Surat Yang Tergeletak
Sabtu sore, Arsha baru keluar dari flatnya. Sejenak, ia melupakan fakta bahwa ia tengah menyelidiki kasus pembunuhan Sania dan tetap menjalani aktivitas seperti biasanya. Namun, secara tidak langsung ia sadar bahwa ada seseorang yang tengah mengawasi gerak-geriknya. Termasuk saat ini.
Gadis dua puluh tahun yang sore itu mengenakan celana jins dan kemeja navy kotak-kotak berjalan cepat menuju jalan raya. Mengabaikan sapaan satpam bernama Hadi yang (sok) ramah. Sore ini, sebelum jam masuk kerjanya, ia akan bertemu Sadewa di kafe tak jauh dari minimarket tempatnya bekerja. Seperti anjuran Fila beberapa hari lalu, ia akan meminta bantuan Sadewa untuk melindunginya. Ya, kata itu lebih tepat daripada menjaga.
Sesampainya di kafe Kona Kito yang terletak di jalan Marlborough, dan merupakan kawasan wisata di Bengkulu, Arsha mengambil kursi yang menghadap ke Pantai Tapak Paderi. Salah satu pantai yang dijadikan spot terbaik untuk berselancar sekaligus masih bagian Pantai Panjang yang memiliki garis pantai sepanjang 7 KM. Selain ombaknya yang tinggi, Tapak Paderi cukup sepi pengunjung di beberapa tempat. Sekarang ini, sudah cukup banyak area baru yang disulap sedemikian rupa untuk menarik minat pengunjung. Sayangnya, Arsha bukan bagian dari gadis-gadis kebanyakkan yang menghabiskan waktu bersama teman di luar rumah. Bersenang-senang, tertawa, atau foto bersama. Ia lebih suka menyimpan dirinya di kamar flatnya, menciptakan dunianya sendiri tanpa harus merasakan sakit akan tindakan sesama.
Seorang pelayan laki-laki berambut gondrong menyapa seraya menyodorkan daftar menu. Ia membaca sebentar, lalu memilih parfait dengan es krim vanilla sebagai temannya menunggu Sadewa.
“Tambahkan kismis jika ada,” imbuhnya sebelum laki-laki itu berbalik.
“Baik. Mohon tunggu, Mbak.”
Arsha tak menyahut. Sebaliknya, ia melirik jam di pergelangan tangan kanan. 16.39 WIB.. Ia mendengkus kecil. Hampir sepuluh menit Sadewa terlambat dan tidak mengabarinya.
Demi mengusir kebosanan, ia menatap ke arah panggung kecil, di mana seorang gadis tengah mengotak-atik gitar akustik. Tak lama, suara gitar terdengar, seiring suara Sadewa yang tepat di sampingya.
“Maaf, aku terlambat. Ada sedikit pekerjaan tadi.” Arsha mengangguk. Sadewa duduk di sampingnya seraya meletakkan tangan di atas meja, lalu berkata, “Jadi, kau merasa ada yang mengikutimu?”
Lagi-lagi Arsha mengangguk. “Bukan sekadar merasa, tetapi pasti. Aku sedikit … takut.” Ia mengatakannya dengan suara pelan.
“Tidak apa-apa. Aku akan mengawasi flatmu saat tidak bertugas,” Sadewa tersenyum ramah hingga lesung pipitnya terlihat.
“Terima kasih. Kau sedang tidak bertugas sekarang?”
“Yah, masih menyelidiki kasus pembunuhan. Kau sendiri bagaimana? Detektif gagal itu pasti mengajarimu banyak hal, ya.”
“Tidak juga. Apa pihak polisi sudah menemukan bukti yang menjurus ke pelaku? Maksudku di luar para tersangka yang dicurigai.”
Sadewa menggeleng dengan wajah muram. “Sayangnya belum. Kami juga lagi berusaha menemukan pelakunya. Kau sungguh ingin tahu pelakunya?” Arsha mengangguk tegas. “Apa yang akan kaulakukan jika sudah tahu?”
“Menghukumnya secara setimpal. Bukankah itu pantas?”
“Kaubenar. Pembunuh memang pantas dibunuh. Tetapi untuk hal itu kita harus berusaha menemukannya. Seandainya kau pelaku, kau akan sembunyi di mana?”
Arsha diam sesaat, mencoba membayangkan jika dirinya adalah pelaku pembunuhan. “Aku … aku akan bersikap biasa dan berbaur dengan orang-orang tanpa harus sembunyi.”
“Mengapa?”
“Agar orang-orang tidak curiga. Semakin aku sembunyi dan menghilang, orang-orang akan menuduhku pelakunya.”
Sadewa tersenyum tipis. “Menarik.”
Laki-laki dengan wajah sempurna, sesuai porsi itu memandang lekat gadis di depannya. Jauh di dalam hatinya, ia mulai merasa tertarik dengan kepribadian Arsha. Berbeda dengan gadis-gadis manja yang haus akan uang dan kemewahan yang sering ia temui.
Mata sayunya yang tersenyum itu tiba-tiba menatap tajam pada meja tak jauh dari mejanya sekarang. Di mana seorang gadis berambut panjang yang meletakkan tas merek LV-nya di atas meja tengah menyesap minumannya sembari sesekali melirik ke arah Arsha.
“Dia ….”
“Permisi.” Suara pelayan laki-laki tadi membuyarkan apa yang Arsha pikirkan. Ia tersadar. Matanya mengerjap beberapa kali, memandang Sadewa yang masih menampilkan senyum manisnya.
Mereka mengobrol cukup panjang hari itu. Ternyata Sadewa adalah pribadi yang menyenangkan. Arsha bisa merasakan bahwa dirinya tidak canggung. Berbeda ketika berhadapan dengan orang yang mengajaknya bicara meski mereka saling mengenal.
“Baiklah, aku pergi dulu. Hubungi aku kapan pun kau membutuhkan.”
Arsha mengangguk. Ia menatap punggung Sadewa yang tegap. Bahunya lebar, dengan bagian perut ramping. Tidak jauh berbeda dengan aktor Korea yang sering ia lihat di drama televisi. Jika dilihat dari penampilannya, Arsha yakin bahwa Sadewa adalah salah satu tipe laki-laki yang sering melakukan perawatan wajah dan tubuh. Sesekali melihat wajah Sadewa yang tampan sekaligus cantik.
Sepeninggal Sadewa, Arsha menyendok parfaitnya. Buah anggur bercampur es krim vanilla yang ditabur kismis kesukaannya menjadi teman sore yang tidak lagi menegangkan. Setidaknya ia merasa lega karena Sadewa akan memberikan perlindungan. Walau ia sendiri tidak tahu perlindungan seperti apa itu.
“Hei.”
Satu suara femilier membuat Arsha menoleh. Seorang laki-laki berdiri di depan Arsha.
“Kanza! Sedang apa kau di sini? Oh, kau mengubah penampilanmu!” Ia berseru kaget melihat perubahan penampilan Kanza. Rambutnya yang kemarin gondrong, sekarang telah dipotong pendek. Juga jambang bawuk kini telah bersih. Menyisa bekas samar di sekitar area dagu hingga sisi wajahnya. Selain dirinya yang telah ‘bersih’, tak ada perubahan lainnya. Gaya pakaian Kanza masih sama. Casual dan terlihat keren.
“Itu tidak penting. Jawab pertanyaanku, apa yang kaulakukan bersama Sadewa tadi?”
“Kau melihatnya?”
“Jawab saja,” balas Kanza, lalu duduk di depan Arsha seraya memandang gadis itu intens. Yang tentu saja membuat Arsha sangat tidak nyaman.
“Aku hanya meminta bantuannya.”
“Bantuan apa?”
“Perlindungan. Aku merasa ada yang mengikutiku.”
“Benarkah? Kenapa kau tak pernah cerita padaku? Bukankah kita rekan?” Terdengar nada kecemburuan di balik pertanyaan Kanza.
Arsha tak menyahut. Ia bingung harus menjawab apa.
“Ah, aku tahu. Apa karena dia seorang polisi makanya kau meminta perlindungan darinya? Dengar aku baik-baik, ya, Sha. Sebaik apa pun seseorang, ingatlah bahwa mereka memiliki sisi kelam dalam hidupnya. Bisa saja orang yang kaukenal baik, ternyata seorang pembunuh atau psikopat. Dan kau tidak menyadarinya bahwa kau berada dalam bahaya. Kusarankan, kau harus berhati-hati terhadap orang yang baru kaukenal. Mengerti?”
“Termasuk padamu?”
“Ya, itu dikecualikan saja,” Kanza menatap Arsha tak enak. Salah tingkah. Tangannya refleks mengambil gelas milik Arsha, memakan parfait yang baru saja dimakan sesendok oleh pemiliknya.
“Ada yang ingin kaukatakan padaku?” tanya Arsha hati-hati.
“Kau pintar menebak rupanya.”
“Aku mempelajarinya.”
Kanza tersenyum. Ia menjauhkan gelas berisi parfait, kemudian merogoh tas selempang kulitnya. Mencari-cari sebuah buku catatan mengenai fakta seseorang yang berhasil ia temukan.”
“Bacalah nanti di rumah,” Kanza menyerahkan buku catatan berwarna merah pada Arsha, yang langsung gadis itu simpan ke dalam tasnya. “Aku beritahu satu hal, jauhi Sadewa. Jangan berhubungan lagi dengannya.”
“Kenapa? Kau curiga padanya?”
“Bisa dibilang begitu. Banyak fakta yang kutemukan. Salah satunya, dia pernah memiliki catatan kriminal sewaktu SMA. Dia dijadikan tersangka atas kecelakaan yang menimpa anak SMU lainnya. Diketahui, korban adalah mantan pacarnya yang sedang bersama pacar barunya. Ada orang yang melihatnya di sana, tetapi kuatnya alibi dan kurangnya fakta, membuatnya lepas sebagai tersangka.”
“Aku tahu, lalu kau sendiri kenapa bisa ada di sini? Jangan bilang kalau kafe ini milik adikmu juga atau saudaramu.”
“Tidak, tetapi milik temanku,” Kanza menggerling, kemudian berdiri meninggalkan Arsha.
Sama sepeti tadi, kali ini Arsha menatap punggung tegap Kanza. Ia bisa merasakan, betapa kuatnya laki-laki itu menjalani hidup dan merahasiakan apa yang harus dirahasiakannya dari orang-orang.
***
Kamar 107. Pukul 23.39 WIB.
“Apa yang kaulakukan di kafe sore tadi?”
Pertanyaan laki-laki berwajah cantik yang hanya mengenakan celana boxer itu membuat gadis yang tengah menyisir rambut berhenti. Menggantung tangannya di antara telinga dan leher, lalu mengempaskannya di meja rias.
“Aku? Kafe mana? Aku tidak ke mana-mana hari ini selain ke salon.”
“Benarkah?”
Laki-laki dengan otot perut yang indah itu mendekat. Memeluk gadis berambut panjang yang telah menjadi kekasihnya dua bulan terakhir.
“Aku tidak suka kebohongan,” bisiknya lembut di telinga si gadis, lalu menjilatnya. Memberi sensasi tersendiri.
“Aku tidak berbohong. Aku hanya ke salon saja hari ini.”
Jawaban si gadis membuatnya tersenyum, misterius. Ia melepaskan pelukannya, dan duduk di tepi ranjang. “Baiklah, aku percaya padamu. Kemarilah, aku rindu.”
Ia menepuk-nepuk ranjang di sampingnya. Melihat hal itu, si gadis segera berdiri manja dan duduk di samping lelakinya. Memeluknya erat, mencoba merasakan hangat dari dada bidang yang di bagian kirinya terdapat tato bergambar mahkota dengan dua pedang di setiap sisinya.
“Tidak ada yang lain selain aku, bukan?”
Gadis itu bertanya manja, melonggarkan pelukannya dan menatap laki-laki berbibir tipis dengan tahi lalat kecil yang membuatnya tampak seksi.
“Tidak ada, hanya kau seorang, Sayang.”
Ia mengeratkan pelukannya yang sempat dilonggarkan tadi. Membuat kamar yang sebelumnya panas tadi menjadi lebih hangat. Dibelainya rambut panjang gadis yang telah memberinya uang dan kenikmatan dunia dengan sukarela itu. Sebuah senyum tipis terpancar dari wajah cantiknya.
“Maaf, Sayang. Aku benci wanita yang ingin tahu dan berbohong,” gumamnya, mencium bibir lembut si gadis seraya mengambil sesuatu yang telah ia siapkan dari balik bantal.
“Sa ….”
“Selamat tinggal, Sayang.”
***
Arsha pulang hampir lewat tengah malam. Ia meletakkan tas di atas nakas, lalu berjalan menuju kamar mandi. Setelah membasuh wajah dengan pembersih, ia melangkah ke dapur. Mengambil segelas air minum, membawanya ke kamar. Diletakkannya gelas yang isinya tinggal setengah di meja kecil. Ia menatap wajahnya di cermin sebentar, dan tersenyum. Jika dipikir-pikir, ia sedang dikelilingi laki-laki berwajah tampan, Kanza dan Sadewa. Namun, entah kenapa ia tak bisa merasakan sensasi ketertarikan seperti gadis kebanyakkan ketika melihat laki-laki sekelas Kanza atau Sadewa.
Arsha menghela napas dalam. Mengabaikan pikirannya dan berjalan menuju tempat tidur. Ia harus tidur cepat, mengingat tenaganya terkuras cukup banyak hari ini. Namun, belum sempat membaringkan tubuh, matanya menangkap sesuatu di atas bantal. Sebuah surat.
Bola mata Arsha membesar. Tubuhnya gemetar. Ia ingat akan surat merah yang pernah dibicarakannya dengan Kanza beberapa waktu lalu, dan sekarang surat dengan amplop merah itu tergeletak di kamarnya. Hatinya bergidik, ngeri.
“Apa ini? Kenapa?”
***
Other Stories
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Hati Diatas Melati ( 17+ )
Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...