24. Inikah Yang Namanya Taman Surga?
Kini aku berada di sebuah taman yang sangat indah. Ada bunga mawar, bunga melati, sedap malam, dan lain pokoknya semua bunga ada di taman ini. Di taman ini juga ada sungai yang mengalir deras, aku sendiri nggak tahu dari mana ke mana aliran sungai ini.
Selain itu di taman ini banyak wanita yang berparas jelita dengan kecantikan yang luar biasa sempurna, dengan mata-mata mereka yang jeli, lebar, dan berbinar. Aku melihat salah satu dari wanita berparas cantik berpindah tempat seketika penuhlah tempat tersebut dengan wangi yang semerbak dan cahaya.
Oh, inikah yang namanya taman surge? Dan wanita-wanita yang berparas jelita dengan kecantikan yang luar biasa sempurna, dengan mata-mata mereka yang jeli, lebar, dan berbinar itu merupakan bidadari surge. Subhanallah, indah sekali.
Tiba-tiba di depan muncul tangga yang tinggi. Mungkin inilah tangga untuk naik ke surge. “Devi, naiklah ke tangga ini! Ayah sudah lama menunggu dan ingin berkumpul bersamamu di sini!” Aku mengadah. Seketika aku melihat ayah sedang berdiri, beliau mengenakan kemeja putih berlengan panjang. Dan wajah beliau terlihat bercahaya.
Ayahku meninggal saat masih berusia 5 tahun. Ayah meninggal waktu tidur. Kata mama, ayah semasa hidup rajin banget berwudhu. Mungkin itulah yang membuat wajah ayah bercahaya di surge. Aku nggak menyangka bisa bertemu kembali dengan ayah di surge.
“Ayo, Devi cepat naik! Tangga ini hanya 5 menit, setelah itu tangga hilang dengan sendirinya,” ujar ayah di pintu surge.
“Devi jangan tinggalin gue! Gue belum siap kehilangan sahabat sebaik lo.” Terdengar suara Ivana. Jangan-jangan Ivana juga berada di surge? Aku celingak-celinguk mencari sosok Ivana namun nggak kutemukan.
“Dev, please jangan pergi! Gue sangat mencintai lo. Gue nggak sanggup kehilangan lo.” Kali ini terdengar suara Dimas yang mencegahku menaiki tangga surge.
Kenapa sih orang-orang yang aku sayang di dunia mencegahku untuk menaiki tangga surge? Harusnya mereka senang dan bahagia aku bisa masuk surge. Sebab surge merupakan tempat kenikmatan bagi orang islam.
Aku bersemangat menaiki tangga surge ini. Langkah pertama aku berhasil menaiki tangga ini. Tapi ketika aku ingin menaiki tangga kedua tiba-tiba tangga hilang dalam sekejap. Dan tubuhku terseret, aku sendiri nggak tahu bakal terseret sampai kemana.
Aku sadar, aku mati karena bunuh diri. Mungkinkah aku nggak dijinkan masuk surge? Mungkinkah tubuhku akan terseret ke neraka?
Other Stories
JEJAK SENI BUDAYA DI TANAH BADUY
Dua mahasiswa antropologi dengan pandangan yang bertolak belakang harus mengesampingkan eg ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
Gm.
menakutkan. ...
Namaku Amelia
Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...
Plan B
Liburan tiga sahabat di desa terpencil berubah jadi mimpi buruk saat satu dari mereka meng ...