7. Penyakit Ivana Kumat
“Huwaaaa … Ivana help me! Gue mala mini sedih banget, hati gue sakit karena cinta,” tangisku pecah di pelukan Ivana. Sehabis dari café aku meminta Dimas untuk diantarkan ke rumah Ivana aja. Nggak mungkin aku pulang ke kosan, mala mini hatiku nggak karuan lagi perlu teman curhat. Untung Ivana ada di rumah.
Aku bersyukur banget, Ivana terlahir jadi sahabatku. Dia selalu ada di saat suka maupun duka.
Ivana mengelus pundakku, “Gue tahu kok apa rasain, lo yang sabar ya Dev! Ikhlasin Adipati Dolken sama Maudy Ayunda jadian. Buka hatimu buat Adipati Dimas, mungkin dialah jodohmu,” balas Ivana.
Aku melepas pelukan Ivana. Lalu aku memandangi wajah Ivana dengan tatapan bingung. Aku ngomong apa, dia jawabnya apa. Benar-benar nggak nyambung. “Lo ngomong apaan sih? Nggak ngerti gue! Mana bawa-bawa Adipati Dolken dan Adipati Dimas segala.”
“Loh, lo nangis gara-gara liat infotainment berita tentang Adipati Dolken dan Maudy Ayunda jadian kan? Makanya gue kasih saran kayak gitu ke lo,” jawabnya tak mau kalah.
Gubrak!
Kalau lagi duduk di kursi goyang pasti aku sudah terjengkal ke belakang. Baru sadar ternyata ternyata penyakit Ivana kumat. Ivana itu hanya mempunyai 2 penyakit yang nggak sembuh-sembuh yaitu sok tahu dan asal bunyi. Mala mini penyakitnya yang kumat adalah sok tahunya.
“Devi, kok lo malah bengong sih? Bener kan lo nangis gara-gara liat infotainment berita tentang Adipati Dolken dan Maudy Ayunda jadian?” ulangnya sekali lagi.
Peletak!
Kesekian kalinya aku menjitak kepala Ivana. Abis aku gemas Ivana sok tahunya nggak sembuh-sembuh. Mana dia memasang wajah nggak berdosa pula. “Gue nangis bukan karena itu Ivana. Tapi karena gue abis putusan sama Rifky,” jawabku langsung ke pokok permasalahan.
“Hah? Putusan sama Rifky? Kok bisa?” Tanya Ivana bertubi-tubi.
“Gini ceritanya, zttttt … blablabla.” Aku menceritakan kronologis kejadiannya secara detail pada Ivana. Ia mendengarkan aku dengan seksama, kepalanya juga manggut-mangut. Aku nggak tahu dia manggut-manggut karena beneran ngerti atau ngantuk. Yang penting dia mendengarkan curhatanku.
“Gitu, ceritanya Van.” Ujarku mengakhiri cerita. Mulai dari pulang kerja, tidur siang, ibunya Rifky maki-maki aku, hingga akhirnya aku dipergoki jalan sama Dimas di warung bakso pak Bambang sudah aku ceritakan pada Ivana secara panjang lebar. Semoga Ivana mengerti apa yang aku bicarakan barusan.
“Tuh kan, gue dah duga sebelumnya jodoh lo itu bukan sama Rifky tapi jodoh lo sama Dimas.”
Dimas lagi Dimas lagi? Heran deh kenapa sih si Ivana pengen banget aku berjodoh sama Dimas? Apapun yang dibilang Ivana aku tetap menghargainya. Hanya dia sahabatku yang paling setia. Kalau nggak mendengarkan ucapannya, mendengarkan ucapan siapa lagi coba?
Aku kembali memeluk Ivana. Berkat dia kegalauanku mala mini sedikit berkurang. I Love you forever my best friend.
Other Stories
Jogja With You
Tertinggal kereta mungkin tidak selamanya menjadi hal buruk. Mungkin Tuhan mau kamu bertem ...
The Unkindled Of The Broken Soil
Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...
Seoul Harem
Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini
Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...