Show Time
Jovan berdiri dekat pos satpam kampus itu. Kampus megah seperti mall itu berdinding kaca semuanya. Sepertinya ini kampus berkelas atas. Terlihat dari semua mahasiswanya bermobil dan hampir semua bermata sipit. Ini rokok ketiga yang di hisap Jovan. Hanya setengah batang cowok itu menghisap, setelah itu di matikan lalu dibuang.
Dia memerhatikan sosok yang baru saja menuruni anak tangga. Jovan cepat-cepat mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Dipandangi foto di tangannya. Nggak salah, ini dia! Tebaknya. Di kuntitnya cowok itu beberapa langkah di belakangnya. Keren juga penampilannya, begitu penilaiannya pada Dion.
Jam 17.30. Jovan menandakan arloji di lengannya. Berarti Dion ada di kampus saat sore setelah dia keluar dari kantor jam 14.00. Pagi jam 07.30, coowok itu sudah ada di kantornya. Jam 12.00, dia istirahat makan siang. Jam 13.00, masuk kantor kembali. Dan di hari Selasa, Kamis dan Jumat—dia ada kuliah sore di kampus ini. Begitu pantauannya untuk beberapa hari ini.
Dion sampai di rumah tepat pukul 21.00, setelah sebelumya dia pergi ke rumah besar milik Dila pastinya. Jovan pernah memergoki Dion dan Dila di depan rumah besar itu. Mereka terlihat begitu mesra karena tangan Dion membelai rambut gadis itu.
Jovan melaporkan semua itu pada Gina. Sekarang dia sudah begitu hapal dengan waktu-waktu dan tempat keberadaan Dion setiap harinya. Di keluarkannya ponsel dalam saku celananya.
“Bos, gue udah hapal betul setiap gerak-gerik cowok lo. Kapan kita bertindak? Tangan gue udah gatel nih!”
“Tunggu perintah dari gue dan jangan bertindak di luar rencana, Gue nggak mau apa yang udah kita susun jadi berantakan karena kecerobohan lo,” suara Gina terdengar garing di seberang sana.
“Siap, bos!”
Jovan menutup ponselnya. Rasanya dia sudah tak sabar menjalankan rencana Gina. Tapi dia hanya orang suruhan yang di bayar cewek itu. Dan harus tunduk pada perintahnya Rencana pertama adalah memantau kegiatan Dion. Rencana kedua menculik cowok itu dan menyekapnya di suatu tempat. Rencana ketiga, Gina belum memberitahu cowok itu. Sepertinya Gina mempunyai rencana besar yang belum bisa dia prediksi.
Jovan memutar mobilnya tak jauh dari rumah Dion. Malam sudah larut, baiknya dia pulang untuk menunggu tugas kedua dari Gina. Dalam perjalanan, cowok itu mencoba menebak rencana ketiga Gina. Tapi otaknya buntu, pikirannya tertuju pada wajah cantik gadis itu. Shiiit! Kenapa juga gue jadi mikirin cewek itu sih.
***
Jovan, tak tenang dalam duduknya. Ia gelisah menunggu Gina keluar dari dalam rumah. Sudah hampir lima belas menit dia duduk di teras rumah mewah ini. Pembantu yang menyediakan minuman sudah masuk dari tadi. Gelas minuman pun sudah sisa separuhnya. Pintu besar itu terkuak. Gina keluar dengan T-shirt putih dan celana jeans. Rambut panjangnya di ikat tinggi. Cantik sekali, gumam Jovan dalam hati. Dan tak ada yang bisa menyangka di balik kecantikannya ada kejahatan yang tersembunyi.
“Rencana kedua kita mulai besok. Dion pasti besok malam ke rumah Dila. Dan di jalan yang sepi lo bisa cegat dia dan pura-pura minta tolong betulin mobil lo. Kalau bisa lo ajak dua atau tiga orang anak buah lo buat meringkus Dion. Dari sana, lo bawa dia ke suatu tempat yang terpencil. Jangan sampe ada yang tau apalagi meninggalkan jejak. Kalau udah selesai lo telepon gue. Paham nggak lo?”
“Paham, bos! Gue bakal bawa anak buah gue, Satu aja udah cukup. Berarti gue dari siang udah ngikutin dia sampe malam.”
“Oke, lo bisa balik sekarang. Orangtua gue udah mulai curiga lo sering datang ke sini.”
Jovan berdiri sembari menghisap rokoknya. Dibetulkannya letak topi bertuliskan Adidas yang menutupi kepalanya. “Ingat, jangan sampe ada yang curiga dan meninggalkan jejak.”
Jovan menoleh pada Gina sembari mengedipkan matanya. Gadis itu tak bergeming. Dia tetap saja terlihat dingin memandang cowok itu. Dalam hati Jovan berdengus, begitu angkuhnya gadis itu dengan limpahan kekayaannya!
Jam 22.30 wib.
Jovan masih memarkir mobinya tak jauh dari rumah Dila. Ia di temani seorang cowok tinggi besar dengan brewok di wajahnya. Sudah hampir lebih dari separuh isi bungkus rokok di hisapnya tanpa habis. Pintu gerbang rumah mewah itu terbuka lebar. Sebuah mobil CRV metallic keluar dari garasi. Jovan menguntit perlahan beberapa meter dari mobil itu. Dion menyetir mobilnya dengan gagah, tepatnya mobil pemberian Gina saat cowok itu ulang tahun beberapa bulan yang lalu.
Melewati tikungan yang sepi membuat jantung Dion berdegup tak biasanya. Sejak sore tadi Dion sudah berpikir untuk tidak melewati tikungan ini. Perasaannya selalu tak enak tiap kali lewat jalan yang sepi dari pengendara motor atau mobil. Terlebih malam ini. Sekilas dia melongok lewat spion depan. Tak ada satu juga mobil atau kendaraan lain di belakangnya. Hatinya menyesali, kenapa dia tak menginap saja di rumah Dila tadi dan pulang pagi sekali.
Dion mengerem mendadak. Seseorang berdiri di tengah jalan memberhentikan mobilnya. Dia memicingkan mata untuk mengenali siapa orang itu. Tak jauh darinya ada sebuah mobil juga yang berhenti di pinggir jalan. Seorang penjual mie Tek-tek keliling mendorong gerobaknya di seberang jalan. Aman, pikirnya. Mungkin saja orang ini butuh bantuannya.
Orang itu menghampiri pintu samping mobinya.
Maaf Mas, bisa saya minta tolong? Ban mobil saya bocor dan saya nggak ada dongkrak untuk ganti ban. Apa saya bisa pinjam dongkraknya sebentar. Sudah setengah jam saya tunggu mobil yang lewat sini. Untung mobil Mas lewat kalau nggak bisa semalaman saya di sini,” ujarnya panjang.
Jovan membuka pintu mobilnya dengan ragu. Matanya melirik pada mobil lelaki itu. Sepertinya dia benar-benar sendiri, bisik hatinya.
“Sebentar ya Pak, saya ambilkan dongkrak di bagasi,” jawabnya ragu. Jovan membuka pintu bagasi belakang mobilnya. Suasana gelap yang hanya di terangi lampu jalan yang remang-remang membuat Dion harus melongok ke dalam bagasi mobilnya. Namun tiba-tiba ada yang menghantam tengkuknya. Dia mendelik lalu seketika tubuhnya jatuh di aspal.
Dion tak sadarkan diri. Mobil CRV itu dibawa seseorang yang melaju cepat. Mobil di belakangnya pun mengikuti hingga sampai di suatu tempat yang sangat sepi dan gelap. Tak ada satu pun kendaraan atau manusia yang melewati jalan itu. Dua mobil itu melaju lambat sebelum keduanya berhenti di rumah kayu, di pinggiran hutan.
Dua lelaki itu membopong tubuh Dion yang pingsan ke dalam rumah. Tubuhnya di dudukkan pada bangku dan tangan serta kakinya diikat. Wajahnya pun di tutup plastik hitam. Malam terus berjalan perlahan. Tak ada kehidupan di sana selain mereka. Sepi, sunyi, seakan malam tak akan pernah beranjak pagi.
Suara kokok ayam terdengar entah darimana sumbernya. Pintu kamar itu terkuak sedikit. Seseorang masuk dan berdiri di depan Dion. Cowok itu masih tertunduk. Sepertinya dia belum sadar dari pingsannya semalam. Lelaki brewokan itu mendongakan kepala Dion. Cowok itu bergerak. Dia mulai siuman. Tubuhnya berontak ketika sadar tangannya terikat dan kepalanya di tutup.
“Maksudnya apa ini?” Teriak Dion. Lelaki itu tersenyum sinis. “Woy…kenapa gue diikat gini?”
Lelaki itu tertawa keras. “Gue kira lo udah mati semalam!”
“Siapa itu? Tolong lepasin gue.”
Lelaki itu mendekati Dion dan menarik plastik yang menutupi wajah cowok itu . Dion gelagapan. Napasnya memburu. Matanya memerhatikan sekeliling ruangan kamar itu. Masih samar terlihat akibat kepalanya terbungkus plastik sejak semalam.
“Siapa lo?” tanyanya pada Jovan. “kenapa lo ikat gue kayak gini?” Dion memandang tajam ke arah Jovan. “Kayaknya gue pernah lihat lo?” Dion terus memerhatikan Jovan. “Lo orang yang minta bantuan gue di jalan itu, kan?”
Kali ini Jovan tertawa lebar. Bahunya ikut terguncang karena gelak tawanya. Dia menikmati ekspresi Dion yang kaget dan sedikit ketakutan itu. Dia menyalakan rokok yang di taru di selipan telinganya. Dibuangnya perlahan asap dari mulutnya. Dion terbatuk –batuk dengan asap rokok yang memenuhi ruangan kamar itu. Napasnya sesak. Jovan tak peduli. Dilirik jam tangan di lengan kirinya. Lalu dia melongok ke jendela kecil dekat tempat duduknya.
Sepertinya Jovan sedang menunggu seseorang datang. Tak lama kemudian lelaki itu berdiri dan mendekati Dion. Disarungkannya lagi kepala cowok itu dengan plastik hingga dia tak dapat melihat apa pun. Jovan membuka pintu, dia melihat sebuah mobil sport merah masuk ke halaman rumah kayu.
“Woy, lepasin gue!” teriak Dion. “siapa yang suruh lo culik gue?” Dion terus berteriak tapi Jovan tak peduli. Dia menghampiri mobil mewah itu.
Mereka berbincang serius. Jovan berdiri di depan seorang cewek pemilik mobil sport itu. Sepertinya si cewek memberi intruksi pada Jovan. Lelaki itu hanya mengangguk patuh.
“Sekap aja dulu. Belum saatnya gue ketemu dia. Besok gue balik lagi. Kita jalankan rencana ketiga,” kata cewek itu.
“Rencana ketiga apa, bos?”
“Lebih dahsyat dan sadis!” bisiknya dengan wajah hampir mendekati telinga jovan.
Sebentar kemudian cewek itu berlalu dengan mobil mewahnya. Jovan tersenyum tipis. Suara cewek itu sudah membuat adrenalinnya naik. Apa pun rencana bos-nya akan dia ikuti. Bukan hanya karena bayaran tapi lelaki itu sepertinya sudah jatuh hati.
Other Stories
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Hold Me Closer
Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...
Hati Diatas Melati ( 17+ )
Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...