Surat Merah
Vivian Lisa. Seorang gadis berambut panjang yang menenteng tas bermerek LV itu berdiri di depan gedung kediaman Arsha. Pandangannya tak lepas dari salah satu jendela di lantai dua. Bukan pandangan menyelidiki, tetapi lebih kepada kebencian berdasarkan kecemburuan.
Wajah ovalnya dipoles dengan bedak setingkat lebih cerah dari kulit tangannya, dipadu lipstik merah merona yang memang lagi tren di kalangan gadis-gadis. Juga bagian mata dan pipi yang dibuat berwarna pink alami, hampir sama tetapi bagian matanya sedikit lebih gelap, seolah memang dipadu dengan warna lain.
Sudah sepuluh menit lalu Vivian mematung di area parkir seolah menunggu seseorang atau sesuatu. Mengabaikan bisik-bisik ibu-ibu yang membeli sayur, yang sedari tadi melirik ke arahnya. Entah melihat penampilannya yang tidak biasa—dress ungu gelap berbahan dasar katun dengan dada rendah yang dihias manik-manik di bagian sekitarnya, juga high heels sepuluh centi dengan tali-tali yang mengikat indah kaki jenjangnya—atau melihat apa yang dilakukannya sedari tadi.
Setelah lebih dari dua puluh menit, gadis berpenampilan seronok itu akhirnya memilih mendatangi pos satpam. Ia tersenyum, menampilkan deretan gigi putihnya yang diberi hiasan permata.
Satpam berusia pertengahan tiga puluhan itu berdiri seketika kala melihat gadis cantik menghampirinya. Bahkan tersenyum ke arahnya seolah mereka kenalan lama. Ia balas tersenyum, canggung. Menyambut gadis yang langsung mengambil kursi di depannya.
“A-ada yang bisa saya bantu, Mbak?”
“Ya. Apa kautahu gadis yang tinggal di flat nomor 213?”
Satpam dengan name tag Hadi itu mengangguk cepat.
“Gadis seperti apa dia?”
“Dia? Gadis paling pendiam yang pernah saya kenal. Dia tidak pernah membalas sapaan saya, atau tersenyum seperti orang-orang ketika mereka bertemu dengan orang yang dikenalnya. Dia bahkan tak peduli saat tetangganya mati terbunuh. Eh, ngomong-ngomong, Mbak ini siapa?”
“Seorang kenalan. Kautahu dia kerja di mana?”
“Minimarket. Tetapi, saya tidak tahu di mana. Dia gadis yang tertutup.”
“Jam berapa biasanya dia keluar?”
“Sekitar jam empat sore.”
“Sendiri?”
“Ya, dia tinggal sendiri.”
“Maksudku apa dia pernah pergi dengan laki-laki atau ada laki-laki yang mengunjunginya?”
“Setahu saya tidak.”
“Kau yakin?”
Vivian bertanya cepat dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak. Membuat satpam yang baru menikah dua bulan lalu itu sedikit gemetaran. Seperti ada tekanan dari setiap kata yang keluar dari bibir gadis cantik di depannya. Ia berani bersumpah, setelah hari ini, ia tidak berharap bertemu gadis cantik lainnya seperti yang ia harapkan dulu. Mereka lebih berbahaya dari yang diduganya.
“Y-ya, saya yakin.”
“Kau tidak yakin! Aku tanya lagi, apa ada laki-laki yang bersamanya belum lama ini?”
Nyali Hadi seketika kecut. Ia berusaha mengingat walau terasa sulit dilakukan. Ia tak tahu apa yang diinginkan gadis di depannya. Bahkan ia belum bertanya siapa nama gadis itu. Namun, sekarang itu tak penting, ia hanya perlu menjawab ‘iya’ sesuai keinginan sang gadis. Tetapi ia sendiri tidak tahu apakah ada laki-laki bersama gadis pendiam itu atau tidak.
“Kau tidak tahu?”
Hadi menggeleng ragu. Melihat hal itu, Vivian mendengkus. Ia berdiri dengan kasar hingga menimbulkan suara gesekan antara kursi dan lantai cukup keras. Namun, ia tak peduli. Ia merogoh tasnya, mengambil dompet dan mengeluarkan tiga lembar uang lima puluhan. Vivian meletakkannya di atas meja lalu keluar tanpa berkata apa pun.
“Aku tahu kaupunya seseorang lainnya. Tunggu saja sampai aku menyingkirkan gadis itu darimu,” gumamnya.
Ia mengepal erat tangannya yang masih memegang dompet dengan merek sama. Di mana tersimpan surat cinta pemberian kekasihnya kemarin malam.
***
“Surat cinta? Kauyakin itu sungguh surat cinta? Bukan peringatan?”
Kanza menatap Arsha ragu. Ia membaca surat yang dibawa Arsha dari kamar Sania sekali lagi, dan ia yakin, kalimat cinta yang ditulis seseorang yang mereka duga si pembunuh bukan sekadar surat cinta biasa. Ada sesuatu tersembunyi di sana. Namun, ia sendiri tidak tahu itu apa.
Pasalnya, di rumah indekos kedua korban lainnya juga ditemukan hal sama. Ia ingat pernah mencatat barang apa saja yang terdapat di indekos kedua gadis malang itu, dan surat cinta beramplop merah ada di sana. Tersimpan rapi di dalam laci.
“Ntahlah, aku hanya tertarik untuk membawanya karena cukup aneh Sania menyimpan surat seperti ini di dalam kotak di kamar mandi.”
“Ya, memang aneh. Biasanya para gadis menyimpan surat cinta dari kekasihnya di dalam lemari, laci, atau diselipkan di diari. Kau juga begitu, ‘kan?!”
“Tidak.”
“Tidak? Lalu kauletakkan di mana?”
“Entahlah, tidak terpikirkan.”
“Hmm? Kau tidak pernah menerima surat cinta?” Kanza mengulum senyum seraya menatap Arsha dengan pandangan menggoda.
Gadis itu tampak tak suka, dan memilih mengambil cangkir berisi cokelat panas yang tinggal setengah. Ya, kafe Venus milik Kesha menjadi tempat pertemuan mereka untuk membahas kasus yang tengah diselidiki. Namun, selama tiga hari ini, baik Kanza maupun Arsha belum menemukan bukti penting lainnya selain surat cinta dengan amplop merah di rumah masing-masing korban. Dugaan paling kuat, pelaku adalah orang yang sama yang mengenal ketiga gadis itu dengan cukup baik.
“Baiklah, maaf. Jadi, apa lagi yang kautemukan di rumah Sania?”
Arsha mendengkus sebelum akhirnya menjawab, “Tidak ada yang cukup istimewa. Diari tentang kesehariannya yang penting, dalam artian tidak semua hal ditulisnya, melainkan apa yang dia suka dan benci saja.”
“Misalnya?”
“Dia jatuh cinta dan menunggu janji laki-laki yang diberi nama Dewa Penolong itu untuk bertemu. Rekan kerja yang tidak menyukainya, penghasilan tambahannya, perjalanan wisata, dan hal-hal lainnya yang sering gadis-gadis ceritakan. Hal-hal yang menurutku tidak penting.”
“Ya, ya, anggap begitu bagimu, tetapi tidak bagi Sania. Namun, cukup aneh juga primadona di kafe malam itu menulis diary, dan Dewa Penolong katamu? Itu bahkan lebih aneh lagi. Memang hal apa yang dilakukan laki-laki itu sehingga disebut Dewa Penolong?”
Arsha mengendikkan bahu, sementara Kanza menatapnya dengan serius. Seperti saat dirinya diintrogasi polisi beberapa hari lalu. Cukup menegangkan.
“Aku yakin, ada sesuatu lainnya. Coba ceritakan lebih jelas padaku.”
“Sudah kubilang, tidak ada yang istimewa di kamar Sania. Kalaupun ada sudah pasti diambil polisi duluan.”
“Tidak ada yang tidak istimewa bagi seorang detektif, bahkan jejak sepatu dan sidik jari sekalipun. Ceritakan!”
Arsha menghela napas dalam. Ia tak menyangka akan menjalani hari seperti ini. Merepotkan. Terlebih bertemu dengan seseorang yang bahkan tak pernah ia bayangkan. Sungguh, hal-hal tak terduga bisa saja terjadi dari satu peristiwa besar atau sepele.
Dengan enggan, gadis yang mengikat rambutnya tinggi itu menceritakan apa saja yang ia lakukan dan lihat selama berada di flat Sania. Sampai akhirnya ia kembali ke dalam flat miliknya sendiri dengan perasaan cemas karena dirinya yang lain merasa diperhatikan. Bahkan sampai saat ini, ketika ia berada di kafe bersama Kanza, ia merasa ada seseorang yang mengawasinya dari jauh. Memperhatikan setiap gerak gerik yang ia lakukan terhadap kasus kematian Sania. Ia berspekulasi bahwa itu adalah si pembunuh. Mungkin aku harus menghubungi Sadewa, pikirnya.
Arsha menutup ceritanya dengan satu helaan napas. Sesaat lamanya tadi Kanza tak berkedip menatap Arsha yang duduk di depannya sambil memasang telinga baik-baik. Berusaha untuk tidak melewatkan setiap perkataan Arsha hanya karena memandang lama-lama gadis itu membuat dadanya berdesir. Sensasi yang pernah ia rasakan beberapa tahun lalu terhadap seorang gadis.
Kanza berdehem, mengambil buku catatannya dan mulai mencoret-coret. Pernyataan dari Arsha ada gunanya nanti. Mungkin dari hal-hal sederhana yang terkesan sepele ini ia bisa menarik benang merah yang mengikat kasus pembunuhan ketiga gadis malang tersebut.
“Sha, kauingat ada sesuatu lainnya?”
“Sesuatu lainnya? Seperti apa?”
“Apa saja yang menarik perhatianmu,” Kanza menatap Arsha untuk seperkian detik yang lama selagi gadis itu mengingat dengan kerutan yang tampak jelas di dahi. Sampai akhirnya Arsha menjentikkan jari, sedikit membuat ia terlonjak.
“Aku ingat!”
“Apa?”
Antusias gadis itu melebihi saat ia memberitahu bahwa dirinya menemukan petunjuk baru meski samar.
“Ada bangkai kupu-kupu hitam di dekat lampu tidurnya.”
Kening Kanza berkerut. “Bangkai kupu-kupu? Apa yang aneh dari itu?”
“Entahlah. Aku merasa aneh saja. Kenapa dia ada di sana, dan kenapa polisi tidak mengambilnya untuk barang bukti?”
“Mungkin karena itu baru?”
Arsha menggeleng. “Dulu sewaktu SMA, aku di jurusan IPA. Anatomi hewan dan sebagainya aku sangat tahu, dan kupikir kupu-kupu itu sudah berada di sana sekitar seminggu lalu. Tepat sebelum Sania ditemukan terbunuh.”
“Tunggu, aku ingat sesuatu!”
Kanza mengambil buku catatannya yang lain, dan membukanya cepat. Ia membaca sekilas di setiap lembar yang penuh coretan, lalu berhenti pada lembar yang di atasnya dicat stabillo warna biru. Tertulis sebuah nama di sana. Naya Putri, salah satu korban pembunuhan.
Di bawahnya, ada catatan detail mengenai gadis yang bekerja sebagai SPG di bagian kosmetik di Mega Mall Bengkulu. Juga barang-barang apa saja yang berada di kamar indekos-nya setelah ia ditemukan tewas pada November lalu. Kasus pertama yang menyita perhatian polisi dan publik.
“Lihat!” Kanza mengetuk-ngetuk telunjuknya pada catatan barang-barang milik Naya, dan tulisan ‘meja di samping tempat tidur’ menjadi pusat perhatian Arsha. Selanjutnya, Kanza membalik halaman di sebelahnya beberapa kali hingga berhenti pada lembar yang di atasnya dicat stabillo warna kuning, milik Andini Sucita, korban kedua di awal bulan Desember.
“Lihat, ini juga.”
Lagi, Kanza meletakkan telunjuknya di catatan barang milik Andini, dan di indekos gadis itu juga terdapat meja kecil di samping tempat tidur dengan sebuah lampu.
“Sama,” desis Arsha. Entah kenapa, ia merasakan tegang seketika.
“Kurasa sengaja, dan ada kaitannya. Kautahu? Aku baru ingat bahwa aku juga menemukan bangkai kupu-kupu di sana. Terjatuh di lantai sekitar meja.”
Arsha menelan ludah, kelu. Napasnya tertahan sesaat. Ia menatap Kanza untuk beberapa lama, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan dalam pikirannya sendiri. Apa kita sudah semakin dekat?
Seolah tahu, Kanza mengangguk. Tiba-tiba saja, hening menyelimuti mereka. Sampai suara berdenting dari pintu tanda adanya tamu yang datang, memecahkan suasana tak mengenakkan tadi. Seorang gadis dengan pakaian sedikit terbuka masuk. Langsung menuju meja kosong setelah terlebih dahulu melirik ke arah Arsha.
“Hei, kau merasakan aura dingin yang tiba-tiba?” bisik Arsha.
Kanza menggeleng, kemudian kembali membaca buku catatannya dengan saksama. Ia harus memastikan satu hal yang diam-diam diselidikinya tanpa sepengetahuan Arsha.
***
Other Stories
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
Bayang Bayang
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...