10. Hi, Junior!
Seperti biasa, sama seperti aturan di kompi sebelumnya, di Kompi Markas (Kima) ini, kegiatan ibu-ibu Persit dilaksanakan lima kali dalam seminggu. Sore ini pun Seruni mengikuti kegiatan olahraga bersama ibu-ibu anggota kima, semua wajib ikut kecuali yang sakit. Namun ada dispensasi bagi yang hamil, hanya cukup menghadiri kegiatan itu, biasanya secara kebetulan membentuk kelompok sendiri di sudut yang lain, mereka berjumlah sekitar lima belasan orang dengan variasi usia kandungan yang hampir sama, dan kebetulan Ibu Ketua rantingnya juga sedang hamil tua.
Mereka sering dijuluki kelompok Bumil (kelompok Ibu Hamil), selama kegiatan mereka hanya ngobrol-ngobrol seputar kehamilan, kondisi janin, proses melahirkan dan lain sebagainya. Bagi Seruni, ini tema yang menarik karena sesuai dengan keadaannya. Kegiatan olahraga selama bulan puasa tetap dilaksanakan, hanya waktunya dipersingkat.
Kegiatan rutin lainnya yang dilakukan Seruni selama di Kima adalah jalan-jalan pagi bersama Mbak Reni, Ibu dan Kima. Mereka bertiga sering sekali melakukan kegiatan bersama, seperti jalan-jalan pagi yang biasanya dilanjut belanja di pasar, pergi kontrol ke dokter kandungan atau sekedar ngobrol-ngobrol santai di rumah mereka secara bergantian, masak bersama dan lain sebagainya. Hal itu dirasa sangat menyenangkan sehingga tidak terasa waktu melahirkan sudah dekat. Sesuai pesan ibunya, Seruni sudah menyusun bajunya dan baju anaknya ke dalam tas besar, kendi tempat ari-ari bakal anaknya nanti beserta kain mori dan pernak-perniknya juga disiapkannya, karena ibunya khawatir jika tiba-tiba melahirkan semua sudah tinggal membawa.
Sore itu Seruni mendapat antaran sepiring buah nangka yang sudah dibersihkan kulitnya dari Ibu dan Kima, beliau tahu betul kesukaan Seruni. Dan memang kemudian sore itu Seruni melahap hampir separuh piring buah nangka, Mbak Reni sampai geleng-geleng kepala, ia sempat mengingatkan agar jangan terlalu banyak makan nangka, nanti bisa sakit perut atau masuk angin jika tak tahan. Namun Seruni tetap saja menambah beberapa buah lagi. Dan betul saja saat usai makan sahur,
Seruni merasakan perutnya seperti melilit sakit sekali, tapi anehnya datangnya sekejap hilang dan sekejap terasa lagi. Mbak Reni yang melihat hal itu hanya bisa menolong Seruni dengan membalurkan minyak kayu putih ke pinggang belakang Seruni. Meski hal tersebut tidak berpengaruh menyembuhkan tapi cukup memberikan rasa nyaman.
Dan rasa sakit yang dirasakan semakin sore terasa makin sering, Seruni sempat menangis menahan sakit dan berdoa sebisanya, ia sungguh merasakan ketakutan yang luar biasa, ia takut terjadi sesuatu terhadap janinnya. Ia merasa menyesal karena tidak mendengarkan kata Mbak Reni. Melihat kondisi Seruni yang seperti itu, Mba Reni akhirnya berhasil membujuk Seruni agar mau periksa ke Bidan Ani yang rumahnya tidak begitu jauh dari tempat mereka tinggal.
“Ayo Bu Pras, mari ikut ke kamar saya saja, biar saya cek dulu kandungan Ibu,” kata Bidan Ani.
Seruni hanya bisa mengikutinya dari belakang menuju kamar yang dimaksudkan. Tanpa menunggu lama, Bidan Ani langsung memeriksa perut buncit Seruni.
“Bu, maaf saya harus periksa bagian dalam, saya rasa Ibu sudah saatnya melahirkan,” kata Bidan Ani sambil keluar kamar mengambil perlengkapan untuk memeriksa.
Sesuai perintah Bu Ani, Seruni melepas pakaian dalamnya. Alangkah terkejutnya dilihat di pakaian dalamnya ada bercak darah, perasaan Seruni makin tak karuan.
Tak lama kemudian Bu Ani muncul dengan membawa beberapa perlengkapan. Seruni pasrah saat dilakukan pemeriksaan dirinya dan ia juga menyampaikan kejadian yang baru dialaminya.
“Wah... Ibu sudah bukaan delapan, Ibu harus segera ke rumah sakit sekarang juga. Saya akan segera telepon Ka. Korum untuk menyiapkan kendaraan ambulans,” kata Bu Ani.
“Hah… melahirkan? Betulkah itu?” kata Seruni heran campur senang.
Mendengar kabar itu, Mbak Reni segera pulang dengan membawa pakaian dan kendi tempat ari-ari.
Dengan diantar mobil ambulans milik batalyon, Seruni diantar ke rumah sakit. Jarak antara asrama dan rumah sakit hanya sekitar lima kilo meter, namun karena hari itu malam Minggu, jalan menuju menuju rumah sakit agak lama karena jalanan agak padat.
Saat tiba di rumah sakit, Seruni sudah sangat kesakitan sehingga tidak mampu berjalan. Perawat jaga yang berada di UGD malam itu dengan sigap dan cekatan mengangkut Seruni ke atas tempat tidur beroda ke dalam ruangan bersalin. Di ruang bersalin tampak dua orang perawat sedang mempersiapkan ruang bersalin. Langsung saja Seruni dipindahkan ke meja persalinan. Seruni menahan rasa sakit yang luar biasa, keringatnya bercucuran, meski di luar suhu udaranya cukup dingin. Dia sudah tidak peduli ketika perawat mengganti bajunya dengan baju persalinan berwarna hijau milik rumah sakit.
Dalam kondisi seperti itu ia merasakan ketakutan yang amat sangat, mentalnya betul-betul down, ia membayangkan bagaimana jika ia meninggal saat melahirkan. Siapa yang akan merawat anaknya nanti sementara ia di sini sebatang kara, tidak ada suami, tidak ada orang tuanya, dan ketakutan-ketakutan lain yang terus membayanginya. Sudah hampir satu jam Seruni di meja persalinan, tapi bukaan jalan lahir belum juga beranjak dari delapan.
Seruni makin kesakitan, beberapa ibu anggota yang diperintahkan menjaga Seruni terus menghiburnya, menguatkannya, dan di antaranya membacakan doa untuk Seruni dan yang lain menaburkan bedak bayi di atas perut Seruni, katanya biar merangsang agar si jabang bayi cepat keluar.
Tak lama berselang datang Ibu Ruly, beliau adalah istri Wadanyon ikut mengecek keadaan Seruni. Melihat keadaan Seruni yang seperti itu, ia kembali keluar ruang bersalin dan entah ke mana beliau pergi, sebelumnya ia meminta nomor telepon orang tua Seruni. Tak lama kemudian Bu Ruly masuk kembali ke ruangan bersalin, beliau berkata sesuatu dengan lembut di telinga Seruni.
“Bu Pras, saya barusan telepon orang tua Ibu di Yogya untuk mengabarkan kondisi Ibu saat ini. Beliau berpesan, silakan saja Bu Pras melahirkan sekarang, tidak usah menunggu kehadiran beliau. Beliau sudah memberi izin Ibu untuk segera melahirkan. Dan lusa dengan penerbangan pertama beliau akan menuju Medan,” kata Bu Ruly perlahan di telinga seruni.
Mendengar itu entah mengapa tiba-tiba saja hatinya merasa lebih tenang dan janin di rahimnya tiba-tiba juga seperti punya energi yang kuat untuk mendorong dirinya keluar. Melihat itu perawat yang bertugas minta agar ibu-ibu asrama segera ke luar ruangan bersalin karena akan melakukan proses persalinan. Dan betul saja dengan sekuat tenaga Seruni mengejan dua kali segera si jabang bayi bisa segera keluar. Tepat pukul sepuluh malam lewat sepuluh menit, bertepatan dengan tanggal sepuluh November terdengar suara jerit tangis bayi dari dalam kamar bersalin, suaranya tinggi melengking. Bidan yang menolong persalinan segera menunjukkan buah hati Seruni yang baru lahir, kulitnya merah, rambutnya tebal dan ikal.
Seruni merasa takjub dan bersyukur bisa melihat buah hatinya sehat, tak terasa air matanya membasahi pipinya. Seluruh rasa sakit yang ia rasakan tiba-tiba tak lagi dirasakannya, berganti dengan rasa bahagia saat dilihat anaknya lahir dengan selamat.
“Alhamdulillah... Masyaallah... Subhanallah... Terima kasih Ya Allah... cantik sekali..” ucap Seruni lirih tak henti-hentinya.
Sementara Seruni dibersihkan oleh perawat, bayi mungil itu juga dibersihkan, dibedong kemudian dibawa keluar ruangan. Ternyata di luar sudah menunggu Ka. Korum Batalyon yang sudah siap mengumandangkan azan dan iqomah di telinga kanan dan kiri bayi mungil itu. Seruni semakin terharu dengan kebaikan hati ibu-ibu anggota dan Korum yang begitu sigap dan tanggap akan situasi saat itu.
Seruni belum bisa meninggalkan ruang bersalin, dan selama dua jam pertama pasca melahirkan dia juga tidak diperbolehkan tidur, kondisi kesehatan Seruni belum pulih benar dan dikhawatirkan jika ada pendarahan. Oleh karena itu dua orang ibu anggota ditugasi menemani Seruni agar tetap terjaga, dengan mengajaknya bercerita. Meski rasa lelah dan kantuk yang luar biasa mendera. Bagaimana tidak, energi yang dikeluarkan saat melahirkan sangat besar dan dari tadi siang sama sekali ia tidak bisa tidur karena perutnya sudah terasa mulas.
Di luar ruangan juga disiapkan dua orang personil untuk berjaga-jaga jika ada penimbulan situasi. Mengetahui hal itu Seruni semakin merasa nyaman, rasa takut dan khawatir yang selama ini menyelimutinya hilang sudah.
Pagi harinya Seruni dipindahkan di ruang VIP perawatan agar bisa berdekatan dengan buah hatinya. Selama masa pemulihan, Seruni tetap ditemani oleh ibu anggota yang bertugas dengan model shift pagi, siang, malam. Sebenarnya ia merasa sungkan karena merepotkan banyak orang, tapi ia juga tak menyangkal jika ia belum bisa mandiri karena gerakannya sangat terbatas, terutama jika harus mengganti popok bayinya. Untungnya pemulihan hanya dua hari, setelah itu Seruni diperbolehkan pulang karena kondisi diri dan anaknya dinyatakan sehat oleh dokter. Semua urusan administrasi sudah ditangani oleh Bamin Kima, biaya nanti tinggal dibayarkan setelah sampai rumah.
Begitu sampai di rumah, ternyata sudah menunggu keluarga Pak Mahmud, mereka berdiri di teras rumah, Pak Mahmud membawa mangkok berisi bunga setaman yang dicampur beras kuning, dan istrinya juga membawa secawan madu. Seruni tidak menyangka mereka akan melakukan upah-upah buat dirinya. Menurut kepercayaan penduduk setempat, upah-upah masuk rumah dilakukan untuk menyambut tamu yang akan masuk rumah dan mengembalikan semangat Seruni yang sempat hilang setelah berjuang melahirkan anaknya. Secawan madu sebagai perlambang doa dan harapan agar di rumah ini nanti bisa betah dan nasib baik selalu melingkupi penghuni rumah.
Dua hari kemudian digelar selamatan sebagai rasa syukur telah hadir anggota baru dalam keluarga Seruni. Semua hidangan dimasak sendiri oleh Bu Mahmud dan Bu Brata, kebetulan mereka berdua ahli dalam memasak. Acara selamatan dan potong rambut si jabang bayi sekalian menabalkan/menasbihkan nama si jabang bayi karena paginya kebetulan Pras sudah memberikan nama untuk anaknya.
Seruni sangat terharu mendapat perlakuan seperti itu dari keluarga Pak Mahmud, air mata bahagia dan haru membasahi pipinya. Kini ia merasa punya keluarga baru, keluarga yang begitu mencintainya dengan penuh ketulusan, dan ia pun semakin merasa tidak lagi sendiri, ada keluarga Pak Mahmud, ada ibu-ibu anggota Persit yang baik hati. Kebahagiannya makin lengkap tatkala sore harinya tiba-tiba Bapak dan Ibunya sudah tiba dari Yogya.
Ada rasa bangga tersirat di hati Seruni, meski tanpa suami di sisinya ia bisa menjalani saat yang paling bersejarah dalam hidupnya dengan baik, yang tidak mungkin ia alami jika tidak menikah dengan seorang prajurit.
***
Pos Udara Papua, 12 November
Di suatu tempat di Pos udara yang terletak di tengah hutan tanah Papua. Pras sudah mulai bisa kembali berjalan-jalan di sekitar pos penjagaan tempatnya bertugas, setelah hampir lima hari ia terbaring di atas ranjangnya tidak berdaya oleh penyakit malaria yang dideritanya. Mungkin jalinan batin yang begitu kuat, di saat hari Seruni melahirkan anak pertamanya, Pras sedang berjuang melawan penyakit malarianya, dan tepat saat Seruni berjuang di atas meja persalinan, di tempat yang lain Pras juga berjuang melawan ganasnya malaria. Kondisinya sangat kritis, suhu badannya sangat tinggi, badannya terkulai lemas karena sudah dua hari tidak ada makanan yang bisa dicerna oleh perutnya kecuali air yang diminumnya.
Badannya menggigil hebat, bahkan malam itu ia sempat tak sadarkan diri berkali-kali ia mengigau dalam tidurnya. Dua buah tilam milik anggotanya ditimpakan di badannya karena ia merasa sangat kedinginan, meski suhu badannya mencapai empat puluh derajat celcius. Dua ampul injeksi malaria sudah masuk ke badannya, disuntikkan oleh anggotanya, karena tidak tega melihat keadaan Pras, si anggota akhirnya memberanikan diri menyuntikkan obat itu atas perintah Pras. Anggota lainnya yang muslim berinisiatif membacakan ayat Al-Quran di dekat ranjang Pras, mereka sudah tidak tahu harus berbuat apa, mereka berdoa sebisanya demi kesembuhan Pras.
Dan berkat semangat Pras yang tinggi dan doa tulus dari anggotanya untuk bisa sembuh, besok pagi demamnya turun, tetapi tubuhnya masih sangat lemah, sehingga anggotanya melarang Pras untuk turun dari tempat tidur, mereka bergantian merawat Pras hingga Pras pulih seperti pagi ini.
Jasa kesepuluh anggota itu sampai kini selalu membekas di hati Pras. Sehingga meski kini mereka sudah tidak bertugas dalam satu Batalyon, mereka tetap menjalin komunikasi dengan mereka, bagi Pras mereka sudah dianggapnya saudara. Dalam penugasannya itu, tidak satu pun dari mereka saat yang belum pernah terjangkit malaria, tapi Pras yang terakhir terjangkit dan yang paling parah.
Seminggu setelah Pras sembuh, hellypad mendarat di lapangan depan Posko dengan membawa regu pengganti, Pras dan sembilan anggotanya ditarik ke Pos Kotis untuk diberi waktu seminggu beristirahat. Di situlah Pras mendapat kabar bahagia yaitu kabar kalau anaknya telah lahir dengan selamat. Tapi sayangnya ia tidak diizinkan menelepon Seruni karena begitu sampai ia harus menjalani opname di Rumah Sakit Tentara untuk pemulihan pasca sembuh dari malaria. Dua hari kemudian ia baru bisa menghubungi Seruni lewat telepon. Namun ia tidak menceritakan kejadian sakit malaria dan kondisi kritis yang sempat ia alami malam itu, ia tak ingin istrinya khawatir akan dirinya.
Ia berjanji akan segera membuatkan nama untuk anak perempuannya itu. Maka terciptalah nama indah untuk anaknya yang penuh kenangan, yaitu Dewi Iriana. Dewi menurut orang Jawa artinya bidadari cantik, sedangkan Iriana sebagai pengingat bahwa saat ia lahir ayahnya sedang bertugas di Irian. Dan nama itulah kemudian yang digunakan untuk nama anak pertama mereka.
Other Stories
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...
Awan Favorit Mamah
Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...