14. Ayat-ayat Rindu = At-taubah
“Paket dari siapa, Ning?”
“Ini dari Vara Isnaini Fauziah, untuk Akhi Amri.”
“Sini coba saya lihat.”
Furqon tahu, ini adalah paket dari kekasih Amri.
“Paket ini harus ditahan dulu karena yang bersangkutan sedang menjalani hukuman.”
“Akhi, ini amanah yang harus kita sampaikan. Jangan mendustakan amanah, Akhi,” Annisa mencoba merebut paket itu dari tangan Furqon.
“Ada apa ini?”
Suara Kyai Irsyad mengagetkan keduanya, akhirnya paket itu jatuh ke lantai.
“Ini Kyai, ada paket dari kekasih Amri, tentu saja untuk Amri. Sebaiknya kita diamkan dulu paket ini, sebelum hukuman Amri selesai.”
Kyai Irsyad sependapat dengan Furqon dan membawa paket itu untuk diamankan.
“Abah, Abah yang mengajarkan Annisa untuk selalu menjalankan tugas dengan amanah, jujur. Namun kenapa saat ini Abah menunda amanah tersebut untuk disampaikan? Akhi Amri berhak untuk menerima paket itu, bagaimana jika isinya penting?”
“Dari dulu, Abah selalu mendengarkan perkataanmu Nisa, namun untuk perkara ini, maaf, Abah harus menegaskan aturan pondok yang sudah Abah jaga bertahun-tahun.”
“Iya, tapi...”
“Cukup!”
Annisa tak melanjutkan kata-katanya.
“Kamu dari dulu selalu membela Amri, apa putri Kyai akan mencoreng nama Abahnya sendiri? Pahami itu, Nduk.”
Tanpa kata, Annisa menangis tanpa suara setelah Kyai Irsyad berlalu dari hadapannya. Sedang Furqon pun tersenyum puas kali ini karena ia merasa menang.
***
La Tahzan innallaha ma’ana[1]
Amri menggumam kata itu di dalam benaknya. Ia sedang berdiam bersama ayat-ayat rindunya. At-Taubah. Mencoba meredam rasa yang selalu mengusiknya, pagi hingga malam menjelang. Seperti saat ini, kerinduan yang teramat dalam sedang ia rasakan karena beberapa hari ini ia tidak dapat berkomunikasi dengan kekasihnya.
‘Tinggal beberapa hari lagi, Am. Kamu harus bisa menguatkan hatimu.’
La Tahzan innallaha ma’ana. Ia kembali mengulangi kalimatnya. Zikir malamnya kali ini ditemani suara gemericik air hujan.
“Assalamu’alaikum, Amri.”
Ia menoleh sejenak. “Ustadz.”
“Mengapa masih ada di sini, bukankah ini sudah jam istirahat?”
“Amri masih merenungkan kesalahan Amri, Ustadz.”
Ustadz Nur Cholis tersenyum. “Kamu harus bersabar ya, tenanglah. Hukumanmu akan segera usai, jadilah laki-laki tangguh yang pantang mengeluh,” ada haru di hati Ustadznya.
“Iya, Ustadz.”
“Saya hanya mencoba merasakan apa yang kamu rasakan, seandainya saja waktu bisa terulang kembali. Saya ingin seberani kamu, Am. Walau apa pun risikonya.”
Amri hanya diam mendengarkan perkataan ustadznya.
“Baiknya kamu kembali ke kamar, tidurlah, karena pagi-pagi kamu harus membersihkan masjid lagi, ‘kan?”
“Iya, Tadz.”
Dalam langkah kakinya ia berdoa bahwa kisah cintanya tidak menyakitkan seperti apa yang dialami Ustadz Nur Cholis. Tentu saja ia tak dapat memejamkan matanya malam ini, ia duduk kemudian mengambil kertas dan pena di meja kamarnya, menuliskan uraian rindunya pada Vara dalam bait-bait puisi.
[1] Janganlah kamu berduka, sesungguhnya Allah bersama kita.
Other Stories
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Kumpulan Cerpen
cerpen yang unik unik aja tanpa ada batas ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...
Awas, Ada Bakpao!
Liburan Ramadhan yang Lulu kira bakal adem dan hangat, berubah ketika dia bertemu dengan R ...