulu, Athmar, Ahmad,” lanjut Irham yang sebelumnya tersenyum pada Mila.
“Aku mendapat surat dari asrama ini, Irham,“–Athmar duduk bersama Ahmad—“Apa kau kerja di sini? Bukankah, kau pengawal kerajaan yang sangat dibanggakan oleh Baginda Yang Mulia Sultan Murtaza?”
“Ya, aku yang mengirimnya. Dan iya, juga, aku kerja di sini. Hanya sambilan saja. Bosan juga di istana terus,” canda Irham diiringi ketawa kecilnya.
“Terus Shazana Syafara Kamaliah, yang mana orangnya?” Athmar memandang lekat pada Kamaliah. Ia yakin, gadis yang ia sukai itu adalah pimpinan dari asrama ini.
“Kamaliah,” panggil Irham. Kamaliah hanya memandang Irham dengan tatapan ‘jangan panggil namaku’.
“Bukankah Alia ingin sekali berjumpa dengan Tuan Athmar?” lanjut Irham.
“O, Cik ini yang namanya Shazana?” Athmar mencoba untuk tidak emosi dan kecewa di depan gadis pujaannya. “Kalau boleh tahu, kenapa saya dikatakan sebagai orang yang sudah memfitnah, ya? Dan dari mana tahu benda tersebut?”
Kamaliah bagaikan ‘hidup segan mati tak mau’ di depan Athmar. Ia hanya bisa diam yang sebelumnya mengamuk ingin bertemu Athmar.
“Begini Tuan,” Mila mulai bicara, “dua minggu yang lalu, asrama kami didatangi oleh orang tidak dikenal dan mereka mengklaim kami sebagai ‘pencuri’ dan benda curian itu adalah sama persis seperti yang telah saya lukiskan. Ada terlampir juga bersama surat yang kami kirim.”
“Terus kenapa kalian malah menuduh kami, yang ... kami sendiri tidak tahu apa-apa dengan masalah di sini.” Suara Athmar sedikit meninggi. Kamaliah yang mendengarnya melihat laki-laki itu, dan tanpa disadari tatapan mereka bertemu begitu saja. Binar mata dari keduanya seakan menceritakan banyak hal. Seakan banyak pertanyaan yang menari-nari di bola mata mereka.
“Kata wanita penjaga toko barang langka, benda itu hanya ada satu di dunia.” Kamaliah akhirnya bersuara.
“Benar sekali, Cik,” jawab Ahmad. Athmar hanya menyimak saja.
“Dan yang punya benda itu adalah Tuan Sultan Athmar Alamsyah. Itu bukannya nama Tuan?” tanya Kamaliah sembari menunjuk ke arah Athmar. “Atau nama Sultan Athmar Alamsyah cukup banyak di Kutaradja sana?”
Athmar tersenyum mendengar ucapan dari Sang Putri, dan dia mengambil peti kecil dari dalam tasnya. Sebuah benda berukuran kecil berbentuk Gunongan dikeluarkannya. Semua mata yang ada di ruang tamu memandang takjub. Begitu juga dengan Kamaliah.
“Itu buktinya benda tersebut ada di tangan Tuan,” kata artis drama laga ini.
“Ya, karena ini memang punya saya. Makanya, ada di tangan saya.”
“Sudah jelaslah kalau begitu, Tuan.”
“Jelas apanya? Jelas kalau saya ini dalang dari masalah yang ada di sini? Begitu?” tatapan Athmar tidak mampu dilihat oleh Kamaliah.
Irham dan yang lainnya hanya bisa diam melihat mereka berdua, yang lebih heran adalah Lela. Dia tahu bagaimana perasaan Kamaliah saat ini, tetapi dia heran kenapa masalah benda pusaka ini harus berhubungan dengan bujang yang sangat dirindukan oleh tuannya, Sang Putri.
“Bagaimana kalau kita tanyakan Syauqy,” usul Mila, “soalnya dia yang memberi gambaran padaku untuk bisa melukis benda tersebut.” Beberapa orang yang ada mengangguk tanda setuju.
“Benar kata Mila, dan siapa tahu dengan begitu kita bisa tahu Tuan Athmar bersalah atau tidak.” Irham mengharap kalau Kamaliah sedikit berlembut hatinya seperti biasa. “Di mana sekarang Syauqy? Coba panggilkan dia, Anisa!” Irham tidak mau menunggu persetujuan dari Kamaliah.
“Baik, Guru.” Gadis itu pun pergi memanggil Syauqy.
Masih terlihat pemandangan yang begitu sendu di antara Kamaliah dan Athmar. Rasanya Sang Putri ini ingin sekali mengungkapkan rasa rindunya. Namun, karena masalah dua minggu lalu melibatkan Athmar sebagai dalang dari permasalahan yang ada membuat gadis ini kecewa sangat. Kenapa harus kamu, Athmar? Kenapa harus laki-laki yang sangat kurindukan ini, batin Kamaliah.
Syauqy yang ditunggu akhirnya datang. “Ada apa ya, Guru memanggil saya?”
“Coba kau lihat benda itu,” ucap Irham. Syauqy melihat benda dengan kilauan emas yang begitu cantik. “Apa ada sama dengan yang kau bawa tempo hari, Syauqy?”
“Mmm ...,” Syauqy takut menjawabnya.
“Tak usah risau. Kau tidak akan kumarahi, Syauqy. Cukup kau cakap saja apa yang kau ketahui!”
“Be-benar, Guru. Benda tersebut sama persis dengan yang diberikan laki-laki tua tempo hari.”
“Sudahlah! Sudah tentu pasti Tuan Athmar yang memfitnah—“
“Kamaliah!” Irham tidak tahan dengan sikap Kamaliah yang berbeda dari biasanya. “Dengarkan dulu penjelasan dari Syauqy, agar kita bisa mengetahui siapa yang salah sebenarnya. Abang yakin, ada yang tidak beres dengan kejadian penyerbuan itu. Jadi, Kamaliah tolong. Tolong jangan pakai emosi! Tuan Athmar ini jauh-jauh loh, datang ke mari.”
“Kenapa Abang bela kan, dia? Apa kerana14 dia temanmu?” Kamaliah ingin nangis rasanya. Dia serba salah. Satu sisi ia sangat kecewa dengan Athmar yang telah memfitnahnya, tetapi di sisi lain ia tidak ingin ribut dengan laki-laki yang sangat dirindukannya.
“Mmm ... maaf Guru,” Syauqy menjadi bingung sendiri melihat perseteruan antara Guru dan Tamu jauh yang dia sendiri tidak mengenalinya. “Se-sepertinya, ada yang beda.”
“Apa yang beda, Syauqy?” tanya Lela.
“Kilauannya, Guru Lela.”
“Kilauannya?” Irham ikut bertanya. Sedangankan Kamaliah kembali diam.
“Boleh saya memegangnya, Tuan?” pinta Syauqy.
“Silakan anak muda.”
Benda seperti bukit diambil oleh Syauqy. Dia melihat dengan saksama. “Kilauannya sangat berbeda. Dan ... sepertinya ini dari emas asli, ya?” pertanyaan itu tidak hanya ditujukan pada pemilik benda tersebut, melainkan pada semua orang yang ada di situ karena mata Syauqy memandang bergantian ke seluruh ruangan.
“Iya. Itu dari emas asli,” Athmar yang menjawab karena memang dia yang lebih tahu tentang benda yang kini di tangan Syauqy.
“Maaf Guru Alia, dan semuanya. Dari segi bentuk memanglah benar benda ini sama seperti yang diberikan kepada saya. Namun, dari segi berat dan kilauannya berbeda.” Ungkap Syauqy sembari meletakkan yang dipegangnya ke atas meja.
“Benda ini,”—dia menunjuk ke arah meja—“lebih berat dari yang dua minggu lalu, mungkin karena ini terbuat dari emas asli. Dan kalau saya tidak salah ingat, di bagian bawah benda pusaka tersebut tidak tertuliskan kata; “dua hati, satu jiwa” seperti yang ada di benda ini.” Kamaliah yang mendengar penjelasan Syauqy masih tidak terima. Entah kenapa, seperti ada benci di hatinya untuk Athmar. Mungkin, karena tidak percaya akan orang yang ditemuinya ini.
“Saya akan mencari tahu siapa dalang sebenarnya, tetapi rasa kecewa saya kepada Cik Shazana sudah terlalu besar. Saya tidak menyangka, seorang gadis cantik jelita bisa-bisanya menuduh orang lain tanpa bukti yang kuat.” Athmar berdiri dan diikuti oleh Ahmad.
“Maafkan sikap kami, dan khususnya Kamaliah, Kawan.”
“Tidak masalah, Irham. Kau tetap teman baikku di Negeri Indera ini. Oh, ya, titipkan salamku pada Baginda Yang Mulia Sultan Murtaza, katakan juga pada beliau kalau aku akan selalu menanti penyerangan dari Mafia Tagus dan juga kalian para Negeri Indera.”
“Kami izin pamit dulu.” Kedua pemuda itu pun ke luar asrama. Namun, tanpa disangka Kamaliah pun ikut mengantar mereka. Athmar yang melihat keadaan itu langsung mendekati Kamaliah.
Athmar berkata pelan, “Aku tidak menyangka kalau itu kau; gadis yang belakangan ini menjadi bahan lamunanku.” Kamaliah mendengarnya hanya bisa diam dengan tatapan sendu. Saat Athmar balik punggung dan berjalan tanpa melihat ke belakang, tumpahlah air mata yang ditahan sedari tadi. Kini sirna sudah mengharap penawar rindu dari laki-laki yang telah mencuri hatinya. Sirna sudah keiinginannya untuk berkenalan secara baik-baik dengan Athmar.
Other Stories
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...