Ada Apa Dengan Rasi

Reads
571
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
ada apa dengan rasi
Ada Apa Dengan Rasi
Penulis Idha Febriana

Hanya Bintang-bintang

“Rasi, bilang sama Mama kenapa kamu melakukan semua ini?”
Sore itu, Lusi segera mendudukkan anaknya dan berkata dengan tegas,
kali ini Rasi tidak boleh menolak ataupun menghindar. Rasi tampak tak
menaruh minat pada apa yang akan dibicarakan mamanya. Telinganya
sudah kebal, dia sudah terlalu terbiasa mendengar orang mengatakan
hal-hal buruk tentangnya.
“Kamu bolos, jailin temen kamu, ngomong kasar, mbantah guru, siapa
yang ngajarin itu semua?”
“Ayah sama Mama kan, yang ngajarin,” jawab Rasi sekenanya.
Jawaban itu segera membuat Rasi mendapatkan sebuah cubitan kecil di
paha. Dia meringis sedikit, lalu mengusap-usap bekas cubitan itu saat
mamanya mengangkat tangan. Bekas merah itu hanya sakit sebentar,
sudah menghilang saat Rasi mengusapnya beberapa kali.
“Kapan Mama sama Ayah ngajarin kamu kayak gitu? Jangan mengada-ada
kamu, ya!” bentak Lusi seraya berdiri. Emosinya memuncak mendengar
jawaban Rasi yang justru terkesan menyalahkan mereka—orangtuanya.
Wanita itu lalu duduk kembali dan memijit pelipisnya yang terasa senut
senut. “Kenapa kamu nggak mau mikirin perasaan Mama sih, Rasi. Kenapa
kamu bikin Mama malu sama kelakuan kamu itu?” ujarnya lirih.
“Emangnya Mama sama Ayah pernah mikirin perasaan Rasi waktu
bertengkar? Mama sama Ayah terus teriak-teriak, ngomong kasar, pernah
nggak mikir kalau Rasi ada di rumah dan denger semua kata-kata kalian?”
Kali ini Rasi berdiri.
Lusi terkesiap. Jadi ini maksudnya, Rasi belajar dari pertengkaran mereka.
Selama ini dia tidak memikirkan dampak pertengkaran mereka sampai
sejauh ini. Dia pikir, karena Rasi selalu menjauh dan mendekam di loteng,
gadis itu tidak mendengar sumpah serapah yang sering dia dan suaminya
ucapkan ketika marah.
“Tentang kenapa Rasi suka bolos, itu karena Rasi bosan. Nggak ada yang
mau temenan sama Rasi di sekolah. Mereka nganggep Rasi aneh cuma
karena Rasi suka ngelihat bintang. Mereka suka ngeledekin Rasi, makanya
Rasi nggak mau masuk sekolah aja.” Masih berdiri, Rasi melanjutkan pembelaannya.
“Jangan suka menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri, Rasi!
Mama nggak suka.”
“Terserah Mama mau percaya aku atau nggak, tapi aku nggak pernah
berbohong.” Rasi melangkah meninggalkan kursinya. Baru selangkah, dia
kembali terhenti karena kalimat lanjutan dari mamanya.
“Mama nggak mau tahu kamu bohong atau nggak. Pokoknya Mama minta
kamu nurut sama Mama. Jangan bolos-bolos lagi atau Mama akan kirim
kamu ke rumah Mbah Uti.” Sebuah ancaman, dan cukup membuat Rasi
gentar. Tetapi gadis kecil itu bergeming, kemudian memilih melanjutkan
langkahnya menuju loteng.
Tidak ada yang mau mengerti dirinya selain bintang-bintang. Rasi melihat
sirius bersinar malam ini, berkelip-kelip seolah sedang mengatakan
sesuatu padanya.
“Aku nggak pernah bohong, kan? Kalian tahu itu. Tapi Mama nggak mau
percaya. Aku udah seneng bisa bicara sama Mama setelah sekian lama,
tapi Mama malah nggak percaya sama aku.” Rasi bermonolog, tidak, dia
tengah berdialog dengan bintang.
Hanya bintang-bintang yang selalu setia menemaninya sejak perpisahan
kedua orangtuanya. Dulu, ayah selalu menemaninya setiap malam,
menceritakan berbagai dongeng tentang bintang-bintang. Lalu mama,
akan membuatkan mereka cokelat panas dan bergabung untuk mendengar
cerita ayah.
Cerita-cerita itu berhenti ketika Rasi berusia sepuluh tahun. Ayahnya
sibuk bekerja hingga malam, kemungkinan pulang setelah Rasi terlelap.
Sementara mama yang waktu itu juga bekerja, selalu mengatakan bahwa
usia sepuluh tahun bukan lagi usia yang tepat untuk mendengarkan cerita.
“Aku kangen sama mereka yang dulu, yang selalu dengerin ceritaku, yang
selalu ada buatku kapan pun aku mau. Sekarang mereka malah pisah dan
aku nggak bisa tinggal bersama salah satu dari mereka. Aku mau tinggal
sama mereka berdua.”
Sirius di ujung teleskopnya tampak berkelip-kelip, seolah tersenyum,
memberikan kenyamanan pada Rasi. Dulu, ayahnya selalu berkata bahwa
bintang bisa mendengarkan keluh kesah kita. Rasi percaya akan hal itu.
Dia berbicara pada gugusan bintang yang berbeda setiap harinya. Beberapa
hari ini dia sedang beruntung karena ditemani bintang individual selama
tiga kali berurutan. Altair, Vega, dan malam ini adalah rajanya, Sirius.
Sejak kecil Rasi memang sudah menggemari astronomi. Ayahnya juga
sangat mendukung kegemarannya itu dengan membelikan buku-buku
astronomi untuk anak-anak. Sejak bisa membaca secara mandiri, Rasi
mulai menghafal nama-nama bintang itu, baik yang berupa gugusan
maupun yang individual. Dia menggemari keduanya dalam porsi yang
sama.
Tetapi, kegemarannya itu sepertinya hanya akan menjadi sebuah
kegemaran kalau orangtuanya masih bersikeras bersikap keras kepala
seperti itu. Rasi mulai memikirkan masa depannya, hal yang sebenarnya
jauh dari benak anak-anak.
Namun, bukankah Rasi sudah dua belas tahun? Sebentar lagi dia akan
puber, jadi tidak salah kalau dia mulai memikirkan masa depannya yang
masih transparan itu sekarang

Other Stories
Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai

Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...

Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Download Titik & Koma