Teka-teki Surat Merah

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Aiyu A Gaara

Dewa Penolong?

Taman kota, awal Januari. 23.49 WIB. Kamis malam.
Arsha menutup kepalanya dengan tudung jaket. Angin malam hari ini bertiup sangat kencang. Sesuai dengan prakiraan cuaca yang di dengarnya dari radio di minimarket tempat kerjanya sore tadi; akan ada badai yang melanda kota pesisir itu, dan para nelayan diminta untuk tidak melaut. Namun, gadis yang memegang erat tas ransel yang di setiap resletingnya diberi banyak gantungan kunci, hingga terdengar suara gemerincing setiap kali ia berjalan itu tak mempercepat langkahnya untuk sampai ke rumah. Duduk di sofa hangat sambil menikmati secangkir cokelat panas untuk mengusir udara dingin. Sebaliknya, ia berjalan perlahan, seolah menghitung sendiri langkahnya yang tak seberapa lebar.
Matanya menatap sekitar. Suasana hampir tengah malam yang dingin itu telah sepi. Orang-orang mungkin sudah tertidur lelap bersama mimpinya di balik selimut. Atau beberapa lainnya yang masih asyik menghangatkan diri di antara bising musik dengan alkohol dan gadis-gadis dengan pakaian terbuka. Mata sipitnya memicing, memandang kejauhan ke area taman kota yang sering ia datangi pada malam hari di saat libur. Seseorang berdiri di sana dengan kantong plastik hitam besar. Arsha yang tak cukup peduli, kemudian kembali berjalan, kali ini sedikit lebih cepat. Mata orang yang tak sengaja bersitatap dengannya meski jauh, entah kenapa membuat kuduknya merinding.
***
Suara ketukan pintu kamar tak membuat Arsha beranjak dari ranjang. Ia masih bergeming setelah membasuh tubuh siang tadi. Menatap langit-langit kamar yang di beberapa tempat terdapat sarang laba-laba. Ia telah meminta izin untuk tidak masuk kerja hari ini. Beruntung wanita paruh baya yang selalu menjaga kewibawaan dirinya itu mengizinkan mengingat Arsha telah lama bekerja dengannya.
“Arsha, buka pintunya, ini aku.”
Terdengar suara tidak asing dari luar kamar. Ia hapal betul suara dan gaya bicara itu. Tetapi, untuk membuka pintu? Ia tak berani melakukannya. Mata tajam Kanza membuatnya teringat akan kejadian malam itu.
“Apa yang harus kulakukan?”
Diliriknya gawai yang telah ia nyalakan sepuluh menit lalu. Ada beberapa panggilan masuk dan pesan di sana. Salah satunya dari Kanza, orang yang ingin ia hindari saat ini. Perasaan cemas serta takut menyelimuti hatinya. Ia merasa terjebak dalam sebuah panggung sandiwara yang diciptakan laki-laki itu, dan parahnya ia baru menyadarinya sekarang.
“Arsha aku tahu kau di dalam. Bukalah pintunya. Aku sudah menemukan bukti yang lebih kuat. Arsha.”
Ketukan pintu yang berubah menjadi gedoran serta suara yang lebih keras dari sebelumnya membuat gadis yang memakai kaus kebesaran itu menggigil. Ia meraih gawai dan menelepon seseorang yang ia yakin dapat membantunya.
“Halo. To-tolong aku. Sekarang!”
“Arsha? Apa yang terjadi?”
“Cepat datang. Kumohon.”
Klik.
Diakhirinya panggilan itu, lalu mematikan gawainya kembali. Ia beranjak dari kasur, mengacak-acak rambutnya agar terlihat seperti baru bangun tidur. Arsha akan membuka pintu dan bersikap seolah ia tidak tahu apa-apa. Persis seperti yang ditontonnya dalam film.
‘Terkadang kauharus berpura meski kautahu kebenaran cerita untuk melindungi dirimu sendiri atau orang yang kausayangi’. Setidaknya ia ingat kalimat yang dikatakan detektif berwajah tampan dalam film itu.
“Iya, sebentar,” sahutnya dengan suara sengau, khas orang baru bangun tidur.
Pintu terbuka, tidak cukup lebar untuk orang lain masuk. Di depannya berdiri Kanza dengan penampilannya yang selalu rapi. Seperti biasa, laki-laki 29 tahun itu membawa tas selempang kulit dan memegang sebuah buku catatan kecil di salah satu tangannya.
Arsha tersenyum tipis, mencoba senatural dan selama mungkin. Berbeda dari yang sering ia lakukan. “Maaf, aku baru bangun. Jam berapa sekarang?”
“Oh, aku mengganggumu, ya? Maaf. Hampir jam lima sore,” balas Kanza seraya melihat jam tangannya.
“Lebih cepat dari yang kaukatakan tadi pagi. Masuklah. Kau menemukan sesuatu?”
“Ya, aku yakin sekali bahwa laki-laki berwajah perempuan itu pelakunya.”
Kanza tersenyum lebar, berjalan masuk ke dalam flat Arsha. Gadis itu mengikuti Kanza, membiarkan pintu sedikit terbuka. Dengan perasaan canggung, Arsha mempersilakan Kanza duduk di kursi meja bar. Mereka duduk saling berhadap-hadapan. Di tempatnya, Arsha tak henti-hentinya memandang Kanza. Ia melihat, ada sesuatu yang berbeda dari laki-laki itu. Terlebih mata dan rahangnya yang tampak lebih tegas dari sebelumnya.
“Ada apa kau memperhatikanku begitu?”
“Eh, tidak. Jadi, apa yang kautemukan?”
“Sesuatu yang akan membuatmu berseru riang. Tetapi, kenapa pintunya terbuka? Kau menunggu seseorang?”
Kanza menatap tajam pada Arsha. Gadis itu merinding seketika. Ia menggeleng kuat, “Tidak. Aku merasa cukup panas hari ini.”
“Baiklah. Nih, coba kaubaca.”
Kanza menyodorkan sebuah catatan. Arsha tak tahu pasti ada berapa banyak catatan yang dimiliki laki-laki itu. Ia membukanya, dan membacanya. Lagi-lagi catatan hitam tentang Sadewa. Jika dipikir-pikir, entah kenapa Kanza seolah ngotot sekali untuk membuktikan bahwa Sadewa adalah pelakunya. Padahal jika dilihat dan diperhatikan sekali lagi, Arsha merasa apa yang ditulis Kanza seolah dibuat-buat oleh dirinya sendiri. Atau memang begitu adanya, tetapi bukan Sadewa yang melakukan. Seseorang yang lain, mungkin.
“A-apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Kau tenang saja, biar aku yang melakukannya. Kaulihat saja apa yang akan kulakukan untuk membuatnya terpancing, dan setelah itu, selesai sudah kasus pembunuhan ini,” Kanza menggerling, kemudian berdiri dari duduknya. Ia mengambil sesuatu dari dalam tas, yang ternyata segulung tali.
Senyumnya mengembang, tetapi bukan senyum penenang yang tadi pagi dilihat Arsha. Mata tajam yang memandang ke arahnya membuat Arsha bergidik. Itu tatapan yang sama, yang ia lihat pada malam itu.
“Apa yang kaulakukan?” Arsha terkejut saat tali yang dipegang Kanza telah melilit tubuhnya.
“Aku akan memancingnya keluar. Sekaligus menutup mulutmu yang berdusta,” murka Kanza.
“A-apa maksudmu? Kanza, lepaskan!”
“Ssst, diamlah. Tidak akan lama.”
Tak sampai lima menit, tubuh Arsha telah terikat di kursi yang didudukinya. Di depannya Kanza berdiri, memandangnya dengan tatapan membunuh. Laki-laki itu sesekali tersenyum, lalu menangis, kemudian diam dengan wajah muram. Arsha tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Hal sederhana yang dipikirkannya adalah, bahwa Kanza memiliki kepribadian lain.
Seketika ia ingat percakapannya dengan Sadewa di kafe Kona Kito kemarin lalu. Polisi muda itu menanyakan; ‘Jika dirinya adalah pelaku, akan sembunyi di mana dia?’. Pada saat itu ia menjawab bahwa dirinya tak akan sembunyi dan akan berbaur dengan masyarakat agar tidak dicurigai. Jangan-jangan, Sadewa sudah tahu. Semoga saja, pikir Arsha.
“Kenapa? Bukankah kautahu bahwa aku pelakunya?” Kanza tersenyum sinis. Ia berjalan mengitari Arsha. “Ya, benar, memang aku. Di luar perkiraan, ternyata kau lebih pintar dari yang kubayangkan. Sedari awal aku tahu, bahwa untuk membuatmu percaya tidaklah mudah. Akan tetapi, aku yakin, gadis tak acuh sepertimu terkadang cukup mudah untuk dikelabui. Sayangnya aku lupa, bahwa kau sama seperti orang itu. Memiliki ingatan yang cukup bagus. Sial!”
Arsha meringis saat orang yang ia percayai itu mendorong kepalanya. Namun, ia berusaha diam. Menunggu Sadewa datang. Ia percaya, laki-laki itu akan datang menolong seperti yang dikatakannya tempo hari.
“Kautahu, Arsha? Aku paling benci gadis pembohong dan ingin tahu. Terlebih mereka yang mengatakan mencintaiku, nyatanya tidak. Memercayaiku nyatanya palsu. Aku benci. Akan tetapi, aku senang, gadis-gadis seperti itu telah lenyap. Termasuk dia. Ahaha, ya, dia. Gadis malang yang mengantar nyawa setelah ketahuan selingkuh dengan anak ingusan itu.
“Dengar, Arsha, seseorang bisa melakukan apa saja ketika dirinya merasa terluka dan kecewa. Bahkan, dia bisa membunuh orang yang paling dikasihinya sekalipun. Ayah. Ah, laki-laki angkuh sok berwibawa itu juga telah tiada. Aku senang melihatnya tidak lagi menyakiti Ibu karena perbuatan gilanya dengan gadis simpanannya. Sayangnya, Tuhan lebih cepat mengambil Ibu sebelum aku sempat membuat pesta ulang tahun untuknya. Sial, aku benci ini!”
Arsha hanya diam mendengar setiap ucapan Kanza. Ia tahu, laki-laki itu pernah menjalani hari yang kelam di masa lalu. Namun, ia sungguh tak menyangka bahwa Kanza adalah seorang psikopat gila yang melakukan apa saja untuk membuat dirinya baik-baik saja. Ia benar-benar terjebak sekarang. Diliriknya pintu yang sedikit terbuka. Berharap tiba-tiba Sadewa datang sambil menodongkan pisto ke arah Kanza. Tetapi, itu belum terjadi. Entah di mana polisi muda itu.
“Kenapa? Kau menunggu dewa penolongmu? Tenang saja, sebentar lagi dia datang, dan pada saat itu aku akan melenyapkannya yang selalu ingin tahu tentangku,” ujar Kanza, seolah tahu arti lirikan Arsha.
Ia terdiam. Berusaha untuk tidak melakukan apa pun lagi selain menunduk. Baru sekali ini ia merasakan takut yang teramat sangat. Dalam hati Arsha berdoa, kumohon datanglah.
***
“Pak, saya butuh bantuan. Ya, flat-flower kamar 213.” Sadewa menutup telepon dan melajukan mobilnya menuju daerah Kompi. Polisi muda itu tak peduli pada pertanyaan laki-laki yang duduk gelisah di sampingnya. Sebaliknya, ia memutar musik dengan volume kencang.
“Hei, jawab! Mau kaubawa ke mana aku?”
Kesha, adik Kanza yang ‘diculik’ Sadewa dari kafe miliknya itu akhirnya memilih diam. Suaranya mulai serak. Pikirnya, percuma jika ia terus bertanya sambil berteriak, polisi itu tak akan menjawabnya. Selama perjalanan yang tujuannya tidak ia ketahui, Kesha menduga-duga sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Perkiraannya ini ada hubungannya dengan kasus yang tengah diselidiki kakaknya. Namun, kenapa dirinya juga dibawa?
“Turunlah, dan jangan banyak tanya. Ikut saja,” titah Sadewa, seraya mencabut kunci mobil ketika mereka telah sampai di tujuan.
Kesha menurut. Mereka menaiki anak tangga ke lantai dua, dan berjalan pelan ke salah satu kamar. Sadewa memberi isyarat untuk berjalan lebih pelan dan menempel lekat-lekat ke dinding. Di sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka, Sadewa berhenti, pun Kesha. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, pemuda itu menurut saja. Samar dari dalam kamar terdengar seseorang bicara, dan Kesha kenal suara itu. Ya, suara kakaknya.
“Kakak?”
Sadewa mengangguk. Dari balik dinding di sebelah pintu, laki-laki berwajah tampan itu dapat mendengar jelas setiap kalimat yang diucapkan Kanza. Ia tersenyum misterius. Diliriknya ke belakang, di mana Kesha tengah menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tak percaya akan apa yang didengarnya. Lalu, dari arah tangga, terdengar langkah kaki yang cukup banyak. Sadewa tahu, itu bantuan yang dimintanya tadi.
“Dengan ini, semua akan selesai, dan aku akan mendapat promosi,” ucapnya dalam hati.
Sadewa mengangguk dan memberi isyarat agar anak buahnya mendekat. Jari panjangnya membuka, dimulai dari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Sedetik kemudian, lima orang polisi yang dipimpin Sadewa masuk menyergap Kanza. Tersangka utama atas kasus pembunuhan gadis-gadis.
“Sadewa!” Arsha berseru dengan senyum lega.
Di hadapannya, Sadewa mengangguk, kemudian berdiri berkacak pinggang di depan Kanza yang tampak tenang.
“Tak kusangka kaudatang lebih cepat.” Kanza menggerling. Ia berjalan ke arah Sadewa, tetapi langkahnya tiba-tiba berhenti saat melihat Kesha berdiri di belakang laki-laki yang paling dibencinya. “Kau! Sedang apa di sini?”
“Kakak, harusnya aku yang bertanya. Apa yang kauucapkan tadi itu benar? Kau membunuh Ayah dan gadis-gadis itu?” Kesha meremas tangannya untuk menahan air mata yang hendak tumpah. Ia masih tak percaya akan apa yang didengarnya tadi.
Kanza terdiam beberapa lama, lalu tertawa keras. “Apa? Aku? Ya, aku yang membunuh laki-laki berengsek yang menyakiti Ibu. Aku. Hahaha. Dia pantas mati. Mati!”
“Kakak ….”
“Diam! Kau masih terlalu kecil untuk tahu bagaimana Ibu menderita, dan gadis-gadis pembohong yang mengambil keuntungan dari pria kaya itu juga pantas mati.”
“Kanza, sudahlah. Akhiri saja cerita sedihmu.”
“Apa? Bukankah itu juga ceritamu? Cerita kita? Apa kaulupa, Dewa?” Kanza tersenyum. Matanya yang tajam menatap dalam pada Sadewa.
Laki-laki yang pandai memainkan ekspresi itu mengubah raut terkejutnya yang sesaat tadi menjadi datar. Ini memang bukan pertama kalinya Kanza mengatakan hal itu, tetapi tetap saja mengusik dirinya. Sadewa menghela napas dalam sebelum akhirnya berkata, “Tangkap dia!”
Dua polisi langsung menyergap Kanza. Laki-laki itu tak berkutik, atau memang sengaja tak berkutik. “Ahaha, aku ditangkap? Tidak masalah. Akan tetapi, kaujuga harus tinggal bersamaku. Kita sekamar lagi, seperti dulu.”
Sadewa membeku di tempatnya. Kemudian berjalan ke arah Arsha dan melepaskan ikatannya. Setelah dirinya bebas, Arsha langsung berdiri di belakang Sadewa, menatap tak percaya pada Kanza, orang yang telah ia percayai.
“Bawa dia,” titah Sadewa.
“Kak, Kakak.”
“Ahaha, tenang saja, tenang,” Kanza masih tertawa-tawa. Tiba-tiba ia berbalik menatap Arsha, gadis itu langsung mengkerut ditatap sedemikian rupa. “Thanks, Rekan, tetapi kasus ini belum selesai. Ada satu teka-teki lagi. Pecahkanlah! Ahaha.”
Tawa Kanza masih menggema saat ia dibawa petugas polisi. Adiknya, Kesha, mengikuti dari belakang dengan wajah sedih. Air mata yang tadi menggenang di wajahnya telah tumpah. Di depan flat Arsha, tetangga-tetangga keluar dari flat mereka masing-masing. Seperti kemarin lalu, mereka berkumpul seraya berbisik-bisik.
“Terima kasih,” lirih Arsha, saat Kanza sudah jauh dari pandangannya.
“Sama-sama. Sudah tidak apa-apa. Kaubisa hidup tenang sekarang.”
Arsha mengangguk. Di sampingnya, Sadewa tersenyum hingga lesung pipitnya terlihat. Namun, di mata Arsha, itu adalah senyum paling misterius yang pernah ia lihat.
***

Other Stories
Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Nyanyian Hati Seruni

Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Srikandi

Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...

Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

Turut Berduka Cinta

Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...

Download Titik & Koma