Srikandi

Reads
2.1K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Eko Hartono

Chapter 5 : Penyamaran

Bersama kedua rekannya dari satuan serse kriminal, Yanti mulai melakukan penyelidikan. Mereka mendatangi rumah John Kono, bar, kafe, diskotik, dan beberapa tempat yang biasa ditongkrongi para preman. Tapi mereka tak menemukan Codot dan Komodo. Mungkin sudah ada yang memberitahu kalau mereka sedang dicari polisi, sehingga mereka segera bersembunyi. Tapi Yanti tak kehilangan akal memancing mereka keluar.

Dengan menyamar sebagai perempuan jetset Yanti kemudian mendatangi sebuah pub yang menurut informasi sering didatangi dua preman tengik itu. Yanti mengirim pesan melalui seorang bartender kalau dirinya ingin bertemu Codot. Secara spontan Yanti menyebut BRAy. Setyorini sebagai bosnya. Tak lama berselang muncul seorang laki-laki bertato di lengannya yang gempal dari ujung ruang pub, menghampiri Yanti yang sedang duduk di meja bar.

Yanti langsung mengirim kode kepada dua rekannya. Begitu Codot sampai di dekat Yanti, tanpa membuang waktu kedua rekan Yanti segera meringkus Codot. Laki-laki itu mencoba memberontak, tapi Aiptu Togar sudah keburu mengecrek kedua tangannya dengan borgol.

“Ada apa ini? Kenapa saya ditangkap?!” seru Codot mencoba protes.

“Anda akan kami mintai keterangan di kantor polisi!” ujar Yanti.

“Tidak bisa! Kalian tidak bisa sembarangan menangkap saya tanpa surat perintah. Tak ada bukti saya terlibat kriminal. Saya bisa melayangkan somasi melalui pengacara saya!” desisnya gusar.

Yanti melirik kepada kedua rekannya. Seakan meminta pendapat. Mereka mengerti. Tiba-tiba Aiptu Togar mengambil sapu tangan dari saku bajunya, lalu memegang leher botol minuman di atas meja. Tanpa disangka-sangka dia memukulkan botol itu ke kepala Briptu Agus hingga pecah berkeping-keping. Briptu Agus hanya nyengir saja. Aiptu Togar lalu merenggut tangan Codot yang terbogol dan merekatkan telapak tangannya pada leher botol.

“Sekarang kita punya bukti penyerangan anda kepada petugas!” ujar Aiptu Togar ringan sambil memperlihatkan pecahan botol yang ada di tangannya. Codot hanya bisa menggeretakkan gerahamnya, geram.

Di ruang penyidikan kantor polisi, Codot tak ubahnya seekor tikus buduk yang kedinginan. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar, dan keringat sebesar biji jagung membanjiri keningnya. Tampang sangarnya lenyap sudah. Ketika matanya menatap Yanti, rona ketakutan membias di wajahnya. Ia sepertinya baru ingat pernah bertemu Yanti di rumah orang tua Danang. Hal ini lalu dimanfaatkan Yanti untuk menggali informasi lebih dalam hubungannya dengan keluarga Danang.

“Ada hubungan apa kamu dengan keluarga Raden Mas Haryokusuma?” tanya Yanti ingin tahu.

“Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan mereka,” jawab Codot tak acuh.

“Jangan bohong! Saya melihat kamu berada di rumahnya?”

“Kita hanya ada urusan bisnis. Hanya urusan keamanan property.”

“Kita…?”

“E, iya… saya dan teman-teman… ditugasi mengamankan property milik perusahaan mereka.”

Yanti menatap mata Codot tajam. Dalam hatinya tak pernah ada rasa takut atau ciut nyali setiap kali berhadapan dengan para pelaku kriminal yang rata-rata bertampang sangar. Yanti justru memperlihatkan sikap tegas dan berwibawa, sehingga para penjahat yang kebanyakan kaum laki-laki merasa segan kepadanya. Mereka tak berani main-main. Yanti bukan tipikal polisi yang mau disuap dan diajak kompromi. Dia sangat menjunjung tinggi profesionalitas!

Menghadapi para pelaku kriminal dengan bermacam wataknya membuat Yanti jadi paham pada karakter mereka. Terlepas dari perbuatan jahat yang dilakukannya, pelaku kriminal adalah manusia biasa. Mereka punya rasa takut, sedih, galau, cemas, dan perasaan inferior lainnya. Mereka juga sensitif dan peka bila menyangkut keluarganya. Yanti tahu, ada sesuatu disembunyikan Codot. Di dalam bola matanya tersimpan keresahan yang mudah dibaca.

Yanti lalu menoleh kepada kedua rekannya, meminta mereka keluar sebentar. Dia ingin bicara berdua dengan Codot. Aiptu Togar dan Briptu Agus mengangguk. Keduanya lalu beranjak keluar ruangan. Kini tinggal Yanti dan Codot di dalam ruangan. Codot tak bisa berbuat apa-apa, karena kedua tangannya masih diborgol dan dikaitkan pada kursi. Sejenak Yanti memandang Codot yang duduk di seberang meja.

“Kamu tahu kenapa tempo hari saya ke rumah Bapak Haryokusuma? Saya sedang menyelidiki BRAy. Setyorini!” tutur Yanti sengaja menyebut nama ibu Danang untuk melihat reaksi Codot. Entah kenapa, Yanti memiliki feeling tidak bagus pada calon ibu mertuanya. Dia menduga Codot dan temannya kemarin tidak sedang menemui ayah Danang, sebab saat itu ayah Danang tidak ada di rumah. Jadi besar kemungkinan kedua preman menemui Kanjeng Ibu.

Wajah Codot tampak resah, dia melengoskan kepalanya, seakan tak berani bertatapan dengan Yanti.

“Lima hari lalu kami menemukan jasad perempuan muda yang sedang mengandung janin di perutnya. Dia korban pembunuhan. Dia dipukul di bagian belakang kepalanya, kemudian tubuhnya dihanyutkan ke sungai. Kamu tahu, siapa pelakunya?” tanya Yanti mencecar.

“Tidak… saya tidak tahu…!” Codot menjawab dengan tegas sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Tapi suaranya yang gemetar menandakan ada sesuatu disembunyikan.

“Kamu jangan bohong!”

“Saya tidak bohong!”

“Kamu tahu, berapa hukuman bagi tersangka pembunuhan yang dilakukan dengan perencanaan? Bisa seumur hidup, bahkan hukuman mati!”

“Tidak! Saya tidak takut… karena saya tidak bersalah…!”

“Ingat, pengakuanmu ini dicatat. Jika terbukti berbohong, ada pasal tambahan yang memperberat hukuman!”

“Saya tidak bohong!”

“Baiklah, kalau kamu yakin tidak berbohong. Tapi mungkin kamu tidak akan membantah kalau aku membacakan data riwayatmu. Nama kamu sebenarnya Hardi Susilo, mantan petinju amatir di tahun sembilanpuluhan. Memiliki istri bernama Suryani, seorang anak perempuan usia delapan tahun, dan sebentar lagi tambah satu karena istrimu sedang mengandung lima bulan. Kamu pernah mendekam di penjara sebanyak tiga kali atas kasus penganiayaan ringan, pencurian, dan pemerasan. Saya yakin, kamu pasti tak mau berbohong pada istri dan anakmu. Karena kamu pernah berjanji pada mereka tidak akan lagi terlibat kriminal. Saya tak bisa bayangkan bagaimana perasaan istri dan anakmu, seandainya janji kamu itu dilanggar. Serapi apa pun kejahatan disembunyikan pasti akan terkuak juga. Kami sudah berpengalaman menangani kasus seperti ini!” tandas Yanti sengaja menerapkan presure mental kepada sang tersangka.

Sikap Hardi alias Codot tampak gelisah. Jelas sekali ia termakan presure dari Yanti. Wajahnya merebak memerah diliputi rasa gusar, tapi sejurus kemudian berubah menjadi keresahan.

“Kamu jangan libatkan keluargaku dengan urusan ini!” desis Codot dengan nada marah.

Yanti tersenyum tipis. Akhirnya, Codot telah membuka ruang atas kasus ini. Yanti yakin, laki-laki di hadapannya ini terlibat atau setidaknya tahu dengan kasus pembunuhan terhadap gadis muda tak dikenal itu.

Yanti lalu berdiri dari tempatnya. Dia mengambil foto-foto yang memperlihatkan jasad gadis muda korban pembunuhan. Dia lalu melemparkannya ke hadapan Codot agar laki-laki itu bisa melihatnya.

“Perhatikan baik-baik wajahnya, mungkin kamu mengenalnya. Saya berharap apa yang terjadi padanya tak sampai menimpa istrimu. Jadi pikirkan sekali lagi pengakuanmu tadi. Kami akan kooperatif bila kamu mau membantu kerja kami!” tegas Yanti.

Dengan langkah tenang Yanti lalu meninggalkan ruangan. Membiarkan Codot berseteru dengan hati nuraninya sendiri.

***


Other Stories
Don't Touch Me

Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

Bisikan Lada

Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...

Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Download Titik & Koma