0. Prolog
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari kehadirannya. Dan saat kuarahkan pandanganku, dia telah dijulurkan tangan lain.
Hujan bernyanyi mengisi malam yang sepi. Tirainya yang bening menari membasahi semua yang disentuhnya. Langit berwarna hitam pekat, tak bisa terlihat satu titik cahaya bintang pun di sana. Awalnya aku tak pernah menyukai bintang. Mereka yang berkata bahwa bintang itu lambang setia, aku tidak percaya. Bagaimana bisa dia tidak hadir saat hujan turun? Apa karena tirainya menghalangi kehadirannya? Ya, bintang hanya memiliki cahaya kecil yang dengan mendung saja pun dia akan pergi.
Namun, ternyata aku salah. Bintang-bintang itu selalu tetap ada mengisi cakrawala yang sama, meski dia tidak terlihat. Dia selalu ada meski semua kelopak mata manusia tak melihat sosoknya. Di saat aku benar-benar menyadari cahayanya di musim hujan, ternyata sudah ada yang menatap ke arahnya. Menjulurkan tangannya untuk meraih setitik cahaya yang selalu tidak aku percaya.
Bintang itu semakin jauh dari pandanganku. Tatapan sinar hangatnya bukan lagi untukku, tapi untuk hati yang lembut yang tidak pernah menyiakan tempatnya. Sesal. Tak ada lagi gunanya itu. Karena cahaya itu tidak akan kembali.
Memang benar, terjerat masa lalu hanya akan membunuhku. Membunuh masa depanku, membunuh rasa dan mimpiku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tak bisa kukalahkan masa lalu yang selalu kubertahan di dalamnya. Semua salahku. Salahku yang telah dibutakan memori masa lalu.
Andai aku bisa mengembalikan atau sedikit mengulur waktu, aku ingin dia tahu bahwa sekarang aku merindukan sinarnya.
Other Stories
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...
Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai
Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...