Chapter 6 : Dalang Pembunuhan
Suatu pekerjaan selalu berhadapan dengan sebuah resiko, bahkan kadang menuntut pengorbanan tidak ringan. Meskipun dirinya belum terhitung polisi senior, tapi sedikit banyak Yanti telah mengecap pengalaman dalam menangani kasus kejahatan. Diantara sekian kasus kejahatan dan pelanggaran hukum yang ditanganinya, hampir semuanya berhasil diselesaikan dengan baik.
Hanya ada beberapa kasus yang sangat sulit dipecahkan, mengingat faktor waktu dan tempat kejadian yang sudah lama. Perlu kerja ekstra keras dan penyelidikan mendalam untuk kasus yang terbilang rumit. Biasanya pula kasus semacam ini akan dilimpahkan ke pusat, karena memerlukan tenaga para ahli. Sementara ada pula kasus yang melibatkan pejabat atau orang penting sehingga diperlukan penanganan khusus!
Untuk kasus pembunuhan gadis tak dikenal itu sebenarnya tidak tergolong kasus sulit. Yanti sudah pernah menangani kasus semacam ini dan tak perlu waktu lama memecahkannya. Namun yang cukup jadi ganjalan dan kegelisahannya adalah terkaitnya nama calon ibu mertuanya dengan salah seorang yang diduga sebagai tersangka pelaku. Yanti dihadapkan pada sebuah dilema yang sangat pelik.
Dilema itu pun makin membelitnya ketika identitas gadis korban pembunuhan telah diketahui. Seorang rekannya berhasil mencari informasi tentang sang korban. Namanya Tuti, umur duapuluh tiga tahun. Tinggal di kampung Bojong pinggiran. Orang tuanya tidak tahu kalau dia sudah tewas. Yang mereka tahu, Tuti masih bekerja di rumah keluarga kaya raya bernama Haryokusuma!
Untuk memastikan informasi ini Yanti segera mendatangi rumah orang tua korban. Rasa penasaran berkecamuk dalam dadanya mendengar nama ayah Danang disebut. Benarkah majikan Tuti adalah orang tua Danang? Ketika sampai di rumah keluarga korban, terlihat sudah banyak orang berkerumun di sana. Rupanya mereka sedang mempersiapkan upacara penguburan. Salah seorang anggota keluarga sedang mengurus pengambilan jenazah yang masih disimpan di rumah sakit umum.
Tak dinyana Kanjeng Ibu ternyata sudah ada di rumah itu. Yanti terkejut, begitu pun Kanjeng Ibu. Tapi Yanti pura-pura belum tahu tentang hubungan ibu Danang dengan Tuti, si korban pembunuhan. Ia pun bertanya dengan nada heran, kenapa Kanjeng Ibu berada di rumah itu. Dengan kalem, Kanjeng Ibu menjelaskan kalau Tuti adalah bekas pembantunya. Tapi sudah sebulan lalu keluar, katanya mau pindah pekerjaan. Karenanya, dia terkejut ketika ada polisi datang ke rumah untuk meminta keterangan sehubungan dengan kematian Tuti.
“Tadi saya buru-buru ke sini setelah diberitahu tentang kematian Tuti. Saya ingin menjelaskan pada orang tuanya kalau sudah sebulan lalu Tuti keluar dari rumah saya. Dia berpamitan akan mencari pekerjaan lain. Katanya ada temannya yang menawari pekerjaan baru. Saya tak menyangka kalau dia tewas dibunuh orang. Sungguh, betapa biadab orang yang telah menghabisi nyawanya!” ujar Kanjeng Ibu menjelaskan. Dari nada bicaranya yang tenang, seakan mengindikasikan kalau dirinya tak terlibat sama sekali dengan peristiwa itu. Tindakannya memberi santunan kepada orang tua Tuti, meskipun gadis itu bukan lagi pegawainya, mengesankan kalau dirinya orang baik-baik.
Tapi Yanti tidak percaya begitu saja dengan pengakuan Kanjeng Ibu. Di kantor polisi sekarang sedang ditahan Codot yang notabene ada hubungan dengan Kanjeng Ibu. Dan Codot ini patut diduga terlibat pembunuhan Tuti. Hanya saja belum ada saksi dan bukti yang menguatkannya. Polisi masih mencari Komodo dan beberapa preman lain yang ditengarai sebagai pelakunya. Polisi sedang mengembangkan motif pembunuhan yang dilakukan pelaku.
Yanti sendiri berharap calon ibu mertuanya tidak terlibat dengan kasus ini. Terkuaknya jati diri korban yang ternyata pernah bekerja di rumah Danang mungkin hanya suatu kebetulan saja. Yanti tak mau dihantui mimpi buruk seandainya orang tua Danang ternyata terlibat kasus pembunuhan itu. Bisa rusak semua rencana pernikahannya dengan Danang. Ia pun tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Danang jika hal itu benar-benar terjadi.
Yanti kembali ke kantor polisi dengan wajah tampak lesu. Dia langsung memasuki ruang kerjanya, duduk di belakang meja. Menarik napas panjang. Menghembuskan perlahan. Tapi masih ada sesak yang terasa menghimpit dada. Entah kenapa, batinnya resah. Bayangan Kanjeng Ibu berkelebatan di pelupuk mata. Tersekap di balik jeruji penjara. Bayangan Danang yang kecewa. Bayangan… ah!
“Iptu Yanti!” Sebuah teguran membuyarkan lamunan gadis itu.
“Siap, komandan!” sahut Yanti sambil berdiri menghormat kepada AKP Ari yang baru saja memasuki ruangan.
Laki-laki tinggi gagah itu membawa sebuah map, lalu duduk di depan Yanti. Sejenak ia menengok kanan kiri, seakan khawatir ada yang mendengar pembicaraan mereka.
“Maaf, Yan! Saya ada berita buruk,” ucapnya kemudian dengan nada pelan, nyaris berbisik.
“Berita buruk apa, Dan?”
“Tentang kasus pembunuhan yang kita tangani. Kita sudah mendapatkan pengakuan dari si pelaku dan bukti benda yang digunakan untuk membunuh korban bernama Tuti.”
“Oh ya? Siapa, Dan?”
“Soni alias Komodo. Seorang rekan kita berhasil menangkapnya di luar kota sedang berpesta miras di sebuah hotel. Dia menceracau telah membunuh seorang wanita dan mendapat bayaran duaratus juta rupiah. Ketika diselidiki, uang yang tersimpan di rekeningnya mencapai ratusan juta rupiah yang merupakan kiriman transfer dari seseorang!”
“Baguslah kalau pelakunya sudah tertangkap! Tapi kenapa komandan menyebutnya sebagai berita buruk?”
“Karena ada indikasi BRAy. Setyorini, yakni calon mertua kamu, terlibat kasus ini. Dia yang menyuruh Komodo dan Codot untuk menghabisi Tuti!”
Deg! Rasanya seperti ada kilat menyambar jantung Yanti. Apa yang dikhawatirkannya terjadi. Sejenak ia terpaku, tak tahu apa yang harus dikatakannya. Kabar ini sangat menyesakkan sekali!
“Aku tahu ini sangat berat sekali buatmu, Yan. Agar tak terjadi conflict of interest aku sarankan kamu keluar dulu dari tim. Aku tak mau kamu diliputi dilema yang bisa membebani hubunganmu dengan calon suamimu?” cetus AKP Ari menyarankan.
Yanti menggeleng. “Tidak, Komandan. Dari awal Mas Danang sudah tahu saya menangani kasus ini. Saya tak bisa meninggalkan tugas di tengah jalan.”
“Tapi bagaimana kalau nanti dia dan keluarganya kecewa atau marah mengetahui kamu ikut dalam tim yang menangkap BRAy. Setyorini? Kamu siap menghadapinya?”
“Saya mengemban sumpah jabatan sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia yang harus menegakkan hukum dan menerapkan hukum kepada siapa saja, tanpa memandang keluarga atau saudara. Ini justru uji pembuktian atas tugas saya sebagai penegak hukum, apakah saya sudah benar-benar melaksanakannya dengan benar!” tegas Yanti.
AKP Ari tertegun sejenak. Namun sejurus kemudian dia mengangguk sambil menepuk pundak Yanti. Sepertinya ia bangga dengan dedikasi Yanti yang tinggi dalam mengemban tugas.
“Baiklah! Kalau begitu saya akan segera tanda tangani surat penangkapan atas BRAy. Setyorini,” kata AKP Ari kemudian.
“Boleh saya bicara dengannya dulu sebelum beliau dibawa ke kantor polisi, Dan? Maaf, bukan saya bermaksud apa-apa, saya cuma ingin bicara sesuatu pribadi dengannya,” ucap Yanti meminta ijin.
AKP Ari hanya mengangguk, tanda setuju.
***
Other Stories
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Rumah Malaikat
Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Youtube In Love
Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...