Susan Ngesot

Reads
1.8K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Terus Gua Harus Bilang Waw Gitu?

Hujan rintik-rintik membasahi tanah pemakaman termasuk makam Reni. Reni sedang termenung di dalam makamnya. Ia berfikir keras bagaimana caranya agar Natasya bisa memaafkannya dan mencabut ucapannya.
Reni ngesot ke sana-sini mondar mandir di dalam makamnya yang hanya satu setengah meter panjangnya. Tangannya menghitung berapa kali ia mondar mandir. Reni terus bolak balik tanpa henti hingga semua jari tangannya mengepal yang berarti ia sudah mondar mandir sepuluh kali.
Tapi, itupun jika jari tangan Reni genap sepuluh. Seskipun, semua jari Reni sudah mengepal. Namun, ia belum menemukan ide sama sekali, otaknya beku persis seperti raga Reni.
Kalaupun Reni menemukan ide.tak tahan 1 menit sudah menghilang lagi bagai angin yang berhembus. Seisi kepala Reni seakan mati. Ia tak sanggup berfikir lagi. Padahal, dulu dia lumayan pintar. Pintar membuat alasan jika tidak mengerjakan PR atau telat datang ke sekolah.
Namun, kini Reni tidak secerdas dulu. Boro-boro buat mikir pelajaran. Buat mikirin gimana dia mencari tau supaya Natasya menarik ucapannya saja dia sudah tidak mampu bahkan buntu sebuntu-buntunya. Reni menghentikan gerakannya sejenak. Ia mendengar suara ketukan di batu nisannya.
\"Wah, siapa nih grimis-grimis gini ngetuk batu nisan gue? Jangan-jangan ada yang mau nyuri tali pocong gue lagi. Maklumlah, gue kan mati masih perawan. Wah, nggak bisa di biarin nih!\" Reni menengok siapa gerangan yang mengetuk-ngetuk batu nisannya. Tak berapa lama ia mengeryitkan keningnya setelah ia mengetahui siapa yang mengetuk-ngetuk batu nisannya.
“Eh, Lo ngapain ngetuk-ngetuk batu nisan Gue?\" tanya Reni.
“Sori, gue kedinginan nih,\" jawab seorang tuyul yang belum di kenalnya.
“Lo tuyul kesasar, ya?\" tanya Reni penasaran. Tuyul itu hanya menggeleng.
Tuyul itu pun menceritakan bahwa makam dia sudah lama. Jadi, makamnya sudah rata ama tanah
Tuyul itu sambil mendekapkan tubunya pada Reni. Reni pun merasa risih dengan sikap tuyul itu. Reni menjauhkan dirinya dari si tuyul yang terus mendekapkan tubuhnya pada Reni. Tuyul itu memohon pada Reni biar diijinkan berteduh di makamnya. Ia terlihat memelas pada Reni dengan wajah yang lumayan unyu-unyu. Akhirnya Reni pun terbujuk oleh kepolosan tuyul itu. Ia mempersilakan tuyul itu berteduh di makamnya.
“Ayo masuk!\" ajak Reni kepada si tuyul. Mereka berdua bebarengan masuk ke makam mungil Reni. Hampir setengah jam mereka berdua saling pandang tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulut masing-masing.
Reni diam memperhatikan orang botak yang hanya memakai celana dalam di hadapannya. Sang tuyul yang sedari tadi merasa di amati hanya nyengir-nyengir nggak karuan.
“Ngapain Lo nyengir-nyengir?\" ujar Reni ketus. Ia merasa kesal karna makamnya yang sempit, kini bertambah sempit berkat kehadiran si tuyul yang tak tahu nyasar dari mana.
Tuyul mencoba mencairkan suasana di antara mereka. Tuyul itu mengajak Reni berkenalan. Ternyata nama tuyul itu Sinyo. Dia sudah dua puluh tahun meninggal. Katanya juga dirinya masih keturunan bule.
“Selama Lo jadi tuyul, Lo nyolong duit siapa aja sih?” tanya Reni.
“Gue tuh tuyul alim. Daripada Gue nyolong duit mending Gue mengadakan konser setan sejagat raya,” jawab Sinyo. Reni terkejut mendengar tutur si tuyul yang ternyata bernama Sinyo itu. Ia heran ternyata ada juga artis setan. Apalagi konser seperti yang di ucapkan Sinyo.
Reni menghembuskan napas panjang. Ia pasrah dengan kehadiran Sinyo di makamnya. Hujan tak kunjung reda. Reni sudah bosan meski Sinyo terus mengajaknya ngobrol. Dia ingin cepat pergi menemui natasya untuk meminta maaf agar Natasya buru-buru mencabut omongannya tempo hari. Reni sudah tidak betah hidup bergentayangan. Apalagi setelah dia tahu kalau Rangga menolaknya mentah-mentah.
Sinyo memperhatikan Reni dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia sadar bahwa hantu yang sekarang ada di depannya adalah hantu yang paling imut yang pernah ia temui dari dua puluh tahun silam sejak ia meninggal. Beberapa menit kemudia hujan pun reda. Reni mengajak Sinyo ke diskotik.
******
Irama lagu yang menghentak jantung. Beberapa terlihat melakukan dance yang tak karuan. Reni melirik ke sekelilingnya. Ia ingat betul bahwa di tempat inilah dia bertemu pocong blasteran itu. Reni melepaska genggaman tangannya pada Sinyo.
Ia perlahan mendekat ke arah meja bar. Ia memesan minuman hantu. Ya biasalah, darah atau minuman lain non-alkohol. Reni meneguk gelas minumannya hingga habis. Saat ia meletakkan gelas minumannya. Ia melihat Ricky sudah berdiri di depannya sambil senyum-senyum nggak jelas.
“Lo?\" Reni terperanjak dari tempat duduknya dan hampir jatuh. Dengan sigap Ricky menahan tubuh mungil Reni. Merek berdua saling beradu pandang beberapa menit.
“Kayak film-film Korea aja,\" Sinyo membuyarkan khayalan sesaat mereka.
Ricky menunjuk ke arah Sinyo. Reni langsung menjawab, “Oh, ini tuyul nggak jelas namanya Sinyo.\"
“Hay,\" sapa Ricky manis.
“Hay juga,\" sapa Sinyo bengis.
Mereka bertiga saling melempar candaan yang membuat Reni melupakan masalahnya untuk beberapa waktu. Senyum manis Reni yang membuat hati Ricky selalu bergetar. Tatkala jantungnya pun berpacu berdegup kencang. Getaran-getaran cinta yang di rasakan Ricky saat pertama kali berjumpa dengan Reni.
“San, gue minta pin BB Lo dong?\"
“Apa? Pin BB ,emang hantu punya BB ?\" Reni heran karena baru sekarang dia tau bahwa Ricky punya BB selain punya i-pad dan bodyguard yang di bawanya saat pertama kali bertemu dengan dirinya.
“Punyalah, berapa pin BB Lo?\" tanya Ricky lagi.
Reni hanya menggeleng, “Pas gue di kubur nyokap gue kagak naroh BB gue di peti mati gue.”
Reni bertanya lagi, “By the way, Lo tuh kaya banget ya?\" tanya Reni heran.
“Hah, kaya? Hahaha...\" Ricky tertawa mendengar tutur Reni.
\"Kaya dari akhirat?\"
“Buktinya, Lo punya BB,I -pad bahkan bodyguard,\" jawab Reni.
“Eh, gue ceritain ya. Dulu waktu hidup gue tuh cuma seorang pemulung.\"
“What’s?” Reni dan Sinyo terkejut hampir bebarengan.
“Terus kok Lo sekarang kaya?\" tanya Sinyo.
“Jadi gini critanya, dulu Gue tuh pemulung. Matinya aja karena tetanus lalu bokap Gue ngubur gue di deket pohon beringin yang sono noh,\" ucap Ricky sambil mengarah keluar ke arah beringin yang terlihat lurus dengan pintu.
\"Karena bokap Gue nggak punya uang. Terus kata para hantu di sini punya kepercayaan. Siapa saja yang di kubur di sana bakalan jadi tuan mereka. Ya udah deh, sekarang gue jadi tuan mereka. Sebelumnya sih ada namanya pak Uwo tapi karena beliau udah masuk surga. Jadi, gue dah yang gantiin beliau. Itung-itung jadi generasi kedualah,\" jelas Ricky panjang lebar.
“Terus gue harus bilang WAW gitu?” sahut Sinyo ketus. Sinyo merasa tersaingi oleh Ricky.
Sejenak mereka terdiam. Reni melirik ke sekelilingnya ia tak mendapati kuntilanak yang biasa menemani Ricky. Reni menatap penasaran ke arah Ricky tanpa sepengatahuannya.
“Turun yuk!\" ajak Ricky pada Reni dan Sinyo.
Reni menolak ajakan Ricky dengan lembut. Ricky dan Sinyo bergoyang-goyang di ikuti irama yang senada. Reni hanya bisa tersenyum memperhatikan tingkah konyol ke dua teman barunya itu. Tak tahan tangan Reni mengetuk-ngetuk meja di depannya perlahan.
Reni semakin larut dengan irama yang awalnya ia tak mengerti sama sekali. Kini gerakan tubuh Reni bercampur dengan lagu di diskotik hantu itu. Semakin lama Reni semakin larut hingga ia tak menyadari bahwa Ricky dan Sinyo sedang mengamatinya dari jauh.
Ricky tertawa lepas melihat goyangan-goyangan yang dibuat Reni. Sedangkan Sinyo menahan tawanya karena ia tak mau Reni berhenti bergoyang karena mendengar tawanya. Alunan musik diskotik itu tiba-tiba berhenti.
Tak heran Reni pun ikut menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke kanan dan kirinya. Semua pengunjung yang datang tengah memperhatikan Reni. Muka Reni memerah dan ia mencoba menyembunyikan malunya yang amat sangat. Beberapa menit kemudian lagu di nyalakan kembali. Semua pun kembali bergoyang seperti semula. Ricky dan Sinyo menghampiri Reni yang sedang menundukkan kepalanya.
“Lo nggak apa-apa kan San?\" Sinyo mengangakat muka Reni yang masih tertunduk malu.
“Apa mereka dari tadi ngeliatin Gue?\" tanya reni berbisik.
\"Iya San.\" Sinyo menyaut dengan nada sedikit mengejek. Ricky yang melihat Reni menahan malu, tertawa kecil. Ia seperti merasa apa yang kini dirasakan oleh Reni.
“Gue cabut dulu ya!\" pamit Sinyo. Ia pergi meninggalkan Reni dan Ricky. Sekarang mereka hanya tinggal berdua saja menikmati alunan lagu malam ini yang pernah di nyanyikan Alm. Susana dalam filmnya yang bejudul malam satu suro alunan slow lagu itu membuat Reni dan Ricky terhenyut di dalamnya.
Mereka berdua seakan di bawa masuk ke dalam simphoni merdu lagu itu. Tapi apa daya kalau pun mereka ingin berdansa juga tak mungkin. Karena Reni sendiri ngesot dan Ricky tangannya terikat. Jadi hanya sebuah pandangan yang saling beradulah yang menyambungkan perasaan mereka.
Gubbrraakk....!
Terdengar suara tangan menghantam meja tepat di hadapan Reni dan Ricky. Dengan segera Reni dan Ricky pun menoleh ke arah tangan yang menepuk keras meja itu. Reni sangat terkejut mendapati sesosok kuntilanak yang berdiri di hadapannya dengan wajah amat menakutkan dan mata melotot hampir keluar.
Kuntilanak itu terus memandangi Reni dengan lekat. Walau sebenarnya Reni tak mengerti maksud dari pandangan tersebut. Reni dan kuntilanak itu saling menatap tajam tanpa sepatah kata pun keluar dari bibir masing- masing.
“Miss Key, apa-apaan sih Lo?\" tanya Ricky membentak pada sang kuntilanak.
“Oh, jadi ini gebetan baru Lo ya?\" kuntilanak itu malah balik bertanya pada Ricky.
“Apa sih maksud Lo?\" Ricky mencoba mengeluarkan tangannya dan menarik tangn miss Key. Namun miss Key segera menepisnya hingga Ricky tersungkur dan duduk kembali di kursi.
“Udah deh, Gue udah nggak percaya lagi sama Lo!\" kuntilanak yang bernama miss Key itu pergi meninggalkan Reni dan Ricky. Ricky menarik nafas panjang mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Reni yang tidak tau apa-apa bingung harus berbuat apa. Dia tak bisa mngejar miss Key yang otomatis larinya lebih kencang dari dirinya yang hanya ngesot. Reni juga berfikir bagaimana caranya menenangkan Ricky yang tertekan dengan pertengkaran singkat tadi.
\"Lo nggk apa-apa kan Rick?\" tanya Reni khawatir.
“Nggak apa-apa kok. Lo jangan dengerin apa kata kuntilanak sombong tadi ya,\" kata Ricky perlahan.
“Emang dia siapa, Rick?\"
“Dia itu pemenang miss kecantikan hantu se-Indonesia mangkanya dipanggil miss Key.\"
“Dia pacar Lo?\" tanya Reni singkat.
“Bukan, cuma mungkin perhatian Gue ke dia sama dia diartiin lebih,\" jelas Ricky.
\"Sudahlah jangan urusin kuntilanak macam dia!\" Ricky melangkah menuju meja bar dan memesan sebuah minuman bersoda.
Malam itu Reni dan Ricky lewati dengan canda-canda konyol yang keluar secara spontan dari mulut mereka. Reni mengerti satu hal kalau Ricky merasa dirinya sedikit tertekan dengan apa yang telah menjadi miliknya kini ketenaran, kewibawaan dan jabatan yang ia miliki sebagai penerus Pak Ewo.
******
Angin berhembus pelan meniup rambut indah Reni. Suasana damai kini menyelimuti dirinya. Reni merasa tidak punya beban apapun. Meski dia tahu dia harus segera bertemu Natasya.
Mungkin gentayangan sedikit mengasyikan dari yang ia fikirkan semula. Kini Reni menikmati jadi hantu sepenuhnya. Bisa keluar masuk rumah orang seenaknya tanpa takut di marahi. Reni keenakan berayun di bawah pohon bunga jepun yang tumbuh rindang di dekat makamnya.
Reni senyum-senyum sendiri. Ia tak menghiraukan walau banyak hantu yang lalu lalang di dekatnya. Maklumlah makam Reni ini adalah salah satu jalan utama menuju minimarket hantu yang lumayan luas. Setiap hantu yang lewat pasti memandang aneh kepada Reni. Tapi Reni tak perduli. Toh, hantu juga kadang tiba-tiba tertawa jegigisan sendiri tanpa alasan yang pasti.
“San, Lo lagi ngapain?\" Ricky tiba-tiba muncul di hadapan Reni hingga membuat Reni terkejut dan gelagapan menjawab, \"Lo ngapain ke sini?\" tanya Reni balik.
“Tadi Gue habis belanja. Gue sempetin sebentar main ke sini.\"
“Belanja? Belanja apaan?\"
“Belanja udara. Nggak ada sih cuma cuci mata aja.\" Ricky memandangi wajah imut-imut Reni.
Ricky berfikir kalau seandainya Reni mau menjadi pacarnya, seisi pemakaman akan gempar. Apalagi dia tahu kalau dirinya adalah orang yang paling di puja-puja seluruh setan di pemakaman itu. Ricky takut kalau Reni menjadi pacarnya. Ia akan terkucilkan karena Ricky yakin gadis-gadis hantu yang mengejarnya akan memusuhi Reni. Ricky tidak mau itu semua terjadi pada Reni. Ricky lebih memilih memendam semua perasaannya dulu hingga ada waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Reni. Reni bingung melihat tingkah Ricky yang senyum-senyum padanya. Segera Reni menepuk Ricky yang termatung.
“Woy, bayangin apa Lo? Jangan-jangan...\"
“Apaan sih? Gue nggak ada bayangin apa-apa. San, Sinyo temen alay Lo itu kemana?\" tanya Ricky mengalihan pembicaraan.
“Sinyo pergi ke Amerika bentar katanya sih mau duet rapper bareng drakula.\"
“Duet rapper?\" tanya Ricky.
Reni hanya mengangguk, \"Menurut Lo kalau kita pernah di tolak sama seseorang apa kita harus membenci orang itu atau kita harus tetap menyayanginya?\" tanya Reni.
Suasana teras hening saat Reni berkata lembut pada Ricky. Seolah ricky pun merasuk ke dalam pertanyaan tersebut. Bahkan Ricky membayangkan seandainya dirinya menyatakan cinta pada Reni dan Reni menolakny, apa dia harus membenci Reni atau tetap menyayangi Reni.
Ricky seakan tak dapat menjawab apapun. Fikirannya kosong menerawang ke alam lepas.
\"Rick, Ricky...\"panggilan dari Reni langsung membuyarkan lamunan Ricky.
\"Iya, San,\" Ricky gelagapan
\"Menurut Lo gimana San pertanyaan Gue tadi?\"
\"San,lain kepala pasti lain pemikirannya. Semua pemikiran dan keputusan itu di tentukan dari diri Lo sendiri. Percuma kalau Lo nanya pendapat dari orang lain sedangkan pendapat Lo sendiri nggak nyampe sama perasaan Lo. Lo tau kan jam? meskipun bentuk jam itu berbeda-beda. Entah itu kotak, segitiga atau apapun tetap saja dia berputaf tidak zigzag. Sama seperti Lo meskipun banyak pendapat-pendapat dari orang di sekitar Lo tapi kalau tekat Lo sudah bulat tidak akan merubah apapun.\"
\"Benar juga Rick, adi menurut Lo, Gue yang harus memilih dan menentukan jawaban dari pertanyaan Gue tadi ?\" Susan balik bertanya.
Ricky hanya menganggukkan kepala. Meski di hati ricky dia ingin sekali Reni membenci lelaki yan ia maksud. Namun, semua keputusan ada di Reni. Ricky hanya bisa menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
Reni berfikir keras. Dia masih bimbang apa dia harus membeci Rangga atau tetap menyayangi Rangga meski sebenarnya jauh di dalam lubuk hati Reni ia masih mememdam perasaan pada Rangga.
Tapi kata-kata Rangga juga ada benarnya, bahwa mereka berdua tidak akan menyatu karena perbedaan alam.
\"San, Gue punya ide. Gimana kalu Lo tingga di rumah Gue aja. Dari pada Lo di sini sendirian?\"
\"Serius Lo? gue mau banget.\" Reni dan Ricky begegas menuju rumah Ricky yang terkenal megah. Namun,tak ada satu manusiapun yang tahu kalau di samping pohon beringin itu ada rumah yang mewah karena rumah itu berada di alam yang berbeda.
Sampai di depan rumah Ricky yang mirip dengan istana. Mereka berdua tak lantas langsung masuk.
Tapi Reni terus mengamati sekelilingnya. Ia takjub dengan rumah ricky. Rumah itu tak seperti rumah hantu melaikan seperti rumah di kerajaan-kerajaan Inggris. Sangat tak bisa dinalar logika kalau di dunia setan ada rumah semegah rumah Ricky.
Melihat Reni yang terdiam seribu kata Ricky mencoba membuyarkan lamunan gadis manis itu.
\"Woy, santai aja liatnya!\"cetus ricky sambil menyenggol Reni.
\"Lo serius ini rumah Lo?\"
\"Seriuslah, liat tuh depan gerbangnya aja namanya \'pokenah\' tuh,\" Ricky memperlihatkan tulisan yang berada di depan gerbang rumahnya.
\"Pokenah tuh apa sih artinya?\"
\"Pokenah tuh singkata dari Pocong Keren, Enak dan Hasik gitu,\" Ricky menjelaskan.
\"Oh, pantesan waktu ini Gue liat ada di balik punggung Lo. Tapi, kok sekarang nggak ada?\" tanya Reni heran
\"Eh, Lo kira pocong nggak boleh ganti kain kafan?\"
\"Jadi Lo juga sering ganti kain kafan?\"tanya Reni semakin tercengang.
\"Tentulah! yuk masuk,\" ajakan yang dari tadi ditunggu Reni.
Reni dan Ricky melangkah berdampingan memasuki rumah mewah bak istana itu. Meski Reni ngesot dan Ricky mrlompat-lompat lebih cepat dari Reni Susan Rick sabar menunggu Reni yang ngesot pelan tapi pasti.
Rumah Ricky tak hentinya membuat Reni takjub. Saat Reni sudah berada di dalamnya ia dibuat terperanga oleh tatanan menawan nan elegant seisi rumah mewah Ricky.
Amazing! Reni tak hentinya terus memuji rumah Ricky. Reni melihat ke sekelilignya banya hantu yang berkeliaran ke sana kemari seenaknya. Tapi, setiap hantu yang melewati Ricky dan Reni memberi hormat sopan. Ricky pun membalasnya dengan menunduk sopan pula.
Reni juga berfikiran kalau seandainya rumah Ricky ini dapat di lihat oleh manusia mungkin akan jadi fenomenal karna rumah ricky benar-benar seperti istana-istana di cerita dongeng.
Reni seperti di bawa ke alam mimpi oleh Ricky. Ricky yang melihat Reni melongo dalam awangnya membuyarkan semua itu.
\"Lo mau kan tinggal di sini?\"tanya ricky lirih
\"Siapa sih yang bakal nolak tinggal di rumah semewah ini?\" Reni menjawab mantap.
\"Sukur deh kalau Lo mau tinggal di sini. Soalnya,...\" Ricky menghentikan perkataannya.
\"Lo kenapa Rick?\"
\"Gue kesepian San,\" kata Ricky semakin bergetar.
\"Lo serius, kesepian ? rumah Lo sungguh besar dan banyak hantu-hantu yang lain. Tapi kenapa Lo merasa kesepian?\" tanya Reni lirih.
\"Nggak tau San, tapi Gue memang selalu merasa kesepian meski banya hantu di sekitar Gue. Gue selalu ngerasa sendiri. Sejak gue ninggalin bokap Gue. Nggak ada satu hantu pun yang bisa ngebuat gue merasa tidak sendiri di alam fana ini. Tapi…semenjak Gue kenal Lo kata itu seakan berubah. Gue selalu ngerasa ada sahabat Gue yang selalu nemenin gue.\" Mata Ricky mulai berbinar kebahagiaan.
\"Rick, gue akan selalu nemenin Lo kok. Jadi lo jangan ngrasa sendiri lagi ya.\"
\"Thanks San, gue sungguh bahagian bisa bertemu sama lo. Lo janji kan nggk bakalan ninggalin Gue?\"
\"I am promise,\" Reni menatap Ricky dengan senyum manisnya yang terpancar indah. Reni juga besyukur bisa kenal dengan Ricky. Ia mungkin mengira kalau dirinya hanya menyusahkan Ricky. Ternyata,dugaan Reni selama ini salah. Mereka saling mebutuhkan.
*****
Di sisi lain...
Rangga yang merasa bersalah karna telah menolak cinta Reni. Rangga terus mencari Reni ke sana ke mari. Rangga ingin Reni kembali menemaninya di rumah tuanya.
Rangga sudah beberapa kali datang ke makam Reni. Namun, dia tak pernah bertemu dengan Reni. Bahkan Rangga pernah bermalam di makam Reni agar bisa bertemu dengan Reni tapi sama saja hasilnya nihil.
Rangga benar-benar kawatir dia takut terjadi apa-apa dengan Reni. Saat ini yang Rangga ingin tau hanya di mana Reni, sedang apa dan dengan siapa? Rangga tak habis pikir kenapa Reni beneran ninggalin dia sendiri.
Dan yang paling membuat Rangga merasa bersalah adalah karna dia sudah berjanji pada Reni akan menemaninya dan membantunya menemui Natasya. Rangga tak tau lagi harus mencari Reni ke mana.
Dirinya sudah kepayahan mencari Reni hingga keliling pemakaman. Rangga duduk di pinggir trotoar merenungi kesalahnnya sendiri.
\"San, Lo di mana sih?\"kata Rangga bertanya sendiri pada dirinya. Sinyo yang kebetulan baru pulang dari Amrik memeperhatikan sosok Rangga yang kebingungan.
\" Wah, mangsa nih. Mumpung dia lagi sendiri dan kayaknya lagi galau, \"Sinyo berinisiatif untuk mencopet Rangga.
Rangga yang mengetahui kedatangan Sinyo mengira Sinyo mau mendengar curhatan dia.
Sinyo perlahan mau merogoh kantong celana Rangga.
\"Kenapa sih dia ninggalin Gue sendiri. Gue kan jadinya kesepian, \"kata Rangga tiba-tiba yang membuat Sinyo sedikit terkejut. Sinyo melanjutkan aksinya.
\"Padahal, Gue udah nyari dia ke mana-mana tapi dia tidak ada.\" Kata Rangga lagi. Tanpa merespon ucapan Rangga, Sinyo memcoba merogoh lagi kantong celana Rangg.a
\"Gue tahu gue udah salah. Gue cuma mau minta maaf sama dia…\"suara Rangga sedikit kencang.
Sinyo merasa heran dengan orang yang akan di copetnya.
\"Dasar orang stress,\" kata Sinyo mengurungkan niatnya dan beranjak pergi.
\"Thanks ya Lo udah mau dengerin curhat gue,\" kata-kata Rangga langsung menghentikan langkah Sinyo.
\"Maksud Lo, Lo tadi ngomong sama Gue? Lo bisa liat Gue?\" Sinyo mendekati Rangga lagi.
\"Ya iyalah, emang Gue bicara sama siapa kalau nggak sama Lo?\" Rangga menjawab dengan enteng. Sinyo keheranan mengapa orang yang di depannya dapat melihat dia.
\"Lo kok bisa lihat Gue?\"tanya sinyo
\"Gue pakek kacamata ini,jadi Gue bis lihat Lo!\" Ranggan menunjuk ke kacamata yang sedang ia kenakan.
\"Lo siapa?kenapa bisa punya kacamata itu?\"Tanya Sinyo. Ia mengetahui bahwa kacamata yang sedang dipakai Rangga adalah kacamata kuno dan antik.
\"Nama gue Rangga lo sendiri?\"
\"Gue Sinyo. Eh, lo tadi crita apaan sih. Gue nggak ngerti?\"
\"Tadi gue cerita kalau gue punya temen hantu yang namanya Susan ia sahabat gue pas masih hidup. Tapi, sekarang ia nggak tau ke mana ?\"
\"Susan!\" merasa mengenal orang yang disebut Rangga. Sinyo langsung menunjukkan di mana susan sekarang berada. sinyo sudah tau kalau Susan berada di rumah Ricky karena tadi dia sempat vidio call an dengan Ricky.
Rangga terus mengikuti langkah Sinyo menuju rumah Ricky.
\"Susan yang gue maksud Susan ngesot lho,\" Rangga mencoba mengingatkan pada Sinyo
\"iya Gue tau. Udah deh ikut aja!\" Sinyo terus melangkah sambil menenteng tas bawaannya yang terlihat tak terlalu berat.
\"Ini dia tempat tinggal baru Susan,\" Sinyo menunjukkan rumah megah Ricky.
Rangga langsung terkejut saat mengetahui ternyata di pemakaman ada rumah semewah itu. Rangga tak hentinya mengamati sekitar, sedangkan Sinyo langsung masuk tanpa mengajak Rangga yang masih terpaku di depan gerbang.
\"Susan...Ricky...!\"seru Sinyo dari halaman depan. Namun, tak ada jawaban sama sekali hingga ia memutuskan untuk masuk dan mencari tahu keberadaan Reni dan Ricky.
Sinyo tak hentinya memanggil Reni dan Ricky sampai akhirnya Reni mendengar panggilan dari Sinyo.
\"Nyo, katanya Lo ke Amrik?\" Tanya Susan.
\"Udah pulang, tuh di luar ada manusia nyariin Lo,\" kata Sinyo sambil meletakkan tasnya.
\"Siapa?\" Sahut ricky yang juga mendengar perbincangan mereka.
\"Seorang cowok yang pakai kacamata kuno.\" Sinyo menjelaskan terang-terangan.
\"R a n g g a…itu pasti Rangga!\" Reni seakan tak percaya apa yang ia dengar dari Sinyo.
Reni mendadak bingung, di dalam hati terdalam Reni rindu sekali akan Rangga. Tapi hampir satu minggu dia tinggal bersama Ricky Reni tidak bisa memungkiri hatinya mulai timbul benih-benih kasih sayang. Yach Ricky diam-diam mulai mencuri hatinya dan semua tanpa paksaan. Reni merasa tersanjung! Belum pernah selama ini dia merasa dicintai dengan tulus, bahkan Adit-pun hanya mencampakan dia dengan sangat menyakitkan! Adit berkamin dengan saudara kembarnya sendiri. Dan Rangga lelaki yang diam-diam mulai merasuk dalam kalbunya saat dia hidup, juga semakin nyata menyingkirkannya saat telah memberikan harapan di alam kematiannya. Walau dengan alasana rasionalipun sekaligus yang sangat menyakitkan. Mereka beda alam! Walau Rangga bisa mnembus alamnya.
Ricky bisa membaca kebingungan yang terpancar di wajah Susan. Ricky tahu benar Susan di lema.
“Susan, temuilah Rangga. Kenapa kamu ragu ? it’s okay … everything I gonna be alright ! “

Other Stories
Bekasi Dulu, Bali Nanti

Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...

Puzzle

Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Hikayat Cinta

Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Download Titik & Koma