Nyanyian Hati Seruni

Reads
2.5K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Diana Yana

7. Ibu-ibu Barak Tengah

Seminggu sudah pasukan ke daerah operasi, ada suasana yang sangat kontras dengan sebelum keberangkatan pasukan. Barak lajang yang terletak di bagian depan kompi biasanya ramai oleh personil kompi yang masih lajang, kini sunyi tak berpenghuni, hanya empat orang Taja (Tamtama Remaja) yang tidak ikut berangkat ke daerah operasi.
Mereka diberi tugas merawat barak lajang selama ditinggal penghuninya. Suasana kompi menjadi sangat sunyi, karena personil kompi yang biasa setiap hari hilir-mudik, kini nyaris tidak ada. Sekarang yang mendominasi aktivitas di kompi ini adalah ibu-ibu yang hilir-mudik keluar masuk kompi dengan berbagai keperluan, mengantar jemput anak sekolah, belanja atau hanya sekedar jalan-jalan menghilangkan suntuk.
Saat pasukan tidak ditempat, setiap ibu-ibu diberi sebuah kartu izin keluar atau yang sering disebut KIK. Jadi setiap ibu yang akan meninggalkan kesatrian harus menyerahkan kartu izin itu kepada petugas piket atau Ka. Korum, mungkin dimaksudkan agar ibu-ibu dapat diketahui posisinya di mana. Karena keselamatan para istri personil yang bertugas menjadi tanggung jawab personil Korum (Koordinator Rumah). Dan izin keluar dibatasi paling sore pukul lima sore, jika lewat jam tersebut maka kewajiban petugas piket harus mencari tahu di mana posisinya dan memintanya agar segera kembali ke asrama.
Seruni sendiri lebih banyak mengisi harinya dengan membersihkan rumah, membaca buku atau tabloid yang tempo hari dibelinya di Medan usai mengantar Pras. Kesedihan belum juga mampu ia atasi sepenuhnya, setiap teringat Pras, hatinya masih terasa pilu. Ada hal yang membuatnya agak khawatir, karena sudah hampir seminggu janin dalam kandungannya tidak bergerak lagi usai kepergian Pras. Hal ini ia sampaikan kepada Bu Rubi, bidan yang bertugas di desa tempat kompi berada, saat datang ke rumahnya untuk memeriksanya pagi tadi. Bu Rubi juga bersuamikan tentara, tapi saat ini tugas di Koramil.
“Oh... nggak apa-apa Bu Pras,” kata Bu Bidan Rubi, usai memeriksa kandungan Seruni.
“Tapi kenapa janinnya kok gak bergerak lagi?” tanya Seruni tidak puas dengan jawaban Bu Rubi.
“Itu karena ibu terlalu bersedih, iya kan? Hal ini berpengaruh ke janin. Makanya Ibu jangan bersedih terus, dibawa senang-senang saja. Sudah, jangan kelamaan sedihnya. Resiko jadi istri tentara ya begini, sering ditinggal tugas oleh suami ke daerah operasi. Saya sudah berkali-kali ditinggal tugas suami ke daerah operasi seperti Aceh, Timor-Timur, Ambon. Wah saya sampai lupa sudah berapa kali ditinggal tugas. Lama-lama ibu akan terbiasa, sedih itu wajar Bu, tapi jangan sampai sedihnya tak berujung.
Sekalipun ibu nangis setiap hari sampai kata orang nangis darah, toh suami kita tetap saja tidak bisa kembali sebelum tugas usai. Emosi yang dialami oleh seorang ibu hamil akan sangat berpengaruh kepada kepribadiannya kelak saat ia dewasa. Ibu nggak ingin kan kalau nanti anaknya menjadi cengeng, karena ibunya kebanyakan nangis waktu mengandungnya. Lagian Ibu tidak sendiri, lihatlah ada empat puluh ibu di Kompi ini yang suaminya juga pergi bertugas. Mainlah ke rumah anggota di barak tengah atau belakang, di sana ramai orang, jadi Ibu akan merasakan indahnya kebersamaan,” kata Bu Rubi mencoba memotivasi Seruni yang memang sangat sedih ditinggal pergi Pras bertugas.
Seruni hanya tersenyum, tapi kata-kata Bu Rubi benar juga, untuk apa dia menangis setiap hari, toh Pras tidak bisa kembali saat ini. Lagian, ini kan sudah resiko yang harus ia hadapi menikah dengan seorang prajurit.
“Ya, aku harus merubah kondisi ini secepatnya,” tekadnya dalam hati.
***
Keesokan harinya Seruni bangun agak kesiangan, tidurnya tadi malam sangat nyenyak setelah meminum vitamin yang diberikan Bidan Rubi. Badannya terasa sangat segar dibanding hari-hari sebelumnya. Yang lebih membahagiakannya pagi itu adalah janinnya sudah kembali aktif. Seruni tak hentinya mengucap syukur atas karunia ini. Ia segera mengambil air wudu dan segera melaksanakan salat subuh. Setelah semua kerjaan rumah beres, ia ingin jalan-jalan ke barak belakang, untuk sekedar memecah kesunyian. Dilangkahkan kakinya menuju barak tengah, di situ situasi selalu ramai karena rumah asrama di sana banyak dan saling berhadapan.
Tepat di belakang perumahan perwira di mana sekarang Seruni tinggal, adalah barak Bintara yang berhadapan dengan barak Tamtama, jumlahnya lebih banyak karena ukurannya lebih kecil. Saat Seruni tiba di sana, tampak beberapa ibu-ibu duduk berkumpul di hamparan rumput di depan rumah salah satu rumah anggota. Ada yang sambil menyuapi anaknya, ada yang masih berkalung handuk karena baru mau mandi, ada yang sudah rapi lengkap dengan dandanannya yang sedikit agak menor. Mereka tampak asyik seperti sedang membahas sesuatu sambil sesekali diiringi dengan suara tawa. Begitu Seruni mendekat mereka sontak berdiri dan mengucapkan salam, seorang ibu yang membawa handuk sudah mau menyingkir karena mungkin sungkan.
“Selamat pagi juga ibu-ibu, lho Bu Iwan mau ke mana kok saya datang malah pergi?” tanyanya kepada Bu Iwan, ibu yang membawa handuk.
“Hihihi... Siap Ibu, saya segan belum mandi nih, tadi mau mandi tapi masih berkeringat soalnya habis nyangkul selokan depan rumah yang sudah banyak ditumbuhi rumput,” kata Bu Iwan menghentikan langkahnya karena ditegur.
“Ah, santai saja. Ayo sini, gak seru kalo nggak ada Bu Iwan, iya kan ibu-ibu?” tanya Seruni kepada ibu-ibu yang lain.
“Siap. Betul Ibu, ibarat sayur tanpa garam, gak berasa. Hahahaha...” kata Bu Eko disambut derai tawa yang lain.
“Eh, Ibu-ibu ini sedang ngobrolin apa? Kok tampaknya asyik sekali. Boleh saya gabung di sini?” tanya Seruni kepada Ibu-ibu.
“Boleh. Siap,” kata mereka serempak.
Tuan rumah, Ibu Rizal langsung ke dalam bermaksud mengambil tikar untuk alas duduk Seruni, yang langsung dicegah Seruni.
“Sudah Bu Rizal gak usah ngerepotin, saya duduk di sini saja bersama yang lain,” kata Seruni kepada Bu Rizal yang hampir masuk rumahnya.
“Izin Ibu, bagaimana kandungan Ibu, sehat kan?” tanya Bu Eko.
“Alhamdulillah sehat, kemarin baru diperiksa Bu Rubi. Kemarin sempat gak gerak, kata Bu Rubi karena saya terlalu sedih. Maka saya main ke sini biar gak sedih,” kata Seruni.
“Siap. Oh begitu ya. Saya dulu pernah mengalami hal semacam itu, memang benar kata Bu Rubi. Izin Bu, nanti ibu melahirkan sama Bu Rubi saja, dia tuh bidan yang paling handal di daerah kita, anak-anak yang lahir di kompi ini dialah yang menolong,” kata Bu Eko lagi menyarankan.
“Ya, lihat nantilah,” jawab Seruni singkat.
Karena dalam hatinya ia berencana pulang ke Yogya dan melahirkan di sana.
“Iya, izin Ibu. Ibu main-main ke sini saja kalau suntuk, di rumah Bu Rizal ini sudah menjadi posko Ibu-ibu rumpi barak tengah, hahaha...” kata Bu Budi menimpali.
“Di sini, kami bebas ngobrolin apa saja, untuk menghilangkan suntuk Bu. Dari masakan, baju-baju, make up sampai urusan kamar tidur, ups. Izin maaf saya kurang sopan,” kata Bu Iwan kembali menimpali.
“Dan di sini sudah seperti supermarket. Kalau Ibu mau beli baju anak-anak, nih ada Bu Marpaung, kalau mau beli baju dewasa ada Bu Supri, kalau mau pesan makanan ringan ada Bu Eko yang biasa bikin untuk dititip di warung, kalau mau butuh make up nih ada Bu Siregar, warung sayur ada Bu Totok. Iya kan Bu, lengkap tinggal dipilih… dipilih... dan siapkan duit,” kata Bu Pane menjelaskan panjang lebar dengan gaya bicara yang jenaka.
Mereka yang ada di situ tertawa mendengar ocehan Bu Pane yang lebih mirip gaya penjual tamu.
“Oh ya... tadi lagi membahas apa sih? Kok gak dilanjutin,” tanya Seruni lagi.
“Oh... tadi, itu kami sedang membicarakan Bu Bowo, yang sering pulang ke rumah orang tuanya dan tidak mau bergaul dengan tetangga, dan setiap hari mengurung diri di rumah. Kata tetangganya sering terdengar suara tangisannya kalau malam,” kata Bu Pane menjelaskan.
“Hah, Bu Bowo itu kan suaminya anggota suami saya. Wah berarti saya mesti ke sana nanti, takutnya kenapa-napa,” kata Seruni.
“Iya, Bu. Suaminya anggota peleton Bapak tuh. Namanya pengantin baru Bu, mungkin belum puas dikeloni sama suaminya, heheheee...” kata Ibu Subur yang berbadan subur.
“Hush, Bu Subur. Pantang bilang begitu, ada Bu Danton kok ngomong kek gitu,” ujar yang lain.
“Eh... sudah, jangan berpraduga macam-macamlah, mungkin dia sedang ada masalah pribadi, kan kasihan. Dia perlu teman ngobrol,” kata Seruni mencoba memberikan pengertian kepada ibu-ibu anggota yang ada di situ.
Saat sedang asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba ada petugas menjemputnya ke rumah jaga karena ada telepon dari Pras. Spontan Seruni langsung berdiri dan bergegas ke rumah jaga dan pamit kepada ibu-ibu yang masih asyik dengan obrolan mereka yang sedang merencanakan bikin kue minggu depan usai terima uang gaji suami.
Ibu-ibu barak tengah ini memang terkenal sangat kompak saat kegiatan maupun keseharian mereka, mereka sudah mirip seperti keluarga saja. Saat ada acara pertemuan mereka yang paling heboh, selalu ramai dengan cerita-cerita mereka. Jauh berbeda dengan ibu-ibu yang tinggal di barak belakang dan barak pinggir. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang baru masuk ke kompi ini. Sehingga mereka lebih banyak diam, dan dalam keseharian mereka jarang terlihat ngobrol-ngobrol di depan rumah.
Setibanya di rumah jaga, Seruni masih menunggu beberapa saat untuk menerima telepon, kata petugas jaga ada telepon dari Pras. Tentu saja hatinya berbunga-bunga, mirip sedang menunggu telepon dari pacar. Saat itu, hanya ada telepon di rumah jaga sebagai alat komunikasi umum, itupun sering rusak karena kabelnya terkena sambaran petir, alat komunikasi lain berupa handphone belum ada.
Dari Pras, diperoleh kabar bahwa pasukan sudah sampai di Makasar. Kapal sedang sandar di pelabuhan, mungkin untuk dua atau tiga hari ke depan karena kapal mengalami perbaikan sekaligus pengisian bahan bakar. Rencana perjalanan ke Papua masih membutuhkan sekitar seminggu lagi, kalau cuaca dan kondisi kapal baik-baik saja, maklum kapal tua. Pras tidak bisa terlalu lama bicara karena dia yakin harus bergantian dengan anggota yang lain, yang sudah mengantri di wartel yang sama.
Siangnya Seruni sudah bersepakat dengan ibu-ibu barak tengah untuk makan siang bersama di taman TK yang berada di sebelah lapangan tembak, di sana memang kalau siang suasananya sangat nyaman, ada dua pohon beringin yang sangat besar, mungkin umurnya sudah puluhan tahun. Konon sudah ada sejak zaman penjajahan, dan belum ada seorang pun yang bisa berhasil menebangnya. Karena dari cerita ibu-ibu anggota, sudah dicoba oleh beberapa orang untuk menumbangkannya tapi orang yang diberi tugas kemudian sakit bahkan ada yang meninggal mendadak, sejak itu tidak ada yang berani menumbangkannya.
Ibu-ibu sudah ada yang datang saat Seruni tiba di sana, mereka membawa keranjang yang berisi makan siang dan minuman, beberapa ada yang membawa buah segala. Seruni tersenyum sendiri melihat itu, sungguh unik, mirip orang mau piknik. Mereka membawa serta anak-anaknya. Sehingga sungguh ramai suasana di taman TK siang itu. Dan yang luar biasa lagi, pengaruhnya membuat makan siang terasa nikmat, walau lauk sederhana, tapi karena makannya sama-sama jadi seru. Sungguh menyenangkan, ia bisa makan banyak dan sejenak bisa mengobati rasa kesepian yang dirasakannya.
Alhasil siangnya Seruni bisa tertidur dengan pulas, sehingga terlambat kumpul untuk kegiatan olahraga sore. Selama pasukan pergi tugas, instruksi dari Ibu Ketua Cabang yang tak lain adalah isteri Danyon, agar di seluruh kompi memperbanyak kegiatan untuk ibu-ibu anggota. Dari yang dua kali seminggu menjadi enam kali seminggu, hanya hari Minggu libur kegiatan. Setiap Persit di Kompi harus bisa menciptakan kegiatan positif, misalnya meningkatkan keterampilan untuk ibu-ibu, mengaktifkan Posyandu, menggiatkan kegiatan bintal, dan lain sebagainya.
Ternyata kegiatan ini sangat bermanfaat, selain untuk mengokohkan kebersamaan antar anggota Persit di kompi, juga membuat hari-hari tidak jenuh dan kesepian. Hari pun seakan cepat berganti. Dan larangan untuk pulang ke rumah orang tua jika tidak ada orang tua pun, sangat efektif membantu agar ibu-ibu untuk cepat move on dari kesedihannya sehingga punya semangat baru, jika dibandingkan mereka yang sering ke rumah orang tuanya.
Karena di dalam asrama inilah ibu-ibu anggota bisa merasa senasib sepenanggungan, merasakan bahwa tidak hanya dirinya yang sedang ditinggal tugas. Jadi mereka bisa saling menguatkan dan saling menghibur satu sama lain. Walaupun kadang ada ada beberapa gesekan di antara mereka, Seruni sangat maklum, meski sudah lama menjadi Ibu Persit, tapi usianya masih jauh di bawah Seruni, karena masih ada yang menikah di usia yang sangat belia. Sehingga secara kejiwaan mereka masih berada di usia yang sebenarnya.
Sering terjadi pertengkaran hanya karena hal yang sangat sepele, apalagi karakter masyarakat Sumatera yang keras dan spontan, tidak mengenal basa-basi bila ada yang tidak cocok di hatinya mereka akan langsung mengatakannya, nah di sinilah yang memicu munculnya konflik, ibu-ibu anggota kadang kurang memiliki kedewasaan dalam bersikap dan bertutur kata.
Tapi Seruni bersyukur karena selama ini ia pernah bertugas sebagai guru bimbingan, sehingga keterampilan dalam mengelola masalah yang selama ini ia gunakan bisa pula untuk mengatasi dan memediasi bagi anggotanya yang mengalami konflik, walau tidak seratus persen berhasil. Biasanya hal ini disebabkan karena masing-masing pihak lebih mengutamakan egonya masing-masing, tidak ada yang mau mengalah, sehingga kadang meski sudah didamaikan mereka tetap tidak mau bertegur sapa. Jika sudah begitu maka Seruni akan melaporkannya ke Ibu Ketua Ranting (istri Danki) dan meminta bantuan tentara yang bertugas sebagai Ka. Korum.
Namun ada saat yang sangat membahagiakan Seruni, tatkala pihak yang bertikai bisa damai, yang terjadi justru setelahnya hubungan mereka bisa menjadi semakin erat, semakin mesra. Ya, kadang pertengkaran tidak harus berakhir dengan permusuhan atau perpecahan, namun dengan itikad yang baik dan kedewasaan yang tinggi menjadikan mereka semakin kuat persaudaraannya. Kadang gesekan menjadi sarana untuk mendekatkan satu sama lain.

Other Stories
Hati Yang Beku

Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Hati Diatas Melati ( 17+ )

Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Dua Bintang

Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...

Download Titik & Koma