Balada Cinta Kamilah

Reads
1.7K
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
balada cinta kamilah
Balada Cinta Kamilah
Penulis Putri N. Akhla

10. Gunongan Bukti Cinta

Ada rasa senang pun sedih di hati Kamaliah. Dia senang dapat berada di sisi Athmar namun sedih karena jauh dari kedua orangtuanya. Tidak hanya itu saja, asrama silatnya pun menjadi pikiran yang tidak menyenangkan. Sekarang asrama telah dikelola oleh Anisa dan juga beberapa orang pengawal kerajaan. Sudah hampir sebulan Kamaliah hanya berada di rumah. Ia tinggal bersama Lela dan juga Mila. Sedangkan Irham tinggal di rumah Athmar.
Semenjak perjalanan dari Indera ke Kutaradja sampai sekarang Kamaliah tidak ingin bertemu dengan Athmar. Entah, seperti ada rasa benci di hatinya.
“Saya nak jalan-jalan lah,” kata Lela yang mulai bosan duduk di rumah saja.
“Sama lah, Lela. Aku pun nak pigi juga.” Mila pun tidak mau lagi duduk di rumah saja.
“Ha, betul kan, Mila. Tak nak lah, di rumah terus. Bosan lah.” Kamaliah hanya diam saja melihat kedua gadis itu bicara.
“Tuan Irham ada SMS ini, Lela. Mereka ajak jalan-jalan.”
“Nak ikut.”
“Aku pun nak ikut.” Mereka berdua melihat Kamaliah. Sang Putri ini mau tidak mau pun harus ikut. Kalau tidak dia akan tinggal sendirian di rumah.
Satu jam berlalu. Kamaliah hanya diam saja. Tidak ada satu kata pun yang ia lotarkan, sedangkan yang lainnya pada asyik melihat pemandangan yang ada.
“Sepertinya ada yang benci sangat pada saya.” Sultan Athmar melirik arah Kamaliah. “Janganlah, sinis macam itu,Cik Shazana.”
“Saya tak nak cakap denganmu!”
“Kenapa benci sangat?”
“Saya nak pulang!”
Melihat kesedihan di wajah Kamaliah, Athmar pun tidak tega. Akhirnya di mengajak pergi ke sebuah taman di pusat kota. Sedangkan keempat lain memilih tempat lain untuk dituju.
“Mau ikut saya? Ada yang ingin saya perlihatkan padamu.”
“Bedua saja?”
“Iya. Tidak mau?” rasa penasaran pada diri Kamaliah akhirnya dia menyetujuinya.
Mereka berdua turun di pinggir jalan yang tidak jauh dari sebuah taman. Taman dengan cukup luas, dengan bangunan kecil di tengah kolam menarik perhatian Sang Putri ini.
“Itu apa?”
“Ini dulunya adalah taman seorang Permaisuri dari Negeri Pahang, dan itu”—Athmar menunjukkan ke arah bangunan berwarna putih—“namanya pinto khop16, tempat istirahat Sang Permaisuri. Eh, ya. Namanya sama seperti nama Cik Shazana; Kamaliah. Putri Kamaliah. Tetapi saat tinggal dan menjadi Permaisuri namanya jadi putroe phang17 yang artinya Putri Pahang.” Athmar menjelaskan.
Mereka berjalan ke luar dari taman dan menyeberang jalan di sebelahnya. Ada bangunan putih lebih besar dari pinto khop terlihat. Bentuknya seperti bukit.
“Bukankah ini?” tanya Kamaliah.
“Ini,”—Athmar memperlihatkan benda kecil berlapiskan emas—“bentuknya sama ya?”
“Iya, Kanda.” Kamaliah tetap saja memanggil laki-laki ini dengan sebutan Kanda.
“Ini untuk Tuan Putri yang cantik jelita.”
“Benarkah?”
“Iya, agar tidak sedih lagi. Kalau diingat-ingat bagunan Gunongan ini pun sama seperti dirimu.”
“Apanya yang sama?”
“Putri dari Pahang dulunya sedih ingat kampung halamannya, dan Sultan Iskandar Muda buatkan Gunongan dan juga pintoe khop agar Permaisuri terobati rindu akan kampung halamannya.”
“Saya nak juga.”
“Nak apa?”
“Buatkan seperti itu oleh Kanda.”
“Seperti itu?” Athmar menunjuk ke arah Gunongan.
“Iya.”
“Lihat saja itu, yang sudah ada untuk apa dibuatkan lagi.”
“Ih, Kanda tak romantis lah.” Athmar ketawa mendengar ucapan dari Kamaliah.
***
Sekian bulan berlalu. Yang Mulia Murtaza Syah dan Permaisurinya mengunjungi Kutaradja saat anaknya akhirnya menikah. Ya, Sang Putri akhirnya menikah dengan seorang pemuda Kutaradja. Tidak hanya mereka saja. Dua pasangan lainnya pun menikah di hari yang sama. Ya, pasangan Mila dan Irham serta Lela dan Ahmad pun akhirnya menikah.
Tidak terlalu megah. Namun, Kamaliah sangat senang karena kedua orangtuanya ikut hadir. Tidak itu saja, Sang Suami pun memberikan hadiah yang tidak mampu untuk dilupakan. Sebagian dari murid-murid silatnya yang sudah pandai dalam bela diri diperbolehkan untuk tinggal di Kutaradja dan pastinya hadiah tersebut adalah sebuah asrama yang dibangun oleh Sultan Athmar sebagai bukti cintanya. Ia mengizinkan Sang Istri untuk mengola asrama silat tersebut.
Tidak ada yang indah selain bersatu dengan kekasih pujaan hati. Shazana Syafara Kamaliah seorang Putri Diraja kini telah sah menjadi istri seorang Sultan Athmar Alamsyah. Kisahnya yang penuh suka-duka akhirnya mampu membuatnya tersenyum bahagia.
“Kapan-kapan nanti kalau rindu sangat, Kanda ajak Dinda pulang ke Kerajaan Indera, ya.”
“Benarkah Kanda?”
“Iya, apa yang tidak untuk Dinda seorang.”
TAMAT

Other Stories
Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Blek Metal

Cerita ini telah pindah lapak. ...

Percobaan

percobaan ...

Dream Analyst

Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Sinopsis

hdhjjfdseetyyygfd ...

Download Titik & Koma