Reuni

Reads
1.8K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Nie

Chapter 1

“Jangan membuat kami sial, jika kau tidak ingin kami buat sial juga.”
Suara itu berkali-kali terdengar di telinga keenam orang kini melingkar di kegelapan. Tidak ada yang bisa mereka perbuat karena ketakutan menjalari tubuh mereka.
Tidak jauh dari mereka terlihat tiga sosok yang tidak bisa didekripsikan bantuknya.
Kabut tebal, meleleh dan berbulu. Ditambah bau anyir yang menusuk hidung mereka.
Ruangan yang gelap dan hanya lampu kamera yang menyala menyorot kegiatan mereka.
”Jangan ingat! Jiwa kalian bersama kami dan akan selamanya bersama kami.”
Cahaya putih datang menghampiri mereka dan mereka lenyap dengan cahaya yang datang itu, lenyap tak kembali.
“Kalian yang memulai dan kalian yang harus mengakhirinya. Semua tabir yang terbuka tidak akan bisa kembali lagi.”Hingar bingar keceriaan di ruangan yang begitu luas juga alunan musik pop yang mengiringi menambah suasana begitu terasa dengan lampu-lampu yang berwarna-warni mengelilingi ruangan di gedung ini. Banyak orang berdatangan dengan penuh keceriaan.
Namun, jangan salah. Ini bukan acara pernikahan seseorang ataupun pesta ulang tahun. Ini merupakan acara reuni SD ALAM BANGSA angkatan 76. SD ALAM BANGSA merupakan salah satu SD swasta yang ada di kota kecil di Jawa barat, tepatnya di kota Tasikmalaya bagian barat. Tepat malam ini diadakan reuni akbar setelah 10 tahun lamanya. Ada yang datang sendiri, bersama istri atau suaminya, bahkan ada juga yang datang bersama anak-anaknya.
Seperti halnya Deni yang kini tengah mengambilkan makanan untuk istri tercintanya yang tengah hamil tua. Deni terlihat sangat tampan dengan tubuh tingginya yang dibalut kemeja warna hitam dan celana senada, begitu rapi dan terlihat berwibawa dengan usianya yang menginjak 22 tahun. Ya, Deni menikah di usia yang bisa disebut muda dengan perempuan cantik yang kini tengah menunggu di kursi yang tidak jauh dari tempat pengambilan makanan, istrinya bernama Devi, dia bukan alumni dari SD ALAM BANGSA tapi Devi bersikeras ingin mengikuti acara suaminya karena katanya bosan jika harus mengurung diri di rumahnya sendirian.
Devi memiliki kulit putih dan badan yang terbilang tinggi untuk ukuran perempuan, kehamilannya yang besar tidak menutupi kecantikannya.
Deni selesai dengan dua piring yang berisi makanan di tangannya menghampiri Devi. Dari arah tempat duduknya Devi sudah menunggu dengan wajah ceria, dia duduk bersama perempuan berkacamata yang juga sahabat Deni sewaktu SD dulu, Sarah.
Jika orang lain yang belum kenal dengan Sarah bisa saja menganggap perempuan berkacamata ini judes dan galak dengan tampilan yang selalu rapi dan serius. Namun jangan salah, Sarah adalah sahabat Deni yang sangat baik hati dan yang paling dekat dengan Deni sehingga dia juga bisa bersahabat baik dengan Devi. Meski wajahnya yang terlihat kurang bersahabat dengan tutur kata yang biasanya sangat teoritis dan pedas untuk didengar. Lain halnya dengan Ibu hamil yang satu ini, jika dilihat dari raut muka dua-duanya cantik tapi dengan tingkat ke ramahan yang bertolak belakang.
“Horre ... makanannya sudah datang. Ibu dan adek udah kelaparan nih dari tadi,” ucap Devi riang seraya mengusap-ngusap perutnya yang besar setelah melihat suaminya datang.
Deni menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum melihat istrinya seperti anak kecil di usia kehamilan yang semakin mendekati apa yang dinantikannya. Tak berapa lama Deni, Devi dan Sarah makan makanan yang dibawa oleh Deni, ada dua orang yang menghampiri mereka.
Salah satunya perempuan berkemeja kuning dengan celana denim yang membalutnya sangat terlihat jelas karakternya yang tomboy pada dirinya sebut saja dia Dania.
“Hallo guys! Apa kabar nih? Aku kangen kalian,” sapa Dania.
“Hey, Bro. Apa kabar?” kata Laki-laki jangkung yang membawa-bawa kamera tangannya juga tas ransel yang ada di punggungnya. Dia adalah Aria. Jika dilihat sekilas mungkin orang-orang yang tidak megenalnya akan mengatakan dan menjulukinya sebagai ganteng kalem. Namun, jangan salah Aria orang yang cerewet melebihi perempuan, mungkin memang jika dilihat dari fisik saja bisa dikatakan itu benar. Aria memiliki wajah yang cukup ganteng, hidungnya mancung dengan mata yang besar. Tubuhnya pun tinggi dan cukup atletis.
“Tumben kalian bereng?” tanya Sarah dengan nada khasnya.
Mendengar itu Dania melirik laki-laki yang ada di sampingnya dengan tampang bosan dan bergidik pelan. Aria hanya diam dan mengarahkan kameranya kepada dirinya. Aria ini seorang Vloger dan Youtuber yang sedang viral di dunia maya setelah dia membuat chanel sebagai paranormal experience-nya waktu lalu.
Teman-teman Aria memang sudah mengetahui jika dia seseorang yang mempunyai kelebihan yang cukup aneh. Pasti sudah bisa ditebak, jika Aria memiliki kemampuan melihat, mendengar juga berinteraksi dengan makhluk ghaib atau makhluk halus. Meski Sarah dan Dania tetap tidak pernah mempercayai dengan semua cerita mistis Aria. Karena Aria sendiri seorang penakut yang akut.
“Helo guys. Apa kabar? Gue lagi ada di acara reuni akbar temen-temen SD gue. Kalian tahu? Gue dulu sekolah di SD Alam Bangsa. Ya, lo tahu kan SD yang elite itu. 10 tahun yang lalu gue lulus dari sana. Gue masih muda ya ....“
Aria berlagak di depan kameranya dan berjalan mengitari gedung ini menghampiri teman-temanya yang sedang bercengkrama dengan yang lain. Sedangakan Deni, Devi dan Sarah melanjutkan makan mereka ditambah Dania yang ikut bergabung dengan mereka memilih mengabaikan apa yang dilakukan oleh Aria. Dania memang cewek yang paling mencolok diantara mereka.
“Lo semua pada tahu gak sih kalau si Aria itu kayaknya rada miring deh otaknya?” ucap Dania berbisik pada tiga orang sahabatnya.
“Hush! Jangan gitulah ... dia kan gitu-gitu juga sahabat kita.” Deni membela dengan tertawa diakhir kalimatnya.
“Lagian bukannya lo dulu pas SMP bilang ya kalau lo suka si Aria?” tanya Sarah seraya memakan cemilan yang kini sudah habis setengahnya.
“Wah? Masa? Kok gue gak tahu?” tanya Deni penasaran.
“Yaiyalah, lo kan beda sekolah waktu SMP. Nih ya gue kasih tahu.”
Namun, sebelum Sarah melanjutkan ucapannya Dania membekap mulut Sarah dengan tangannya.
“Diem gak, lo?” kata Dania masih membekap mulut Sarah. Melihat reaksi Dania yang seperti itu Deni terbahak. Dania terus saja membekap mulut Sarah meski Sarah meronta dan tertawa di balik bekapannya.
Jadi sebenarnya Dania, Sarah dan Aria melanjutkan di SMP yang sama dan dulu Dania pernah curhat kalau dia suka sama Aria. Namun, karena Aria suka usil ,jadi Dania mengurungkan niatnya untuk menyukai Aria. Perasaan Dania hanya diketahui oleh Sarah. Sedangkan Deni pindah ke luar kota dari lulus SD sampai kuliah dan baru kembali ke Tasikmalaya setelah menikah dengan Devi dan bekerja di perusahaan cabang milik ayahnya di kota ini.
“Kenapa nih? Kayaknya ada yang seru, apaan?” tanya Rehan yang baru saja datang bergabung di meja ini bersama ketiga temannya. Dania melepaskan bekapannya tangannya dari mulut Sarah.
“Ini loh, katanya si Dania ....” Sarah melirik Dania sebelum melanjutkan perkataanya. Dania pura-pura tidak mendengar dan memilih untuk memakan camilan yang ada di depannya. Melihat semua itu Sarah tertawa dan tidak melanjutkan perkataanya. Rehan mengernyit bingung tapi tidak terus bertanya tentang itu.
“Omong-omong, gimana kalau kita ngomongin gimana waktu SD dulu?” tanya Rehan antusias “Sambil kita nostalgia\'an gitu ke 10 tahun yang lalu,” lanjut Rehan.
Aria menghampiri mereka semua dengan kameranya yang masih menyala. Lalu kembali mengarahkan kamera ke wajahnya.
“Hey guys, kalau ini temen-temen gue, bukan cuma temen sih, bisa disebut kita berlima ini sahabatan ... ah iya, ditambah bumil yang ada di sana ya jadi berenam. Yak kita mulai kenalan. Ada Rehan si muka mesum,” ucap Aria mengarahkan kameranya ke Rehan dan kena timpukan tisu darinya. Mereka semua tertawa melihat itu.
“Kalau itu ... namanya Sarah. Hati-hati dia jutek dan galak loh.” Sarah tidak peduli dengan omongan Rehan dan terus makan-makanan yang kini sudah tersisa sedikit di atas piring.
Aria mengarahkan kameranya kearah Dania seraya berkata, “Dia Dania, gak terlalu penting sih ... jadi skip aja.”
Dania yang melihat dan mendengar apa yang dikatakan Aria itu langsung menginjak kaki Aria dengan keras yang kebetulan memang Aria berdiri di samping tempat duduknya. Aria meringis membuat mereka yang ada di sana kembali tertawa meihat kelakuan Dania dan Aria.
Dania tidak berbicara apapun sedangkan Aria menatapnya tajam, lalu sedetik kemudian mengarahkan kameranya kearah Deni dan Devi. “Oke, guys, abaikan makhluk astral tadi. Sekarang gue kenalin couple yang sangat-sangat the best pokoknya. Kenalin nih, sahabat gue yang udah lama gak ketemu. Kalian tahu berapa lama? 10 tahun guys ... Say hay sama kita, Bro, namanya Deni dan itu istrinya Devi. Pasangan serasi kan? Udah ya guys gue mau ngobrol dulu sama temen-temen gue.”
Aria menutup kamera dan menyimpannya di atas meja. Lalu dia duduk di kursi yang kebetulan tersisa kosong di samping Dania.`”Lagi pada ngomongin apa nih? Kayaknya seru?” tanya Aria sambil melepas ransel yang ada di punggungnya.
“Permainan apa sih yang kalian inget waktu kita SD dulu?” tanya Rehan kembali ke topik awal mengajak teman-temannya bernostalgia. Deni, Devi, Sarah, Dania, Aria hanya saling memandang satu sama lain lalu mereka terdiam mengenang masa lalu, hanya alunan musik dan suara yang berbicara di meja lain yang terdengar. Tiba-tiba Aria bersuara, “Gimana kalau kita hubungin permainan kita zaman dulu dengan hal mistis? Manggil ‘mereka’ gitu.”
“Bisa gak sih lo gak hubungin hal-hal kek gitu?” ucap Sarah sinis.
“Gak papa dong, nyari hal baru gitu. Kalian kan belum pernah ngerasain gimana didatengin makhluk kek gitu, apa lo takut?” Aria berkata dengan nada mengejek membuat Sarah kesal.
“Takut? Sorry gak pernah gue takut sama hal kayak gitu. Gue gak pernah percaya ada makhluk halus, atau hantu-hantuan gitu. Sumpah itu enggak logis bagi gue,” tutur Sarah dengan nada seriusnya.
“Udah, udah! Kenapa kalian malah berantem, sih? Emang permainan apa yang lo maksud, Ar?” tanya Deni yang berusaha menenangkan Sarah dan Aria. Sarah memang orang yang tidak mau kalah dalam berdebat sebelum dia merasakan sendiri semua hal yang dianggapnya tabu. Aria kembali memasang wajah ceria karena dia merasa menang usulnya diterima. Sarah memutar matanya bosan sedangkan yang lainnya menyimak apa yang akan dikatakan oleh Aria.
“Kalian inget gak sama permainan gatrik ala gatrik?” ucap Aria kemudian.
“Yang pake bambu itu bukan sih?” tanya Rehan bingung. “Kayaknya gue gak inget deh, soalnya gak pernah lihat anak-anak kecil zaman sekarang maen kayak kita dulu.”
“Ya iyalah, anak-anak zaman sekarang kan kelas 2 SD aja udah dikasih smartphone, mana ada mereka kayak kita yang maennya batu sama pecahan genteng di siang bolong,” timpal Sarah menanggapi. “Tapi guys, kayaknya zaman kita aja deh yang masa kecilnya seru dan bisa bareng-bareng maen baik ama cowok ataupun cewek gak masalah,” tambah Dania menyetujui ucapan Sarah.
“Bukan yang itu, Han. Itu loh yang pake batu diputer-puter. Inget gak?” Aria greget karena maksudnya yang tidak dimengerti teman-temannya. Lalu dia keluarkan sebuah buku dan spidol dari dalam tasnya dan menggambar kotak-kotak di buku itu.
“Kayak gini nih, lo semua simpen batu di kotak-kotak ini lalu dioper-oper dengan mengikuti irama nyanyiannya.” Aria memperaktekan apa yang dimaksudnya dengan spidol itu. “Oh, iya. Dulu kan emang suka ada nyanyi-nyanyi gitu, yang paling gue inget dulu tuh yang nyanyinya kek gini sep dur sep dur nyi mantri maula dur dorokdok dur dorokdok dur nu ka hiji jadi ka dua nu ka dua jadi ka tilu nu ka tilu boleh di tang ... keup[1],” sorak Dania bahagia dengan mengangkat tangannya ke udara seperti sedang melakukan permainan yang dimaksudnya.
“Oh, atau nyanyian yang ini nih kayaknya lebih cocok kalau buat hal mistis; Ayang-ayang gung, gung goongna ramé, ménak Ki Mas Tanu, nu jadi wadana,
naha manéh kitu, tukang olo-olo, loba anu giruk, ruket jeung Kumpeni, niat jadi pangkat, katon kagoréngan, ngantos Kangjeng Dalem, lempa lempi lempong, jalan ka Batawi ngemplong, ngadu pipi jeung nu ompong[2].” Rehan nyanyi-nyanyi dengan bahasa sunda yang sangat keras, membuat yang lain pun tertawa kembali. Tapi tidak dengan Aria, dia malah memasang wajah kesalnya.
“Lain nu eta[3], maksud gue tuh yang kek gini nyanyinya gatrik ala gatrik nagasari riwan-riwan alen-alen jadi manten tena bako tena bako sedeng dengklak engklak engklak jadi kodok[4] ... terus sebut nama yang tertunjuk batu yang paling gede, nah yang dapet batu gede itu dia kalah dan harus jadi kodok. Inget gak?” jelas Aria meski yang lain Cuma bisa menganggukan kepalanya tanda mengerti. Entah itu banar-benar mengerti atau tidak.
“Gue kira lo mau ngehubungin sama Ayang-ayanggung, padahal kalau nyanyian itu lebih nyambung deh kalau dihubungin sama hal mistis dari pada yang ala gatrik,” tandas Rehan merasa heran denga sahabatnya yang satu ini.
“Kalau gue sih inget yang maen gelang karet, yang dilempar-lempar itu loh ... gue lupa namanya apa. Haha,” ucap Deni menambahkan.
“Terus, maksud kamu tadi mau dihubungin sama mistis gimana dong?”
Aria melihat ke arah Sarah yang dengan tidak pedulinya Sarah tetap memakan camilan yang tersisa diatas piring itu. “Jadi gini, beberapa hari yang lalu gue streaming youtube terus banyak konten atau chanel-chanel mengenai pemanggilan roh kayak gitu. Nah, gue ada ide gimana kalau kita ngelakuin kayak gitu? Tapi kita pake ritual yang kita buat sendiri, gimana?”
“Wah, masa? Mau dong ... Bukannya kata Deni kamu juga bisa lihat makhlus? Kenapa harus adain ritual segala?” tanya Devi antusias.
“Makhlus? Maksud lo makhluk halus, Dev? Biar seru aja dan nantinya bukan cuma gue yang bisa lihat juga merasakan kehadiran mereka tapi kalian juga, gimana? Ritualnya gak bakalan serem-serem, kok. Percaya deh!” Aria seraya tertawa dan mengajak mereka untuk mengikuti permainannya, Devi adalah yang paling antusias dengan ini semua. Sedangkan Sarah adalah orang yang paling menolak dengan keras jika dia tidak percaya tentang makhlus atau apalah itu.
“Maksud lo kayak jailangkung gitu? Tau ouija atau apalah itu, tapi yang pasti gue gak percaya sama yang kayak gituan. Males banget gue,” kata Sarah dengan nada sinisnya yang khas dia banget.
“Napa? Lo takut, hah?” tanya Aria menantang.
“Sudah! Kalian jangan berdebat. Baru aja ketemu udah bikin debat gak jelas aja.” Rehan mengambil alih buku yang dipegang sama Aria. Aria menunjukan wajah kesalnya sedangkan Sarah tetap dengan wajah cantiknya yang datar dan tanpa ekspresi meski dalam hatinya dia kesal dengan Aria.
“Gimana kalau kita pindah tempat aja?” usul Deni kepada semuanya.
“Bener banget tuh, gue kayaknya bisa langsung praktekin aja. Gimana?” Aria yang paling antusias dengan semua ini. Karena memang dia yang paling berambisi dan sangat ingin melakukan ritual pemanggilan hantu versi miliknya. Meski padahal dia punya kemampuan sendiri tanpa harus melakukan ritual pun.
“Gak, pokoknya gue gak ikut rencana si Aria kali ini.” Sarah berkata seraya bangkit dari duduknya dan hendak melangkah. Namun, Dania menghentikannya dengan memegang lengan Sarah lalu berkata, “Lo mau ke mana? Gue juga gak percaya sih, tapi gue penasaran kayaknya seru kita maen lagi bareng.”
“Enggak, pokoknya gue gak mau. Masa kita mau maenin permainan dulu sih? Kayak anak kecil aja,” jawab Sarah.
“Ikut dong Sar, gue aja yang hamil gini mau ikut. Masa lo enggak?” ucap Devi bersuara yang sedari tadi hanya diam menyimak saja. Dania memohon kepada Sarah tanpa bersuara dan semua yang ada di meja itu memandang dalam diam kepada Sarah, kecuali Aria yang langsung memainkan kamera di tangannya. Melihat itu akhirnya Sarah memilih kembali duduk dan mengikuti semua permainan teman-temannya.
“Jadi, mau gimana?” tanya Aria.
“Napa lo malah nanya? Kan lo sendiri yang ngusulin. Gimana sih? Niat gak sih?” Sarah semakin kesal dengan Aria. Entah kenapa, Sarah memang tidak suka dan tidak percaya dengan semua omongan Aria mengenai hal-hal yang kurang masuk akal baginya.
“Lo bisa diem gak? Gue gak maksa lo kok kalau emang lo bener gak mau ikut.” Aria yang biasanya tidak terpancing dengan nada sinis Sarah, kini malah tersulut emosi dan ingin sekali membalas dengan nada-nada pedas Sarah. Dia selalu berpikir, ‘kenapa gue bisa sahabatan sama makhluk judes kayak dia, sih?’
“Kalian berdua kenapa? Gue heran, sumpah ya gue gak paham kenapa kalian kayak gini. Mana kita baru ketemu lagi setelah sekian lama. Tapi kok malah berantem?” Rehan ingin sekali marah melihat sahabat-sahabat semasa kecilnya malah gak akur. “Ya udah, gimana kalau kita ngomonginnya di rumah gue? Kebetulan malam ini rumah gue lagi kosong, soalnya Emak sama Abah lagi di luar kota. Baru lusa kayaknya mereka balik,” lanjut Rehan menawarkan.
Sebenarnya dalam hati Rehan juga kurang paham dengan maksud dari Aria. Namun, karena dia ingin semua sahabatnya kembali akur maka dia pun bersedia untuk menyediakan tempat untuk permainan yang akan dilakukan oleh Aria.
“Ide bagus tuh, di rumah lo punya ruangan kosong gak, Han?” Aria kembali antusias dan bersemangat lain hal nya dengan Sarah yang sudah beberapa kali terlihat bosan dan malas. Devi juga sangat terlihat senang. “Pokoknya aku ikut! Gak mau tahu pengen ikut,” rengek Devi kepada Deni.
“Gak bahaya kan, Ar?” tanya Deni dengan wajah seriusnya pada Aria. Aria menggeleng pelan karena dia tidak yakin permainan ini akan bahaya atau tidak, “Kayaknya enggak deh, ya kan?” tanya Devi meyakinkan agar Deni tidak khawatir dan mengijinkannya.
“Lo gak kasian sama anak lo, Den? Gimana kalau terjadi apa-apa?” Sarah kembali bersuara. Deni melirik Devi, kemudian tersenyum dan berkata, “Gue yakin gak bakalan apa-apa. Percaya aja deh.” Mendengar itu Sarah kembali diam dan tidak membantah lagi.
“Oke, kalau gitu kita bisa berangkat sekarang?” tanya Dania pada semuanya.
Rehan menganggukan kepalanya. Sebelum mereka pergi, mereka berpamitan kepada beberapa orang yang juga teman SD mereka. Lalu, karena mereka berenam membawa kedaraan masing-masing jadi Deni dan Devi memasuki mobilnya sedangkan Aria, Rehan, Sarah dan Dania menuju parkiran motor dimana motor mereka berada.
Jarak rumah Rehan dengan gedung yang dipakai tempat reuni lumayan jauh dan menghabiskan waktu setengah jam perjalanan dan sudah tidak berada di pusat kota, tapi memasuki daerah perkampungan yang masih dikelilingi oleh sawah dan rimbun pohon-pohon yang lebat. Rehan menjadi petunjuk arah hingga dia ada di posisi paling depan. Sedangkan mobil milik Deni berada paling belakang.
Sesampainya di depan rumah Rehan yang memang besar, dengan halaman depan yang lumayan luas. Sekitar rumah Rehan tidak terlalu banyak rumah. Sepertinya rumah Rehan yang paling luas dan paling besar di antara rumah-rumah yang ada di sini. Suasana di daerah Rehan jika malam memang sepi, apalagi sekarang waktu sudah menunjukan jam 10 malam. Mungkin bagi orang kota jam segini masih dibilang ‘siang’, beda dengan yang ada di perkampungan seperti ini.
Rehan membuka pintu gerbang rumahnya. Rumah Rehan sepi seperti yang tadi disebutnya, jika Emak dan Abahnya sedang tidak ada di Rumah. Setelah Rehan membuka lebar-lebar gerbangnya, semua masuk dengan membawa kedaraan mereka dan memarkirkannya di tempat yang ditunjuk Rehan.
Ar, lo sama yang lain langsung aja ke lantai atas, di sana lumayan luas. Gue mau nyimpen jaket dulu ke kamar.”
Setelah Rehan pergi terlebih dahulu mamasuki rumahnya. Aria menunggu teman-temannya yang masih sibuk dengan kendaraan mereka. Setelah itu, mereka berlima masuk bersama-sama ke rumah Rehan.
“Si Rehan mana, Ar?” tanya Deni yang menuntun istrinya.
“Udah masuk duluan, tadi katanya kita disuruh langsung masuk aja ke lantai atas.” Aria berjalan terlebih dahulu menaiki tangga. Lalu diikuti oleh Deni yang menuntun Devi juga Dania. Sarah masih enggan mengikuti semua ini. Tapi, dia sedikit berpikir untuk menghargai sahabat-sahabat kecilnya ini.
Lantai atas rumah Rehan ini memang cukup luas dan tidak ada perabotan satupun yang menghiasi ruangan ini. Hanya saja, ada empat pintu yang kemungkinan itu adalah kamar-kamar yang ada di lantai ini. Rehan datang membawa karpet spons gulung yang cukup besar dari salah satu keempat pintu tadi. Lalu Deni dan Aria membantu membawanya dan mengelar karpet itu di ruang yang kosong ini.
“Oke, kita langsung aja yuk!” sorak Devi yang langsung duduk dengan memegang perutnya yang besar. Devi seperti anak kecil yang sangat antusias ingin mendengarkan sebuah dongeng. Melihat tingkah istrinya yang seperti itu, Deni malah tersenyum dan ikut duduk di samping Devi.
“Bentar dulu, kita buat lingkaran dulu. Gimana?” usul Aria pada semuanya. Mereka semua menurut tanpa berbicara dan Sarah juga menurutinya dengan memasang wajah malasnya. Setelah semuanya duduk, Aria mengeluarkan spidol dan beberapa lembar pita berwarna merah yang lumayan panjang.
“Han, gue boleh corat-coretin karpet lo, gak?” tanya Aria kemudian.
“Buat apa?” Rehan menaikan alisnya heran, “Terserahlah, suka-suka lo aja. Awas aja kalau barang lain yang lo corat-coret,” lanjut Rehan.
Aria menggambar garis lingkaran di depan mereka yang duduk juga di belakang mereka. Lalu menggambar lagi garis yang melintang antara orang yang saling berhadapan di lingkaran itu, terlihat ada 3 garis yang tergambar di sana. Karena bosan melihat Aria yang tengah menggambar, Rehan bangkit dari duduknya dan berpikir ingin mengambil minum ke dapur yang terletak di lantai bawah. Namun, belum sempat Rehan berdiri dengan benar Aria berkata, “Lo mau ke mana? Permainan kita belum mulai.”
“Makanya, ‘kan belum mulai. Jadi gue mau ngambil air dulu ke bawah. Sekalian bawa cemilan.”
“Gak, pokoknya gak usah. Pokoknya sebelum permainan berakhir gak boleh ada siapa pun yang bangun dari duduknya.” Aria berkata seperti itu dengan serius. Karena ia tahu beberapa makhluk yang tidak mungkin teman-temannya lihat ada di sini semua. Aria berpikir, sepertinya makhluk-makhluk itu ingin menampakan diri mereka. Namun, Aria tahu makhluk seperti itu membutuhkan energi yang besar untuk menampakan diri mereka.
“Lo kenapa sih, Ar?”
“Pokoknya gue mau bawa air ke bawah. Gue haus.” Rehan tetep kukuh ingin membawa air.
“Pokoknya jangan! Ini juga udahan. Kita mulai permainannya sekarang. Sebelum terlalu larut malem,” ucap Aria kembali ke tempat duduknya semula. Lalu tali pita yang tadi diambilnya dari dalam tas, dia posisikan seperti garis-garis yang dia buat. Setelah itu, Aria menjelaskan cara permainan ini.
\"Jadi gini, permainan ini seperti permainan ala gatrik yang pakai batu dipindah-pindah dari satu orang ke orang yang ada di sampingnya. Tapi, kita di sini pakainya pita aja. Coba kalian ambil ujung-ujung pita yang ada di hadapan kalian.”
Mereka semua mengambil masing-masing ujung pita yang tadi sudah diatur oleh Rehan. Posisi mereka melingkar yang bila dilihat dari kanan Devi, Deni, Dania, Sarah, Rehan dan Aria.
“Jadi, kita pakai lagu yang kata Rehan aja Ayang-ayanggung, konon katanya nyanyian itu bisa memanggil roh-roh belanda yang dulu menjajah di Indonesia. Tadinya sih gue pengennya tetep nyanyi gatrik ala gatrik tapi kayaknya gak pada hapal. Selama nyanyiin lagu itu, kita harus mengoper pita yang kita pegang ke teman di samping kita, arah perputarannya dari kanan ke kiri. Kalau sampai jatuh itu maka ritual ini bisa gagal.” Aria menjelaskan dengan panjang lebar.
“Mending kalau cuma gagal? Kalau ada apa-apa gimana?” tanya Dania khawatir.
“Lo jamin gak ini permainan gak berbahaya? Ini ada orang hamil, loh.”
Aria terdiam, karena dia juga tidak tahu apa permainan ini berbahaya atau tidak, karena dia sendiri belum pernah mencobanya. Karena memang bagi Aria melihat ‘Mereka’ tidak perlu ritual kayak gini. Sebenarnya dia juga tahu, jika nanti yang akan menampakan wujud kepada teman-temannya adalah makhluk atau hantu yang kebilang sial. Namun, Aria tidak mungkin bisa menyebutkannya. Akhirnya Aria berbohong dan berkata, “Gue yakin, ini gak berbahaya.”
“Gue gak percaya keyakinan, lo.” Sarah bersuara yang membuat mereka memandang Sarah lalu kembali memandang Aria. “Aku harap permainan ini gak berbahaya. Lagian kan waktu kecil kita suka nyanyiin lagu itu dan gak apa-apa, kan? Kali aja itu mitos doang,” ucap Devi menenangkan. Sebenarnya Devi berkata seperti itu juga untuk menenangkan hatinya yang juga tidak percaya.
“Kapan mulainya, nih? Kayaknya kalian langsung diem dan berubah pikiran. Mau dilanjut gak?” tanya Deni.
“Gimana? Gue sih terserah kalian mau dilanjut atau kagak juga.” Aria mengembuskan napasnya berat. Aria ingin sekali melakukan ritual yang dibikinnya kali ini. Namun, dia bingung jika harus bertanggung jawab keselamatan teman-temannya.
“Kalau kalian gak yakin, gue gak bakalan maksa. Toh, ini pertama kalinya bagi gue dan kalian ngadain ritual kayak gini. Jadi gue juga gak bisa janjiin kalau ini bahaya atau enggak,” tutur Aria.
Mereka semua terdiam dan malah saling memandang satu sama lain. Sepertinya mereka masih berpikir akan keselamatan mereka. Meski ini hanya menggunakan permainan anak kecil yang sebenarnya sering mereka lakukan dulu. Energi negatif mereka semakin keluar dari rasa takut mereka membuat Aria melihat sosok ‘mereka’ yang semakin ingin menampakan dirinya. Ya, makhluk halus yang dilihat oleh Aria dirasakannya semakin ingin menampakan diri pada teman-temannya.
“Gue harap kalian gak ketakutan atau apa pun. Sarah lo gak percaya gue, ‘kan? Lebih baik lo terus seperti itu,” ucap Aria pada Sarah. Sebenarnya Sarah merasa takut juga, tapi karena gengsinya yang tinggi dia berkata, “Sorry, buat apa gue takut?”
“Sekali lagi gue tanya sama kalian, kalian siap gak ngelakuin ini?” tegas Aria.
Mereka semua akhirnya mengangguk. Lalu Aria membicarakan peraturannya sekali lagi, “Aturan maennya kayak tadi gue sebutin. Selama nyanyi ujung pita ini dioper. Jangan sampe jatoh pokoknya, ok?” Aria memastikan teman-temannya tidak apa-apa. “Lalu, kalau sampai diakhir nyanyian pas bilang ngadu pipi jeung nu ompong, kalian mendapat ujung pita yang beda maka kalian musti menyanyikan lagu itu sendiri sambil tutup mata dan pikirkan dan panggil makhluk yang ingin kalian temui, paham?”
Sebelumnya Aria mengikat ujung pita yang dia pegang. Sehingga hanya satu ujung pita yang berbeda. Lalu Aria mengeluarkan kamera dan tripod kecilnya. Lalu dia pasang kamera itu dan menyelakaan kameranya. Aria menyimpannya agak jauh dari tempat mereka tapi kamera itu mengarahkan kearah tempat mereka melakukan ritual. Setelah semuanya dianggap beres, Aria kembali ke tempat duduknya tadi.
[1] Nyanyian tradisional kasundaan “Sep dur”
[2] Nyanyian tradisional kasundaan “Ayang-ayang gung”
[3] “Bukan yang itu”—Bahasa sunda
[4] Nyanyian tradisional kasundaan “Gatrik ala gatrik”

Other Stories
Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Cinta Koma

Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...

Love Of The Death

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Tukar Pasangan

Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...

DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Download Titik & Koma