Prolog
Perempuan empatpuluh tujuh tahun yang masih tampak cantik dan awet muda itu duduk di atas kursi kayu jati berukir yang sangat mahal. Sementara seorang perempuan muda duduk bersimpuh di bawah kakinya. Kepalanya menunduk dalam, tak berani memandang orang di depannya. Kedua matanya tampak sembab dan memerah. Isakannya masih terdengar, meski sudah dicoba untuk ditahan.
Sejenak hening meraja. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Sang perempuan parobaya mengangkat kepala sedikit ke atas, seakan tak sudi menatap perempuan muda di hadapannya. Tampak sekali bahwa dia ingin segera mengakhiri pertemuan ini.
“Baiklah, aku bisa memaafkanmu. Tapi segeralah pergi dari tempat ini dan jangan pernah kembali. Jangan pernah bercerita kepada siapa pun apa yang telah terjadi, jika kamu dan keluargamu ingin selamat!” ujarnya dengan nada mengandung ancaman.
“Baik, Nya,” ucap perempuan muda itu dengan suara gemetar, diliputi rasa takut amat sangat.
Dengan kepala masih menunduk, seakan tak berani memandang kepada perempuan di hadapannya, gadis muda itu kemudian melengser dari tempatnya. Bergegas pergi dari ruangan yang terasa panas dan hendak membakar tubuhnya. Sementara perempuan paro baya itu menghela napas. Berat dan dalam. Kilatan aneh di bola matanya.
***
Other Stories
Senja Terakhir Bunda
Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini
Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...