Mission Escape

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Fathi Muin

Orangtua Baru

Pelan-pelan gue membuka mata. Masih sedikit kabur. Kepala gue masih pusing. Rasanya seperti dipukul berkali-kali. Gue pegang kepala, ada seikat perban yang menempel di sekeliling kepala gue. Gue balik kanan, ada selang infus yang menjalar dari pergelangan tangan gue.
Gue di mana?
“Pa, Pa. Lihat tuh, udah siuman.”
Suara cewek, lebih tepatnya wanita. Apa itu Nyokap gue? Tapi, suara dan nada bicaranya berbeda.
“Nak, kamu nggak apa-apa?” Sekarang suara cowok, eh bapak-bapak.
Gue membuka mata lebih lebar lagi. Bukan. Mereka bukan Nyokap-Bokap gue. Lalu siapa?
“Tadi kamu kecelakaan, lalu kami bawa kamu ke rumah sakit,” kata Bapak itu. Bapak itu bantu gue untuk duduk. Setelah dalam posisi enak, gue akhirnya bersuara,
“Anda siapa?”
“Kami yang tabrak kamu.”
Gue mengernyit.
Tabrak? Detik itu juga gue baru ingat. Tadi gue bermaksud menolong cewek yang sepertinya ingin menabrakkan dirinya. Malah sekarang, gue yang kena tabrak.Apes banget.Tapi, sekarang cewek itu gimana?
“Kami juga berterima kasih sama kamu,” sambung Bapak itu.
“Berterima kasih kenapa, ya, Pak?” kata gue pelan, dengan tampang kebingungan.
Bapak itu pun akhirnya bercerita.
***
Sial.
Ternyata cewek itu adalah sindikat pencuri. Mereka mempertaruhkan nyawanya dengan sengaja menyerempet dirinya sendiri di tengah jalan. Setelah menargetkan mangsanya, salah satu dari mereka datang di kerumunan orang, setelah korbanlengah, mereka lalu mengambil semua barang korban. Persis yang gue alamin. Cewek itu tiba-tiba aja nyelonong, lalu gue mendatangi cewek itu bermaksud menolong, dan tanpa sadar, ternyata semua barang gue ludes mereka colong.
Gila.
Jadi waktu kemarin gue ketemu cewek tomboy yang pakai tas gue, adalah pembeli barang-barang yang sindikat itu jual dari hasil tipu muslihat mereka. Atau mungkin cewek itu juga adalah salah-satu dari sindikat itu?
“Berkat kamu, barang-barang kami nggak jadi mereka ambil. Karena para warga sudah cerita, kalau mereka memang selalu beroperasi di sekitar situ. Tapi baru kali ini, ada yang kecelakaan. Dan akhirnya para warga membawa mereka ke kantor polisi.”
Gue nggak tahu ada hal seperti itu.Secara teknis, gue yang menyelamatkan Bapak dan Ibu ini dari aksi sindikat itu. Tapi ada satu hal yang gue pikir. Gimana caranya gue bayar administrasi rumah sakit?
“Tenang aja, semua biaya rumah sakit sudah kami yang tanggung.” Ajaib. Bapak itu seolah tahu isi pikiran gue. Yah, untuk saat ini gue bisa sedikit lega.
Berselang dua hari, akhirnya gue diizinkan Dokter untuk pulang. Gue juga berterima kasih kepada mereka karena selama gue di rumah sakit, Bapak-Ibu ini yang menemani gue.
“Terima kasih banget, ya, Pak, Bu. Udah merawat saya.”
Mereka tersenyum. “Kamu mau pulang ke mana? Biar kami antar,” kata si Ibu itu.
Gusti. Gue baru ingat lagi. Gue ‘kan kabur dari rumah.
“Ng-nggak usah, Bu. Makasih,” kata gue sok nolak.
“Ah, nggak apa-apa, kok. Yuk, biar kami anter.”
“Maaf, Bu. Nggak usah. Soalnya saya nggak tahu mau ke mana. Saya nggak ada rumah.” Secara teknis gue nggak bohong. Emang gue nggak ada rumah. Yang ada ‘kan itu rumah Nyokap Bokap gue.
Mereka saling bertukar tatap.
“Oh gitu ….” Ibu itu menjeda. Di detik berikutnya, si Bapak yang angkat suara,
“Ehm … gimana kalau kamu tinggal bareng kami? Kebetulan ‘kan, kami belum punya anak, kamu bisa kami angkat sebagai anak.”
Alamak! Puja kerang ajaib. Ini dia yang gue cari-cari.
***
Mimpi apa gue semalam? Gue tinggal di sini? Secara teknis rumah Nyokap Bokap gue nggak jauh beda dengan rumah orangtua baru gue. Tapi yang membedakan adalah, kamar gue di rumah yang baru ini dua kali lipat lebih luas. Dan yang lebih penting, nggak ada si Gaga sok berkuasa di rumah ini.
Nggak hanya itu, perlakukan Nyokap gue dengan Ibu baru gue jauh berbeda. Setiap apa yang gue minta, pasti dikabulin sama Ibu baru gue. Beliau hanya seorang Ibu rumah tangga. Sementara Bapak baru gue adalah seorang pengusaha property. Gue panggil mereka Bapak-Ibu.
Mereka selalu memberikan apa yang gue mau. Dan nggak terlalu membatasi.Gue jadi kayak anak tunggal. Seminggu setelah gue tinggal bareng dengan orangtua baru, mereka sudah membelikan gue sebuah laptop baru. Tapi sayangnya, biar bagaimana pun mereka nggak bisa beli skripsi gue.
Tunggu.
Gue ingat, di rumah gue ada backup-nya. Tapi yang menjadi masalah adalah, bagaimana cara gue ambil? Masa gue ke rumah sendiri mengendap-ngendap kayak mau maling mangga tetangga?
Akhirnya, gue memberanikan diri untuk pulang ke rumah, maksudnya pergi ke rumah. Singgah hanya untuk mengambil harddisk back up-an gue. Gue harus tunggu si Gaga tengil keluar dari rumah. Gue tunggu saat-saat itu biar gue nggak ketahuan Nyokap Bokap.
Gue stand by di depan rumah sudah hampir sejam. Dan Gaga belum juga nongol. Hari juga sudah hampir senja. Dua jam berikutnya, tiba-tiba suara bunyi mobil terdengar. Itu Nyokap dan Bokap. Kayaknya mereka mau keluar. Sip. Ini kesempatan bagus. Akhirnya gue tunggu dan setelah itu, Bokap melajukan mobilnya keluar. Gue mengambil langkah cepat masuk.
Gue buka pintu pelan-pelan. Sebisa mungkin nggak buat suara. Tapi dasar si tengil Gaga, tiba-tiba dari belakang dia melunyah kepala gue dengan sebuah kemoceng. Gue meringis. Sebisa mungkin gue menangkis serangan bertubi-tubi dari anak tengil satu ini. Dia serang gue kayak orang kesurupan.
Di menit berikutnya, gue langsung berhasil menangkis serangannya.
“Ini gue! Tengil!” kata gue memekik. Gaga langsung terdiam.
“ABANG?!” Gendang telinga gue hampir pecah gara-gara teriakannya. Kemoceng di tangannya berangsur turun.
“Lo dari mana aja? Mampus. Lo di cariin Mama.” Gue sudah menduga Gaga akan bilang seperti itu.
“Iya gue tahu ….”
Iya gue tahu. Habis ini gue akan disembelih sama Nyokap gue sendiri.
“Gue bilangin Mama, lo.”
“Duh, jangan dong. Nanti gue beliin lo poster sama merchandise Suju, deh.” Di detik berikutnya, si Gaga langsung berbinar.
“Beneran lo, ya?”
Gue mengangguk. “Asal lo nggak bilang ke Mama, Papa. Oke?”
Giliran dia yang mengangguk.Asem banget. Ini anak kuda poni kalau soal sogok-menyogok aja, nomor satu. Gue khawatir kalau dia jadi Hakim atau Presiden. Bisa-bisa di kamarnya penuh poster dan merchandise Suju.
“Bu, tolong jangan penjarakan saja. Nanti saya beliin action figure-nya Suju.”
“Oke, karena ini adalah keputusan final, maka dengan berat hati saya membebaskan saudara.”
Setelah gue nego dengan Gaga. Gue langsung ke kamar. Ambil apa aja yang bisa diambil dan apa yang gue mau ambil. Tapi tiba-tiba, pas gue mau keluar, mobil Bokap sudah berbelok ke rumah. Mereka sudah balik.
Mampus. Bagaimana ini? Apakah gue harus berakhir tragis seperti ini?
Oh Tuhan, tolonglah.
“Pst! Bang!” Di tengah kegalauan gue, tiba-tiba Gaga membisik. “Lewat sini aja.”
Ternyata adek gue yang satu ini bisa juga diandalkan.Tanpa ba-bi-bu, gue langsung buru-buru keluar lewat pintu belakang. Pas Nyokap Bokap gue masuk, gue langsung terbirit-birit keluar.
Aman.
***
Gue akhirnya sampai di ‘rumah baru’ gue.
“Nak Kean, udah pulang?” sambut ‘Ibu baru’ gue. Gue masih harus terbiasa dengan keadaan ini.
“Iya, Bu.”
“Oh, ya. Besok kamu temani Ibu belanja, ya?” Detik itu juga, entah kenapa gue tiba-tiba teringat Nyokap gue.
Gue mengangguk.
Keesokan harinya, gue pergi di salah satu pusat perbelanjaan bareng Ibu angkat gue. Bedanya, kali ini walaupun gue yang bawa barang belanjaan, tapi hampir 40 persennya adalah barang yang gue minta. Kalau gue belanja bareng Nyokap, jatuhnya paling belanja ke pasar atau nggak ke mall, tapi 90 persen barang Nyokap.
Hampir tiga jam gue dan Ibu angkat gue mengitari mall. Kami juga singgah di supermarketnya untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Akhirnya kami ke parkir untuk mengambil mobil.Tiba-tiba, di parkiran samping—parkiran motor—gue lihat seorang cewek yang nggak asing.Kayaknya gue pernah lihat, nih cewek.
Gue mempersilakan Ibu angkat gue untuk duluan masuk ke mobil, lalu langkah gue mendekati cewek itu. Saat itu dia lagi memarkir motornya.
“Mbak, yang berteduh di ruko daerah Jambangan, ‘kan? Masih ingat saya?”

Other Stories
Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Labirin Rumit

Di tengah asiknya membicarakan liburan sekolah, Zian bocah SD mencari gara-gara di tengah ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Kating Modus!

Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...

Download Titik & Koma