After Meet You

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Ld.lustikasari

Brother Complex

 Niel mengusap peluh yang menggenang di dahi setelah selesai mengepel seluruh lantai hostel dari lantai dasar hingga lantai lima, lengkap dengan gentingnya. Diletakan olehnya begitu saja semua amunisi bersih-bersihnya. Seperti yang telah resepsionis kemayu janjikan, hari ini Niel akan sarapan dengan steak tenderloin dan chocochino hangat. Sebagai penutup ia meminta mango sticky rice yang lembut dan legit.
Hari ini adalah hari terakhir Niel menginap di hostel kelas kambing itu. Rekan bisnisnya meyewakan kamar untuk sepuluh hari dan bonus dua hari gratis. Total pria itu sudah menghabiskan dua belas hari lamanya tinggal di tempat kumuh itu. Pencapaian yang amat luar biasa. Setelah sarapan, ia hanya tinggal membereskan ranselnya kemudian pergi. Niel tidak tahu harus ke mana setelah ini. Ia masih belum memiliki rencana.
“Ganteng, kamu hari ini chek out ya, Bo?” Ucap si Inces sedih.
Niel mengangguk, mulutnya penuh dengan kentang goreng pendamping steak-nya.
“Yah, Inces kesepian lagi deh. Terus, terus, ganteng mau ke mana ini?” Banci itu sepertinya mulai posesif atas diri Niel.
“Ini lagi dipikirin Ces.”
“Kerja di sini aja dong. Ya, Niel ganteng.” Rengek Inces sembari memamah pinggiran meja restoran hostel.
“Boleh aja sih, Ces. Tapi masalahnya saya tinggal di mana? Lagipula saya gak dapet gaji di sini. Cuma makan aja.” Niel angkat bahu. Kemudian menyeruput gelas chocochino dengan nikmat.
“Jadi badut lagi aja keles. Niel kan pernah bilang honornya lumayan,” ucap Inces menyemangati.
“Gak inget tragedi putri Elsa tempo hari. Encok semua nih badan.”
Inces pun terbahak. Jiwa jantannya sesaat keluar. Sebelum tangan kanannya menutup mulut dan tertawa lirih dengan elegan. Hampir dua minggu hidup di lingkungan aneh bersama orang-orang aneh, Niel mulai terbiasa dengan itu. Termasuk tingkah menjiikan banci kaleng yang minta dipanggil Inces.
Selesai melahap sarapan sembari bincang-bincang bersama inces dan sesekali memamah biak, Niel berinisiatif untuk jalan-jalan. Menjelajah sudut kota kecil tempatnya tinggal. Perlahan pria itu mulai terbiasa jauh dari hingar-bingar suasana ibukota. Ia berniat mencari kontrakan murah di lingkungan itu. Nekat saja, sebab saat ini dirinya tidak memegang banyak uang. Jika tidak menemukan kontrakan yang terjangkau mungkin ia bisa memilih opsi warnet terdekat.
Saat Niel eluar dari minimarket terdekat untuk membeli sebotol air mineral yang ada manis-manisnya, seorang anak lelaki berbadan gempal tiba-tiba melintas di hadapannya. Berlari tergopoh-gopoh. Karena merasa tidak asing dengan anak nakal itu, Niel berinisiatif untuk mengikutinya. Sembari menebak sejauh apa gumpalan lemak itu sanggup berlari.
Sebuah pohon mahoni besar di dekat halte bus menjadi muara pelarian si anak berbadan gempal. Mencoba menyembunyikan dirinya di balik batang berkambium itu dengan saksama. Bahunya naik turun akibat napasnya yang tidak stabil. Melalui ekor matanya, berjarak sekitar seratus meter jauhnya seorang wanita cantik berheels berjalan terseok. Mata gadis itu meneliti ke segala arah seperti mencari sesuatu. Sembari memanggil nama seseorang.
Niel langsung tahu kondisi yang sedang terjadi. Mengulas senyum tipis sesaat sebelum kemudian bertindak. “Ngumpet di tempat yang aman, dong,” bisiknya setelah merapat ke pohon mahoni.
Badan gempal yang bersembunyi di balik pohon itu tersentak. “Om badut.”
Sebelum bocah itu banyak bertindak, Niel kembali berbisik. “Psttt, jangan berisik. Nanti ketahuan. Tuh kak Al sudah dekat.”
Mata gelap pekat milik Saga mengintip tajam dari balik batang pohon. Entah konspirasi macam apa, mereka bisa memiliki warna mata yang serupa. Tanpa bayak berkata lagi, Niel menggenggam tangan Saga untuk meninggalkan tempat persembuyian yang tidak aman itu. Sementara Saga mengikuti dengan pasrah.
Niel membawa Saga menuju sebuah taman kecil yang tidak jauh dari halte bus. Keduanya kompak duduk bersebelahan di hadapan kolam buatan di tengan taman. Sebuah patung wanita yang menuang air dari dalam guci menjadi pusat kolam. Niel tidak memerlukan es cream, lolipop atau apapun untuk membuat bocah nakal itu buka suara.
“Kak Al mau ninggalin Saga lagi. Saga tahu, kakak cuma mau pamit untuk perjalanan bisnis lagi. Saga gak mau ditinggalin.” Saga mulai curhat. “Kak Al gak mau janji, kalo Saga bilang sumpah untuk gak ninggalin Saga. Kak Al jahat. Saga mau kabur aja dari rumah. Mau jadi gelandangan.”
Butuh hening panjang sebelum Niel merespon. “Kak Al kan pergi kerja, cari uang. Untuk beli mainan Saga, susu, dan biaya sekolah. Kalau Kak Al gak pergi kerja, siapa yang beliin saga mainan?”
“Iya, tapi Saga kesepian Om badut. Saga hanya ditemani Mbak pengasuh dan Bibi. Gak ada yang dongengin Saga kalau mau tidur. Teman-teman Saga, semuanya punya orang tua. Tapi Saga gak punya ayah-ibu.”
Tepat di belakang Saga dan Niel, berdiri seorang gadis tanpa diketahui keduanya. Gadis itu berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca. Nelangsa. Alena tahu apa yang selama ini Saga rasakan, meskipun bocah nakal itu tidak pernah berkeluh kesah padanya. Di hadapan Alena, Saga hanya memberontak dengan menjadi anak nakal. Sebab hanya dengan cara itu Saga akan diberi perhatian.
“Memangnya kalau mau kabur, Saga mau ke mana?” Tanya Niel penasaran.
“Ke mana aja, yang penting aman. Biar kalau kak Al cari gak ketemu. Biar Kak Al gak jadi pergi untuk kerja.” Celoteh Saga polos. “Om Badut, di sini dulu saja ya, Saga mau cari tempat sembunyi yang aman.”
Niel mengikuti kepergian Saga dengan tatapan. Bocah gempal itu banyak mengingatkan pada masa kecilnya. Saat Niel seusianya. Ia juga tumbuh dan besar menjadi anak nakal demi mendapatkan perhatian mama. Orang tua tunggal yang sibuk dengan pekerjaan. Serupa Saga, ia juga tumbuh tanpa kasih sayang seorang papa.
Serupa hantu, Alena mendadak hadir di sisi Niel yang sedang termenung. Beruntung Niel penderita penyakit pernapasan, bukan jantung. Sehinga ia tidak terkejut. “Terima kasih sudah menemani Saga,” ujarnya. Tulus.
Niel mengangguk, menepuk tempat di sisi kanannya. Mengkode gadis itu untuk bergabung bersamanya. Dalam keheningan, keduanya seperti kompak menatap jauh ke langit yang siang itu berawan kelabu. Seperti mencerminkan suasana hati keduanya.
“Aku sangat menyayangi Saga. Lebih dari apapun. Dialah satu-satunya yang saat ini kupunya. Sejak lahir, Saga memang tidak pernah mendapatkan kasih sayang baik dari mama maupun papa. Sebab itu aku ingin memberikan yang terbaik untuknya. Saga satu-satunya semangat hidupku.” Lirih Alena, amat sendu. “Jika pekerjaan aku bisa dipindahkan ke kota ini, tentu saja kulakukan. Sayangnya tidak mungkin. Sesuatu harus tetap terjaga di sini. Rumah kami. Tempat keluarga kami akan kembali.”
Kadang seseorang hanya butuh teman untuk berkeluh kesah. Bukan saran atau tanggapan. Sehingga yang Niel lakukan hanya mendengarkan, kemudian menepuk kecil pundak Alena untuk memberi dukungan. Bukan tim sukses, sebab Alena tidak sedang maju mencalonkan diri sebagai wakil bupati.
“Jika bukan sebab mama seorang selingkuhan laki-laki hidung belang, aku dan Saga tidak mungkin ada. Kami tidak harus menanggung beban keturunan seberat ini. Mama sedang menebus dosanya di sisa usia. Sedang si lelaki hidung zebra itu, memilih jalan pintas. Pulang ke sang pencipta lebih dahulu. Meninggalkan kami semua. Pengecut.”
Niel tidak tahu apa yang sebenarnya Alena katakan. Ia tidak mungkin bertanya lebih detail. Situasi tidak memungkinkan. Lagipula ia bukan pewarta gosip yang gencar memburu berita perceraian artis. Tapi latar belakang keluarga gadis itu amat mirip dengan latar belakang keluarganya. Papa yang tidak bertanggung jawab dan kabur begitu saja. Mama yang sakit hati hingga ajal menjemput. Dirinya yang tidak tahu apa-apa namun menjadi korban. Bahkan, dulu setiap niel tanya di mana Papa, Mama hanya mengumpatinya mengatakan dirinya anak setan.
Namun kini semuanya tidak lagi ia permasalahkan. Kemelut keluarganya itu telah berlalu. semuanya telah bernilai seri. Melalui sebuah pekerjaan kotor yang ia geluti setelah kematian mama. Saat itulah Niel tahu siapa bapaknya. Itu kali pertama dan terkahir pula dirinya bertemu dengan Papa.
Tanpa mereka sadari, Alena sudah menyandarkan kepala ke bahu bidang Niel. Niel juga diam aja. Keduanya menikmati suasana serupa hangat yang menjalar di tiap detak nadinya. Ini kali pertama untuk Niel dan Alena saling cerita dan terbuka satu-sama lain. Padahal mereka belum lama saling kenal. Mungkin karena perasaaan senasib-sepenanggungan.
Ini pula kali pertama Alena dekat dengan seorang laki-laki. Bahkan hingga melakukan kontak fisik, sepertinya sebentar lagi kontak perasaan. Masa lalu yang dialami mama menciptakan semacam trauma yang mendalam pada dirinya. Ia enggan untuk menjalin hubungan pada laki-laki manapun. Bahkan hingga detik ini, saat umurnya 23 tahun.
Sedangkan Niel, ia terlalu sibuk dengan dunia gelapnya. Bisnis gelap. Transaksi gelap. Menjalankan misi gelap. Wanita hanya akan menyusahkannya. Lalu menguak kedoknya. Tapi entah mengapa, pada Alena Ia tidak bisa menolak. Medan magnet gadis itu terlalu kuat. Ia amat menikmati setiap jengkal waktu yang terlewati bersama Alena.
“Cie pacaran! Cie pacaran!” Seru suara Saga yang tiba-tiba bergabung. Serupa kakanya Saga juga mewarisi sifat datang dengan tiba tiba. Mengejutkan.
***
Dugaan Niel seratus persen benar, sepertinya ia bakat manjadi cenayang. Nomor tak dikenal yang tempi hari menghubunginya adalah nomor rekan bisnisnya. Akhirnya rekan keparat itu menghubungi Niel lagi. Pria itu mengira si klien bertindak tidak jantan, lempar batu sembunyi bibir.
“Apa kabar Mas Bro?” Sapa si rekan tanpa berbasa-basi.
Niel sudah hapal gelagatnya, dan memilih untuk diam saja. Sebab diam itu emas.
“Kau marah padaku, Niel. Cih! Seperti remaja labil saja.”
“Kemana saja kau selama dua pekan ini? Dasar pria tidak bertanggung jawab. Tidak amanah!” Rajuk Niel penuh kekesalan.
“Kau harusnya tahu Niel, aku sengaja menaruhmu di hostel kumuh demi menghilangkan jejak. Seperti yang kau minta saat menandatangani surat kotrak, kan. Masa kau lupa.”
“Iya, tapi gak gini juga keles!” Ocehnya mulai tertular logat Inces. Banyak berinteraksi dengan resepsionis banci itu membuat otaknya geser beberapa inci dari tempatnya semula.
“Sekarang kau aman Niel. Jejak kotornya masa lalumu hilang tak berbekas. Kau suci tanpa ada dosa, Bro!”
“Kau yakin?”
“Tentu saja, makanya baca berita, tonton televisi. Apa di tempat pengasinganmu itu tidak ada televisi?”
“Tidak ada! Kau menaruhku di hostel kelas kambing. Tidak ingat!”
“Santai Bro, santai. Aku sudah mempersiapkan apartemen yang lebih layak untukmu. Anggap saja yang kemarin itu ospek untuk masuk ke dunia baru yang lebih baik.”
“Kau serius?”
“Tentu saja, Niel. Kau pikir aku dari ibukota tidak memantaumu. Kau tidak perlu khawatir akan dipersembahkn pada dewa jamban di kota kecil nun jauh di sana, Bro!”
“Jangan lupakan kartu identitas baru, ATM, dan BPJS kesehatan!” Pinta Niel.
“Siap sobat. Ada kabar terbaru untukmu. Kau mau mmendengar Niel? Ini menyangkut almarhum ayahmu.”
Dada Niel seperti disengat sesuatu dengan cepat. Seketika ia tertegun.
“Ada wanita simpanan ayahmu di kota tempatmu tinggal.”
“Mustahil, pelacur itu sudah kukirim ke neraka.”
“Ada yang lain. Aku sudah mengkonfirmasi kebenarannya. Kau tidak ingat kalau ayahmu tu PW, Penjahat Wanita,” ujar suara dari ujung telepon tenang. “Pelacur itu kabarnya memiliki dua anak hasil pernikahan ayahmu. Masih menerima kucurann dana keluarga sampai detik ini. Kabarnya anak perempuan si pelacur kuliah di Singapura. Dan satu lagi masih balita.”
Niel mendesah dari ujung saluran telepon. Sejujurnya ia malas terseret lebih dalam pada labirin rumit keluarganya yang papanya ciptakan.
“Ah, baiklah Niel. Kita bahas masalah ini lain kali. Yang terpenting saat ini hidupmu dahulu. Nutrisi untukmu, aku harus memastikan kau tidak kekurangan gizi. Kau juga harus kupastikan tinggal di tempat yang layak dan fasilitas tercukupi.” Sebelum mengakhiri bincang-bincang, tak lupa si rekan mengatakan, “Tunggu saja di tempatmu seorang sopir taksi akan segera menjemputmu.”
***

Other Stories
Lam Biru

Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...

Tiada Cinta Tertinggal

Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...

Bayang Bayang

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir

Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

Download Titik & Koma