Good Not Always Good
“Tadi siapa, Mas?”
Gue akhirnya melajukan mobil bermaksud mengantar Bunga pulang.
“Oh, tadi. Itu … cuma kenalan doang,” kata gue sok cool. Membuat Bunga hanya bergumam oh yang panjang.
Aku punya ragamu, tapi tidak hatimu. Penggalan lirik lagu Armada—Asal Kau Bahagia. Sama seperti Bunga rasakan saat ini. Raga gue bersama dia. Tapi hati gue tertuju ke Lilis. Bayangan pertemuan kedua dengan cewek tomboy itu kembali melintas di pikiran gue.
Jantung gue hampir copot begitu tahu Lilis yang menepuk bahu gue. Gue sadar mulut gue sudah setengah terbuka.
“Kok, lo bisa ada di sini?” tanya gue.
Lilis tersenyum dulu sebelum bersuara.
“Gue kerja di sini.”
“Di sini?” Gue menunjuk ke bawah. Saat itu gue kira Lilis kerja jadi tukang parkir. Tapi, mana ada tukang parkir cewek yang cantik kayak dia. Detik berikutnya dia tertawa kecil.
“Di dalemlah.”
Sekarang giliran gue bergumam oh yang panjang.Gue langsung ingat tentang ikrar gue.Kalau ketemu Lilis, gue pengin ngajak dia makan malam. Tapi sekarang gue lagi sama Bunga. Oh Tuhan, ini pilihan yang sulit. Gue harus memilih salah satu dari mereka. Akhirnya gue memutuskan untuk pergi dari hadapan Lilis. Namun, sebelum gue pergi, terlebih dahulu gue membisikkan sesuatu di telinganya.
“Eh, boleh nggak, gue minta nomor hplo?”
***
Akhirnya gue sampai di rumah Bunga. Begitu sampai, gue dijamu dengan segelas cokelat hangat.
Nggak berapa lama, gue pun pamit.
Setibanya di kamar, gue langsung raih ponsel buat sms Lilis.
Hai Lis. Ini gue, Kean.
Satu, dua menit, nggak ada balasan. Gue pikir mungkin Lilis lagi sibuk. Sampai akhirnya gue punketiduran.
Hingga malam harinya gue baru dapat balasan dari Lilis.
Hai Kean. Sori, ya, baru balas, tadi sibuk soalnya.
Lilis dan gue saling balas pesan malam itu.
***
Gue berangkat ke kampus lebih awal dari biasanya. Kali ini demi misi mengerjakan revisi yang tertunda. Baru juga selesai memarkirkan motor, tiba-tiba Ujo nyamperin gue.
“Ada apa, sih, Jo?” Gue mengernyit begitu melihat Ujo masih ngos-ngosan.
“Itu. Nyokap. Lo.”
“Nyokap gue?”
Ujo mengengguk. Dia mencoba untuk mengatur napasnya.
“Nyokap gue kenapa?” tanya gue lagi.
“Nyokap lo nelepon gue.”
Deg.
Mampus.Hati gue mulai nggak karuan.“Nyokap gue bilang apa?”
“Ya gitu. Nyariin elo,” kata Ujo serius.
Gue kembali bergeming. Untuk detik ini gue nggak tahu harus berbuat apa. Orangtua baru gue sudah begitu baik dengan gue. Mereka udah anggap gue seperti anak kandungnya sendiri. Malahan, Bapak angkat gue rencana mau menyisihkan sebagian warisannya ke gue.
Tapi kemudian gue berpikir, apapun yang baik nggak selamanya baik sedangkan yang buruk nggak selamanya buruk. Terkadang kita melihat sesuatu itu hanya dengan satu pandangan yang sekilas membuat kita berpikir akan satu kesimpulan. Tapi, nyatanya nggak selamanya apa yang kita lihat benar menurut kita, dan nggak selamanya apa yang kita dengar itu salah menurut kita.
“Terus gue mesti ngapain nih, Jo?”
“Kok nanya gue? Ya, lo balik ajalah. Kasihan Nyokap lo nyariiin.”
Gue pikir nggak segampang itu. Gue takutnya pas gue pulang, yang ada gue digantung.“Tapi gue udah nyaman di rumah baru gue.”
“Ya itu sih, terserah lo. Mau sampai kapan lo ninggalin keluarga kandung lo sendiri.”
Lagi-lagi gue diam.Si buto ijo memang ada benarnya juga.
Akhirnya, gue putuskan untuk pergi ke rumah tanpa bermaksud pulang.
Di sana, gue pas melihat Gaga yang seperti baru pulang dari sekolah. Dan Nyokap yang baru turun dari mobil. Gue hanya memerhatikan mereka dari kejauhan. Nggak lama, gue dikejutkan oleh seseorang laki-laki. Dari penampilannya, dia sepertinya petugas pengantar paket.
Gue nengok ke arah rumah, Gaga udah mengambil langkah untuk mengambil paket. Sejurus kemudian gue langsung tarik tangan Gaga. Gue udah duga reaksinya seperti apa.
“Nyokap gimana?”
“Gimana apanya?”
“Nyokap nyariin gue?” kata gue. Padahal gue udah tahu jawabannya.
“Ya iyalah. Btw, Suju gue mana?” Tangan Gaga udah kayak rentenir penagih utang.
“Nanti. Jangan bilang Nyokap kalau lo ketemu gue.”
Hati gue sedikit lega. Yang penting gue bisa lihat Nyokap walau dari kejauhan.
***
Selama ini gue kira Nyokap nggak pernah nyariin gue. Nggak pernah mau mencari tahu keberadaan gue. Nggak pernah peduli sama gue.Kalau dipikir-pikir, kenapa gue jadi baperan gini?Satu sisi gue juga pengin pulang. Tapi di sisi lain, gue nggak enak sama orangtua baru gue. Mereka baik banget. Nggak pernah ngomelin gue. Nggak pernah nyuruh-nyuruh gue.
Orangtua angkat gue selalu memberikan apa yang gue mau. Meskipun Nyokap Bokap juga melakukan hal yang sama.Tiba-tiba di tengah lamunan gue, Ujo menelepon.
“Kenapa, Jo?”
“Nyokap lo sms gue.”
Gue langsung pasang posisi.
“Nyokap bilang apa?”
“Katanya kalau gue tahu lo di mana, segera hubungi dia.”
Gue bergeming.
“Lo belum mau pulang juga?”
Gue hanya membalas dengan bergumam hem yang panjang.
“Ya udah deh, terserah lo aja.”
Telepon Ujo pun berakhir tanpa gue berucap satu kata.
Mother, how are you today
Here is a note from your son
With me everything is ok
Mother, how are you today
Lagu dari Maywood adalah lagu terakhir yang gue denger sebelum gue terlelap.
***
Bangun-bangun gue dibangunin Ibu angkat gue. Gue sempat melirik jam. Di sana bertengger angka tujuh.
“Yuk sarapan,” kata Ibu angkat gue.
Gue pun bangkit, mencuci muka, sikat gigi, lalu bergabung dengan Ibu dan Bapak angkat gue.
“Kean. Kamu ada kuliah hari ini?” ucap Bapak angkat gue.
“Nggak ada, sih, Pak.”
“Kalau gitu, ikut Bapak ke kantor, ya.”
Di dalam kamaar mandi, gue masih bertanya-tanya. Untuk apa Bapak angkat gue ngajakin gue ke kantornya? Apa gue mau dijadiin pegawai?
Gue dan Bapak angkat gue akhirnya bertolak menuju kantor. Di dalam perjalanan, Bapak angkat gue sesekali bertanya tentang kuliah, asal, dan keseharian gue sebelum gue diangkat menjadi anaknya.
Setelah sampai, pandangan gue menyapu sekeliling. Ada banyak mobil dan motor yang berjejer terparkir di halaman gedung.
Pas Bapak angkat dan gue masuk. Beberapa karyawan menundukkan badan sambil menyapa. Bapak angkat gue pun membalas sapaan mereka. Kita langsung menuju sebuah ruangan yang luas, ber-AC, dan hanya tertutup dinding kaca.
Di samping ruangan itu, tiba-tiba pandangan gue tertuju satu sosok. Gue nggak terlalu yakin. Tapi dia cukup familiar.Bapak angkat gue dan gue akhirnya mendekati sosok itu.Sosok itu pun juga mendekat ke arah kami.Alamak.Dugaan gue bener.
Other Stories
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...
Tessss
pengaplikasian doang ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...
Mauren Lupakan Masa Lalu
Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...