Chapter 7 : Srikandi Sejati
Yanti duduk di beranda rumahnya. Memandang bintang-bintang di atas sana. Langit malam ini terlihat cerah dan indah. Namun berbeda dengan suasana hatinya yang sedang galau dan resah. Rencana penangkapan BRAy. Setyorini mengganggu benaknya. Sejauh ini ia belum memberitahu Danang maupun keluarganya, karena tak ingin melanggar kode etik profesi.
“Ehm…!” Suara deheman berat membuyarkan lamunannya. Yanti segera menoleh. Ternyata Harun, sang Ayah, sudah berdiri di sampingnya.
“Kok melamun saja? Sedang memikirkan apa? Soal rencana pernikahanmu dengan Danang?” cetus laki-laki berwajah kebapakan itu seraya duduk di samping Yanti.
“Ah, tidak, Pak!” tukas Yanti mengelak. Tampaknya sang ayah menduga ia sedang memikirkan soal rencana pernikahan itu. Kemarin ia sempat mengutarakan permintaan orang tua Danang yang menginginkan acara pernikahan dimajukan. Saat itu Pak Harun tidak serta merta memberikan jawaban. Yanti sendiri pesimis, apakah ayahnya bakal memberikan persetujuan. Terlebih bila nanti tahu calon besannya… ?
“Kamu tak perlu memikirkan soal itu, Yan. Setelah Bapak pikirkan matang, tak ada salahnya memenuhi permintaan orang tua Danang. Bagi Bapak tak ada masalah kamu menikah sekarang, bulan depan, atau tahun depan. Asal keluarga Danang mau menerima juga jika pelaksanaannya dilangsungkan secara sederhana dan khidmad. Yang penting syarat agama terpenuhi,” kata Pak Harun bijak.
Yanti tersenyum haru. Ia sudah bisa menebak kalau ayahnya tak akan bersikap kaku soal pernikahannya dengan Danang. Karena orang tua itu memang sangat bijaksana. Tapi sekarang yang jadi masalah, apakah rencana pernikahan itu akan tetap terlaksana jika nanti BRAy. Setyorini ditahan polisi? Bagaimana reaksi ayahnya dan keluarga besarnya menanggapi kejadian ini? Bagaimana pula reaksi keluarga besar Danang? Mungkin dirinya akan dicap calon menantu kurang ajar karena membiarkan ibu dari calon suaminya ditahan! Apa gunanya memiliki menantu aparat polisi?
Oh!
Perasaan Yanti seperti dipermainkan oleh ombak kebimbangan. Terlepas dari kehebohan yang bakal meledak, ada hal lain yang sangat mengganggu pikirannya. Yanti mereka-reka apa motif di balik niat Kanjeng Ibu membunuh bekas pembantunya. Terlalu bodoh jika perempuan terhormat, kaya, dan terpandang itu mengotori tangannya dengan darah untuk sesuatu yang tak penting. Apakah ini ada hubungannya dengan janin yang dikandung Tuti?
Sampai pada dugaan ini bulu kuduk Yanti jadi meremang. Batinnya tercekam. Siapa yang telah menghamili Tuti? Apakah dia orang yang dekat dengan Kanjeng Ibu, sehingga perempuan itu perlu menghabisi jiwanya agar aib ini tak terkuak ke publik? Jangan-jangan dia adalah… ah, Yanti tak sanggup berhandai-handai terlalu jauh. Ia tak mau apa yang ditakutkannya terjadi!
“Pak…?” ucap Yanti memanggil ayahnya lirih.
“Ya, ada apa, Nak?” sahut Pak Harun kalem.
“Apakah Bapak sudah yakin untuk menerima Mas Danang sebagai menantu Bapak?”
“Insya Allah, Bapak sudah yakin dan mantap!”
“Apa pun kekurangannya? Meskipun ada sesuatu terjadi pada dirinya atau keluarganya yang tidak menyenangkan?”
Pak Harun tidak segera menjawab pertanyaan putrinya, melainkan menatap heran.
“Ada apa sebenarnya, Yan? Kelihatannya ada sesuatu masalah dengan Danang?” tanyanya kemudian penuh selidik.
“Jawab dulu pertanyaan saya, Pak?”
“Baik! Kalau soal kekurangan Danang, selama itu tidak menyangkut moralitas, Bapak bisa menerimanya.”
“Bagaimana jika yang melakukan a moralitas keluarganya?”
“Bapak kira, itu tidak ada sangkut pautnya dengan Danang. Baik buruk seseorang bergantung pada kepribadian masing-masing!”
Yanti menghela napas lega. Jawaban ayahnya sedikit mengurangi beban dalam hatinya. Meski ada yang masih terasa mengganjal. Ia belum mendapatkan reaksi sejujurnya dari ayahnya terkait dengan kasus yang dihadapi ibu Danang. Rasanya, ia tak bisa memendam persoalan ini sendirian. Ia butuh support dan advis dari seseorang yang mengerti dirinya. Dan orang itu tak lain ayahnya. Hanya kepadanya Yanti menaruh kepercayaan besar!
Sambil menarik nafas dalam Yanti kemudian mulai menuturkan persoalan yang tengah menghimpitnya. Ia beberkan kasus kriminal yang menimpa ibu Danang. Dengan seksama laki-laki limapuluhan tahun itu menyimak seksama. Sesekali alisnya tampak mengerut dan wajahnya menampakkan ekspresi terkejut. Tapi seluruhnya, orang tua itu tidak memperlihatkan reaksi berlebihan. Ia tampak tenang, kalem, dan bisa mengendalikan diri. Secara ia memperlihatkan sosok arif bijaksana.
“Bapak bisa memahami dilema yang kamu alami. Boleh dibilang, ini ujian terberat buatmu!” ujar Pak Harun menanggapi cerita putrinya.
“Untuk Bapak sendiri bagaimana?” balas Yanti.
“Yaah, prihatin juga jika memang kenyataannya begitu. Tapi bagi Bapak, itu tak akan merubah pandangan Bapak terhadap Danang. Apa yang terjadi pada orang tuanya tidak serta merta menjustifikasi dirinya sama dengan mereka. Bapak bukan orang yang berpikiran sempit.”
“Tapi saya takut ini akan merusak hubungan saya dengan Danang. Saya masih bingung, apa yang mesti saya lakukan?” keluh Yanti.
“Bapak bisa mengibaratkan posisi kamu sekarang seperti Srikandi saat menghadapi Resi Bisma dalam cerita pewayangan.”
“Maksud Bapak?”
“Srikandi ditugaskan untuk membunuh Resi Bisma. Kamu tahu, siapa Srikandi itu? Ada dua versi; pertama, dia adalah titisan Dewi Amba, kekasih Resi Bisma di masa muda yang mati di tangan Bisma. Versi kedua; Srikandi adalah jelmaan Arjuna yang tak lain cucu Bisma. Pendeknya, Srikandi adalah sosok yang amat dekat dan menyayangi Bisma. Bisa kamu bayangkan, betapa dilematisnya Srikandi karena ditugaskan untuk membunuh sosok yang sangat dikasihi?”
“Lalu, apa yang terjadi, Pak? Apakah Srikandi mau melaksanakan tugasnya?”
“Ya! Srikandi berhasil membunuh Resi Bisma. Dia mengutamakan tugas yang diembankan di pundaknya. Karena hal itu sudah merupakan dharma yang harus ditegakkan. Namun demikian dalam melaksanakan tugasnya Srikandi tidak melambari hatinya dengan kebencian, dendam, atau sakit hati. Bahkan ia masih menaruh rasa hormat kepada Resi Bisma!” tandas Pak Harun.
Yanti tercenung. Kata-kata ayahnya melalui gambaran kisah Srikandi diresapinya dalam-dalam. Ia ingin menjadi sosok Srikandi sejati!
***
Other Stories
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
Kala Kisah Tentang Cahaya
Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...