Jalan Merah
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak terkorbankan karena ulah manusia yang mengaku bertuhan namun tak berperikemanusiaan. Kampungku sedang gempar karena ketidakamanan ketika warga akan menuju kebun karetnya. Begitupun aku merasa was-was dengan kondisi emak dan bapakku yang harus melewati jalan merah yang cukup panjang menuju ladang ini.
Pagi itu bapak dan mamak sudah siap ke ladang. “Mau ke ladang Mak?”
“Iya, ke mana lagi. Sumber utama ekonomi kita dari kebun karet,” mamak menjawab sembari memakai sepatu ladangnya.
“Dari desa kan sudah dihimbau untuk tidak ke ladang dulu Mak?”
“InsyaAllah nggak masalah, Da. Niat yang baik, akan mendapat perlindungan terbaik. Pasrahkan semua pada Allah,” Bapak menyambut. Aku melesat menuju kamar, mengganti bajuku dengan pakaian ke ladang.
Mamakku begitupun sama dengan mamak-mamak anak di daerahku. Tiap harinya menuju ladang karet. Berbaju buruk yang harusnya ia tanggalkan. Jalan menuju ladang belum ada pembangunan di sepanjang jalan. Jalan masih beralaskan tanah merah, kau tahu jika musim penghujan tiba? Kau harus super hati-hati melewatinya, oleng sedikit ban motormu akan tergelincir tanpa bicara sebelumnya. Hari ini aku ikut ke ladang bersama mamak dan bapak. Hari Mingguku bukan berjalan mondar-mandir mengelilingi mal, tapi senam jantung tepat di belakang mamakku. Sedangkan bapak di depan sendiri dengan motornya membawa peralatan memanen getah.
Aku di belakang mamak memeluknya dengan erat, bau khas badannya memaksaku untuk terus mendekapnya penuh lekat. Kukencangkan pegangan saat motor kami mulai melewati jalan licin nan curam. Jantungku semakin cepat berdegup, saat motor kami meliuk-liuk melewati jalan merah ini. Dari arah kaca spion tampak dua orang pengendara motor dengan menggunakan helm serba tertutup.
“Mak, sepertinya ada orang yang mengikuti kita,” aku semakin erat memeluk mamak. Mamak sedikit mulai mengawasi pengendara di belakangku melalui kaca spion. Hingga tidak lama kemudian, mamak menambah kecepatan motornya di jalan licin ini. Tempat ini emang incaran para perampok, tidak sedikit warga yang menjadi korban, aku pun tak pernah menyangka akan menjadi salah satu target.
Mamak semakin tak bisa mengendalikan kecepatan motor yang kami tumpangi. Bapak pun sudah menghilang dari penglihatan. Entah sudah berapa ratus tahmid dan tasbih kukulum dalam pasrah. Hingga dengan tiba-tiba mamak menginjak rem motor.
Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttt…
Kami berhenti saat ada kerumuman orang di pinggir jalan karena ada truk macet. Kutatap lekat wajah bapak di sana masih mencoba membantu mobil yang tidak bisa bergerak. Dari kejauhan tampak dua pengemudi motor tadi tampak kebingungan dan menepikan motornya di kebun karet milik orang, dan kami pun tak pernah bisa menyaksikan siapa pelakunya.
Jalan ini tanahnya bertekstur padat dan berwarna merah, jika hujan tiba jalan ini akan sangat licin. Jadi sudah menjadi hal yang tidak mengherankan jika tiap hari ada saja mobil truk ataupun mobil Jeep yang tidak bisa melanjutkan perjalanan dan harus melalui bantuan dari para laki-laki kokoh kampung karet ini.
Medan yang curam dan identik terjal juga dimanfaatkan oleh para aksi penjahat curanmor. Maupun pencurian hasil ladang milik warga. Ada isu bahwa jalan merah ini akan dijadikan jalan utama untuk pengangkutan batu bara di Kecamatan Limun. Hingga bisa saja jalan ini diperbaiki dan akan mempermudah warga menuju ladang masing-masing. Namun sepertinya kabar itu hanya sekedar kabar angin, yang akan berlalu begitu saja.
Kami melanjutkan perjalanan yang memacu adrenalin ini. Sesekali ada beberapa batu besar sengaja diletakkan di tengah jalan maupun di pinggiran jalan untuk menahan tanah merah agar tidak menjadi kubangan air dan berlubang yang akan menyulitkan petani karet terutama para pemilik mobil besar.
Motor yang kami tumpangi sudah sampai di ladang. Tampak beberapa orang membersihkan bagian ladang milik bapak yang tepat di pinggiran jalan. Ternyata ada yang membuat jalan darurat tanpa permisi dipindah ke tanah milik bapak.
“Lho Bang, kenapa jalannya pindah ke tanah saya?”
“Jalan utama rusak parah Pak, jadi sementara pindah ke tanah ini,” jawab salah satu dari mereka.
“Ya nggak bisa gitu dong Bang. Meski untuk kepentingan umum harusnya ada izin dulu dari pihak Abang. Nggak main serobot aja,” bapak berargumen.
Suasana semakin memanas, padahal gumpalan awan hitam tampak menggantung di bibir langit. Yang membuat jalan merah ini semakin parah tak terbendung, ya akibat para pemilik mobil besar. Harusnya orang yang lebih kaya tidak melakukan hal demikian pada orang yang lebih lemah. Lebih-lebih yang bermasalah dengan bapak ini penduduk asli tanah ini. Sedangkan keluarga kami berkumpul dalam naungan suku Jawa. Ada banyak kabar beredar bahwa penduduk asli secara turun-temurun merasa bahwa tanah nenek moyang mereka direbut oleh para pendatang yang melalui program transmigrasi. Jadi hal seperti ini bukan hanya kali ini saja, entah hanya kebetulan semata, masalah selalu saja melibatkan orang luar dan orang dusun. Sebutan dusun sebagai julukan warga keturunan asli tanah karet.
Other Stories
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Just, Open Your Heart
Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...
Coincidence Twist
Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...