Aryakanza Syailendra
El Café yang terletak di jalan S. Parman daerah Padang Jati siang itu cukup ramai. Terlihat dari meja-meja yang terisi oleh pegawai bank yang bekerja di bank-bank yang berderet sepanjang jalan utama kota. Beberapa lainnya sekumpulan anak muda yang menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
Arsha memasuki kafe bergaya klasik itu seraya melayangkan pandangan ke penjuru ruang. Mencari teman lama yang katanya telah menunggu sepuluh menit lalu. Namun, gadis itu tak jua menemukan potongan wajah yang masih direkam memorinya dulu—gadis remaja berambut keriting dengan bintik-bintik jerawat di kedua pipinya, serta mata minus yang berbingkai kacamata cukup tebal, dan tahi lalat di cuping hidungnya yang tampak begitu menonjol dari penampilannya yang dikatakan sebagian orang adalah aneh. Tidak ada gadis berciri-ciri tersebut di sini.
“Apa dia sedang ke toilet?” gumam Arsha.
Sekali lagi, Arsha menyapu ruangan. Namun, hasilnya nihil. Temannya itu tidak ada. Sampai akhirnya satu suara riang menyeru namanya.
“Arsha!”
Arsha menoleh cepat ke sumber suara. Akan tetapi, keningnya mengernyit saat melihat si pemilik suara. Seorang gadis cantik full make-up yang mengenakan dress selutut berwarna tosca melambai ke arahnya.
“Arsha. Hei, it’s me! Fila!” seru gadis itu lagi, cukup berhasil membuat Arsha mematung seperkian detik. Otaknya mencerna kalimat gadis bernama Fila, nama teman lamanya, dan ia berseru tertahan.
“Oh!”
Tak menunggu lama, Arsha berjalan menuju meja di sudut ruangan. Sebuah senyum dan pelukan hangat menyambutnya.
“Kupikir kau tidak akan datang karena harus diintrogasi. Kautahu? Sama seperti di film-film yang kutonton, para polisi itu akan mencari apa saja untuk membuat orang-orang terdekat atau yang berada di dekat korban terjebak ke dalam situasi yang tidak diinginkan. Menjadi salah satu tersangka misalnya. Tetapi, melihatmu berada di depanku sekarang, aku senang sekali.”
Arsha tersenyum tipis, tidak lebih dari tiga detik. Hal yang entah sejak kapan ia lakukan, dan berhasil membuat orang-orang menjauhinya.
“Duduklah. Kau ingin pesan apa?”
Fila menyodorkan daftar menu pada teman baiknya itu dengan senyum yang masih bertengger di wajah cantiknya—sekarang.
“Smoothy strawberry aja.”
“Makanannya?”
Arsha menggeleng. “Aku tidak nafsu makan.”
Fila mengangguk paham, kemudian memanggil pelayan dan memesan minuman untuk Arsha. Sepeninggal pelayan laki-laki berwajah cukup tampan itu, ia kembali memandang Arsha dengan senyum lebar.
“Jadi, gimana dengan gadis tetanggamu itu?” tanya Fila, memulai pembicaraan.
“Aku tidak tahu. Sedikit shock saja mengetahuinya pagi ini.”
“Apa menurutmu dia dibunuh kekasihnya? Oh, tunggu, dia punya kekasih?”
“Umh, kurasa ya. Dia gadis yang cantik, baik, dan ramah. Semua laki-laki pasti menyukai kriteria seperti itu, ‘kan? Kurasa, kau yang sekarang juga disukai banyak laki-laki.”
Fila tersenyum malu. Ia menyesap jus melonnya dengan gaya anggun yang di mata Arsha sangat tak biasa. Gadis itu seolah tahu bagaimana cara bersikap dan membuat orang tertarik.
“Aku belajar banyak hal dari masa SMA kemarin. Kita memang harus menjadi ‘seseorang’ agar orang-orang melihat kita sebagai seseorang.”
Arsha hanya tersenyum tipis, lagi-lagi tak lebih dari tiga detik, kemudian wajahnya kembali datar cenderung pucat. Percakapan ringan yang sengaja dibangun oleh dua orang, atau lebih tepatnya satu orang saja—Fila—seolah menunggu waktu yang tepat untuk kembali santai. Tidak secanggung beberapa detik yang terasa lama ini. Setidaknya untuk Fila, seorang gadis supel yang terkenal ramah sejak dulu.
Bagi Fila, tak masalah wajahnya tidak cantik atau berada pada tingkat rata-rata gadis pada umumnya, asalkan orang-orang mengenalnya sebagai gadis baik yang selalu membantu orang lain. Meski ia lebih sering disuruh-suruh oleh mereka yang mengaku penguasa sekolah. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa cantik itu juga perlu. Bukan sebagai keharusan, tetapi lebih kepada kebutuhan. Dunia setelah lulus sekolah sangat keras, terlebih baginya yang tak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, walaupun otaknya pintar. Fila yang selalu masuk peringkat tiga besar, memilih untuk bekerja. Dimana nyatanya penampilan dan kecantikkan itu menjadi salah satu keharusan seseorang untuk diterima kerja.
“Permisi, Mbak.”
Pesanan Arsha datang. Pelayan laki-laki berparas tampan itu tersenyum ramah setelah meletakkan gelas berisi smoothy strawberry dengan whippe cream yang di atasnya diberi hiasan sepotong buah strawberry dan daun mint.
Arsha langsung menyesap minumannya. Menyisakan setengah gelas smoothy. Ia menjauhkan gelasnya ke sisi kiri, dan kembali menatap Fila. Penampilan temannya itu memang jauh berbeda, dan ia mengaguminya.
“Kau bekerja di mana?” Arsha membuka percakapan. Ia sendiri terkejut dengan dirinya yang tiba-tiba bertanya.
“Admin di pabrik sepatu. Tetapi, mungkin aku akan berhenti. Gajinya kurang sesuai, lagipula banyak rumor beredar bahwa pemilik pabrik itu melakukan pesugihan. Kautahu? Setiap bulan selalu saja ada pegawai yang meninggal. Cara meninggalnya pun aneh-aneh dan terkesan sepele. Aku takut dijadikan tumbal juga,” sahut Fila. Ia mulai bercerita seperti kebiasaannya sewaktu di sekolah dulu. Sedikitnya ia ingin temannya tahu apa yang ia alami, tidak harus tahu apa yang ia rasakan.
“Aku baru dengar yang begitu, tetapi itu hanya rumor, ‘kan?!”
“Ya, memang rumor. Tetapi, banyak yang membenarkan. Pernah masuk berita juga, lho, Sha. Ah, iya, aku ingat, kau jarang menonton televisi jika tidak ada film.”
Arsha meng-iya-kan. Sedari dulu, ia memang seperti itu. Baginya, berita-berita tidaklah cukup penting. Orang-orang hanya memberitahu tanpa bisa berbuat banyak. Namun, sebagian orang memang menyukai berita, bukan lantaran ingin tahu, melainkan ingin terlihat up to date. Yang di kemudian hari, mereka akan menceritakannya pada orang lain, begitu seterusnya. Hingga kalimat ‘aku mendengarnya dari si anu’ menjadi buah bibir bahwa ia merupakan orang yang memperhatikan sekitar. Ah, klise!
Terakhir kali Arsha menonton berita di televisi saat ia duduk di bangku SMA kelas 1. Ketika kasus korupsi menjadi satu-satunya topik utama di setiap stasiun TV, tetapi berakhir pada hukuman ringan yang tak cukup masuk diakal.
“Lusa nanti aku akan pulang lagi ke Tangerang. Kau hati-hati, Sha. Aku takut jika itu kau.”
“Maksudnya?”
“Gadis yang dibunuh itu. Bisa saja, ‘kan, pelakunya datang ke kamarmu lantaran kau tetangga gadis itu.”
“Semoga tidak,” sahutnya cepat, menyembunyikan ketakutannya sendiri.
**
Hari itu hampir sore, dan Arsha memutuskan untuk pergi ke pantai setelah berpisah dengan Fila. Gadis cantik itu akan pergi ke rumah saudaranya. Tadi, Fila mengajaknya karena jam kerjanya memang masih lama. Namun, ia menolak dan memilih pantai untuk menenangkan pikirannya yang semrawut.
Kejadian pagi tadi benar-benar menganggunya. Pun perkataan Fila sebelumnya. Ya, bagaimana jika si pelaku juga menyelinap ke flatnya, menunggunya, dan bersembunyi di balik pintu, lalu membunuhnya dengan sadis. Sama seperti Sania. Ia tak bisa membayangkannya.
Ah, tetapi tunggu. Ia tidak tahu pasti seperti apa Sania dibunuh. Ia hanya mendengar bahwa Sania ditemukan di kantong plastik hitam di taman kota. Mungkinkah ditusuk? Dicekik? Atau mungkin diperkosa lalu dipukul dengan palu? Ya, ya, hal-hal seperti itu bisa saja benar. Tetapi apa motif si pelaku hingga membunuh Sania? Gadis yang ia kenal baik dan ramah.
Arsha berhenti berpikir saat ia merasa ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh. Sebenarnya, ia telah merasakannya sewaktu di kafe tadi, tetapi, tak digubrisnya karena itu mungkin saja salah. Siapa juga yang ingin memperhatikan gadis sepertinya? Namun, kali ini ia tak mungkin salah. Seseorang pasti tengah mengawasinya.
Ia memandang ke sekitar Pantai Panjang di belakang Bencoolen Mall yang tidak terlalu ramai. Ada beberapa orang saja di sana yang duduk bersama teman atau keluarganya. Anak-anak kecil yang bermain pasir pantai, atau orang yang datang sendiri menikmati keindahan air laut seperti dirinya. Akan tetapi, ia tidak menemukan seseorang yang mencurigakan. Semua tampak sama, asyik dengan dirinya sendiri.
Arsha memutuskan untuk berhenti dan kembali berpikir. Selintas yang ada di pikirannya, ia akan mencari tahu siapa pelaku pembunuhan terhadap Sania. Meski ia sendiri tak yakin bagaimana harus memulainya.
“Permisi.”
Satu suara berat yang terdengar serak membuat Arsha mendongak pada seseorang yang berdiri di sampingnya. Seorang laki-laki dewasa dengan pakaian rapi yang di mata Arsha sangat tidak serasi dengan penampilan fisiknya—berewokan dan berwajah kusut, terlebih rambutnya yang seperti disengaja acak-acakkan.
Arsha mengamati laki-laki yang ia taksir berumur sekitar 30-an atau lebih tua itu dengan tak biasa. Ia menduga-duga apa kepentingan orang ini dengannya, mengingat ia sendiri tidak memiliki banyak kenalan. Bahkan tidak juga melakukan hal-hal aneh seperti menjatuhkan sesuatu dari tasnya saat ia berjalan tadi. Itu tak pernah terjadi.
Menilik penampilannya yang tidak terawat, tetapi mempunyai selera pakaian yang bagus, Arsha bisa menduga bahwa laki-laki ini seorang kurang waras. Bisa saja ia dulunya seorang pemilik perusahaan ternama, tetapi menjadi seperti sekarang karena perusahaannya bangkrut.
“Saya detektif.”
Laki-laki itu menyodorkan sebuah kartu nama. Membuyarkan apa yang dipikirkan Arsha barusan. Pendapatnya ternyata salah. Dengan gugup, ia mengambil kartu nama yang disodorkan laki-laki itu. Tertulis nama, nomor telepon dan alamat si pemilik.
Aryakanza Syailendra. Arsha mengucapkannya dalam hati. Nama yang menurutnya bagus untuk seorang laki-laki berwajah, ya, bisa dibilang tampan jika ia mau membersihkan dirinya.
“Boleh saya duduk?” Laki-laki itu bertanya, seraya mengambil tempat di samping Arsha. Tentu saja ia tak bisa menolak. “Panggil saya Kanza.”
Arsha mengangguk kaku. Tubuhnya kembali menegang. Otaknya berpikir cepat. Mungkin laki-laki bernama Kanza yang mengaku detektif ini juga mencurigai dirinya sebagai tersangka, sama seperti polisi-polisi yang ia temui tadi pagi.
“A-ada apa?”
Lidah Arsha terasa kelu, bahkan untuk melontarkan pertanyaan pendek itu saja ia sulit.
“Saya tahu Anda tetangga gadis yang dibunuh itu.”
“Kau mencurigaiku?”
“Tidak, tidak, saya ingin mendapatkan beberapa informasi saja mengenai gadis bernama Sania itu. Saya pikir, Anda sebagai tetangganya bisa membantu.”
Arsha berdiri cepat. “Maaf, aku tidak tahu apa-apa,” ucapnya, seraya berjalan menjauh.
“Hei, tunggu. Arsha!”
Ia berhenti saat laki-laki bernama Kanza itu mengetahui namanya. Dari mana? Oh, jika ia benar seorang detektif seperti yang dikatakannya, itu bisa saja terjadi. Ya, tidak ada yang cukup mustahil, bukan?
“Aku tidak bermaksud begitu,” jelas Kanza. Ia telah mengganti sapaannya agar terlihat lebih akrab, dan itu cukup berhasil.
Arsha berbalik, dan menatap Kanza dengan pandangan bertanya. “Lalu apa maumu?”
“Aku hanya perlu keterangan darimu untuk menemukan pelakunya, bukan menuduhmu.”
“Aku tidak tahu apa-apa.”
“Aku tahu kautahu sesuatu. Duduklah, kita bicara sebentar.”
Kanza menunjuk bebatuan yang berada di sepanjang pantai yang digunakan sebagai pelindung bila sewaktu-waktu air laut pasang. Dulu pernah kejadian sebelum batu-batu dan beton-beton diletakkan di sana, air laut melewati batas garis pantai hingga mencapai lapangan voli yang tak jauh dari jalan aspal. Membuat orang-orang takut, terlebih setelah isu tsunami pada tahun 2007 silam.
Pantai Panjang memang menjadi salah satu pantai di Bengkulu yang ‘memakan korban’ selain Pantai Teluk Sepang yang terletak di ujung Bengkulu tak jauh dari Pelabuhan Pulai Bai. Setiap tahun mendekati tahun baru atau Lebaran, ada saja korban tenggelam di sana. Bahkan menghilang. Masyarakat setempat percaya, bahwa korban-korban hilang itu menjadi pengikut istana bawah laut. Konyol memang, tetapi itulah yang dipercayai. Rumor mengatakan, kadangkala Putri Gading Cempaka—putri Raja Bangkahulu—sesekali menampakkan dirinya di tengah laut Pantai Panjang sebagai tanda akan ada bahaya yang mengancam kota pesisir itu.
“Kumohon.”
Mendengar Kanza memohon seperti itu, Arsha pun mengikuti permintaan laki-laki itu. Ia duduk di salah satu batu dan menghadap langsung ke pantai, di mana matahari masih bertahta meski terasa hangat.
“Sebelumnya aku minta maaf karena mencari tahu tentangmu. Ini kulakukan agar aku bisa mengenalmu lebih akrab.”
“Tetapi kau tidak harus mengikutiku.”
“Ah, kautahu rupanya,” Kanza tertawa pelan.
Arsha mendengkus tak suka. “Percuma kau menemuiku, aku tak tahu banyak tentang Sania.”
“Jangan bohong, tetanggamu bilang kau yang paling dekat dengan gadis itu.”
“Itu hanya omongan dari mereka yang suka bergosip.”
“Jangan salah, gosip bukan sekadar omong kosong. Terkadang dari gosip yang beredar, kita bisa mendapatkan sesuatu mengenai apa yang kita cari.”
“Itu cara berpikirmu, bukan aku.”
Kanza menghela napas. “Baiklah, anggap saja begitu. Jadi, seperti apa kau mengenal gadis bernama Sania itu?”
Arsha terdiam sebentar, lalu menjawab, “Seorang gadis baik hati yang selalu mengetuk pintu kamarku dan mengantar makanan setiap sore. Dia akan mengajakku mengobrol meski aku tidak terlalu suka. Ya, dia gadis yang ramah dan mudah bergaul. Kurasa hanya itu.”
“Menarik. Apa saja yang dia obrolkan denganmu?”
“Banyak.”
“Misalnya?”
“Dia sedang jatuh cinta.”
Other Stories
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...
Mauren Lupakan Masa Lalu
Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Bagaimana Jika Aku Bahagia
Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...