Fitting Baju
Dila gelisah di sisi jendela kamarnya. Hari ini ada fitting baju pengantin di sebuah butik kenalan Mamanya. Kemarin dia sudah memberitahu Dion untuk datang ke butik itu. Cowok itu mengiyakan. Tapi sejak semalam Dila tak bisa menghubunginya.
Baju pengantin cantik berwana perak keemasan dengan payet yang bertaburan di sepanjang lengan dan hampir menutupi bagian tubuh menambah mewah rancangan seorang perancang terkenal sekelas Anna Avantie. Pas sekali menempel di tubuh Dila yang tinggi langsing. Mamanya mengerjap kagum. Kecantikan putrinya sungguh sempurna terlihat dengan pakaian itu.
Ibu Ratih, Mamanya Dila mendekati putrinya. Wajahnya yang keibuan dengan rambut disanggul tinggi menambah cantik penampilannya.
“Dion ke mana?” tanyanya sambil berbisik pada Dila.
Gadis itu termangu sesaat. Pertanyaan itu pula yang sedari tadi bergelayut di benaknya. Apa yang harus dijawabnya sedang dia sendiri tak tahu di mana keberadaan Dion.
“Sayang, kamu kok diam aja sih Mama tanya?”
Dila agak gugup. “Mungkin sebentar lagi datang, Ma,” jawabnya tanpa menoleh pada Mamanya.
“Ya sudah.” Ibu Ratih kembali ke tempat duduknya sembari melirik arloji mungil di tangan kanannya. Hatinya mulai gelisah. Sudah sejam lewat mereka di sana tapi Dion belum juga datang.
Nyonya cantik itu merogoh tas maroon dan mengeluarkan ponselnya. Dia penasaran dengan keberadaan calon mantunya itu.
“Mama telepon siapa?” Tanya Dila menghampiri Mamanya. Gadis itu duduk di samping Ibunya dengan masih mengenakan baju pengantinnya.
“Mama mau telepon Mamanya Dion. Takutnya mereka lupa.”
“Biar aku aja yang telpon, Ma,” sela Dila sebelum Mamanya selesai bicara.
Gadis itu buru-buru mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia berdiri dan sedikit menjauh dari Ibu Ratih. Wajahnya tiba-tiba muram setelah menutu telponnya. Dila terduduk lemas.
“Bagaimana? Ada apa?” Tanya Mamanya.
Dila hanya menatap Mamanya dengan wajah sendu, “Nggak dijawab, Mam. Sepertinya ponselnya nggak aktif,” jawabnya lesu. “tapi kemarin sore aku masih whatsapp dan dijawab. Memang sih sejak semalam aku telepon ponselnya nggak aktif.”
Ibu Ratih terlihat agak kesal. Segala hal buruk berkecamuk di benaknya. Mungkin saja lelaki itu mau mempermainkan anaknya. Karena dia tahu Dion sudah punya pacar sewaktu memutuskan menikahi Dila.
“Selesai ini kita langsung ke rumah Dion. Ya sudah kamu cepat ganti baju sana,” perintah Mamanya pada Dila. Wajahnya kelihatan tegang. Dua garis terlihat di keningnya.
“Maaf Bu, nggak menunggu calon pengantin prianya dulu?” Tanya penjaga butik itu.
“Nggak usah, Mbak. Calon pengantin pria sedang ada urusan penting,” jawab Ibu Ratih tanpa senyum.
Dalam perjalanan menuju rumah Dion, suasana dalam mobil Fortuner itu amat tegang. Dila sesekali melirik Mamanya. Dan Ibu Ratih membalasnya dengan tatapan sengit. Dada Dila berdegup kencang. Entah apa yang terjadi pada calon suaminya itu. Mungkinkah Dion berubah pikiran dan kembali pada kekasihnya? Itu juga yang menjadi pertanyaan Mamanya.
Fortuner hitam itu memasuki pekarangan rumah bercat putih itu. Rumah kediaman keluarga Dion tampak sepi dari luar. Memang sejak Dion berpacaran dengan Gina, dia tak lagi tinggal bersama keluarganya. Dion tinggal di apartement yang dibeli gadis itu untuk kekasihnya. Hanya sesekali saja cowok itu datang mengunjungi keluarganya bersama Gina.
Pintu rumah mewah itu di buka pelayan rumahnya. Ibu Ratih dan Dila masuk dan duduk di furniture yang terbuat dari kayu jati itu. Dari dalam terlihat Mamanya Dion dan adiknya yang cowok beriringan keluar.
“Jeng, gimana Dion itu lho, hari ini kan fitting baju pengantin masa dia nggak datang?” Ibu Ratih langsung memberondong Mamanya Dion dengan pertanyaan.
“Kami juga belum tahu di mana Dion. Sejak semalam dia nggak pulang, Tante,” jawab Dito, adiknya Dion. “Sudah di sms, di whatsapp tapi nggak bales dan terakhir aku telpon, ternyata ponselnya nggak aktif.”
“Tapi kemarin sore whatsapp-ku masih dibales. Dan malamnya memang sudah nggak aktif ponselnya. Aku pikir sengaja dimatiin karena dia ingin istirahat,” sambung Dila.
“Aneh? Dion nggak pernah seperti ini. Dan nggak mungkin juga dia bisa hidup tanpa ponselnya.” Dito menambahi.
Cowok atletis itu berdiri di samping kursi Mamanya sambil melipat tangan di dadanya. Otaknya cepat bekerja. Lelaki ganteng yang juga seorang intel itu berusaha mengaitkan segala kejadian-kejadian yang belakangan ini dialami kakaknya.
“Kita harus cari Dion, tapi ke mana?” Tanya Dila cemas.
“Bukan nggak mungkin kan dia kembali pada pacar lamanya?” Tanya Ibu Ratih sinis. Dila memandang Mamanya dengan dengan alis mengerut.
“Apa sudah dicari ke apartementnya yang dulu?” Dila menatap Dito penuh harap.
“Dion sudah nggak tinggal di sana lagi. Sejak putus dengan Gina, dia kembali ke rumah ini,” jawab Dito.
Mamanya Dion hanya diam. Sedari tadi wanita itu tak bicara. Segala pikiran buruk tengah terjadi pada anaknya. Dia khawatir dengan keadaan ini. Kalau suaminya tahu akan menambah buruk kondisi kesehatannya.
Perdebatan dua minggu lalu saja sudah membuat lelaki tua itu masuk rumah sakit. Awalnya Dion menolak untuk menikahi Dila karena dia sudah punya Gina. Tapi karena desakan Mamanya melihat kondisi suaminya akhirnya Dion menerima semua itu dengan terpaksa. Namun belakangan cowok itu juga menghitung untung dan rugi jika dia menikahi Dila atau tetap bertahan pada Gina.
Akhirnya Dion lebih memilih Dila untuk jadi istrinya walau dia tahu gadis itu telah diperkosa dan hamil. Dia tak peduli. Yang ada dipikirannya adalah menjadi calon pewaris tunggal dari keluarga konglomerat itu. Karena Dila adalah anak semata wayang mereka.
Dan kini situasinya berubah. Dion menghilang di saat fitting baju pengantin. Tak ada yang bisa menghubunginya. Tak ada yang tahu keberadaannya. Cowok itu seperti hilang di telan bumi.
“Apa Dion pernah cerita sesuatu padamu?” Tanya Dila sambil menatap Dion.
Cowok berambut cepak itu balas menatap Dila. Lalu dia menggeleng dengan mata penuh selidik. “Cerita maksudnya?”
“Beberapa hari yang lalu Dion pernah menerima buket bunga berdarah di selipan wiper mobilnya. Ada selembar kertas yang bertuliskan ‘bunga terakhir dariku sebelum ajal menjemputmu’. Kertas itu di perciki darah segar, Dito,” jelas Dila.
“Siapa pengirimnya?”
Dila menggeleng. “Di sana hanya tertulis by mantan. Apa kamu tahu siapa aja mantan Dion?”
Dito hanya diam. Sulit juga mengingat siapa saja mantan Dion karena cowok itu seringkali ganti pacar. Dia tahu pasti kalau kakaknya itu seperti Don Juan yang suka ganti pasangan. Dan yang paling lama menjadi pacarnya hanyalah Gina. Cowok itu tahu betul kalau Gina amat mencinta Dion. Apa pun akan gadis itu berikan asal kakaknya senang.
“Hanya itu aja kejadiannya?” Tanya Dito mengalihkan pertanyaan Dila.
“Nggak sampai di situ karena besoknya aku pun menerima terror dari seseorang.”
“Teror apa?” Tanya Dito cepat.
Dila menarik napas dalam. Dia berusaha menguasai kepanikannya. Kalau mengingat paket yang diterimanya itu dadanya langsung berdegup kencang. Tapi ini harus diceritakan pada Dito.
“Aku menerima paket yang berisikan akta kematian Dion,” jawabnya gemetar.
“Apa? Akta kematian? Siapa yang mengirim?”
Dila hanya menggeleng.
“Kita sudah cek dari cctv tamu yang datang pada hari itu. Ada seseorang kurir datang pada jam 10.00 membawa paket,” jelas Ibu Sinta. “Tapi wajahnya nggak terlihat jelas karena tertutup topi. Dan salahnya satpam kami tidak menanyakan identitasnya. Selain kurir itu tak ada lagi yang datang.”
“Oke, kita kumpulkan dulu semua bukti dan kejadian.”
“Dito, tolong temukan Dion. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya,” pinta Dila.
“Tenang, Di. Kita akan cari sama-sama. Aku akan menggerakan tim-ku. Kita akan temukan Dion, aku janji.”
***
Dito mulai mengadakan pencarian. Mereka yakin telah terjadi sesuatu pada Dion. Sudah dua hari cowok itu tak ada kabarnya. Pencarian dimulai dari tempat kerja Dion lewat teman-temannya. Anak buah Dito menyebar. Dari tempat kerja, kampus dan apartement di mana dulu Dion pernah tinggal. Termasuk para mantan Dion mereka datangi untuk di minta keterangan.
Di tempat kerja sepertinya Dion tak punya musuh. Mereka semua menyukai cara kerja cowok itu. Dion termasuk pekerjaa keras dan tidak sombong. Dua orang teman akrab Dion di kantor juga menceritakan tentang buket bunga berdarah itu pada Dito. Mereka memang tidak melihat sendiri tapi tampak jelas kalau Dion shock dengan adanya buket itu.
Apartement bekas tempat tinggal Dion mereka datangi. Penghuni sekita kamar cowok itu mereka mintai keterangan. Semua menjawab kalau Dion sudah lama tidak pernah datang ke sana. Dan kamar itu sepertinya tak lagi berpenghuni. Satpam apartement juga ikut dimintai keterangan, mungkin saja mereka melihat mobil Dion pernah terparkir di sana. Semua menjawab dengan jawaban yang sama. Dion sudah lama tidak pernah datang ke tempat itu lagi.
Terakhir, Dito dan dua orang anak buahnya mendatangi mantan-mantan Dion untuk dimintai keterangan. Ada beberapa mantan yang Dito juga mengenalnya. Dan beberapa mantan yang sudah tidak lagi tinggal di Indonesia. Mereka yang Dito temui menjawab sama kalau mereka tidak pernah bertemu dengan Dion lagi sejak berpisah dengan cowok itu. Terakhir adalah Gina. Kekasih Dion yang paling lama dipacari cowok itu.
Entah kenapa Dion bisa begitu lama berpacaran dengan seorang cewek. Bisa jadi karena selain Gina cantik, cewek itu juga anak seorang konglomerat sama seperti Dila yang juga anak satu-satunya. Tapi sepertinya Pak Obet, Papanya Dion kurang setuju dengan Gina. Alasannya karena Pak Deni, Papanya Gina adalah saingan bisnisnya.
Mereka kini sudah sampai di depan pintu rumah Gina. Dito dan dua anak buahnya di persilakan masuk oleh pelayan rumah itu. Bu Sinta menyambut mereka ramah. Ini pertama kalinya Dito bertemu dengan keluarga Gina. Rumah besar itu terkesan mewah sekali dengan perabot yang semuanya terbuat dari jati. Ornamennya pun antik di sudut ruangan. Lampu Kristal yang menggantung indah dan lukisan menghias dindingnya dari beberpa pelukis terkenal.
Mereka berbincang sebentar. Ternyata Gina sedang tak ada di rumah itu. Ibu Sinta bilang kalau putrinya sedang ke kampus untuk sidang skripsinya. Dito langsung pamit tanpa banyak bertanya. Fokus mereka adalah mendapat keterangan dari Gina. Hanya saja dari sedikit perbincangan, Dito mendapat berita kalau Dion sudah dua minggu ini tak pernah lagi datang. Dari penjelasan Gina, Ibu Sinta tahu kalau putrinya sudah putus dengan Dion.
Dito pulang tanpa membawa hasil dari Gina yang tak ditemuinya. Namun dia berencana akan datang kembali menemui gadis itu. Penyelidikan kembali di mulai saat malam terakhir cowok itu pulang dari rumah Dila, karena sejak saat itu Dion menghilang. Tapi Dito masih menemukan jalan buntu. Belum ada bukti yang akurat mengarah pada satu orang yang dicurigai. Dia berjanji pada Dila dan yakin kalau semua ini akan terungkap secepatnya.
Other Stories
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Test
Test ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...
Cinta Dua Rasa
Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...