Balas Dendam
Gina masih ngedrop. Kondisinya semakin hari semakin lemah. Kerjanya hanya mengurung diri dalam kamar. Orang tuanya bingung dengan kelakuan Gina. Sudah seminggu gadis itu tidak kuliah. Kerjanya hanya melamun di sisi jendela kamarnya dengan sesekali menangis. Makan pun tak mau. Dirinya sudah seperti mayat hidup. Wajah cantiknya tersapu dengan warna pucat wajahnya.
Ada yang mengetuk pintu kamarnya. Gina tak peduli seolah tak mendengar. Matanya menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong.
“Gin,” panggil Mamanya. “Ini ada temanmu datang.” Pintu kamarnya sedikit terkuak. “Masuk aja, ajak dia bicara yah. Tante bingung ada apa sebenarnya. Gina nggak mau bicara,” jelas wanita separuh baya itu pada Rein teman kuliah Gina.
Rein melangkah pelan mendekati Gina. Sedih rasanya melihat sahabatnya itu seperti mayat hidup. Gina yang dulu selalu ceria dan agresif, kini seperti makhluk tak bernyawa.
Gadis tinggi langsing itu memandang miris Gina. Matanya yang bulat dengan bulu mata yang lentik mengerjap sendu. Selama tiga tahun menjadi sahabatnya, dia tak pernah melihat Gina seperti itu. Walaupun terkadang sifatnya yang egois namun dia selalu ada untuk sahabatnya.
Kamar besar berornamen klasik itu terkesan tengah berduka. Lampu kamar Gina yang selalu terang benderang kini redup seperti hati gadis itu. Rein melihat Gina duduk di sisi jendela kamarnya. Dia menghampiri Gina.
“Gin,” sapanya pelan. Rein berdiri di samping Gina. “Gimana keadaan lo? Gue denger lo putus yah sama Dion?”
Gina masih diam. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Rein memerhatikan wajah cantik sahabatnya itu. Kondisi gadis itu benar-benar mencemaskan. Dia berusaha untuk membantu Gina lepas dari situasi ini.
“Gin,” panggilnya lagi sambil menggoyang lengan gadis itu agar menoleh padanya. Gina tersadar dari lamunannya. Dia menoleh pada Rein sambil tersenyum tipis.
“Udah lama lo di sini?” Suaranya amat datar. Rein hanya mengangguk.
“Lo bodoh amat sih, Gin. Kalo gini caranya lo sama aja nyiksa diri sendiri. Sementara Dion lagi senang-senang siapin pesta perkawinan. Ayo, bangkit!” Rein menunggu reaksi Gina.
“Gue sakit hati, Rein. Gue dibuang kayak sampah. Dion jahat. Dia udah manfaatin gue selama ini!” Gina beteriak histeris. Rein buru-buru memeluk gadis itu untuk meredam emosinya.
“Tenang, Gin. Gue ngerti banget perasaan lo. Kita udah lama bersahabat. Gue akan bantu lo.” Rein melepas pelukannya. Di pegangnya erat bahu Gina dengan kedua tangannya. “Lo sakit hati?” Gina hanya mengangguk. “Gue akan bantu balas sakit hati lo.”
Rein memapah Gina duduk di sisi tempat tidur. Gadis itu amat layu tapi matanya sudah mau menatap wajah Rein. Sungguh perbuatan cowok itu telah mengubah sahabatnya. Gina yang selalu ceria kini seperti makhluk tanpa daya. Rein amat iba melhatnya.Walaupun mereka sering kali adu argumentasi demi mempertahankan prinsip tapi tetap saja mereka dua sahabat yang selalu berbagi.
“Bagaimana caranya, Rein?” ucapnya lirih.
Rein diam sejenak. Dia seperti berpikir cara yang paling setimpal unuk membalas sakit hati sahabatnya. Bagaimana tidak, selama dua tahun ini Gina setia pada cowoknya. Apa pun dia berikan agar kekasihnya selalu ada disampingnya. Dan Gina belum pernah seperti itu pada cowok manapun.
“Lo maunya gimana?”
Gina menatap Rein, lalu dia menunduk dalam. “Gue pengen nggak ada yang bisa miliki Dion selain gue. Bukan Dila juga yang lainnya.”
“Nah tu cakep ide lo,” jawab Rein sembari mencubit pipi Gina. “Daripada lo nangis tiap hari, nggak mau makan, nggak mandi, nggak kuliah kan lo sendiri yang rugi. Mending bales sakit hati lo ke Dion. Biar puas lo harus balas dendam.”
“Caranya?” Gina mulai bersemangat. Matanya yang redup mulai memancarkan sinar kehidupan.
Rein membisikan sesuatu ke telinga Gina. Gadis itu mendengarkan dengan serius. Sesekali keningnya mengerut. Entah apa yang di bisikan Rein sampai gadis itu melotot.
“Apa gue yang harus kerjain sendiri?” Tanya Gina.
“Gampang, nanti ada teman gue yang bantu lo.”
Gina terpaku. Di benaknya bermunculan beribu rencana setelah mendengar sesuatu yang di bisikan Rein tadi. Matanya melirik sahabatnya itu dengan tajam.
“Kapan kita mulai?” Tanya Gina lagi.
Rein tersenyum puas melihat Gina tertarik dengan idenya. “Tenang…gue mau cari orang yang akan bantu lo.”
Gina bengong, entah apa yang dipikirkannya. Tapi dari sorot mata bulat itu seperti ada sesuatu yang akan dia lakukan untuk Dion. Giginya gemeretak. Rein menoleh pada gadis itu.
“Gue pengen yang lebih sadis dari itu, Rein,” suaranya terdengar agak gemetar.
“Lo, mau apain dia?”
Kali ini Rein memandang Gina tepat di depan wajahnya. “Nanti aja gue kasih tau. Yang penting kapan gue bisa mulai rencana kita?”
“Lusa. Besok gue kenalin lo sama teman gue. Dia professional. Lo tinggal siapin bayarannya aja. Di jamin nggak bakal ada yang tau,” jelas Rein.
“Oke!”
Rein segera pergi dari rumah Gina setelah dia menjelaskan ciri-ciri orang yang akan membantu Gina menjalankan rencananya. Malamnya gadis itu tak bisa tidur. Dia terus bolak balik di depan jendela kamarnya. Berharap pagi datang cepat dan dia bisa ketemu teman Rein. 10 juta, rasanya cukup untuk dia bantu rencanaku, bisik hatinya.
Jam 12.00
Gina berulang kali melirik jam tangan mungil di lengan kanannya. Rein belum juga datang. Sudah lewat setengah jam dari janjinya untuk datang.
“Gina,” panggil Mamanya. “kamu lagi nunggu siapa sih kok gelisah sekali?” Gadis itu tak memerhatikan pertanyaan Mamanya. Dia masih saja sibuk dengan pikirannya sendiri. Matanya selalu melongok keluar jendela, berharap seseorang datang. “Gina!” panggil wanita itu lagi.
Gina menoleh sebentar. “Ada apa, Mam?”
“Kamu lagi nunggu siapa?”
Gina menarik napas dalam. Bahunya terangkat seperti menahan sesak. “Aku lagi nunggu Rein dan temannya.”
“Kalian sudah janjian?”
Gina hanya mengangguk. “Tuh, mereka datang,” jawabnya sembari senyum melihat Rein dan temannya menuju pintu masuk.
“Sorry, gue telat,” sapa Rein sebelum Gina bertanya. “Kenalin nih teman gue, namanya Jovan.”
Gina menjabat erat tangan cowok itu. Lelaki berperawakan tinggi besar, berkulit agak gelap dan usianya kira-kira seumuran dengannya. Gina tersenyum tipis. Jovan agak dingin membalas senyuman Gina.
“Kalian bisa diskusikan rencananya. Sorry gue nggak bisa ikut nimbrung. Ada job lain. Goodluck, yah!”
Rein segera berlalu. Dia seperti tergesa-gesa meninggalkan mereka berdua. Mobil Jazz putih Rein sudah melesat jauh. Tinggal Gina dan jovan di teras itu. Mereka setengah berbisik membicarakan rencananya. Jovan sepertinya cepat menangkap apa maunya Gina. Kepalanya mengangguk tiap kali Gina mengucapkan sesuatu.
“Lo berani bayar gue berapa?” Tanya Jovan.
Gina menatap cowok itu. Ditulisnya bilangan yang akan di berikan pada Jovan jika rencananya ini berhasil. Cowok itu menatap bilangan angka yang di tulis Gina. Lalu dia menuliskan angka lainnya.
“Segini, gue rasa setimpal dengan kerja gue yang penuh resiko.”
Gina menatap angka di kertas putih itu. Keningnya mengernyit. “Oke, gue setuju. Tapi lo harus bantu gue sampai tugas lo selesai. Kalau lo ingkar janji, lo bakal terima ganjarannya.”
“Gue bukan orang baru dalam tugas ginian,” jawabnya dengan senyum sinis.
“Satu lagi. Lo harus bisa tutup mulut gimanapun situasinya. Kalau gue yang ketahuan, gue nggak bakal bawa-bawa lo. Sebaliknya begitu, kalau lo yang ketahuan jangan sampai sangkutin gue. Ngerti, lo?”
“Gue paham, bos!”
“Kapan kita mulai?” Tanya Jovan sembari memantik api ke rokok filternya. Di keluarkannya perlahan asap dalam mulutnya.
“Dalam beberapa hari ini lo pantau dulu cowok itu.” Gina mengeluarkan sebuah foto dari kantong banjunya. “Ini dia. Namanya Dion. Dia masih kuliah semester akhir. Dia juga kerja di sebuah perusahaan garment sebagai supervisior. Ini alamatnya.”
Jovan memerhatikan foto cowok itu. “Gue bakal pantau dia dari pagi sampe malam. Tiap saat gue kirim laporannya ke lo.” Jovan melirik Gina memantik api di rokok filter milik cowok itu yang tergeletak di meja. “tapi gue minta dp 10% , bos.” Lanjutnya.
“Lo tulis nomor rekeningnya, nanti gue transfer. Oke, lo cepat pulang. Gue nggak mau Mama gue curiga.”
Jovan segera angkat kaki dari rumah Gina. Gadis itu tersenyum puas. Sebentar lagi sakit hatinya akan terlampiaskan. Show time Dion. Lo bakal terima apa yang udah lo lakuin ke gue, bisik hatinya sembari tersenyum sinis.
Other Stories
Puzzle
Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...