Chapter 8 : Pengakuan Kanjeng Ibu
Perasaan Yanti agak masygul saat akan menaiki anak tangga depan rumah Danang. Ada pertarungan dalam batinnya. Tadi sempat ada pikiran untuk mengurungkan niat menemui Kanjeng Ibu. Kedengarannya sangat ironis dan menyakitkan sekali menyampaikan kabar buruk ini dari bibir seseorang yang bakal jadi bagian keluarga. Yanti sendiri masih ragu atas penerimaan Kanjeng Ibu nanti. Yanti tak sanggup membayangkan sesuatu buruk bakal menimpa dirinya.
Tapi sekali lagi Yanti menguatkan hatinya. Ia terus mengingat wejangan ayahnya tentang kewajiban menegakkan dharma. Kehidupan akan timpang jika manusia mengkhianati kebenaran. Tugasnya sebagai penegak hukum sedang diuji dengan kasus ini. Hukum dan keadilan tidak mengenal keluarga atau saudara. Siapa pun yang salah harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dan Yanti ingin berdiri sebagai Srikandi yang teguh memegang prinsip menegakkan kebenaran!
“Kanjeng Ibu sudah menunggu di ruangannya,” kata sang asisten rumah tangga begitu menyambut Yanti di depan pintu.
Tanpa buang waktu Yanti segera menuju ke sana. Ada debar tak beraturan dalam dadanya saat langkah kakinya mengetuk lantai marmer menuju ruangan kerja Kanjeng Ibu. Perempuan paro baya nan cantik itu tampak duduk anggun di sofa. Ia sepertinya sudah cukup lama menunggu. Ekspresi wajahnya terlihat tidak seperti biasanya, kaku dan tegang. Yanti bisa membaca kegelisahan tersembunyi di sana. Seperti biasa, protokoler berlaku ketika keduanya bertemu.
Yanti duduk takzim di depan Kanjeng Ibu, menunggu perempuan itu berbicara lebih dulu. Jarak mereka cukup dekat, hanya beberapa centimeter. Sehingga Yanti pun khawatir degub jantungnya yang keras bisa didengar perempuan itu.
“Sepertinya ada hal penting ingin kamu sampaikan?” kata Kanjeng Ibu tidak berbasa-basi lagi.
Sejenak Yanti menata hatinya. Kanjeng Ibu kelihatannya sudah menangkap ada hal buruk atas kedatangan Yanti secara tiba-tiba. Yanti sendiri tidak memberitahu Danang tentang pertemuannya dengan Kanjeng Ibu. Ia ingin menjaga perasaan kekasihnya.
“Ya, Kanjeng Ibu. Ini menyangkut kematian Tuti, bekas pembantu di rumah ini…” Yanti sengaja menghentikan kalimatnya sebentar untuk melihat reaksi dari perempuan itu. Sekilas ia bisa menyaksikan rona pias membias di wajahnya dan kepanikan dalam bola matanya.
“Kami sudah menangkap Codot dan Komodo. Dua orang pelaku pembunuh Tuti. Keduanya sudah mengakui perbuatannya. Mereka menyebut nama Kanjeng Ibu!” Sampai di sini Yanti bisa merasakan gemuruh dadanya tak tertahankan lagi. Ia pun menundukkan kepala, tak sanggup bertatapan dengan calon ibu mertuanya.
Sementara perempuan paro baya itu terlihat gelisah dan tidak tenang. Kecantikannya seakan pudar oleh pias dan keriput yang tiba-tiba melipat kulit wajahnya. Sesaat ia tampak meradang, rahangnya mengatup rapat memperlihatkan kemarahannya.
“Jadi kedatanganmu ke sini untuk menangkap saya?” Ucapannya itu terasa menyengat batin Yanti.
“Maaf, Kanjeng Ibu. Ini sudah menjadi tugas dan kewajiban saya. Tapi saya masih berharap semua ini tidak benar. Karenanya saya ingin bertanya kepada Kanjeng Ibu, apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa Kanjeng Ibu bisa melakukan perbuatan sejauh itu?” tanya Yanti dengan hati-hati.
“Ini demi martabat dan kehormatan keluarga!”
“Martabat dan kehormatan keluarga? Apa maksud Kanjeng Ibu?”
“Perempuan itu telah berbuat kesalahan besar. Dia telah menghancurkan kedamaian dan ketenangan dalam keluarga ini! Bisa kamu bayangkan bagaimana perasaan kita bila dikhianati oleh orang yang telah diberi kepercayaan?”
“Apakah ini ada hubungannya dengan janin yang dikandung Tuti?” Yanti menebak maksud Kanjeng Ibu tentang kesalahan yang diperbuat bekas pembantunya itu.
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia menarik nafas panjang, seakan ingin mengisi rongga dadanya yang sesak. Tapi dari roman wajahnya, Yanti menangkap pembenaran dari dugaannya.
“Kanjeng Ibu tahu, siapa yang telah menghamili Tuti? Apakah dia… Danang?” Yanti tak sabar lagi melontarkan pertanyaan ini.
Kanjeng Ibu menatap Yanti. Gadis itu menangkap kesedihan dan kepedihan jadi satu di bola matanya yang suram itu. Perasaan Yanti makin tak karuan. Meski ia sudah mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan sepahit apa pun, namun tak bisa dipungkiri bila di lubuk hatinya yang dalam ada ketakutan mencekam!
“Kamu tak usah cemas, Yan! Danang adalah laki-laki yang baik. Aku yang mendidiknya sejak kecil untuk menjadi seorang laki-laki gentlement dan bertanggung jawab. Kamu tahu sendiri bagaimana budaya di lingkungan kaum ningrat Jawa yang masih memperlihatkan nilai patriarkhinya yang kental. Laki-laki priyayi menganggap dirinya penguasa absolut yang bebas melakukan apa saja, termasuk mengawini banyak perempuan dan hanya menjadikannya sebagai selir. Mereka menganggap perempuan hanya hiburan semata. Mental priyayi semacam itu masih menjangkiti suamiku, Kangmas Haryokusuma. Sudah tak terhitung berapa kali dia mengkhianati saya, melukai perasaan saya sebagai istri. Berulangkali dia kepergok meniduri perempuan lain, tak peduli perempuan itu seorang babu.
Selama ini saya hanya diam saja dan berusaha menutupinya. Saya tak mau rumah tangga saya hancur gara-gara soal ini. Saya berusaha menjaga perasaan Danang, anak saya satu-satunya. Selama suami saya tidak memperlihatkan kelakuan bejatnya itu di depan anak dan hanya menjadikan para perempuan itu sekadar ‘anjing’ yang tidak perlu sampai dipelihara, saya bisa mentolerirnya. Tapi kali ini perbuatannya sudah melewati batas. Diam-diam dia menjalin asmara dengan Tuti, pembantu kami. Mereka kerap bermaksiat di rumah ini ketika saya sedang keluar.
Akhirnya, saya memergoki juga perbuatan busuk mereka. Agar skandal ini tak sampai diketahui orang luar, saya lalu memaksa Tuti pergi dari rumah ini dan memberinya sekadar pesangon. Tapi perasaan saya masih tidak tenang karena mendengar pernyataan Tuti kalau dia sudah hamil. Saya tak mau aib ini terekspos media, apalagi sampai Kangmas Haryokusuma mengawininya. Saya tak mau ada keturunan Haryokusuma lain di dunia ini selain Danang. Hanya anakku yang berhak mewarisi trah Haryokusuma. Jadi ini menyangkut harkat dan martabat keluarga!” tandas Kanjeng Ibu menegaskan.
Yanti tercenung. Penuturan Kanjeng Ibu itu membuatnya sangat prihatin. Namun tak urung juga membuatnya sedikit lega. Apa yang dikhawatirkannya ternyata tak terjadi. Bukan Danang yang telah menghamili Tuti, melainkan ayahnya. Yanti sama sekali tak menyangka laki-laki tua yang tampak pendiam itu berbuat a susila. Di balik gelar keningratan dan sosoknya yang berwibawa tersimpan perilaku menyimpang. Kenyataan ini akhirnya juga membuka mata Yanti bahwa bukan gelar, kekayaan, pangkat, atau kedudukan yang menjadi ukuran kehormatan manusia, melainkan kepribadian dan perilakunya.
Other Stories
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...