Hujan Yang Tak Dirindukan

Reads
406
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
hujan yang tak dirindukan
Hujan Yang Tak Dirindukan
Penulis Amri Evianti

Perempuan- Perempuan Kekar

 Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh noda. Apa yang lebih penting dari kehidupan keluarga dibanding dengan kecantikan yang istimewa. Tak ada lagi kesempatan berbalur wewangian.

Allahu akbar… Allahu akbar…

Azan subuh berkumandang dari ujung mushola kampungku. Aku baru bangun setelah mama membangunkanku yang entah sudah berapa kali membangunkan.

“Nada, Kana! Bangunnn!” teriak mamak membangunkanku dari arah dapur. Mamak sudah berada di dapur jauh sebelum azan berkumandang. Salat malam tak lepas ia tunaikan sebelum menghidupkan tungku di dapur. Meski sudah ada kompor, mamak enggan meninggalkan warisan leluhur, yang konon berakibat tidak baik. Mamak selalu bilang masakan dari atas tungku lebih enak dibanding dengan masakan di atas kompor maupun alat penanak nasi.

Aku membangunkan Kana, adik yang hanya selisih dua tahun denganku. “Kana, bangun. Nanti dimarahin Mamak lho!” bujukku.

Dengan malas aku menuju ke kamar mandi, dan tak lupa singgah sejenak di depan penghangat badan, api di dalam tungku yang sudah dibuat mamak. Bau asap yang menempel di baju maupun tubuh mungil ini aku tak peduli. Aku memainkan bara api dengan menggunakan salah satu kayu bakar. Aku tak pernah habis pikir di usiaku yang akan mendekati dewasa ini mengapa mamak tak pernah bangun kesiangan? Selalu mendahului kami. Menyiapkan segala kebutuhan pagi hari dan tradisi minum teh pagi.

Aku menuju pancuran, mengambil air wudu. Serasa ada air es yang menerpa tubuhku. Salat adalah kewajiban yang ditanamkan bapak dan mamak. Bapak menjadi imam salat subuh kali ini, kami biasa selalu berjamaah karena mushola hanya terletak di samping rumah, meski itu juga bukan  mushola keluarga tapi mushola umum.

Mamak kembali ke dapur, melanjutkan tugas mulia yang sedikitpun tak pernah mengeluh karenanya. Bapak berada di ruang tamu, menyeduh teh dengan tangannya sendiri. Setahuku sudah lama mamak tidak membuatkan teh untuk bapak. Alasan bapak sederhana dan membuatku jatuh cinta.

“Pak, kenapa Bapak tidak mau dibuatkan teh oleh Mamak?”

“Bukan tidak mau, Nada. Tapi, Bapak merasa tidak perlu dilayani sedemikian istimewa oleh Mamakmu. Mamak sudah terlalu sibuk, menyiapkan segala kebutuhan kita. Kalau hanya untuk membuat teh atau kopi Bapak bisa buat sendiri. Tidak perlu merepotkan Mamakmu, Bapak selalu yakin cinta tidak hanya selalu dibuktikan dengan secangkir kopi ataupun teh.”

“Tapi Pak, katanya seorang perempuan itu harus melayani suami,” bantahku.

“Bukannya Mamakmu lebih dari sekedar melayani? Mamakmu telah menemani Bapak bekerja. Harusnya Bapak membuat Mamakmu nyaman di rumah, mengurusmu dan mengurus dirinya. Tapi Bapak masih membiarkan Mamakmu ikut ke ladang, untuk bersama-sama dengan bapak motong[1] karet” jawab bapak, dengan sesekali melemparkan pandangannya ke arah foto keluarga berwarna hitam putih.

Mamak keluar dengan membawa sepiring camilan pagi. Pagi ini mamak membawa sepiring kemplang. Kemplang makanan yang terbuat dari parutan ubi kayu, lalu agar bisa digoreng, parutan yang sudah diambil sarinya dicampur dengan tepung lalu digoreng. Mamak bisa membuat aneka camilan yang bahannya murah meriah dan selalu enak. Dari kerupuk legendar, kerupuk dari nasi sisa tapi belum busuk, yang dicampur dengan pengawet makanan yang bernama legendar dan beberapa bumbu dapur. Atau membuat nasi campur tepung sagu, dan rasanya tidak kalah dengan empek-empek Palembang.

Mamak, entah sejak kapan aku memanggil ibuku dengan sebutan mamak. Terasa hangat dan indah di telingaku. Saat yang sama teman sebayaku ada yang memanggil ibunya dengan sebutan mama, mamah, ibu, bunda. Sepertinya dari awal memang mamak telah mengajarkanku dan Kana adikku untuk memanggil dengan sebutan mamak. Suatu saat aku pernah bilang dengan mamak, bahwa temanku ada yang memanggil mamaknya dengan sebutan ibu.

“Mak, temanku manggil temannya dengan panggilan ibu lho.”

“Terus kamu pingin manggil Mamak, ibu?” tanggap mamak terkekeh.

“Buat apa kamu manggil Mamak ibu. Mamak hanya petani karet, kerjaannya di ladang[2] kok mau dipanggil ibu. Panggilan ibu hanya untuk ibu-ibu pegawai atau orang kaya saja,” ucap mamak sambil terus mengaduk nasi.

Mentari mulai meninggi, mengajak siapapun untuk terus berbenah diri. Mengajak siapapun untuk menggantung mimpi di langit yang tinggi. Menunaikan tugas dengan tulus hati. Bapak mengasah pisau sadapnya, sedang Kana sudah kupastikan hanya pura-pura mandi di sumur belakang rumah.

“Kana sini, Mamak cek. Mandi beneran nggak?” mamak mulai mengecek suhu badan Kana. Hahaha dan kalian tau apa yang terjadi? Yang Kana mandikan hanya wajah, kedua tangan dan kedua kakinya saja. Tak ayal Kana mendapat jeweran pada telinganya.

Aku sebagai anak tertua di rumah ini harus mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, menyapu dan mencuci baju sendiri. Bukan karena mamak tidak mampu mengerjakannya, tapi mamak mengajarkanku untuk bertanggung jawab atas diriku sendiri dan memberi pelajaran bahwa perempuan itu harus terampil dan lincah.

Aku mengenakan seragam sekolahku. Setelah memaksakan mandi dengan air sumur. Menimba airnya untuk mengencangkan otot tanganku. Nasi dan sayur sudah tertata di bawah tudung nasi. Aku sarapan dengan adikku, Kana. Sedangkan mamak membawa nasi untuk bekal ke kebun karet. Mamak dan bapak tidak terbiasa sarapan pagi, entah apakah mungkin sebuah kebiasaan masa lalu, di mana hidup begitu sulit kala itu? Aku memandang mamak, yang rapi dengan balutan kerudung cokelatnya yang sudah ada bercak getah karet. Memakai baju lengan panjang dilengkapi celana oblong panjang dan sepatu boot. Tak lupa tas gendong berada di atas punggungnya yang sudah begitu banyak menanggung beban. Sesendok nasi dan sayur kangkung pagi ini serasa tersedak di tenggorokanku. Aku mengerti betapa cinta mamak pada kami melebihi rasa cinta pada dirinya sendiri. Bagaimana Tuhan menciptakan hubungan yang indah pada kami. Aku menyalami mamakku yang akan ke ladang duluan. Ya, aku dan Kana yang melepas kepergian mamak dan bapak. Bukan mamak yang mengantarkan kami hingga depan pintu ketika kami akan sekolah.

Aku mengerti bahwa ada banyak cinta di dunia ini. Cinta yang kadang lebih terasa dari sebuah sikap dan dari hanya sekedar kata-kata. Seperti ribuan gerak yang sudah mamakku buat untukku, untuk Kana dan untuk bapak, itu cinta yang tak bisa aku balas, meski akan kusuguhkan segunung emas maupun permata.

Di kampung ini, ibu-ibu yang berprofesi sama dengan mamakku tidak hanya sedikit. Hampir semua ibu-ibu di sini akan menuju ladang karet tiap paginya. Sibuknya, sukarnya aku percaya tidak jauh dari kesibukan mamakku, menyiapkan segala kebutuhan keluarga di rumah.

Pada pagi hari rumah-rumah akan tertutup pintunya dikarenakan tak ada pemiliknya di rumah, sedangkan anak-anak mereka sekolah, dengan harapan kehidupan mereka menjadi lebih baik dibanding dengan kehidupan orang tuanya.

Aku mengenakan seragam abu-abuku. Aku berada di tingkat terakhir di salah satu sekolah di daerah ini. Artinya tahun ini adalah tahun terakhirku di sekolah. Aku dan Kana menunggu mobil datang. Bukan mobil pribadi tapi mobil angkutan umum yang membawa kami ke kota. Sedangkan mamak dan bapak menuju belantara hutan karet untuk membiayai sekolahku dan Kana.

[1] Motong adalah istilah untuk menyadap karet, yakni proses mengambil getah dari batang karet.

[2] Ladang adalah sebutan lain untuk kebun karet.


Other Stories
Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Awan Favorit Mamah

Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...

Love Of The Death

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Download Titik & Koma