Sabang Sampai Merauke
“Kau angkatlah itu dulu. Jangan macam budak loyo, kau.”
Yep. Itu suara Nyokap gue. Tegas. Keras. Menggelegar. Penuh karisma dan penindasan. Gue nggak bisa berkutik di depan beliau. Setiap bait kalimatnya mau tidak mau, suka tidak suka harus segara dilaksanakan, Komandan.
Kali ini gue antar Nyokap ke pasar. Karena biasanya gue selalu beralasan: sakit perut, sakit kepala, sakit gigi, atau paling nggak, diare. Sekarang di kedua tangan gue sudah tersemat masing-masing lima kantong keresek. Yang di dalamnya terdapat banyak bahan makanan dan buah-buahan yang menyegarkan. Setelah hampir setengah jam mengitari pasar, akhirnya gue bisa bernapas lega. Aroma lumpur dan becek betul-betul menyiksa indera penciuman gue.
Nyokap gue asli berdarah Medan. Beliau punya watak yang keras. Disiplin. Tak pandang bulu. Kalau salah, ya salah. Benar, ya benar.Pernah sekali gue jalan dengan Nyokap di salah satu pusat perbelanjaan, baca: mall. Nah, gue memerhatikan sekeliling sambil nunggu beliau lagi asik memilih-milih kutang. Di tengah lamunan gue, tiba-tiba ada seorang anak perempuan yang menurut gue imut banget datang di depan gue. Badan dan pipinya chubby, matanya bulat berwarna hitam pekat. Anak perempuan itu pakai dress selutut bermotif bunga-bunga merah kalem.
Akhirnya, gue tersenyum.
Gue sapa ‘Hai’. Dia bergeming.
Lalu dengan refleks tangan gue mencubit pipi chubby-nya dengan manja. Itu ‘kan hal yang normal kalau ketemu anak kecil. Bawaannya pasti bikin gemes. Eh, nggak tahunya dia mendadak nangis. Sontak gue panik. Mungkin orang lihat akan berpikir gue mau culik tuh anak. Atau mungkin mereka sangka gue pedofil.
Anak itu nggak berhenti nangis. Tiba-tiba ibunya datang.
“Kamu apakan anak saya?” tanya ibunya dengan tampang sangar.
Nggak mungkin dong, gue bilang, “Iya, Bu. Anak Ibu lucu, sih. Jadi aku cubitin aja.”
Nyokap gue langsung datang. Bukannya ngebelain anaknya, malah Nyokap gue dan Ibu itu nggak berhenti ngomel.
Serba salah gue.
Nggak hanya di situ. Pernah, Nyokap nyuruh gue untuk beli garam di warung kompleks. Saat itu, gue lagi asik-asiknya nonton Upin Ipin.
“Kean, belikan Mama garam dulu di warung,” kata Nyokap gue lengkap dengan logat bataknya.
Iya, nama gue Kean. Dengan huruf ‘ea’ dibaca ‘e’. Menjadi ‘Ken’. Keren, ‘kan?
Gue pergi beli garam. Setelah sampai rumah, gue langsung kasih ke Nyokap. Sejurus kemudian, gue lanjut nonton. Belum ada lima menit, Nyokap kembali bersuara.
“Kean, keknya gula juga sudah habis. Kau pergi beli dulu sana.”
Gue mengernyit.
“Duh, Ma. Kenapa nggak bilang, sih? ‘Kan bisa sekalian tadi.” Gue panggil Nyokap dengan sebutan Mama, dengan akhirnya ‘K’ di belakangnya.
Tiba-tiba wajah Nyokap gue berubah horor.
“Apa kau? Mau melawan Mama? Kukutuk kau jadi batu tawas, tahu rasa kau.”
Pergilah gue untuk kedua kalinya. Sampai di rumah. Gue menghela napas.
“Ada lagi, Ma?” tanya gue. Takutnya entar gue disuruh lagi, dan gue ogahan, lalu tahu-tahunya gue udah mejeng di kamar Bokap Nyokap dengan berubah wujud menjadi batu tawas.
“Nggak ada. Sudahlah, kau nonton saja sana.”
Gue bukannya malas disuruh Nyokap. Tapi terkadang, apa yang diinginkan Nyokap nggak berbanding lurus sama apa yang gue lakuin.
Oke. Gue disuruh nonton dan gue lakuin. Dan emang itu hobi gue. Pas Nyokap datang, tahu-tahunya gue kena damprat lagi.
“Nonton saja kau,” ujar Nyokap gue tiba-tiba.
“Tadi ‘kan disuruh nonton,” kata gue dengan alis saling bertautan.
“Kusuruh kau nonton, bukan nonton kartun. Nontonlah berita. Biar kau jadi pintar. Cem mana kau ini.”
Gue mengambil napas … embuskan ….
“Ha, skripsi kau? Sudah selesai?”
Gue segera melebarkan mata mendengar perkataan Nyokap gue. Gue menggeleng. Gue yakin habis ini gue kena siraman rohani lagi.
“Tu lah. Kau nontonlah kartun terus. Skripsi kau nggak selesai-selesai.”
Emang susah jadi anak.
***
Sampailah gue di rumah dari temani Nyokap ke pasar. Gue langsung menaruh semua plastik yang gue bawa di atas meja.
Karena ini hari minggu, dari kejauhan gue menatap Bokap yangsudah selonjoran manja di atas sofa panjang.Tangannya mengelus-elus kumis tipisnya.Tangan lainnya sibuk menyetel saluran televisi.
Bokap asli dari Banjarmasin. Gue nggak tahu napak tilas pertemuan mereka gimana. Tapi, Percaya nggak percaya, Bokap adalah salah satu anggota Dewan Perwakilan Daerah di tempat tinggal gue.
Sementara Nyokap adalah ketua dari Perkumpulan Istri Pejabat se-Surabaya. Kalau disingkat menjadi PIPS.
Bokap gue orangnya kalem, sabar, tenang, bijak dan penengah.Jadi, kalau ada perseteruan antara gue dengan Nyokap, ada Bokap yang sebagai jurinya, eh, penengahnya.
Nyokap adalah kasta tertinggi di keluarga gue. Beliau yang mengambil alih semua kemudi. Nyokap yang menentukan menu makan setiap hari. Nyokap yang menentukan cara berpakaian. Nyokap yang menentukan semua hal yang berkaitan dengan keluarganya. Gue khawatir aja, kalau suatu saat Nyokap akan menentukan jodoh gue kelak.
Di sudut sofa lain, gue lihat si Ganya alias si Gaga alias si tengil. Adik gue, lagi asik mainin tabletnya. Bayangin aja, anak SMP sudah punya gadget yang canggih. Dulu, waktu gue masih SMP, boro-boro dibeliin tablet, ponsel senter aja gue mintanya setengah mampus.
Gue akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar.
Gue harus hati-hati.Bukan apanya, terakhir kali gue masuk kamar, lagi ngantuk dan capek-capeknya habis pulang kuliah, tiba-tiba aja pas gue buka pintu, seember air langsung jatuh mengguyur dengan indah membasahi tubuh gue.
Gue jeritlah. Gue nggak pusing cari pelakunya. Pasti si Gaga. Entah kekuatan dari mana anak umur empat belas tahun itu bisa taruh ember isi air di atas pintu kamar gue.Dan kali ini. Entah kenapa setiap mau buka pintu kamar aja, gue kayak deg-degan banci.
Alohomora.
Si Manohara.
Gue masuk. Sukses.
Nggak ada lem yang menempel di sela ganggang pintu. Nggak ada air yang jatuh mengguyur. Gue langsung merebahkan tubuh di atas kasur.
Gue buka aplikasi musik di ponsel, dan tidur.
Bangun-bangun gue langsung pasang posisi manja. Merenggangkan otot-otot seperti di iklan adem s***.
Gue turun dari kasur.Mata gue langsung membelalak menatap pantulan wajah gue di cermin.
Kepiting sarden.
Saus tartar.
Muka gue penuh coretan warna-warni, sana-sini. Persis ondel-ondel. Gue geram. Otak gue nggak perlu berpikir lama untuk temukan pelakunya.
“GAGAA!” pekik gue.
Gaga yang lagi asiknya makan udang tepung goreng, langsung berhenti. Dia keselek. Rasain lo. Sejurus kemudian, dia langsung sembunyi di belakang badan Nyokap dengan wajah horor. Curang. Si tengil itu punya perisai yang kuat. Tiba-tiba Nyokap gue nyeletuk, “Kenapa kau?”
“Itu Ma, si Gaga. Lihat nih, coretin muka aku.” Gue jawab dengan mantap. Nyokap berdecak.
“Cem mana kau ini ….”
Yes. Bentar lagi si tengil itu akan dapat cacian dan makian.
“Macam anak kecil saja, suka kali ganggu adik kau.”
“Ta-tapi ….”
Malah gue yang disalahin.
Emang dasar, si tengil Papua itu. Pasang wajah tak berdosa. Coba kalau nggak ada Nyokap, sudah gue lides tuh anak.
Si Gaga emang anak Papua. Dia lahir di Jayapura, Papua. Sementara gue, lahir di Gorontalo, Sulawesi.Gue udah lama menyadari ini.
Keluarga gue semacam Bhineka Tunggal Ika.Nyokap dari Sumatera, Bokap dari Kalimantan,gue lahir di Sulawesi, dan Gaga di Papua. Kami tinggal di Jawa. Tepatnya di Surabaya. Pas.Keluarga Sabang sampai Merauke.
***
“Pa. Mama pergi dulu, ya.”
Pagi-pagi sekali gue lihat Nyokap udah berangkat. Selain jabatannya menjadi seorang ketua PIPS, beliau juga adalah seorang PNS.Lebih tepatnya Guru.Lebih tepatnya lagi Guru killer. Di salah satu SMU.
Nyokap gue bisa menghafal seluruh nama anak muridnya.
“He, kau. Samuddin. Cem mana kau ini? Nilai kau semester ini jelek kali. Semester lalu nggak begini ‘kan?”
Gue tahu. Karena anak yang bernama Samuddin itu lagi menghadap Nyokap gue di rumah waktu itu. Gue lihat ekspresi Samuddin sudah penuh keringat. Pandangannya menunduk, menatap ubin nanar. Tangannya saling meremas satu sama lain.
Kasihan kamu, Dek.
Sementara itu, gue masih asik makan roti panggang dan kentang balado buatan Nyokap. Nggak lama kemudian, Bokap akhirnya juga berangkat kerja.Gaga?Ke sekolah bareng Nyokap.
Sebentar siang gue ada kuliah. Dan di saat itu, si Gaga sudah pulang dari sekolah. Gue harus mengunci kamar. Gue nggak tahu, ketengilan macam apa lagi yang akan dia peragakan.
Cklek.
Gue langsung berangkat. Sejam lagi Nyokap dan si tengil itu akan pulang. Biasanya Nyokap udah ada kunci cadangan.
Gue pun melajukan motor gue ke kampus. Sampai di sana otak gue pusing dengan revisian. Gue curiga, jangan-jangan ini Dosen suka sama gue. Demen banget nyuruh gue buat janji ketemuan sama dia.
Di rumah. Jadilah gue harus berpacaran dengan laptop. Bedanya pacaran jenis ini diwajibkan. Ha. Ha. Ha.
Nggak maksiat, nggak mengundang syahwat dan nggak berkhalwat.
Mantap nggak, Gan?
Other Stories
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...