Kembali
“Wah … otak lo emang lagi sedeng, ya?” Dengan antusias, Ujo berkata sambil mulutnya mengerucut kayak ikan cucut.
“Mau gimana lagi, Jo? Orangtua angkat gue nggak ngizinin gue pulang.”
Tekat gue untuk kembali ke pangkuan Nyokap sudah bulat. Sebulat tahu bulat yang dijual si Kang Omat. Tapi yang menjadi masalah adalah, gue harus ekstra keras mikirin gimana caranya buat diri gue bisa diusir.
“Udahlah. Lo bicara lagi ama orangtua baru lo. Siapa tahu aja mereka berubah pikiran.”
Gue mendesah pelan.“Percuma juga, Jo.”
“Kenapa?”
“Mereka tetep nggak izinin.” Gue menjeda. “Makanya gue cari ide biar gue bisa diusir dari sana.”
“Lo emang aneh, Kean. Kemarin lo mau kabur, sekarang giliran lo udah tinggal sama orangtua angkat, lo mau buat diri lo diusir?” Ujo geleng-geleng.
“Gue nggak punya pilihan, Jo.”
Nggak lama, gue masuk ke ruangan sidang. Karena hari ini adalah hari gue harus ujian meja. Di dalam, gue udah siapin LCD dan segala macam yang gue butuhkan.
Setelah sekitar dua jam gue ditanya secara brutal, akhirnya gue keluar dengan bernapas lega. Atmosfir udara di luar benar-benar bikin beban gue seolah jatuh seketika.Dengan segala daya dan upaya, empat dosen yang menguji memberikan gue satu kata yang manis. Semanis kata-kata para barisan mantan.
KEANO SUCIPTO
DINYATAKAN LULUS.
Sialnya, gue kembali kepikiran Nyokap. Gue pengin membagi kebahagiaan ini dengan keluarga gue. Gue pengin mereka tahu kalau gue nggak melulu melakukan hal yang salah. Tapi bisa membanggakan orangtua.
Sampai di rumah—maksud gue, rumah orangtua angkat gue. Gue memberi tahu Ibu dan Bapak angkat gue. Tentu aja mereka membalas dengan seulas senyum.
Tapi, ada kalanya gue merasa bahwa, orang pertama yang harus tahu ini adalah Nyokap dan Bokap. Nyatanya, bukan mereka yang pertama kali menyaksikan gue bisa lulus dan lepas dari title mahasiswa abadi.
Malamnya, otak gue masih bekerja. Berpikir untuk mencari cara agar gue bisa diusir di rumah ini.Seiring dentuman lagu dari playlist ponsel gue yang semakin keras, akhirnya lampu ide muncul juga.
***
Gue melangkah tersuruk sampai ke depan kamar orangtua angkat gue. Keduanya masih sibuk di ruang tengah. Ibu lagi masak untuk sarapan, sedangkan Bapak masih bergelut depan laptop.
Sebelum gue masuk ke kamar, langkah gue terhenti bertepatan dengan panggilan dari Ibu angkat gue. Gue pun beranjak menuju sumber suara. Seperti pagi biasanya, Ibu angkat gue udah nyiapin berjejer makanan siap santap yang rasanya nggak kalah dengan restoran mewah.
Satu yang gue pikir. Ini belum saatnya.Setelah selesai, tanpa ba-bi-bu gue langsung melangkah kembali ke kamar orangtua angkat gue. Pelan-pelan namun pasti, akhirnya gue berhasil masuk ke kamar mereka.
Sekadar informasi, ini untuk pertama kalinya gue masuk ke kamar orangtua angkat gue. Kamarnya luas dengan dekorasi sederhana.
Langkah gue semakin maju tersuruk sampai ke sebuah lemari besar dan lebar. Dan isinya udah kayak wardrobe artis-artis. Gue buka sebuah laci.Yes.Sepertinya nggak dikunci. Sebenarnya gue nggak alasan untuk melakukan hal ini. Tapi melihat kondisinya seperti ini, mau nggak mau gue harus mengambil beberapa barang berharga Ibu angkat gue. Dengan begini, gue yakin, gue pasti di—
“Kean?”
Aha.
Waktu yang tepat, “Ngapain Kean di kamar Ibu?”
“Oh, Ini Bu ….” Gue pura-pura gelagapan biar Ibu angkat gue mengira gue mau maling barangnya. Gue lalu menatap Ibu yang semakin mendekat. Detik berikutnya, matanya melirik ke benda yang gue pegang. Sebuah kotak berwana merah yang berisi emas.
“Kamu mau ambil emas Ibu?”
Bagus. Ini dia yang gue tunggu-tunggu.
Gue yakin habis ini Ibu angkat gue pasti akan laporin gue ke Bapak dan selanjutnya … gue—
“Pasti mau dikasih ke Bunga, ya?”
What?
“Ya ampun Kean … kamu emang nggak ada uang buat beliin Bunga emas, ya?”
Apa?
“Ya udah, nih. Ini kalung emas Ibu masih baru banget. Baru seminggu yang lalu Ibu beli. Kalau kamu mau kasih Bunga, nggak apa-apa. Ambil aja.”
Ini nggak bener.
“Ng-nggak usah, Bu.” Sekarang, gue gelagapan beneran. Detik itu juga gue langsung keluar.
Seumur hidup gue nggak pernah ketemu dengan orang macam Ibu angkat gue. Masa gue udah ketahuan ambil barangnya tapi Ibu malah kira gue mau kasih emasnya ke Bunga? Gue juga nggak ada niat mau kasih Bunga emas.
Masa gue baru jalan beberapa minggu dengan Bunga, udah ngasih emas?Rencana pertama: gagal.Otak gue mulai kembali bekerja.Nggak berapa lama, Ibu angkat gue panggil.
“Tolong belikan Ibu sabun cuci pakaian, dong.”
Alih-alih menjawab, gue tiba-tiba punya ide.“Males ah, Bu. Di luar panas banget.” Mungkin dengen gue malas-malasan dan nggak nurutin perintah Ibu angkat gue, rencana gue bisa berhasil.
“Ya udah, biar Ibu aja. Kamu jaga rumah, ya.”
Itu pertama kalinya gue nggak nurutin Ibu angkat gue. Jadi gue nggak begitu tahu bagaimana reaksi Ibu angkat gue ketika gue menolak suruhannya.
Nggak hanya itu. Beberapa kesempatan Ibu angkat gue kembali menyuruh gue untuk membelikan sesuatu ataupun hanya sekadar membantu beres-beres rumah. Tapi sayangnya, gue gagal. Lagi.
Berbeda 180 derajat dengan Nyokap gue. Gue bisa hafal banget jika gue dan Nyokap mengalami situasi ini.Ujung-ujungnya gue diancam jadi batu tawas. Gue sampai bergedik mikirinnya. Dari pada gue mikirin itu, mending gue mikirin rencana lain.
“Bu, Kean ke rumah temen, ya.”
“Hati, hati, ya, Kean.”
Gue pun melajukan mobil menuju rumah Ujo. Sebelumnya Ujo sms buat ngumpul di rumahnya.
Sampai di sana, beberapa temen kelas di kampus gue juga ternyata datang. Bukan acara resmi sebenarnya, cuma acara makan kecil-kecilan sekelas aja.Gue langsung hampiri si Ujo yang lagi asik ketawa kunti dengan beberapa temen kelas.
“Hei, Ke.” Ujo berpaling ke gue.
Gue mengambil segelas es buah lalu duduk di sofa, tepat di depan Ujo.
“Kenapa lo? Cemberut gitu?” kata Ujo mengernyit.
“Gue pusing.”
Ujo diam sesaat. Dari wajahnya tersirat kalau dia lagi mikir sesuatu.“Lo belum diusir ama orangtua angkat lo?”
Gue mengangguk lesu.
“Gini aja. Dari pada lo pusing, gue punya ide.”
Giliran gue yang mengernyit. Si Ujo lalu mengisyaratkan untuk gue mendekatkan telinga ke mulutnya. Gue nurut. Ujo kayaknya mau membisikkan kata cinta. Nggaklah. Dia membisikkan sebuah rencana yang menurut gue itu lumayan oke.
Akhirnya gue pulang. Perasaan gue agak lega akibat bisikan si buto ijo tadi. Pikiran gue udah mulai melayang, membayangkan pulang dan disambut tangis haru oleh keluarga gue.Tiba-tiba gue jadi deg-degan mikirin gimana reaksi Nyokap begitu gue balik ke rumah.
***
Gue menghitung semua uang yang Bapak angkat gue kasih. Termasuk sebuah kartu kredit yang dia kasih ke gue. Gue ingin membuat sesuatu yang fantastis. Sesuai rencana si Ujo.
Besoknya, gue mulai menyiapkan semuanya. Gedung beserta dekorasinya. Gue juga udah pesan konsumsi untuk semua teman yang gue undang. Terakhir, gue mewartakan undangan ini ke semua temen-temen kampus.
Gue akan buat party costume.
Hari yang gue tunggu pun akhirnya datang. Malam ini gue langsung pergi tanpa bilang ke orangtua angkat gue. Sebelum gue pergi, Ibu sempat tanya ke gue mau kemana. Tapi, gue cuek bebek aja.
Semua temen gue, termasuk Ujo udah stand by di gedung party, yang harga sewanya lumayan besar dan cukup menguras kantong.Gue menyusun party dengan nuansa putih hitam. Jadi semua orang yang datang harus memakai pakaian serba putih hitam. Istilahnya drees code.
Di sana, nggak hanya temen kampus gue yang datang. Tapi gue juga ajak Bunga dan Lilis. Sayang dong, pesta segede ini kalau nggak ramai. Makin banyak orang makin ramai. Sayangnya, gue nggak tahu kalau ternyata Lilis ngajak ‘partner’-nya.
“Hai Lis.” Pandangan gue mengarah ke sosok di samping Lilis.
“Hai.”
“Ini siapa?” tanya gue.
“Oh. Iya ini. Kenalin ....”
Gue sih berharapnya Lilis bilang, “Ini temen gue.” Atau, “Ini Kakak gue.” Nyatanya. Itu semua nggak sesuai dengan apa yang gue pikir.
“Ini pacar gue.”
Kok, hati gue kayak ada pahit-pahitnya gitu, ya? Ada segetir rasa sesak yang gue rasa. Seperti ada yang patah di dahang pohon hati gue. Tapi, dalam sekejap gue berpikir. Gue ‘kan udah punya Bunga. Dia nggak kalah cantik dengan Lilis.
Emang dasarnya gue playboy cap kadal. Udah bagus gue punya Bunga. Tiba-tiba gue berpikir nyari cewek nggak perlu yang cantik, pintar, kaya dan lain-lainnya. Tapi cukup satu aja:Yang mau sama kita.
Nggak lama, Bunga pun datang. Gue sambut dia dengann cipika-cipiki.
“Mas Kean. Kok kamu tumben buat party kayak gini? Ini biayanya nggak dikit loh.”
“Tenang aja, sayang. Kamu nikmati aja pestanya.” Gue berkata, kayak udah jadi bos beneran aja. Semua kekayaan ini bukan punyague. Perusahaan juga, sepenuhnya bukan milik gue. Gue nggak bisa jamin kalau gue bisa meneruskan perusahaan Bapak angkat gue.
Akhirnya, gue dan Bunga duduk di salah satu kursi empuk di sudut ruangan. Dentuman musik pop-rock menggema sentaro gedung.
Nggak lama, Ujo datang dengan menggeleng-geleng kepala.“Hebat lo Ke. Habis berapa duit, nih?”
Gue menyeringai kayak pemeran antagonis di sinetron-sinetron.“Ada deh.”
Dan habis ini, gue harus siap-siap diusir oleh orangtua angkat gue. Itu yang gue mau.
Pesta berakhir sekitar pukul 12 malam. Ketika gue pulang, keadaan rumah udah sepi. Untung gue bawa kunci cadangan. Jadi gue bisa masuk tanpa harus membangunkan orangtua angkat gue.
Masuk kamar, gue mendesah pelan. Andai aja gue lakuin ini ketika gue nggak kabur dari rumah, dan pulang larut malam, sudah dipastikan besoknya gue nggak bernyawa lagi. Gue pasti dimarahi abis-abissan sama Nyokap. Mungkin Bokap juga.
Other Stories
Hantu Dan Hati
Zaki yang baru saja pindah kesebuah rumah yang ditinggalkan, menemukan fakta bahwa terdapa ...
Conclusion
Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...