Bos Muda
Gue nggak pernah bermimpi ataupun berharap ditembak sama cewek. Tapi, seminggu yang lalu ada cewek yang nembak gue. Ini diluar ekspektasi gue. Bunga. Dia orangnya polos, imut, penurut dan pekerja keras. Nggak mungkin dong, gue menyia-nyiakan cewek seperti Bunga? Dalam waktu lima detik, gue menerima cinta cewek itu.
Keputusan gue menerima cinta Bunga nggak salah. Gue bisa merasakan perubahan yang begitu signifikan. Mau makan, ingat Bunga. Mau tidur, ingat Bunga. Mau pipis, ya ke kamar mandilah.
Ada beberapa sifat Bunga yang nggak dimiliki cewek lain. Di antaranya: nggak mudah marah, cemberut apalagi ngambekan. Bunga bisa mengerti dengan segala apa yang gue lakukan.
Misalnya seperti gue mau hangout dengan teman yang lain dan nggak ngabarin dia. Bunga juga pelan-pelan ngajarin gue untuk meng-handle kantor. Mulai dari sistem kerja, kontrak kerja sama, sampai keuangan.
Barokah banget deh, punya pacar kayak Bunga.
***
Mengurus perusahaan dan menjadi bos muda nggak sesuai ekspetasi gue yang sama kayak di drama-drama pada umumnya. Begitu si bos muda datang, lalu semua pegawainya—apalagi yang cewek berbondong-bondong membuat barisan. Segala aktifitas mereka hentikan demi melihat si bos muda ini. Mereka memerhatikan cara jalan di bos muda, tatapan si bos muda, sampai cara bicara.
Realitanya adalah gue datang aja, semua pegawai acuh-tak acuh. Boro-boro yang sibuk. Yang nggak sibuk aja malas liatin cara gue jalan. Dipikiran mereka, mending liatin kucing kawin daripada liatin gue.
Image bos muda tuh lebih cool, cuek, nggak banyak bicara, ganteng, disenangi banyak cewek, dan biasanya bos muda itu orangnya tega,sama sekali nggak ada di diri gue. Tega marahin karyawannya, bahkan tega pecat karyawannya. Nah, gue? Gue pecat karyawan gimana? Karena nggak becut kerja? Gue aja belum khatam pelajari bisnis property ini, gimana mau pecat karyawan? Yang ada gue didemo.
“Turunkan Bos nggak becus.”
“Pecat Bos-nya!”
“Carikan kami jodoh!” Loh?
***
Hari ini tanpa kabar, tiba-tiba Ujo datang ke rumah gue.
Si Ujo datang dengan wajah masam. Wajahnya emang selalu masam, tapi yang ini lebih masam. Kayak ada kecut-kecutnya gitu.
“Gawat! Gawat.” Ujo udah kayak kesurupan genderuwo banci.
“Gawat kenapa? Lo tenang dulu, Jo.”
“Itu!”
“Itu apa? Apaan sih, lo? Tarik napas dulu …,” kata gue. Ujo mulai narik napas. Untung aja gue nggak kesedot.
“Buang ….” Gue kembali kasi aba-aba.
Ujo buang napasnya.
“Nah, sekarang lo bicara.”
“Itu! Gawat.” Ujo kembali kesurupan. “Nyokap lo, Kean.”
“Nyokap gue kenapa lagi?”
Ujo masih berusaha mengatur napas.
“Nyokap lo, sakit.”
Jedar!
Saat itu juga, gue ingin mengutuk diri gue sendiri menjadi batu tawas.
Other Stories
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Hotel Tanpa Cermin
Kala memilih menetap sementara di sebuah hotel yang terasa berbeda dari tempat-tempat yang ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Liburan Yang Menelanjangi Kami
Tujuh mahasiswa BAKOR-UNAS memilih merayakan kebebasan selepas UAS dengan cara yang tampak ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...