Susan Ngesot

Reads
1.8K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Patah Hati Lagi

Matahari siang mulai berdiri tegak di atas kepala Rangga. Rambutnya yang hitam makin terlihat bercahaya terkena sinar matahari. Rangga terdiam di antara dua vase bunga yang seperti mengapitnya. Lama rangga berdiri mematung tanpa suara.dia tak terlihat menandakan gerakan apapun hingga rangga mendengar suara decitan dari belakangnya.
\"Susan!\" Rangga terkejut melihat Reni akan keluar rumah. Segera ia membopong Reni memasuki rumah dan mendudukkannya di dekat televisi kunonya.
\"Ada apa sih, Ngga?\" Reni heran mengapa ia di bawa masuk lagi sama Rangga. Padahal, dia mau jalan-jalan walau sekarang bukan lagi jalan-jalan istilah buat Reni. Melainkan,ngesot-ngesot.
\"Lo tuh jangan sembarangan keluar siang!\" tegas Rangga yang duduk bersujud di hadapan Reni.
“Emang kenapa? Tanya Reni mengernyitkan dahinya.
“Kalau lu keluar siang bolong gini, lu bisa terbakar!”
“Apa? Masa sih?” tanya Reni tak percaya apa yang di ucapkan Rangga.
\"San, lu harus tau sekarang lo tuh hantu. Jadi jangan sembarang keluar siang-siang!\"
“Oke, sorry gue nggak tau soal ini.”
“Nggak apa-apa.” Jawab Rangga singkat. Rangga meninggalkan Reni yang duduk termenung di kursi. Reni tak habis fikir kalau sekarang dirinya benar-benar tidak bisa apa-apa.
Hanya Rangga yang dia andalkan untuk memberitahu Natasya supaya mencabut omongannya. Meskipun dia tau kalau sekarang Natasya sudah berangkat ke luar kota dan dirinya harus menunggu dua minggu lagi untuk bertemu Natasya. Reni merintih pelan menangisi keadaannya. Suara rintihannya membuat Rangga mendatanginya.
\"Lo kenapa?\" Rangga mmbungkukkan tubuhnya agar wajahnya berdekatan dengan Reni.
“Gue nggak berguna Rangga,” ucap Reni pelan.
“Hai, kata siapa lo gak berguna?” Rangga menyeka butiran-butiran airmata Reni yang terjatuh di pipi manisnya.
“Karena ada lo di sini, gue jadi gak usah susah payah mengepel lantai lagi,” ucap Rangga mencoba menghibur Reni. Merasa dirinya dibutuhkan oleh Rangga juga, Reni tersenyum mungil di raut wajahnya yang pucat.
\"Thank\'s ya Rangga, lo udah mau bantuin gue.\" Reni memeluk lembut tubuh Rangga. Namun Rangga tak jua membalas pelukan Reni sampai Reni melepaskannya. Rangga hanya tersenyum kecil pada Reni. Walau hanya senyum kecil di bibir Rangga. Namun Reni sudah bahagia bukan main.
Reni mengartikan sebuah senyuman itu adalah isyarat-isyarat cinta Rangga yang diberikan padanya. Wajah lucu Reni memerah bak tomat yang segera dipanen. Reni terus menatap wajah tampan Rangga tanpa berkedip. Jantungnya pun mulai beradu bagai kumandang-kumandang takbir saat lebaran menjelang.
Tarikan napasnya pun mulai gelabakan menentukan arah. Reni tak dapat mengendalikan pola pikirnya. Rangga dan Rangga yang terus terbayang di fikirannya. Reni baru sadar kalau Rangga sudah tak berada di hadapannya. Ia menghempaskan tubuh kecilnya di atas kursi empuk milik Rangga.
“Inikah cinta? Indahnya cinta bisa membuat orang terbang bagai kupu-kupu yang cantik,” Reni berteriak sendiri tak karuan. Entah dimana sekarang keberadaan Rangga, ia tak peduli. Reni benar-benar dibuat mabuk kepayang oleh Rangga.
*****
\"Bentar lagi dia datang.\" Reni menyiapkan makan malam yang sangat romantis untuk dirinya dan Rangga. Reni sudah memutuskan bahwa malam ini juga ia menyatakan cinta kepada Rangga.
Makanan-makanan lezat sudah tertata rapi di atas meja makan Rangga yang kebetulan berbentuk bulat. Tak lupa Reni pun menaruh lilin di tengahnya. Vase bunga mini pun tak ketinggalan menghiasi meja bulat itu. Sungguh suasana yang amat romantis. Lampu yang sengaja diredupkan oleh Reni agar cahaya lilinnya dapat terlihat jelas.
Saat Rangga membuka pintu depan rumahnya. Dia akan terpesona karena Reni sudah menyiapkan taburan bunga mulai pintu depan sampai mengarah ke meja makan yang telah ia tata sedemikian rupa. Reni benar-benar yakin bahwa Rangga akan sangat menyukai apa yang dia lakukan. Meskipun dirinya ngesot, tapi ia berusaha keras untuk membuat Rangga bahagia.
“Selesai.” Reni senyum-senyum sendiri semuanya sedah beres.
Reni duduk di sofa yang tidak terlalu tinggal. Ia menunggu ke datangan Rangga dengan harap-harap cemas. Jantungnya mulai berdegup kencang lagi. Reni sudah tak sabar menunggu sang pujaan hatinya datang dari kampus. Reni mengetuk-ngetukkan jari telunjuk tangan kanannya di sofa. Ia sudah kebingungan karna Rangga tak jua datang.
\"Aku pulang... \" suara Rangga terdengar jelas di telinga Reni. Mulut Reni yang awalnya tergigit-gigit oleh giginya sendiri kini terbuka lebar. Reni sudah menduga Rangga pasti akan mengikuti kelopak-kelopak yang ia tabur.
“Susan apaan ini?” tanya Rangga sambil garuk-garuk kepala. Tangan Rangga menunjuk kea rah taburan bunga itu. Reni hanya mengangkat bahunya pura-pura tak tahu.
\"Ayo ikut!\" Reni menarik kaki Rangga untuk mengikutinya. Reni mengajak Rangga ke meja makan yang ia siapkan tadi. Benar, Rangga terpesona oleh ulah Reni. Rangga hanya terdiam melihat apa yang ada di depannya.
“Ini semua lo yang ngerjain?” tanya Rangga. Reni hanya mengangguk. Ia kesusahan naik ke kursi. Namun Rangga menyadari hal itu, dan langsung membantu Reni. Setelah Reni duduk, ia meminta Rangga untuk duduk juga.
“Susan, romantis banget. Ternyata lo orangnya romantis juga,” ucap Rangga. Dirinya masih mengira apa yang saat ini ia lihat adalah sebuah mimpi yang di buat Reni.
\"Gimana lo suka?\" Tanya Reni manja.
\"Suka banget. Lo sendiri yang ngerjain ini semua?\" tanya Rangga dengan memegang tangan Reni. Reni tak dapat berucap apapun. Jantungnya kini mulai berdegup lebih cepat lagi seakan mau lepas. Genggaman tangan Rangga benar-benar membuatnya mabuk kepayang.
\"Lo diam itu gue anggap jawaban iya.\" Rangga tak menghiraukan Reni yang membeku di hadapannya. Ia langsung meneguk minuman di meja itu.
“Rangga, gue mau bilang sesuatu,” ucap Reni lirih.
“Mau bilang apa San?” tanya Rangga. Reni mendekap tangan Rangga dengan kedua telapak tangannya.
\"Gue suka sama lo,\" ucap Reni to the point.
Rangga menarik tangannya dan menatap tajam kedua kelopak bola mata Reni. Rangga tak menyangka apa yang diucapkan Reni. Baru kali ini ada seorang cewek menyatakan cinta dengan dirinya. Dan parahnya yang nembak itu hantu.
“Lo serius San?” tanya Rangga.
“Serius Ngga, Gue suka ma lo,” ucap Reni meyakinkan Rangga terhadap perasaannya.
\"Tapi Ren, kita beda alam.\" Rangga mencoba menolak Reni dengan kata-kata yang sopan.
“Apa salahnya Ngga, gue suka ma lo?” Reni semakin menyakinkan Rangga.
“Sorry Ren, gue nggak bisa. Selain kita beda alam, gue juga masih mencintai mantan gue,” jawab Rangga.
Rangga pergi meninggalkan Reni sendiri di meja makan. Reni tertegun mendengar pernyataan Rangga. Kedua tangannya menggenggam erat. Airmatanya berjatuhan tak terbendung. Hati Reni sudah hancur berkeping-keping tanpa meninggalkan rasa bahagia sedikit pun yang sebelumnya ia rasakan beberapa menit lalu.
Reni menangis sesegukan. Dia tidak pernah menyangka bahwa Rangga akan mengatakan hal itu padanya. Baru saja dia merasakan cinta lagi setelah kepergian Adit, dan kini ia harus terluka lagi oleh cinta. Reni mencoba bangkit dari duduknya. Ia mengesot perlahan menjauhi meja makan.
“Gue harus pergi. Kita emang nggak sealam, jadi gue udah nggak pantas tinggal sama lo lagi,” ucap Reni berbicara sendiri dengan foto Rangga yang terpampang di meja dekat pintu keluar rumah Rangga.
Dari kejauhan Rangga memandangi Reni yang hendak keluar rumah. Rangga tak bisa mencegah karena dia tau bahwa saat ini Reni butuh waktu untuk menyendiri
*****
Reni menangis sendirian di dekat pohon beringin. Ia tak perduli jika ada orang lewat dan mereka ketakutan oleh tangisan Reni. Kini dia benar-benar merasakan sakit untuk ke dua kalinya. Namun jika dia ingin bunuh diri juga tidak mungkin. Kan dia sudah mati. Dari kejauhan Reni melihat ada dua hantu yaitu genderuwo dan wewe gombel. Reni pun menghampiri mereka. Tak sengaja Reni mendengar perbincangan keduanya.
\"Kita ke diskotik yuk?\" kata genderuwo itu.
\"Boleh Sayang,\" sahut ewe manja. Mereka berdua berlalu meninggalkan Reni dengan bergandengan mesrah. Melihat kedua hantu itu yang begitu mesra Reni kembali menangis sekencang-kencangnya. Tak berapa lama tangisnya berhenti. Ia memutuskan untuk pergi ke diskotik meluapkan segala macam amarahnya. Meskipun Reni ngesot tapi tak butuh waktu lama untuknya sampai ke diskotik itu. Lagu-lagu yang aneh terdengar di telinga Reni.
\"Ini bukan lagu diskotik,\" gumamnya. Reni tahu lagu diskotik seperti apa tapi dia benar-benar heran. Lagu yang di putar di diskotik hantu itu bukan lagu yang biasanya ia dengar di diskotik para manusia. Reni perlahan masuk ke dalam diskotik itu. Walau ragu, tapi itu tak menghentikannya masuk lebih ke dalam. Sebelum Reni masuk ada dua pocong yang menanyainya.
“Mana KTS Lo?” tanya pocong itu.
“What is KTS?” tanya Reni sambil garuk-garuk kepala.
“KTS itu Kartu Tanda Setan,” jawab pocong itu.
“Gue nggak punya.”
“Kalau nggak punya berarti nggak boleh masuk.” Wajah Reni langsung berubah cemberut.
\"Hay Guys, tunggu dia ini pacar Gue jadi dia tentu boleh masuk kan?\" tiba-tiba ada seorang pocong lagi yang dengan sigap mendekati Reni.
\"Lo siapa?\" tanya Reni heran.
\"Nah, cewek Gue ini amnesiaan. Udah dulu ya Ggue mau masuk,\" pocong itu melompat-lompat masuk di iringin dengan Reni. Pocong itu duduk berdekatan dengan meja bartender.
\"Bodyguard...\" terdengar pocong itu memanggil sesosok mahluk yng sangat menyeramkan. Reni pun sampai ketakutan. Padahal dia tau kalau dia sama-sama hantu seperti mahluk tinggi besar yang ada di hadapannya kini.
“Siap Bos!” ucap makhluk besar itu tegas.
“Tolong, cewek cantik ini!” perintah sang pocong. Makhluk itu mendekati Reni dan membantunya duduk di kursi. Reni pun berterimakasih pada makhluk itu. Mahluk besar itu hanya menganggukkan kepalanya. Reni memandang tajam ke arah sang pocong yang senyum-senyum kepadanya.
“Lo liatin apa?” tanya Reni jutek.
“Sebelumnya gue belum pernah liat Lo di sini. Lo hantu baru?”
“Iya, gue baru meninggal beberapa hari yang lalu.”
“Pantesan, bau bunga lo masih fresh banget. Eh, gue ke sana dulu ya?\" sang pocong itu pergi meninggalkan Reni. Reni terkejut saat ia melihat dan membaca tulisan yang berada di punggung sang pocong. Pokenah sebuah kosa kata yang sangat sulit ia mengerti. Reni bertanya-tanya sendiri pada dirinya.
Apa maksud dari tulisan itu? Mata Reni tetap lekat menatapi sang pocong yang sekarang sedang berjoget bersama dua kuntilanak dan satu sundel bolong di atas beberapa keranda mayat yang sudah di tata sedemikian rupa.
Sang pocong terlihat menikmati alunan lagu lengser wengi yang di buat house music sehingga alunannya tak lagi slow melainkan lebih di bilang nge-beat. Seseali Reni melihat sang pocong melirik ke arahnya memberi isyarat untuk mengajaknya bergoyang.
Namun Reni menggelengkan kepalanya. Ia tak mau berjingkrak-jingkrak tak karuan seperti apa yang di lakukan sang pocong. Reni menundukkan kepalanya ia teringat kembali akan Rangga. Orang yang sangat ia cintai setelah Adit.
Reni kembali menitihkan air mata lalu ia meminum-minuman yang tadi di pesan sang pocong. Tak puas dengan satu gelas minuman itu. Reni mengambil botolnya dan berkali-kali menenggaknya.
Kini Reni sudah tak terkontrol akibat alkohol yang terkandung di minuman itu. Reni tertawa jegigisan sendiri. Kadang ia menangis juga kadang ia teriak-teriak tak jelas. Melihat perilaku Reni yang di kendalikan alkohol. Sang pocong mendekatinya. Pocong itu membungkukkan badannya.
“Eh, Lo nggak papa?\" tanya sang pocong lirih.
“Eh, denger ya, Gue lagi galau Lo tau karena apa? Karena Ggue baru aja di tolak mentah-mentah sama cowok yang Gue kira selama ini dia sayang sama Gue,\" ujar Reni nyerocos nggak karuan. Khawatir Reni kenapa-napa sang pocong menyuruh bodyguard-nya untuk membopong Reni ke suatu tempat yang lebih sepi.
Ketika suasana sudah di pastikan aman. Sang pocong menyuruh bodyguard-nya untuk mengambilkan i-pad miliknya. Mereka berdua mengotak-atik i-pad tersebut seperti mencari sesuatu. Reni masih tergeletak tak sadarkan diri. Sang pocong menatapnya dengan perasaan iba bercampur cinta.
“Bos, sudah dapat.\" Mahluk besar itu mmperlihatkan layar i-padnya pada sang pocong. Sang pocong menyuruh mahluk besar yang ternyata bernama Rajes itu untuk menelfon seseorang.
*****
Aaaggghhh…!
Reni teriak tak karuan. Ia mendapati dirinya berada di dalam peti mati dengan taburan bunga melati di sana sini.
\"Apa-apaan ini?\" tanya Reni marah pada sang pocong. Reni beranjak dari peti itu dengan bantuan Rajes. Sang pocong minta maaf, karena dia hanya mengikuti perintah mbah dukun. Reni mengerutkan dahi tanda tak mengerti perkataan pocong. Akhirnya sang pocong menceritakan pada Reni.
“Oh, jadi Lo masukin gue ke peti mati karena saran mbah dukun. Biar Gue cepat sadar?”tanya Reni. Sang pocong mengangguk. Pocong menunduk merasa dirinya bersalah. Melihat sang pocong yang tulus ingin membantunya. Reni merasa tersentuh. Ia menatap lembut ke arah pocong itu. Akhirnya Reni dan pocong pun berkenalan.
“Kenalin, gue Ricky.\" Ujar sang pocong. Ia juga mengulurkan tangan pada Reni. Reni pun menjabat tangan sang pocong.
“Gue Susan. Ricky? Pocong kog namanya Ricky? Aneh!\"
“Enak aja Lo tau nggak kepanjangan nama gue?\"
“Apa?\"
“Ricky Jason Affandy.\"
“Hah?\" ujar Reni kaget. Tak berapa lama Reni tertawa terbahak-bahak di hadapan Ricky.
“Kenapa? Kok ketawa?\" tanya Ricky penasaran plus kebingungan.
“Nggak, lucu aja masa namanya keren gitu?\"
“Katanya karena gue mirip bule. Tapi, biarin dari pada nama asli.\"
“Emang, nama asli Lo siapa?\" Reni tetap tidak berhenti tertawa. Ricky pun menceritakan nama aslinya adalah Paijo. Reni semakin terbahak-bahak mendengar nama asli Ricky diucapkan. Sungguh katrok, menurut Reni. Nama asli Ricky dapat membuat Reni sesaat melupakan Rangga. Reni tak dapat berhenti tertawa sampai terdengar dan tercium bau yang aneh.
Bruuutt.....
Ricky menuduh Reni kentut. Padahal sebanarnya emang iya. Reni tak dapat berkata sepatah kata pun. Wajahnya merah padam bak api yang sedang berkobar-kobar. Ricky menutup hidungnya tapi bau gas Reni masih tercium. Reni hanya tersenyum menahan malu pada Ricky dan bodyguard Ricky.
Reni melirik kearah bodyguard Ricky. Ricky memberitahukan bahwa bodyguard-nya sedang pilek. Jadi gak nyium bau kentut. Ricky juga memberitahu bodyguard -nya bernama Rajes. Yang artinya Raksasa Jelek Sekali.
Ricky dan Reni pun tertawa lagi semakin kencang. Sedangkan Rajes hanya tersenyum-senyum kecil. Reni tak habis fikir, pertemuannya dengan Ricky menghilangkan rasa sakit hatinya terhadap Rangga. Sungguh di luar kepalanya.
Reni sekarang merasa sedikit tenang karena dia sekarang memiliki teman seperti Ricky yang baru saja ia kenal. Tapi Reni masih belum lupa kata terakhir yang di ucapkan Rangga kalau dia masih menyayangi mantannya.
Tidak terasa hari menjelang pagi. Reni terlalu lelah untuk pulang ke makamnya jadi dia memutuskan untuk menginap di diskotik itu. Ricky dan bodyguard –nya berpamitan pulang pada Reni.
Dia juga menyuruh reni kapan-kapan mampir ke tempatnya atau lebih jelasnya ke makamnya yang tak jauh dari diskotik itu. Reni hanya mengiyakan penawaran itu meski dirinya sendiri tak tau kapan akan sempat mampir ke makam Ricky. Kini Reni hanya berfikir bagaimana caranya menemui Natasya tanpa bantuan dari Rangga.

Other Stories
Kesempurnaan Cintamu

Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Jjjjjj

ghjjjj ...

Kucing Emas

Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Download Titik & Koma