Hujan Yang Tak Dirindukan

Reads
459
Votes
1
Parts
4
Vote
Report
hujan yang tak dirindukan
Hujan Yang Tak Dirindukan
Penulis Amri Evianti

Rezeki Yang Tertukar

Rezeki sudah dituliskan pada setiap insan, sejak 4 bulan di dalam kandungan. Jangan pernah takut porsi rezekimu berkurang karena kehilangan. Karena Allah akan memberikan rezeki lain dari arah yang lain pula.

Siang itu adalah jadwal bapak dan mamakku memanen getah di ladang. Cuaca sangat bersahabat meski harga getah semakin jauh dari harga 10.000. Nominalnya terus saja menurun ke nilai 6000-7000 rupiah. Keadaan ini membuat petani karet harus banyak bersabar. Karena keadaan harga yang terus menurun, banyak warga yang harus menjual ladangnya karena harus menutup utang tertentu, yang biasanya utang bisa mengandalkan hasil panen karet. Bos getah kampung ini juga turut serta menentukan harga karet, banyak isu yang beredar harga getah murah karena bos getah lagi banyak utang yang harus dicicil. Bos getah itu ayah Sakha.

Terlepas dari segala isu yang beredar, aku sama sekali tidak mengerti mengapa harga getah tidak naik-naik juga, padahal sudah lewat dari satu tahun. Murah atau pun mahal getah karet para petani karet juga harus ke ladang, menyadap karet untuk menghidupi keluarganya. Menghidupi keluarga banyak macamnya, seperti bapak dan mamakku yang pergi ke ladang, atau mereka yang bekerja di kantoran.

Mamak sudah sampai di ladang. Diletakkannya bekal makan yang dibungkus dengan daun pisang. Hingga tidak lama kemudian.

“Bapaaakkkkkk…”  Mamak menjerit memanggil Bapak

“Ada apa Mak? Pagi-pagi kok udah teriak-teriak!”

“Ya Allah, Pak…. getah kita diambil orang,” Mamak mulai berlarian mencoba memeriksa wadah lainnya.

Bapak pun sama berlarian, mengelilingi semua area ladang untuk memastikan bahwa ini hanya mimpi atau memang benar kenyataan. Benar saja semua getah di dalam mangkoknya sudah tak ada sisa. Mamak terduduk lesu di bawah pohon karet, tak ada air mata di sana, tapi bapak menyadari kegelisahan istrinya. 

“Sudahlah Mak. Biarkah saja, memang bukan rezeki kita.”

“Pak, kita harus bayar koperasi minggu depan. Belum lagi dengan utang harian kita pada bos getah,” Mamak mulai serak.

“Mak, jangan  ragukan Allah yang telah membuat kita hidup dengan baik sejauh ini. Masih untung hanya getah kita yang hilang, daripada dengan ladang milik orang lain yang habis terbakar karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab,” bapak mulai ceramah panjang. Mamak mulai tersadar, diiringi istighfar panjangnya dengan lirih.

Setelah mamak dan bapak tidak jadi memanen getah, kabar sama pun terjadi pada tetangga kebun. Getah mereka sama-sama raib, dirampas orang yang entah apa motifnya. Kabar ini memicu emosi warga, dan melaporkannya kepada polisi pendamping desa. Karena warga benar-benar seperti dijajah, beberapa waktu yang lalu pun dua sepeda motor diambil paksa oleh pencuri yang masih berada di jalan padat penduduk.


Other Stories
Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Pantaskah Aku Mencintainya?

Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...

Kuntilanak Gaul

Rasa cemburu membuat Lydia benci kepada Reisha. Dia tidak bisa terima saat Edward, cowok y ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Kala Kisah Menjadi Cahaya

seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Download Titik & Koma