11. Back To Basecamp
Berita kepulangan pasukan sudah santer terdengar di telinga ibu-ibu anggota sejak masuk bulan kesepuluh penugasan ke daerah operasi. Memang dalam urusan informasi, ibu-ibu anggota ini memang jagonya, bisa mengalahkan kerja tim intel, radar jangkauannya luas sekali. Padahal dari pihak yang punya otoritas, untuk menyampaikan saja belum ada kabar apa-apa. Namun ya, jangan mudah percaya karena sumbernya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Herannya meski begitu, ibu-ibu di asrama lebih memercayai isu itu daripada penjelasan Ka. Korum. Tapi tidak dengan Seruni, dia selalu saja ketinggalan info hangat. Dan dia tidak mau bersikap sok tahu segalanya karena posisinya sebagai istri danton, jika tidak ada kabar dari batalyon dia tidak tertarik untuk membahas hal itu. Beberapa ibu menanyakan kebenaran beritanya, tentu saja ia menyarankan ke si ibu untuk tanya langsung kepada Bamin.
Semenjak berhembusnya kabar itu, maka mulai hebohlah ibu-ibu anggota di asrama. Ada yang mulai perawatan tubuh dengan membeli berbagai produk perawatan dari rambut hingga ujung kuku. Ada juga yang sibuk dengan menanam berbagai tanaman hias di halaman rumahnya. Bahkan ada yang membeli berbagai perabotan rumah seperti membeli tilam baru, seprai, gorden hingga baju tidur sexy.
“Biasa Bu, untuk penyambutan,” kata Bu Eko singkat, ketika ditanya untuk apa mereka melakukan itu semua.
Seruni hanya tersenyum melihat tingkah laku ibu-ibu anggota di asrama yang menurutnya agak berlebihan. Sementara dirinya tetap melakukan hal-hal rutin yang ia kerjakan. Kebetulan Seruni baru setengah bulan kembali ke rumahnya di kompi bantuan. Tapi peristiwa dalam penyambutan ini merupakan ladang rejeki baginya, karena Seruni bagai ketiban rejeki, banyak ibu-ibu yang memesan seprai batik terbaru dengan kualitas terbaik, gorden, baju-baju batik dan sebagainya. Tentu saja peluang bisnis ini dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tanpa menunggu lama ia segera menghubungi bapaknya di Yogya agar mencarikan berbagai pesanan ibu-ibu asrama. Pesanan langsung bisa mereka nikmati dalam waktu seminggu, meski pembayarannya sebagian besar dengan sistem angsuran.
***
Bulan kesepuluh, kesebelas, keduabelas, ketigabelas ternyata lewat begitu saja, tidak ada tanda-tanda pasukan akan dipulangkan. Ibu-ibu tentu saja kecewa berat, kegiatan penyambutan mulai redup gaungnya. Hingga suatu malam dari berita di TV menayangkan pasukan pengganti dari Batalyon di Padang besok dilepas oleh Pangdam di Pelabuhan Belawan, Seruni yang malam itu sedang main di rumah Ibu Danki langsung terpana tidak percaya akan apa yang dilihatnya barusan. Bu Danki langsung berteriak kegirangan seperti anak kecil baru dapat hadiah, lalu dipeluknya Seruni saking senangnya dengan kabar itu.
“Apa artinya suami kita akan segera dipulangkan ya Bu?” tanya Seruni masih juga belum yakin.
“Aduuh, Bu Pras ini lho, kok nggak seneng ya dengar kabar suami kita akan segera pulang?” tanya Bu Danki heran melihat Seruni tidak seheboh dirinya.
“Saya kan belum pengalaman Bu. Jadi betul ya suami kita akan segera pulang? Alhamdulillahirobbil ‘alamiin. Ya Allah terima kasih. Semoga mereka bisa segera kembali dengan selamat semuanya,” kata Seruni akhirnya.
“Amiin ya rabbal ‘alamin.” seru mereka kompak.
Besok paginya saat olahraga hari Jumat pagi, Bamin menyampaikan secara resmi jadwal kepulangan pasukan, menunggu pasukan pengganti datang, jadi diperkirakan satu bulan ke depan pasukan sudah kembali ke base camp. Berita itu tentu saja membuat ibu-ibu bersorak gembira. Anak-anak mereka ikut bersorak dengan riuhnya mengikuti apa yang dilakukan ibunya.
Sejak pengumuman itu, suasana penyambutan gaungnya mulai berkumandang lagi. Persiapan yang dilakukan ibu-ibu makin heboh. Termasuk acara membuat kue-kue kering, Seruni kadang heran bercampur geli melihat persiapan ibu-ibu anggota dalam menyambut suami mereka, persiapannya lebih heboh daripada persiapan menyambut lebaran. Seruni sendiri baru mempersiapkan penyambutan untuk Pras setelah dikabarkan kapal yang membawa pasukan sudah sandar di Tanjung Priok. Karena itu tandanya pasukan tiga hari lagi akan segera sampai. Saat itu ia baru mulai merapikan rumah dan pekarangan, dan membuat beberapa penganan kecil pengisi stoples di meja tamu.
Suatu sore ia sengaja berjalan-jalan keliling asrama dengan menggunakan sepeda motor yang baru dibelinya seminggu lalu dari hasil jualan batiknya selama ini. Dilihatnya pemandangan yang tidak seperti biasa, rumah-rumah anggota barak belakang yang biasanya sunyi, sore itu terlihat lebih hidup. Hampir semua penghuninya berada di luar rumah, ada yang sekedar mengobrol dengan sesama istri anggota, ada yang asyik menata tanaman di halaman rumah mereka. Rumah mereka kelihatan lebih bersih dan cantik. Dalam hati Seruni ikut senang melihat perubahan ini.
Ibu-ibu di barak tengah pun tak kalah heboh, rumah di jajaran ini juga terlihat lebih bersih dan rapi, kaca-kaca rumah terlihat kinclong, tanaman hias terlihat indah. Beberapa ibu terlihat bergotong royong mengecat pagar bambu di depan rumahnya masing-masing.
Persiapan upah-upah menyambut pasukan juga sudah dirancang sedemikan rupa oleh Ka. Korum beserta anggotanya, ibu-ibu membantu menyiapkan pernak-pernik untuk upah-upah, dari kegiatan membuat beras kuning, bunga tabur, bedak dan tentu saja yang utama adalah air doa yang sudah didoakan oleh ustadz.
Akhirnya saat mendebarkan yang ditunggu oleh ibu-ibu anggota pun tiba. Pasukan diperkirakan akan masuk ke kompi pukul sebelas malam. Ibu-ibu beserta anak-anak mereka sudah berkumpul sejak habis isya. Anak-anak yang biasanya sudah tidur, malam itu tetap terjaga demi menyambut ayah mereka. Dan benar saja mendekati pukul sebelas malam, dari kejauhan terdengar sirine dari mobil Patroli milik POM mengaung-ngaung nyaring. Peserta upacara yang tadinya duduk di trotoar sepanjang rumah jaga langsung membentuk barisan untuk acara penyambutan.
Semakin dekat kendaraan yang membawa pasukan semakin kuat suara sirine, anak-anak kecil mulai tidak bisa dikendalikan oleh orang tuanya karena ingin melihat mobil patroli yang mengeluarkan suara sirine mengaung-ngaung yang mungkin menurut mereka menarik.
Saat pasukan benar-benar sampai, pasukan berbaris rapi di luar pagar kompi. Sementara ibu-ibu Persit membentuk pagar betis di sepanjang jalan masuk ke arah asrama. Dan mulailah acara upah-upah yang lebih simple, berupa pengalungan bunga kepada Danki kemudian penepung tawaran oleh danramil. Setelah itu pasukan masuk ke area kompi dengan menjabat tangan ibu-ibu Persit yang membentuk pagar.
Selesai acara upah-upah, pasukan melaksanakan apel terlebih dahulu sebelum bisa bertemu keluarganya masing-masing. Seruni hampir tidak mengenali Pras karena sekarang bertambah gemuk, kulitnya pun lebih gelap dibanding sebelumnya. Pras memeluk erat Seruni, seolah melepaskan seluruh kerinduan yang sudah 1 tahun 2 bulan ditahannya. Dia melihat ke sosok anak perempuan kecil dengan rambut panjang diikat ekor kuda, badannya tidak teralu gemuk, tapi wajahnya manis sekali.
“Ini Dewi anak kita Mas,” kata Seruni.
“Ya... tentu saja, dia manis sekali mirip seperti Bundanya,” kata Pras sambil berlutut dengan maksud ingin menggendong Dewi.
Pras ingin sekali memeluknya. Namun Dewi justru sembunyi di balik tubuh Seruni. Seruni menggendong Dewi seraya menjelaskan kepada putrinya jika Pras adalah ayahnya, sosok laki-laki yang fotonya sering mereka lihat sebelum tidur. Tapi Dewi tetap tidak mau mendekat pada ayahnya. Akhirnya Pras memilih mengalah untuk tidak mendekati putrinya itu, ia paham mungkin ia masih takut pada dirinya. Ya… butuh waktu.
Saat memasuki rumah, Pras agak pangling dengan situasi rumahnya yang kini semakin penuh dengan barang-barang baru. Ada TV, kulkas, mesin cuci, dan motor. Melihat itu spontan Pras bertanya kepada Seruni,
“Wah, sudah penuh rumah kita sekarang. Kok bisa beli barang-barang ini Sayang? Bukannya gajiku hanya sedikit?”
Seruni tersenyum, “Siapa dulu dong istrinya! Mas Pras ngga ingat ya, kan Runi pernah cerita jika selama Mas pergi jadi juragan Batik. Nah, ini hasilnya Mas. Alhamdulillah berkat usaha sampingan itu Runi bisa beli TV, kulkas dan motor ini. Dan mesin cuci itu Runi beli dengan uang tarikan bersama ibu-ibu asrama,” kata Seruni.
“Istriku memang hebat, Mas bangga sekali padamu,” kata Pras kepada Seruni.
Malam itu mereka berdua ngobrol sampai mendekati pagi, begitu banyak yang ingin mereka ceritakan. Pengalaman Pras bertugas di tanah Papua dan tentu saja pengalaman seru yang dijalani Seruni selama ditinggal bertugas. Namun tubuh yang lelah akhirnya membuat mereka harus menyimpannya untuk esok hari. Mereka memutuskan untuk beristirahat sambil melepas kerinduan yang selama ini tertahankan.
***
Pagi itu Dewi terbangun lebih awal dari biasanya, diketuknya kamar tidur Bundanya yang letaknya berdampingan dengan kamarnya. Memang sejak kembali ke rumah itu, Seruni sudah melatih anaknya untuk terbiasa tidur sendiri di kamar tidurnya. Seruni segera membukakan pintu untuk anaknya, tapi dia terkejut melihat reaksi Dewi seperti marah, dia menolak untuk diajak masuk kamar.
“Ada apa Sayang? Kok pagi-pagi sudah cemberut begitu?” kata Seruni kepada Dewi yang memasang wajah cemberut.
“Nda, Om. Ntu?” tanya Dewi dengan kepolosannya sambil menunjuk ke arah Pras yang masih terbaring di tempat tidurnya.
Meski bicaranya baru sepenggal-sepenggal dan belum begitu jelas, Seruni mengerti apa yang dimaksud Dewi. Dewi heran karena Pras dipanggilnya dengan om.
Pertanyaan itu membuat Seruni agak terkejut.
“Dewi, itu Ayah Dewi, bukan Om. Seperti Sindi, dia kan punya papa dan mama. Dewi juga punya Bunda dan Ayah. Nah, yang tadi malam datang itu Ayah Dewi. Bukan Om,” Seruni berusaha menjelaskan kepada Dewi.
Diambilnya foto di atas meja di sebelah tempat tidurnya dan menunjukkan kepada Dewi bahwa om itu adalah orang yang ada di foto itu, bahwa Pras adalah ayahnya.
Tapi Dewi tetap memasang wajah heran, karena masih belum mengerti sepenuhnya penjelasan Seruni.
Seruni tidak mau memaksanya untuk memahami penjelasannya.
Saat Pras terbangun dari tidurnya, ia kembali mencoba mendekati dengan memberinya hadiah boneka kelinci kesukaan Dewi. Dengan senang hati Dewi menerma hadiah itu dari Pras, tapi saat Pras ingin memeluknya, lagi-lagi Dewi sembunyi di balik tubuh Bundanya.
“Tak.. au, nda..” katanya ketus kepada Pras.
Membuat Seruni tidak enak hati takutnya Pras mengira kalau dirinya tidak pernah mengenalkan dirinya pada Dewi. Tapi untungnya Pras tipe orang yang tidak mudah marah. Ia pernah dengar cerita semacam itu dari anggotanya, banyak yang pernah mengalami hal ini, sehingga jika Dewi bersikap seperti itu pada dirinya ia sangat memaklumiya.
Pras justru tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan Dewi yang sembunyi di balik tubuh Seruni, tapi sesekali mencuri pandang ke arah Pras.
“Ha ha ha, iya... princes Ayah benar, Ayah kan belum mandi ya, jadi masih bau ya. Tunggu ya... Ayah mandi dulu, nanti Ayah akan berubah jadi pangeran tampan... hahahaha,” ujar Pras dengan gaya seorang pendongeng ulung.
Dan ternyata itu berhasil membuat Dewi tertawa cekikikan melihat tingkah lucu Pras.
Ternyata Dewi anak yang cukup cerdas, sehingga hanya butuh waktu kurang dari seminggu ia mulai bisa menerima kehadiran Pras di tengah-tengah mereka dan mulai mau mengubah dari panggilan Om menjadi Ayah.
Sejak kedatangan pasukan dari tugas di daerah operasi, suasana di kompi terasa hidup kembali. Hilir mudik personel, barak lajang yang kembali terbuka jendela-jendela kamarnya hingga kepulan asap dari dapur umum, membuat kehidupan di asrama kembali semarak.
Sebulan setelah kepulangan pasukan, adalah pelaksanaan cuti pasca operasi selama 10 hari yang dilaksanakan secara bergelombang. Kesempatan itu digunakan oleh Seruni dan Pras untuk pulang ke Yogya, untuk memperkenalkan Dewi kepada Eyangnya di Jogya. Dan rencananya di Yogya mereka akan menggelar resepsi pernikahan mereka yang sempat tertunda, tentunya hanya dengan acara yang sangat sederhana. Sebetulnya lebih tepat disebut acara syukuran pernikahan sekaligus syukuran kepulangan Pras dari daerah operasi.
Other Stories
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...