Teka-teki Surat Merah

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Aiyu A Gaara

Sadewa Priatmadja

Jumat pagi, Arsha terbangun lebih cepat dari biasanya. Sama seperti kemarin, suara gaduh telah mengganggu jam tidurnya. Ia melirik jam dinding berbentuk kepala hello kitty berwarna merah. Pukul 08.37 WIB.. Masih terlalu pagi untuknya.
Arsha menghela napas dalam dan beranjak ke kamar mandi saat ingat punya janji dengan laki-laki bernama Kanza yang mengikutinya kemarin. Mereka akan membicarakan tentang kasus pembunuhan Sania. Ya, ia telah bertekat akan menemukan pembunuh gadis itu.
Setelah mandi dan sarapan telur mata sapi seperti biasanya, Arsha berdiri menghadap ke luar jendela. Ada satu mobil polisi yang diparkir, dan ia yakin masih ada beberapa petugas polisi mengawasi flat Sania. Otaknya kembali berpikir, bagaimana mungkin gadis sebaik Sania bisa dibunuh? Oleh siapa? Apa motifnya?
Semua pertanyaan itu seolah menggantung di udara. Arsha tahu, ia bukan orang yang tepat untuk berada di posisi ini sekarang. Bahkan untuk ikut campur pun rasanya itu bukan dirinya. Tetapi bila mengingat kebaikkan Sania padanya, ia akan merasa bersalah jika hanya diam saja dan melihat seperti yang orang-orang lihat.
“Apa yang harus kulakukan?” gumamnya. Pandangannya masih jauh ke tempat parkiran yang di sampingnya terdapat taman bunga kecil dengan banyak jenis bunga pukul sembilan alias krokot, berwarna-warni.
Dering telepon mengembalikan Arsha dari alam bawah sadarnya. Ia berjalan cepat mengambil gawai di atas nakas. Sebuah panggilan masuk dari Fila. Ada apa Fila menelepon?
“Ya, halo?”
“Arsha! Apa kau baik-baik saja?” Terdengar nada khawatir dari seberang telepon.
“Y-ya, aku baik-baik saja.”
“Oh, syukurlah. Aku hanya merasa khawatir jika sesuatu terjadi padamu.”
“Tenanglah, aku tidak apa-apa. Lagipula masih ada beberapa petugas polisi yang berjaga.”
“Ah, ya, maaf. O iya, aku baru ingat kalau punya sepupu seorang polisi. Sadewa, kauingat, ‘kan?! Aku pernah mengenalkanmu saat kita SMP dulu.”
Arsha tampak berpikir. Ia memang tidak asing dengan nama itu, tetapi untuk mengingat wajah pemilik nama Sadewa, memorinya seolah hilang.
“Ya, kurasa. Ada apa memangnya?”
“Tiga bulan lalu dia dipindah tugaskan lagi di Bengkulu. Sekarang dia menjadi kepala polisi yang menangani kasus pembunuhan.”
“Lalu maksudmu?”
“Aku akan meminta bantuannya untuk menjagamu. Kautahu, aku sungguh khawatir denganmu kali ini. Tadi malam aku bermimpi kau ditusuk di kamarmu, darah menggenang di lantai, lalu kaujatuh tidak sadarkan diri. Pokoknya ngeri sekali, Sha.”
“Kau terlalu berpikir yang tidak-tidak, La, tetapi terima kasih perhatianmu.”
“Baiklah, aku tutup dulu. Sepupuku itu akan menemuimu nanti. Semoga tidak ada hal buruk terjadi padamu.”
“Hmm, bye, La.”
***
Kanza menyesap kopinya perlahan sambil membuka-buka buku catatan yang selalu dibawanya ke mana-mana. Ia telah menyelidiki tempat kerja dan menanyai rekan kerja gadis yang mati terbunuh itu tadi malam. Namun, jawaban-jawaban itu tidak memuaskan hatinya. Ia merasa seperti ada sesuatu di dalam kasus ini. Bukan sekadar kasus pembunuhan yang dilakukan seorang pria terhadap kekasihnya, tetapi lebih dari itu.
Menurut cerita Arsha, Sania sedang jatuh cinta. Ia sempat menanyakannya kepada rekan kerja yang paling dekat dengan gadis itu. Seorang gadis berkulit cokelat eksotis dengan potongan tubuh yang menggoda mata lelaki untuk selalu melihatnya. Terlebih dengan pakaian terbuka yang ia kenakan. Sesaat, Kanza menahan napasnya ketika berhadapan dengan gadis bernama Wisa itu. Memang bukan pertama kalinya ia melihat gadis-gadis bertubuh seksi yang rela mempertontonkan tubuhnya pada khalayak demi lembaran rupiah. Akan tetapi, kali ini sedikit berbeda. Entah kenapa dadanya berdebar keras. Otot-otonya kaku, dan darahnya berdesir cepat. Seolah ada sesuatu yang ingin meledak dari dirinya. Beruntung, saat itu ia bisa mengendalikan dirinya dan tetap fokus bertanya demi mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Gadis itu mengatakan bahwa Sania memang pernah bercerita tentang hubungan asmaranya dengan seorang laki-laki, tetapi tidak memberitahu siapa laki-laki itu. Ia hanya berkata jika laki-laki itu seseorang yang memiliki banyak uang.
Kanza mengetuk-ngetuk jarinya di meja, sambil berpikir keras. Mencoba menghubungkan petunjuk yang didapatnya. Namun, hasilnya sama. Ia tidak atau tepatnya belum menemukan sesuatu yang merujuk pada si pelaku. Kemudian ia beralih pada catatan sebelumnya, mengenai pembunuhan dua orang gadis yang memiliki kesamaan pada Sania. Dibunuh dengan tusukan di bagian vital dan dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam lalu diletakkan di taman kota di samping tong sampah.
Ia membaca catatannya secara rinci. Namun, tidak ada yang begitu mencolok. Kanza sudah memeriksanya dengan pasti, bahkan ia pernah menyusup masuk ke dalam kamar indekos keduanya. Tidak ada apa pun. Sama seperti gadis-gadis kebanyakkan, dua orang gadis itu menyimpan benda-benda milik kekasihnya, diary, juga album foto dan beberapa frame foto yang digantung atau diletakkan di atas meja. Dugaan sementara, dua orang gadis itu juga Sania dibunuh dengan orang yang sama, yang mereka kenal dekat.
Kanza menghela napas dalam, kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi. Ia menatap sekitar, di mana orang-orang yang mengunjungi kafe milik adiknya itu tampak asyik mengobrol dengan orang di sampingnya. Tertawa sambil sesekali memakan makanannya. Hidup mereka begitu santai, seolah tak ada beban atau masalah. Tidak seperti dirinya. Bahkan untuk hidup saja ia selalu mengandalkan adiknya.
Bukan salahnya menjadi terpuruk sejak kegagalannya dua tahun lalu. Sejauh ini, ia masih merasa yakin bahwa wanita muda dengan satu anak itu dibunuh bukan bunuh diri. Polisi terlalu cepat menyimpulkan lantaran ditemukan nota-nota hutang di laci tersembunyi di dalam lemari, dan melupakan fakta bahwa terdapat jejak kaki seseorang di hari sebelum wanita itu ditemukan mati tergantung.
Ia masih ingat bagaimana polisi muda berwajah cantik dengan tahi lalat di bibirnya itu menjelaskan pendapatnya yang entah bagaimana dibenarkan oleh polisi lainnya. Kanza tahu, ada yang keliru dalam kasus itu. Namun, ia sendiri belum menemukan siapa pelaku sebenarnya meski sesekali masih menyelidiki. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri akan menemukan pelaku sebenarnya demi gadis kecil yang sekarang telah berumur 5 tahun yang sering ia kunjungi di waktu luangnya.
“Sampai kapan kau akan diam di sini? Ayo, bantu aku.”
Suara serak milik Kesha—adiknya—membuat Kanza mengalihkan pandangan. Mata hitam tajam itu melengkung seiring senyum tipisnya yang dibuat-buat.
“Aku sedang menunggu seseorang untuk membicarakan kasus pembunuhan. Nanti aku akan membantumu. Oke?!”
“Ah, dasar, selalu begitu. Carilah kerja, Kak. Aku bosan melihatmu begini terus.”
Laki-laki kurus yang akan berumur 22 tahun pada bulan Februari itu mendengkus seraya berjalan menuju meja kasir. Kanza hanya tersenyum, mengedipkan matanya. Ia sudah maklum dengan adiknya yang mandiri sejak orang tua mereka meninggal tujuh tahun lalu.
Kanza melirik jam dinding yang terbuat dari kayu dengan hiasan sepasang burung kecil di bagian atasnya. Ia membuatnya sebagai hadiah ulang tahun adiknya tahun lalu, sekaligus atas keberhasilan sang adik membuka kafe yang diinginkannya sejak dulu.
“Lama sekali,” gumamnya, kesal.
Kanza merogoh gawai. Bermaksud menelepon Arsha. Namun, belum sempat ia menyentuh layar, tarikan kursi di depan membuat ia menghentikan aktivitasnya.
“Maaf, aku terlambat.”
***
Jumat pagi, setelah Sadewa menerima panggilan masuk di ponsel pribadinya—ponsel tanpa layar sentuh yang dikhususkan untuk keluarga dan kerabat terdekat. Laki-laki bertubuh tinggi berisi itu menyambar kunci mobil yang diletakkannya di laci di samping tempat tidur. Mengambil sembarang jaket yang digantungkan di balik pintu seperti kebanyakkan orang pada umumnya, lalu keluar dari rumah panggung yang dindingnya masih terbuat dari kayu dan beratapkan ijuk. Di mana terdapat pagar di sekililing beranda rumah yang diukir dengan motif ragam hias tebeng layar. Rumah khas zaman dulu yang diwarisi kakeknya sebelum meninggal beberapa tahun lalu.
Sadewa menuruni anak tangga yang berjumlah sembilan, bilangan ganjil yang dipercayai masyarakat setempat, dan memiliki ukiran yang disebut ujung kungkung.
“Mbak, saya keluar dulu. Kalau ada yang datang, suruh tunggu saja.”
Ia menyapa Mbak Darsi, janda tua yang telah lama ditinggal suaminya, dan bekerja sebagai pengurus rumah Sadewa sejak lima tahun lalu. Wanita yang rambutnya selalu disanggul dan diberi sunting bunga melati itu meng-iya-kan tanpa bertanya lebih banyak. Ia tahu pasti bagaimana sifat tuannya yang tak pernah suka jika orang lain mengetahui urusannya. Ia ingat, pernah dimarah habis-habisan lantaran bertanya ke mana tuannya akan pergi dan siapa tamu yang ditunggunya. Kali ini, atau lebih tepatnya setelah kejadian itu, ia memilih diam dan menuruti perkataan tuannya meski jelas-jelas laki-laki muda berwajah tampan itu tidak menghormatinya sebagai orang yang lebih tua.
Lima belas menit kemudian, Sadewa telah sampai di kawasan flat-flower di daerah Kompi. Tak jauh dari terminal Panorama yang menjadi titik temu bus-bus antar kota atau kabupaten, juga tidak begitu jauh dari Danau Dendam Tak Sudah yang menjadi salah satu ikon Bengkulu. Di mana legenda dalam berbagai versi masih dipercayai oleh penduduk setempat maupun pendatang.
Laki-laki bergaya santai yang hampir selalu memakai sepatu kets itu berjalan pelan menuju salah satu bangunan bertingkat dua yang dikatakan saudaranya tadi pagi di telepon. Bangunan berwarna putih dengan nomor sebelas yang pernah ia datangi beberapa waktu lalu.
Sadewa mengulum senyum. Seolah merasakan de javu saat memasuki bangunan yang di bagian depannya memiliki ruangan layaknya lobby, dengan tiga kursi panjang terbuat dari kayu dan meja kecil di tengah yang di atasnya diletakkan pot berisi kaktus.
Dulu sekali, ia pernah menunggu di sana sembari membaca koran. Melihat gadis-gadis atau wanita dengan anaknya berjalan sambil melirik ke arahnya dan berbisik-bisik. Ia tahu pasti akan pesonanya, cukup ampuh untuk sekadar menaklukkan hati perempuan. Namun, itu sudah cukup lama, sebelum ia tahu gadisnya memilih laki-laki lain yang lebih kaya.
Sadewa menaiki tangga dengan perlahan. Seolah menikmati setiap langkah kaki panjangnya menyentuh ubin dingin yang menjadi saksi akan kegaduhan kemarin. Mata cokelat yang selalu terlihat sayu itu menatap sekitar. Tak ada yang berbeda sejak terakhir kali ia ke sana. Tempat itu masih sama, masih menyimpan kenangan yang ingin ia lupa.
Sesampainya di anak tangga teratas, ia tertegun. Menghirup napas dalam, berusaha menyesap aroma yang ditinggalkan gadisnya. Namun, sia-sia, tak ada yang tersisa selain aroma rindu menyesak dada saat gadis berwajah cantik itu menutup pintu flatnya dengan keras.
Cklek.
Suara pintu terbuka membuat Sadewa tersadar dari ketertegunannya yang tanpa dasar. Ia melihat seorang gadis baru saja keluar dari kamar nomor tiga dari tempatnya berdiri. Kamar 213. Milik gadisnya dulu, ia ingat pasti akan hal itu.
Sesaat ia terpaku ketika gadis berambut panjang sebahu yang mengenakan kaus dengan gambar hati yang patah itu melewatinya. Sebuah tas sandang berwarna army dengan banyak gantungan kunci membuat keningnya mengernyit. Ia pernah melihat tas itu, tetapi entah di mana, dan tatapan kosong gadis itu seolah menusuk hatinya paling dalam. Ia merasakan takut sekaligus cemas teramat sangat.
“Tatapan kosong itu. Di mana aku melihatnya?”
Sadewa berpikir keras untuk seperkian detik. Seraya mengedarkan pandangan ke kamar sebelah gadis tadi keluar, di mana garis polisi masih terpasang dengan jelas. Ia memegang erat bajunya, kemudian secara tiba-tiba melepasnya dan berlari menuruni tangga. Di pintu masuk flat-flower ia menemukan gadis itu tengah berjalan santai dengan pandangan lurus ke depan.
“Ya, itu dia!”
***

Other Stories
Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Kisah Cinta Super Hero

cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Download Titik & Koma