13. Nyanyian Hati Seruni
“Bunda, Eyang Putri sudah sampai," kata Dewi dari luar kamar tidur Seruni.
Seruni terhenyak dari lamunannya yang membawa ke masa dua puluh tujuh tahun yang lalu. Lagu yang tadi didengarnya sudah lama habis. Diletakkannya album foto yang sedari tadi disimak satu per satu lembarannya, yang sejenak membawanya ke awal dirinya mengawali biduk rumah tangganya bersama Pras.
“Iya, sebentar lagi Bunda keluar. Tolong bikinkan kopi untuk Eyang dan Bunda ya Wik!” jawab seruni dari dalam kamar.
“Nggih, Bunda,” jawab Dewi.
Memang sudah lama direncanakan oleh Bu Brata, Ibunda Seruni bakalan hadir menyaksikan cucu pertamanya menikah. Tapi sayangnya ia hanya hadir seorang diri, Pak Brata suaminya sudah berpulang ke Rahmatullah dua tahun yang lalu karena sakit jantung yang dideritanya. Ya, motivator dalam hidup Seruni itu meninggalkannya tepat satu bulan setelah kepindahannya ke kota hujan ini, untuk mengikuti penugasan suaminya yang kesekian kalinya, setelah berkeliling ke beberapa pulau di luar Pulau Jawa.
Perusahaan batik itu kini diteruskan oleh Bu Brata dibantu oleh Winda, adik kandung Prasetyo yang kebetulan punya keahlian di bidang manajemen keuangan. Dan perusahaan batik itu kini sudah semakin maju, bahkan sudah berhasil menerima order dari mancanegara.
Sayangnya hingga hari ini Seruni belum bisa memenuhi keinginan terakhir ayahnya untuk pindah ke Yogya dan tinggal di rumah orang tuanya. Seruni kenal betul Prasetyo suaminya yang memiliki prinsip bahwa perintah tugas adalah hal yang harus dilaksanakan tanpa alasan, dan pantang dalam kamus hidupnya menjadi prajurit yang meminta atau memilih di mana ia ditugaskan, dia tidak ingin menjadi prajurit cengeng. Dan prinsip itu selalu ia sampaikan kepada Seruni, agar isteinya itu mampu menyamakan langkahnya dan mengajarkan kepada Seruni untuk menjadi istri prajurit yang tegar dan tetap bisa survive di manapun suaminya ditugaskan. Prinsip ini yang menjadikan Seruni mempunyai mental yang kuat dan tidak mengeluh di manapun ia harus mendampingi suaminya bertugas.
Ternyata waktu itu sudah lama ia tinggalkan, tapi tetap terasa masih kuat melekat dalam ingatannya. Ternyata begitu banyak peristiwa yang telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, pengalaman yang mungkin tidak akan didapatkan jika ia tidak menikah dengan seorang prajurit TNI AD. Meski pada awalnya rasa ragu dan kegalauan hati mengantarkannya menjadi istri prajurit, rasa kesal karena begitu banyak peraturan yang membuatnya terbatasi kebebasannya, namun seiring waktu ternyata semua yang ia lalui justru banyak mengajari dan mendewasakannya menjadi seorang perempuan yang memiliki mental kuat.
Seiring waktu rasa terbatasi berubah menjadi rasa bangga bahwa menjadi istri prajurit itu terjaga dari hal-hal yang tidak baik, etika yang diajarkan di dalam kehidupan keluarga prajurit menjadikannya mempunyai nilai lebih yang bisa ia terapkan dalam kehidupan sosialnya. Organisasi istri prajurit yang ia jalani juga banyak memberikan kontribusi dalam berorganisasi dan belajar kepemimpinan.
Benturan dengan sesama istri prajurit justru membuat dirinya semakin matang dalam menghadapi permasalahan hidup. Bahkan tidak hanya anggota yang pernah berselisih paham, dirinya pun beberapa kali mengalaminya. Tapi berkat keinginan untuk menguatkan persaudaraan di antara istri anggota prajurit, tidak ada masalah yang tidak mungkin diselesaikan. Asal ada itikad baik, membuang jauh egoisme, selalu fokus pada solusi semuanya bisa terlewati.
Kondisi sulit, saat ditinggal suami ke daerah operasi sangat luar biasa pengaruhnya pada diri Seruni. Di sini ia betul-betul diuji kesabaran, ketabahannya selama ditinggal. Ia dan istri anggota yang lain dilatih untuk menjadi super woman, bukan hanya menjalankan kewajiban seorang istri tapi juga mampu menjalankan tugas seorang ayah. Ia teringat saat kritis yang ia alami, saat melahirkan anak pertamanya, saat keuangannya betul-betul di titik yang sangat minim, saat tengah malam anaknya demam tinggi, saat anggota terdekatnya justru mengkhianatinya dengan pergi diam-diam dari asrama pulang ke kampung halamannya saat penugasan di Aceh.
Ia harus bisa tetap survive seorang diri, tanpa harus banyak berkeluh kesah, karena berkeluh kesah tak akan mendatangkan manfaat apapun, yang ada hanya menjadikan diri seorang yang cengeng dan lemah yang ujung-ujungnya akan merusak mental dan fisik.
Nasihat dari mendiang Bu Diyah dan Bapaknya yang selalu diingat dan dipakainya sampai kini dan sering ia tularkan ke calon istri tentara yang menghadap kepadanya. Saat ujian datang harus tetap memiliki keyakinan bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya dengan cobaan di luar kemampuannya, mengembalikan semua kepada Sang Pemberi Ujian dan berdoa dengan khusyuk kepada Allah adalah solusi yang sering ia gunakan tatkala kadar kesabarannya sudah di ambang batas. Ya, ia sadar bahwa ia adalah manusia biasa yang punya keterbatasan dan kekurangan.
Keberadaannya sebagai istri Pras kadang mau tidak mau menempatkan dia pada posisi orang yang dituakan di satuan tempat suaminya ditugaskan. Memimpin sejumlah istri anggota suaminya bukan hal yang mudah, dengan berbagai karakter dan perbedaan usia menuntut dirinya untuk berlaku bijak, tegas namun tetap rendah hati. Dalam posisi inilah ia “dipaksa” untuk belajar arti menjadi seorang pemimpin. Saat di depan harus mampu memberi contoh bagi anggota dan mengarahkan anggota, saat di tengah mereka bisa menjadikan kita sebagai sahabat dan teman yang mampu bekerja sama, dan saat berada di belakang kita harus men-support mereka untuk melakukan hal-hal yang baik. Tiada pilihan lain kecuali melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan rasa tanggung jawab.
Memang semua peristiwa yang dialami setiap orang pasti menyisakan hikmah bagi pelakunya, tinggal bagaimana dengan bijak kita bisa memahaminya. Demikian juga dengan Seruni, peristiwa kehidupan yang ia jalani tidaklah selalu mulus, bahkan kadang tidak pernah ia duga sebelumnya. Tapi bagi Seruni hal itu justru menjadikan hidupnya terasa makin berwarna dan bermakna. Ia berusaha mensyukuri setiap detik, setiap tarikan hembusan napasnya bahwa kasih sayang dan kuasa Allah selalu menemaninya.
Bertambahnya usia dan pengalaman yang dilalui Seruni, membuat dirinya bisa berdamai dengan keadaan yang dihadapinya. Berbagai kegundahan, kekesalan, kebahagian, kesedihan dan kesenangan kini bagai nyanyian merdu yang menghiasi jalan penuh liku yang telah ia lewati. Semua itu kini bagai senandung hati Seruni yang sangat merdu untuk dinikmati.
***
Matahari pagi belum lagi sempat membagikan sinarnya kepada penghuni alam, tapi kesibukan di rumah Seruni sudah mulai terasa. Usai salat subuh, orang-orang di rumah sudah mulai sibuk menyiapkan acara penting yang akan digelar di rumah itu. Pukul sembilan pagi ini Dewi akan melaksanakan akad nikahnya dengan Muhammad Andika Nasution, seorang lelaki pilihannya. Entah faktor keturunan atau kebetulan saja, Dewi seolah mengikuti jejak dirinya, menikah dengan seorang prajurit juga. Andika, demikian calon mantunya itu biasa dipanggil adalah seorang prajurit karier seperti Prasetyo suaminya, dia adalah teman main Dewi saat masih di kompi bantuan dulu.
Itulah jodoh, meski sudah terpisah hampir dua puluh lima tahun mereka bisa dipertemukan kembali saat mereka sama-sama kuliah di UGM Yogyakarta. Andika kakak tingkat Dewi, mereka sama-sama satu fakultas namun lain jurusan. Setelah menamatkan Sarjananya di UGM, Andika memilih berkarier di dunia militer seperti ayahnya.
Sayangnya ayahnya sudah lama meninggal sehingga tidak bisa hadir menyaksikan acara pernikahan anak bungsunya di sini. Ayah Andika adalah salah satu anggota Pras saat tugas di Papua dulu, saat bertugas di Pos Udara. Sehingga sebenarnya sudah sangat akrab, makanya begitu Andika datang diperkenalkan oleh Dewi, Pras sangat mendukung hubungan mereka.
Seruni merapikan jilbab warna biru laut yang dikenakannya sebelum melangkah keluar kamarnya menyusul Prasetyo yang sedari tadi sudah di teras rumah ikut menyambut tamu yang datang. Saat melintasi kamar putrinya, dilihatnya putrinya itu duduk sendirian di kamarnya. Seruni berhenti, kemudian memutuskan menemui putrinya itu.
“Kamu cantik sekali anakku. Jika melihatmu… Bunda jadi teringat saat dulu Bunda akan menikah dengan Ayahmu,” kata Seruni seraya memandang wajah ayu putrinya itu.
“Oh ya Bunda. Tapi Dewi nervous banget Bunda,” kata Dewi.
“Hampir setiap calon pengantin mengalami ini Anakku. Bunda juga dulu begitu, atur napas, baca shalawat sebanyak-banyaknya agar bisa tenang nantinya. Dewi… kamu sudah siap kan? Sebentar lagi acara dimulai,” kata Seruni.
“Insya Allah siap Bunda,” kata Dewi lebih tenang.
“Bagus Anakku, oh ya Bunda ke depan dulu. Nanti Bunda jemput Dewi kalau acara sudah akan dimulai,” ujar Seruni meninggalkan Dewi di kamarnya.
“Nggih Bunda,” ujar Dewi.
Demikianlah acara yang digelar di rumah putih itu berjalan lancar, seolah waktu memutar kembali sejarah kehidupan Seruni dan Prasetyo di masa yang tentu saja berbeda.
Other Stories
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
Kk
jjj ...
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...