Susan Ngesot

Reads
1.8K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Menjalin Chemistry

Langit mendung menghiasi pagi hari ini.reni terdiam di balik jendela kamarnya sambil memandang keluar kamarnya.reni menghembus nafas pendek.
\" Bosen nggak ada yang bisa diajak ngobrol. Mama udah berangkat kerja sedang Rena udah pindah ke rumah papa. Ngapain ya enaknya? Mau keluar mendung, kalau hujan kan malah berabe,\" Reni menggerutu sendiri.
Tanpa sadar matanya sudah menatap ponsel birunya yang tergeletak di atas meja rias kamarnya. Reni melangkah mengambil ponselnya. Sejenak ia berfikir ingin menghubungi seseorang.
\"Telfon siapa ya?\" Reni berfikir keras.
\"Aha!\" tangannya mengacung pendek. Ia sudah mendapat ide untuk menghubungi seseorang. Lekas-lekas Reni memencet keypard ponselnya. Setelah ia sudah memastikan kalau nomor yang di hubunginya sudah benar. Ia segera mendekatkan ponselnya ke telinganya.
Tut. . . .Tut. . . .terdengar panggilan sedang terhubung ke seseorang. Yah,memang seperti suara bel kereta api karena nomor tujuan yang di hubungi tidak memiliki nada sambung atau biasa di sebut I-ring.
\"Yah, kok nggak di angkat sih? Apa mungkin dia lagi sibuk ya?\" Reni meletakkan ponselnya kembali karna nomor yang di tuju tidak ada jawaban.
\"Telfon Rere aja deh.\" Reni mengambil ponselnya kembali. Kini dia mencoba menghubungi Rere.
Tut. . . . .Tut. . . . I-ring yang sama terdengar lagi meski nomor tujuannya berbeda.
\"Hallo…\" terdengar sahutan dari ujung telephone.
\"Hallo Rere ya? Gue Reni,\" kata Reni tanpa basa-basi.
\"Oh Lo Ren, ada apa?\" sahut Rere.
\"Enggak gue cuma iseng aja. Soalnya gue lagi bosen nih Re. Nggak ada temen!
\"Ya udah. Gue juga lagi nglamun sendiri.\"
\"Re, Lo lagi ngapain?\"
\"Kan tadi gue udah bilang kalau gue lagi nglamun sendiri.\" percakapan yang nyambung satu sama lain terdengar lama antara Rere dan Reni.
\"Ren, udah dulu ya.gue mau mandi nih dah…\" penutupan kata dari Rere.
Telpon pun terputus. Tak tahan beberapa lama Reni mulai merasakan suntuk lagi. Sekarang dia mencoba menghubungi Rahma, Natasya dan Rangga.
“Sayang aku…bukanlah bang toyib” Reni mengerutkan keningnya saat mendengar I-ring. Rangga yang berasal dari lagu Wali Band. Reni tertawa sendiri mendengar I-ring itu. Sedetik kemudian terdengar sahutan di ujung telpon. Suara itu suaranya Rangga. Entah mengapa hati Reni berdebar-debar saat mendengar suara Rangga.
Rangga bertanya “Anda siapa ya? Reni tak menjawab, sampai tiga kali Rangga bertanya barulah Reni menjawabnya. Reni bingung mau bicara apa dengan Rangga. Baru kali ini ia grogi bicara dengan cowok di telpon. Akhirnya Reni berinisiatif untuk menghubungi Rahma dan Natasya. Di conferensi call gitu. Biar rame. Reni mencari lagi nomor Rahma dan Natasya. Lima menit kemudian mereka semua telah tersambung menjadi satu obrolan.
\"Nat, tadi gue nyoba telfon lo kok nggak ada jawaban sih?\" tanya Reni pada Natasya.
\"Sorry, gue tadi lagi di dapur dan handphone Gue di kamar,\" jelas Natasy
\"Rah, lo kok diam aja?\" tanya Rangga.
\"Enggak, Gue cuma mikir aja.\"
\"Mikirin apaan?\" tanya Reni.
\"Ren, usia lo tuh berapa sih sebenarnya?\" tanya Rahma jelas.
\"Lho, kok nanya umur Gue. emang kenapa?\" tanya Reni bingung.
\"Nah, ini dia yang tadi mau Gue tanyain. Berapa sih usia lo Ren?\" tanya Rangga juga.
\"Umur gue udah 21 tahun. Emang kenapa?\"
\"Apa?\" secara serempak Rahma, Rangga dan Natasya kaget mendengar tutur Reni lalu secara bebarengan pula mereka tertawa terbahak-bahak.
\"Emang kenapa sih?\" tanya Reni yang kebingungan.
\"Enggak,cuma suara lo tuh ren kayak ... \"natasya sedikit berfikir.
\"Kayak boneka Susan.\" sahut Rangga langsung. Reni terkejut mendengar ucapan Rangga. Masa ia sih suara dirinya mirip boneka Susan? Sesaat kemudian terdengar Rahma, Natasya, dan Rangga tertawa lagi. Bahkan tawa mereka semakin keras.
\"Eh, gimana kalau sekarang kita panggil Reni jangan Reni lagi tapi Susan,\"cetus Rangga.
\"Bener tuh S-U-S-A-N\" Rahma mengejra kata Susan. Reni sedikit manyun meski sebenarnya
walaupun ia manyun sampai bibirnya maju satu meter juga. Rangga, Rahma dan Natasya tidak bakalan melihat karna mereka ngobrol hanya lewat telephone.
\"Hahaha …, Susan susan kaau besar mau jadi apa?\" ejek Rangga tanpa menahan tawanya. Reni yang awalnya kesal kini ikut tertawa pula pada bersama mereka. Sedang asyik mereka berempat ngobrol tiba-tiba ponsel Reni mati. Reni bingung, mengapa telponnya mati mendadak? Padahal baterainya masih full. Reni lalu mengecek pulsa. Ternyata pulsanya tinggal Rp. 150,-. Untung Reni masih mempunyai 100 sms gratis. Ia langsung mengetik sms.
To : All Friend’ : Sorry pulsa gue abis.
Pesan tersebut dikirim Reni ke Natasya, Rangga, Rere, Rahma. Setelah mengirim sms tersebut Reni menggeletakkan ponselnya di bantal. Sedangkan tubuhnya yang sedari tadi berbaring di atas ranjang kini ia bangunkan. Reni melangkah keluar kamar menuju dapur.
Ia sadar bahwa ia belum makan pagi mangkanya perutnya sudah bertakbir terus alias keroncongan. Di dapur Reni mendapati mamanya sedang menggoreng telur mata sapi kesukaannya.
Reni bingung kenapa mamanya tiba-tiba ada di dapur. Biasanya mama pulang dari kantor malam hari. Ia baru ingat bahwa hari ini hari Minggu. Dan ternyata tadi rumah sepi karena mamanya lagi olahraga pagi. Pantesan aja tadi pada nelpon teman-temannya, mereka ada di rumah semua.
Mamanya menyodorkan telur mata sapi yang berada di piring kepada Reni. Ia melahap telur tersebut dengan lezatnya. Cukup tiga menit telu itu sudah habis dilahap Reni. Ia masih belum kenyang, makanya ia mengambil telur matc sapi lagi. Mamanya tersenyum kecil memperhatikan dirinya. Tiba-tiba mamanya membicarakan Rena. Saat itu juga Reni gak mood makan lagi. Hati Reni masih sakit kala ingat perbuatan Rena.
Reni berjalan menuju kamarnya. Sesampai di kamar, ia menghempaskan tubuh di kasurnya. Tanpa sengaja Reni menyentuh handphonenya. Reni melihat di layar handphone ada tiga pesan di terima. Langsung saja ia membuka pesan tersebut satu-persatu. Ternyata tiga pesan tersebut dari Rangga, Natasya, Rere. Mereka mengajak Reni untuk kopi darat alias ketemuan. Reni menyetujui ajakan mereka. Reni meminta mereka datang di café Rainbow.
*****
Tak terasa mobil Reni sudah memasuki parkiran di kafe Rainbow. Ia memutuskan untuk menelpon Rangga. Ia lagsung menekan-nekan tombol ponselnya. Setelah telpon tersambung, tanpa basa-basi Reni langsung menanyakan keberadaan Rangga. Ternyata kata Rangga ia sudah ada di dalam kafe. Reni pun masuk kafe, ia celingak-celinguk mencari sosok Rangga. Dan tak berapa lama ia menemukan keberadaan Rangga. Kelihatannya Rangga sedang duduk bersama tiga cewek.
“Oh, My good, jangan-jangan Rangga itu playboy,” ucap Reni dalam hati. Ia segera melangkahkan kaki menghampiri Rangga.
\"Lu Rangga kan?\" tanya Reni saat sudah berada di dekat cowok itu.
\"Iya, lu Susan eh maksud Gue Reni ?\" Rangga balik nanyak ke Reni.
\"Iya, mereka siapa?\" tanya Reni. Tangannya menunjuk kearah cewek di samping Rangga. Ternyata ketiga cewek yang duduk disebelah Rangga itu adalah Natasya, Rere, dan Rahma. Mereka berempat sahabatan sudah lama. Reni pun duduk di sebelah Rangga. Tiba-tiba Natasya menatap dirinya dengan tatapan aneh.
“Nat, kok Lo menatap gue kayak gitu? Lo terpesona ma kecantikan Gue ya?” tanya Reni dengan narsis.
“Gue heran aja ternyata Lo gak sama dengan apa bayangan,” jawab Natasya. Reni mengerutkan dahi mendengar jawaban Natasya.
\"Emang di bayangan lu gue gimana?\" tanya Reni lagi.
\"Di bayangan kami tuh Lo tuh kayak boneka Susan, kecil, pendek, lucu,\" sahut Rere. Reni hanya bisa manyun. Masa dirinya mirip boneka Susan. Mereka berlima saling berbincang.
Suasana yang awalnya agak canggung kini sudah berubah heboh seperti saat mereka telfon-telfonan. Rangga yang tak malu-malu meski dia berbeda dari yang lain.Ya, iyalah Rangga beda, kan dia cowok.
Rere yang super duper energik bergerak ke sana kemari walau hanya mengambil tusuk gigi di meja sebelah karna di meja mereka tidak ada.
Rahma yang orangnya gokil meski sedikit agak tomboy tapi itulah ciri khasnya. Natasya yang ceplas-ceplos meski tak sampai menyakiti perasaan sahabat-sahabatnya. Mungkin itulah kemistri yang terbangun di antara mereka.walau belum lama kenal tapi mereka sudah akrab satu sama lain.
Waktu terus berjalan. Tak terasa sore pun tiba. Reni milirik jam tangannya. Ternyata jarum jam telah menun jukkan pukul lima sore. Akhirnya Reni pun berpamitan pulang kepada teman-temannya.
Tapi sebelum pulang Reni dan teman-temannya berfoto ria dulu. Sebuah handphone telah berdiri tegak mengarah lima sekawan yang sedang berpose di depannya. Terlihat di layar handphone itu wajah mereka dan di sudut kanan layar terdapat waktu 10 detik yang berjalan mundur menandakan bahwansannya mereka sedang berfoto ria menggunakan self-timer.
\"Oke, atur gaya yg kompak ya!\" seru Rere kepada empat temanya.
\"Oke dah,\" jawab Rangga dan Natasya serentak. Mereka sama-sama membuat ekspresi teriak dengan mengangakkan mulut mereka lebar-lebar.
Cepprreeettt..
Bunyi suara kamera yang menandakan ekspresi mereka telah diabadikan. Rere pun cepat-cepat mengambil handphone tersebut untuk melihat hasilnya.
\"Hah? Kok aku gak ada?\" pekik Reni setelah melihat hasil foto yang tidak terdapat sosoknya.
\"Iya ya. Kok bisa dia sendiri yang gak ada? Padahalkan dia tadi berdiri di sampingku,\" kata Rangga heran.
\"Wahh, jangan-jangan dia mau mati lagi. Hahaha…\" ucap Natasya sambil tertawa. Reni hanya terdiam. Ia berdoa dalam hati ucapan Natasya tidak jadi kenyataan. Reni tidak ingin meninggalkan dunia secepat ini. Setelah selesai berfoto Reni pun undur diri untuk pulang ke rumah. Empat temannya yang lain juga memutuskan pulang ke rumah.

Other Stories
Takdir Cinta

Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...

Luka

LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...

Hati Yang Beku

Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...

Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Download Titik & Koma