After Meet You

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Ld.lustikasari

Gadis Paspor Hijau

 Layar televisi super besar yang tergantung di salah satu sudut executive louge bandara inernasional Kota Metropop tengah menampilkan seorang pembawa acara berita berpotongan rambut serupa Dora The Exploler. Ruang tunggu dengan dominasi set sova empuk berkarpet itu sepertinya diisi oleh makhluk hidup berjenis generasi merunduk. Terbukti semua orang kompak tak acuh dengan Dora si pembawa acara. Semua sibuk dengan layar telepon pintar dan gadget di tangan. Tidak ingin menyia-nyiakan fasilitas wi-fi gratisan bersinyal 4G yang disediakan louge.
“Breaking news petang ini. Ditemukan sepasang mayat di sebuah vila mewah di daerah Bukit Emas, sebelah barat Kota Metropop. Diperkirakan salah satu mayat adalah mafia narkotika berinisial DS. Hasil identifikasi sementara menunjukan tidak adanya indikasi kekerasan yang mengakibatkan luka luar. Hingga berita ini diturunkan polisi masih mendalami kasus pembunuhan. Sedangkan kedua mayat dipindahkan ke Rumah Sakit Umum Kota Metropop untuk diautopsi.” Dora si pembawa acara berita mengakhiri kilas berita tanpa tepuk tangan dan sorak-sorai gemuruh dari penonton bayaran.
Bersamaan dengan layar televisi super besar berganti menampilkan iklan produk pakan ternak Godzilla, seorang pria tengah melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Terlalu gelap membaca koran dengan kacamata hitam. Lagipula ia sedang di dalam ruangan, bukan di tepi pantai. Lalu menyelipkan benda itu pada kancing teratas kemeja abu-abu monyetnya. Dikibasnya kertas koran bertanggal hari ini, lalu mulai membaca dengan keheningan yang khidmat.
Beberapa saat lalu, ketika si Dora mengoceh si pria tengah asik menunduk serupa penghuni louge lain. Selain takut di cap tidak kompak, ia juga saat itu memang sedang menekuni jendela notifikasi telepon pintar. Belakangan ia ketahui rupanya broadcast massage dari salah satu kontak BBM yang berisi #TC. Kendati demikian, telinganya tetap merekam berita yang Dora sampaikan. Menimbulkan efek semacam hujan rintik-rintik tentang ingatan masa silam. Dan ingatan itu perlahan mengalir di dalam pikirannya.
Akibat ulah Dora, susunan huruf pada koran yang dipegangnya luput sudah. Seleranya menemukan iklan pembesar anu di kolom iklan berbaris mendadak terlupakan. Sebagai gantinya, tragedi tiga tahun silam berarak di dalam kepalanya. Kembali. Sebuah titik balik yang mengubah dirinya hingga seperti ini. Saat dirinnya pertama kali mengemban misi, menembak dari kejauhan seorang politikus rakus.
Catatan sahih yang sengaja ditutup-tutupi dari mata publik membuktikan bahwa si politikus rakus merupakan salah satu pejabat paling korup. Pandai membuat pencitraan, sangat dijunjung dan dielu-elukan rakyat sekota Metropop. Ia memang tidak memiliki dendam pribadi pada si politikus rakus. Bahkan dirinya tidak mengenal secara pribadi. Atas dasar bayaran tinggi dan bonus besar dari seorang klien, ia akhirnya menandatangani kontrak.
Awal karirnya sebagai seorang penembak jitu ilegal yang baru memulai debut terhitung cukup mulus. Licin bak kepala botak.. Amat mudah baginya menjalankan aksi. Sebab ia terlatih, mahir, berdarah dingin, dan gampang masuk angin. Menembak objek dengan cepat dan akurat adalah santapannya sehari-hari. Meski baru pertama kali mengarahkan bidikan pada objek berupa benda hidup. Itu tidak menjadi masalah.
Cara kerjanya masih tetap sama. Ia hanya butuh satu tarikan pelatuk. Lantas peluru dari mulut pistolnya melesat cepat ke arah objek. Detik berikutnya, logam itu menembus sang objek. Berupa tulang tengkorak manusia bernyawa. Memuncratkan cairan lembek; darah dan otak. Rencana busuk si pemilik otak untukmelakukan penyuapan kepada Panitia Pengawas Pemilihan Umum demi memenangkan Pemilihan Kepala Daerah musim depan gagal sudah. Harusnya ia menerima sambutan meriah dari para penonton bak superhero.
Segelintir oknum kelebihan duit yang jengah dengan kelakuan para pejabat negeri yang bertindak layaknya hewan pengerat adalah dalang di balik pekerjaan pertamanya. Tidak hanya bayaran tinggi dan bonus besar, paket imbalannya meliputi hak untuk lolos dari kejaran hukum. Ia tidak memerlukan identitas baru, pindah ke luar negeri, operasi plastik maupun operasi kelamin di Thailand untuk mengelabuhi para penegak hukum. Pihak kepolisian tidak akan pernah bisa menyentuhnya. Itu janji si klien yang ditandatangani di atas matrai enam ribu. Sebab kliennya memiliki segudang orang dalam yang tidak kalah kotor dan licin bagai lumpur kali di kepolisian.
Sementara tim media dan buzzer sibuk menanyangkan berita hoax seputar lingkar dada Melinda Dee yang sudah pasti lebih menyedot perhatian masyarakat, ia dan kematian si politikus rakus akan terlupakan. Seiring gilasan waktu, beritanya akan tertimbun berita-berita penistaan yang sedang semarak. Sembari menunggu, ia dapat menghabiskan waktu luangnya dengan berlibur ke pulau yang jauh dan terpencil. Berbekal fasilitas pesawat jet pribadi dan wanita muda sintal untuk pribadi. Piknik-piknik cantik di tepi pantai saban hari. Perlahan-lahan ia mulai nemikmati indahnya surga dunia yang hakiki.
Ia hanya perlu melupakan sensasi aneh saat menyaksikan korbannya berpisah nyawa dan raga dalam satu kedipan mata. Mematikan hati untuk sekadar berbelas kasih. Serta mematikan telepon pintar ketika tiba-tiba mantan chat minta balikan. Lalu semuanya akan baik-baik saja. Hidupnya akan kembali lancar jaya. Ketika gelas chivas-nya diisi kembali oleh bartenderuntuk kesekian kali, bersamaan dengan gema musik dari DJ yang mengentak-entak, akan dibantunya untuk terbang melambung ke angan-angan.
Sebuah suara serupa benda jatuh mengirimkannya kembali ke alam sadar. Membuyarkan semua kenangan titian karir indahnya sebagai penembak jitu. Sebuah buku paspor bersampul hijau jatuh dan terlempar hingga menumbuksneakers gelapnya. Ia memperhatikan benda mati yang tidak memiliki daya untuk bergerak lagi itusembari mengangkat alis tebalnya tinggi-tinggi. Mempertanyakan muasal benda itu.
Sebelum ia sempat mengedarkan pandangan, sepasang kaki jenjang dengan balutan stiletto marun berdiri kikuk di hadapannya. Gayung bersambut jamban, ia bersiul dalam hati. Berbekal kumis tipis dan rambut halus disekitar janggut yang terpangkas rapi, ia mengembangankan senyum terbaik.Dengan bantuan rambutnya mengilap akibat sentuhan pomade yang proporsional, citra cool pada wajah tampannya meningkat beberapa persen.
Ia berdehen kecil, “Milikmu?”
Si pemilik kaki putih nan jenjang dengan stiletto marun mengangguk sembari tersenyum sebelum mengesot mendekat. Ujung stiletto-nya mengeluarkan bunyi tok-tok-tok yang membuat si gadis tampak memesona.
Serupa adegan slow motion pada iklan obat penguat bersertifikat halal, diraih oleh si pria paspor hijau itu. Adegan zoom in, zoom out tidak dapat dihindari. Sayang, si gadis tidak turut meraih paspor bersamaan dengannya. Penontonpun kecewa.
Jemari lentik gadis dengan gaun mini senada stiletto-nya itu menerima paspor dari tangan si pria dengan senyuman kelewat manis. Pria itu seharusnya pergi ke dokter untuk mengecek kadar gula darah setelah ini. Gerakannya membuat aroma wanginya menguar hingga tertangkap inderawi si pria. Efeknya cukup mematikan.
Si pria terkesima, hingga nyaris terjengkang dari kursi. Jemari si gadis yang sedikit bersentuhan dengan tangannya terasa amat lembut terasa membekas. Ia bahkan yakin wanginya masih sempat tertinggal di tangan, aroma bunga kamboja. Mendadak saraf sensoriknya kehilangan fungsi sesaat. Ia tak kunjung melepaskan paspor dari genggaman. Padahal si gadis sudah menarik-narik benda mungil itu dengan kesal.
Si pria masih menanti sesuatu. Semacam ucapan terimakasih dari sang gadis dengan cukup jemawa. Ucapan terimakasih dari gadis secantik itu seharusnya berimbalan bertukar ID Line atau nomor Whatssap. Kadang, jiwa pria single spesialis haus kasih sayangnya memang sulit ditekan. Apalagi kala melihat barang bagus macam ini.
Harapan si pria hanya tinggal remah detergen, yang sekali bilas langsung lenyap. Harga dirinya seketika terjun bebas ketika si gadis membuka suara. “Sorry, saya rasa koran yang kamu baca terbalik, deh.” Lembut, tapi menusuk.
Apa doa yang lebih baik selain minta ditelan bumi pertiwi saat itu juga!
***
Seperti janjinya di hadapan pusara wanita yang telah mendidik dan melahirkannya, demi seluruh isi jagad raya, dan demi masa yang bergulir di sampingnya, ia akan meninggalkan pekerjaan kotor itu. Akan menjadi orang baik sebagaimana mestinya. Berbakti pada nusa dan bangsa, serta mengamalkan pancasila. Empat tahun ia telah menanti, dan saat inilah waktu yang tepat untuk memulai semuanya dari awal. Ia merasa seperti baru saja dilahirkan kembali. Serupa bayi, suci tanpa dosa. Bayi badak bercula dua.
Dibawanya ransel seberat 40 liter menyusuri tangga sempit pesawat. Dalam suasana lalu-lalang sibuk bandara, dicarinya cahaya terang menuju kebenaran. Ya pintu exit terminal kedatangan. Tanpa meminta persetujuan mentri Susi, dinaikinya taksi kosong yang sedang mangkal di pintu keluar bandara.
“Selamat datang di taksi saya. Selamat menempuh perjalanan. Ada barang bawaan yang perlu saya naikkan, Pak? Atau pulsanya sekalian?” Sapa si sopir taksi sedikit beramah tamah.
“Tidak ada. Dan satu lagi, jangan panggil saya Pak! Saya gak nikah dengan ibumu.” Sungut si pria, mematahkan semangat basa-basi sopir taksi.
“Ya, maaf, maaf. Mas.” Sesal si sopir taksi amat berhati-hati. Sembari menatap ngeri wajah penumpangnya dari spion tengah.
Pria itu menyilangkan kedua tangan setelah meletakkan ransel semata wayang di sisinya sembari memberengut. Masih kesal dengan sapaan ‘Pak’ dari sopir taksi yang dipadu dengan tawaran beli pulsa. Lalu memejamkan mata. Perjalanan singkat dengan pesawat kelas ekonomi membuat badannya letih. Ia terlalu biasa menggunakan pesawat pribadi, pesawat tempur. Belum lagi kondisi fisiknya yang belakangan mudah melemah.
Semakin erat matanya terpejam, justru rasa kantuk semakin menghilang. Otaknya terlalu penuh memikirkan masalah hidup; masa lalu yang terus menghantui, taruhan bola online yang kalah melulu, hingga istri tetangga yang belum dinafkahi. Ia menghelai napas, menyerah untuk sejenak terlelap. Sebagai gantinya ditatap hujan rintik yang jatuh mengenai kaca taksi. Menciptakan serupa sungai-sungai kecil yang tidak penting.
Hujan membuat suasana terasa sendu, dipadu dengan udara sejuk air conditioner lebih dari cukup untuk membuat orang haus kehangatan sepertinya untuk mengemis belaian tangan lembut nan hangat. Mendadak gadis yang ia jumpai di louge bandara mengiang dikepala. Senyumannya, rambut panjangnya, kaki jenjangnya, tubuh sintalnya, lingkar dadanya.
“Maaf Mas, Masnya mau di antar ke mana ini ya?” Si sopir taksi bertanya amat hati-hati. Serupa sedang berhadapan dengan dosen pembimbing skripsi.
Si pria menghelai napas kasar. Kesal. Kali ini bukan sebab kesalahan panggilan, tapi sebab si sopir taksii sukses mengacaukan inajinasi liarnya. Ah, maksudnya imajinasi tentang kecantikan seorang gadis yang sesungguhnya. Disebutkannya alamat hotel yang tertera pada kode boking online dengan wajah ditekuk dan mata melotot kesal. Mirip seperti induk macan yang sedang siklus PMS.
Keinginan terbesar si pria detik itu juga adalah segera mencapai hotel tujuan. Melanjutkan imajinasi tentang keindahan seorang gading yang hakiki pun percuma, sebab kini yang terbayang di wajahnya hanyalah kumis tipis pilot pesawat yang ia tumpangi. Ia hanya ingin segera melucuti seluruh pakaian yang terasa melekat karena keringat. Berdiri di bawah guyuran shower air hangat yang deras. Merilekskan seluruh otot dengan merebahkan diri di atas kasur empuk dan lembut. Lalu diberi hidangan berupa steak tenderloin yang pecah di mulut. Ditemani latte hangat sembari menatap pemandangan perkotaan dari balkon hotel. Sebagai hidangan penutup manggo sticky rice, seertinya akan semakin melengkapi kebahagiaannya. Betapa surga dunia sesederhana itu.
“Sudah sampai, Mas,” ucap si sopir taksi, sembari menatap ngeri penumpangnya yang sedang senyum-senyum sendiri. Enta itu diagnosa awal gangguan jiwa, atau si pria suka padanya.
“Oh, ah, ya!” Si pria gelagapan. Serupa kupu-kupu malam yang kena gap polisi pamong praja. “Sebelah mana hotelnya?” Setelah mengedarkan pandangan dan tidak meliat bangunan-bangunan tinggi menjulang khas hotel bintang lima.
“Tepat sebelah kanan, Mas.”
“Oh, ya, ya.” Pria itu menagngguk. Paham. Tapi, sebelum membuka knop pintu taksi, rambut diubun-ubunnya seperti tercabut. “Apa! Ini? Hotel macam apa ini!” Terkejut. Matanya melotot dengan hidung kembang-kempis.
Sedang si sopir taksi mengangguk amat yakin bahwa itu alamat yang tepat. Tempat yang pria itu tuju. Meminta si pria untuk mencocokkan nama dan alamat hotel pada kode boking yang ada pada telepon pintarnya.
Setelah membayar argo, si pria terpaksa turun dari taksi dengan ogah-ogahan. Ekspektasinya menginap di hotel bintang lima pupus sudah. Sepertinya hari ini adalah hari kesialannya sepanjang hidup. Bahkan sepanjang meniti karir, baru kali ini ia mendapat fasilitas hotel kelas kambing. Tidak ada lagi ekspektasi, di hadapannya berdiri sebuah ruko tiga lantai yang dipaksa disulap menjadi sebuah hotel. Mungkin mantranya salah. Tapi memaksa bangunan untuk berjualan menjadi bangunan penginapan sangat tidak rasional. Seperti berharap mantan kekasih tiba-tiba ngajak balikan.
Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju pintu masuk hotel. Ia tidak punya pilihan, atau tubuhnya yang rapuh dan haus kehangatan itu akan kebasahan. Hujan masih enggan meninggalkan bumi. Seperti hotel kelas kambing pada umumnya, lobinyapun ala kadarnya. Hanya berisi satu set sova bermotif macan tutul untuk tempat tunggu tamu dan meja panjang untuk resepsionis yang kosong. Resepsionisnya entah sedang pergi ke mana. Mungkin sedang cuti hamil.
Si pria berinisiatif untuk membunyikan lonceng yang tergeletak di meja resepsionis sembari menari tor-tor untuk memanggil siapapun yang bisa melayaninya.
Satu menit berlalu.
Lima menit berlalu.
Lima belas menit berlalu.
Setahun berlalu.
Bahkan hingga jabatan Jokowi berlalu, tidak ada satu orang pun yang muncul. Sepertinya si resepsionis benar-benar sedang cuti hamil. Tiga bulan lagi baru masuk kerja. Karena bosan juga kesal, ia merebahkan diri pada sofa panjang. Kantuknya benar-benar tidak dapat ditunda lebih lama lagi. Menggoyang-goyangkan lonceng ternyata membuat seorang lelaki mudah lelah. Betapa ia amat lemah.
Baru saja memejamkan mata, sebuah tangan lembut terasa mencolek-colek pipinya. Terasa geli-geli menyebalkan. Ia lantas membuka mata sembari mengulet.
“Ih, ganteng. Bangun Cyn. Jangan bobo di sini, ah. Cucok deh, Bo!” Sepasang mata pejantan karbitan yang mengedip-edip centil menyambut si pria saat terjaga.
Saat itu juga ia terjengkang. Lantas memanjatkan doa semoga lelaki gemulai di hadapannya merupakan bagian dari mimpi buruknya. Dipejamkan kembali matanya untuk kemudian dibuka dalam tempo sesingkat-singkatnya. “Siapa kau!” Bentakya antara jijik, takut juga ngeri.
“Ih, ganteng-ganteng, galak amat Cyn. Eike resepsionis di sini, keles.”
“Demi apa! Cepat jawab, siapa kau! Keluar kau dari tubuhnya.”
“Ih, ganteng! Jahara deh. Masa eike dikira kesurupan. KZL!” Protesnya dengan nada bicara yang imut-imutkan. Namun justru terdengar seperti habis keselek tokek. “Mau reservasi kan Cyn? Yuk mari, eike tunjukkan kamarnya. Atas nama siapa?” Si resepsionis berjalan gemulai ke balik meja kerjanya.
“Atas nama Daniel Samala Putra,” ujarnya sembari menguap lebar mengikuti si lelaki karbitan dengan ogah-ogahan.
***
“Kakaaakkk!!!” Seorang bocah laki-laki berusia enam tahun dengan rambut ikal dan pipi tembam berlari dari dalam rumah. Segera menabrak dan melingkarkan tangan dengan erat di pingang Alena yang baru saja turun dari dalam taksi. Gadis itu nyaris terjengkang jika saja tidak dihalau taksi yang masih setia parkir di halaman rumahnya. Menunggu bayaran.
“Sagaaa! Yaampun, bikin Kakak terkejut saja, kamu,” gerutunya gemas.
“Kak Alen, Saga rindu, Kak! Rindu! Rindu!” Ocehnya amat riuh.
“Iya, sayang. Iya. Kakak juga rindu dengan Saga. Sebentar ya, kakak turunkan barang dari taksi dulu,” keluhnya penuh sabar dan sayang. Dicubitnya ujung hidung mungil milik adiknya itu dengan penuh rasa sayang.
Dengan dibantu sopir taksi yang masih saja belum mendapatk bayarannya, Alena mengeluarkan barang dari bagasi taksi. Tas, koper, kantong belanjaan, sapi, kudanil, semuanya diturunkan.
“Kak Saga mau Olaf, Kak. Saga mau Frozen! Mau Princess Anna, mau Sule juga. Kakak gak lupa kan Saga mau ulang tahun besok! Semua teman sekolah Saga diundang ya. Pokoknya anak kompleks gak ada yang boleh ketinggalan. Anak geng motor juga harus diundang, termasuk Boy!” Pinta Saga begitu menggebu. Amat antusias merayakan ulang tahun ke enam tahunnya.
Saga adalah satu-satunya harta paling berharga yang Alena miliki saat ini. Satu-satunya saudara kandung yang gadis itu punya. Apapun permintaan Saga, pasti akan Alena usahakan. Apapun akan Alena lakukan demi kebahagiaan Saga, meski harus mengorbankan dirinya ataupun tukang batagor yang sering mangkal di depan kompleks perumahan sekalipuun. Saga seumpama matahari untuk pusat rotasi hdup gadis itu.
“Mbak, ini dibawa masuk semua ya, Mbak. Taruh saja di kamar saya.” Terintah Alena pada asisten rumah tangga yang selama dirinya pergi untuk melakukan perjalanan bisnis bertugas menjaga Saga di rumah.
“Kak Alena, ini oleh-oleh untuk Saga ya, Kak—,” teriakan suara cempreng Saga bersamaan dengan sebuah panggilan masuk ke ponsel pintar gadis itu. Dengan nada dering Bad Girl, Awkarin.
“Iya sayang, iya. Buka saja. Sama Mbak dulu ya.” Perintahnya sembari berjalan menuju halaman belakang rumah. Menghindari suara berisik adiknya untuk sekadar mengangkat telepon.
Sederet nomor asing terpampang di layar ponsel pintarnya. Sejenak Alena tertegun sebelum akhirnya menggeser tombol hijau dan mendekatkan alat komunikasi itu ke telinga. “Ya, ada perkembangan apa?” Gadis itu menaut-nautkan kelima kuku jari tangan kirinya yang bebas.
“Apa!!!” Dan terkejut sedetik kemudian.
Gadis itu menghelai napas. “Kau yakin?” Jawabnya lemah setelah si lawan bicara berbicara cukup lama. Mencoba memastikan dengan kepala dingin.
“Ya, baiklah.” Gadis itu menanggapi sekilas. Selebihnya ia hanya mendengar sang lawan bicara dengan saksma.
“Beri tahu saja perkembangannya.” Letih akibat perjalanan jauhnya dari Hongkong mendadak terasa berlipat dalam waktu singkat. Sesuatu serupa sekarung raskin bertengger di pundaknya. Sedang ia tidak lagi memiliki daya. “Saya percayakan semuanya pada kalian.”
“Ya, saya yakin,” ujarnya sembari menatap nanar kolam renang yang terletak persis di halaman belakang rumah. Membiaskan birunya awan di angkasa siang itu. “Kabarkan saja perkembangannya secara berkala.”
Sebelum mengakhiri sambungan, gadis itu memberikan peringatan yang sepertinya krusial. “Ingat, jangan sampai identitas saya bocor.”
Dan ketika sambungan telepon benar-benra terputus gadis itu berbisik. Lirih. Lebih kepada untuk dirinya sendiri. “Saya hanya ingin tahu.”
Lalu merosot. Kedua lututnya seperti tak kuasa menopang berat badan. Padahal ia rutin menyedot lemak yang menggelambir di tubuh dengan vakumcleaner. Terlalu berat beban hidup yang harus ia tanggung. Sesuatu menetes dari sudut matanya tanpa terkendali. Hanya satu tetes. Tetesan yang amat ngilu mengiris hati. Kadang, beban yang teramat banyak lebih terwakili dengan setetes air mata ketimbang bertetes-tetes air mata buaya.
Ditatapnya Saga yang sedang asik membuka bungkusan oleh-oleh yang ia bawa dari Hongkong. Betapa bocah itu amat kegirangan mendapati satu set mainan kereta-keretaan. Lengkap dengan rel, stasiun, masinis, penumpang hingga calo. Dibantu oleh pengasuhnya, Saga mulai merakit mainan barunya dengan bahagia. Selasar haru perlahan menghangatkan hatinya yang beku.
Padahal baru saja ia menemukan sesuatu yang telah menjadi pusat pencarian. Cukup lama, sebelum ia benar-benar menekukan. Darah, nanah, cuka pempek rela dikucurkan. Demi sebuah kepastian. Tapi, kala ia yakin. Hati telah dilapangkan. Justru Semesta berkehendak lain. Ia tidak diijinkan untuk berjumpa. Orang itu kini telah tiada. Biar bagaimanapun, darah lebih kental daripada air. Ikatan sedarah akan selamanya mengalir. Dadanya sesak, seperti dipukul godam besar
.
Dengan menghimpun segenap daya yang masih tersisa, gadis itu bangkit dari posisinya. Segera merubah raut wajah sendunya. Mengulas senyuman senatural mungkin. Perlahan, ia mulai melangkah. Bahkan bayi komodo butuh tertatih-tatih sebelum akhirnya mampu berlari. Ia butuh sesuatu yang dapat menguatkan jiwanya. Sekadar menopang hatinya. Ya, memeluk Saga.
Terseok Alena melangkah dengan stiletto yang masih menopang gagah. Direntangkan kedua tangannya bahkan dari kejauhan. Sedang Saga masih di sana, sibuk bernegosiasi dengan calo-calo stasiun kereta-keretaannya. Ketika posisi Saga mulai terasa dekat, Alena mulai mempercepat ritme langkah kaki jenjangnya.
Mendadak, langkah gadis itu terhenti. Seketika. Membuyarkan seluruh harapan dan angan-angan. Stiletto marun itu sedang tidak berphak padanya. Dientak-entakn olehnya sebelah kaki yang menjadi sumber permasalahan. Tapi selalu gagal. Tumit sepatu yang meruncing itu tidak mau lepas. Tertahan oleh besi paritan halaman belakang.
***

Other Stories
Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Hati Diatas Melati ( 17+ )

Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...

Hantu Kos Receh

Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Pertemuan Di Ujung Kopi

Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...

Download Titik & Koma