Trio Ketoprak
“Renitaaa…!!!”
Suara Abel melengking memenuhi kantin. Bahkan, saking melengkingnya suara cewek berbadan bongsor itu, kaca-kaca jendela sampai bergetar diikuti dengan suara ‘prang!’ keras. Bukan, itu bukan suara kaca yang pecah melainkan suara mangkuk bakso yang terjatuh hingga isinya tercecer mengenaskan di lantai.
“Abel!” tegur cowok yang tadinya memegang mangkuk bakso itu. “Bisa nggak, sih, nggak teriak-teriak? Gara-gara lo, gue jadi kehilangan makan siang gue, nih!”
“Diem lo, Boncel!” sahut Abel sambil melengos pergi.
Si cowok yang dipanggil Boncel mendecih sebal. Dia memandang dengan nelangsa baksonya yang tumpah ruah. Padahal, itu bakso dapat ngutang dari Ibu Kantin. Sekarang dia harus menahan lapar sampai pulang nanti. Rencananya, dia akan nebeng makan—lagi—sama teman sekosannya.
Mengabaikan si Boncel, Abel menggebrak meja di sudut belakang kantin. “Nggak usah sembunyi, deh!”
Dari bawah meja yang digebrak Abel, muncul seorang cewek berambut sebahu. Dia memegangi kepalanya yang barusan terantuk meja. “Eh, elo Bel,” ujarnya sambil cengengesan. “Udah kelar kelasnya?”
Abel cemberut dan mengempaskan pantatnya di kursi. “Lo sengaja, kan, ngubah nada dering ponsel gue?” tuduhnya tanpa tedeng aling-aling.
“Hah?” Renita melongo, tapi Abel hanya mengibaskan tangannya. “Nggak usah pura-pura, deh. Dasar Susan!”
Renita terkikik. Dia nggak keberatan dipanggil Susan. Suaranya memang cempreng tingkat dewi—bukan dewa, ya, Renita kan cewek!—meski secara fisik, sih, cewek ini yakin 200% kalau dia jauh lebih cakep daripada Susan. Dia punya mata sipit macam artis-artis Jepang, sementara Susan matanya belok. Renita tinggi, Susan pendek. Dia juga punya kaki jenjang yang sering bikin dirinya keserimpet-serimpet saat jalan, sementara Susan… jangankan kaki jenjang aduhai, boneka itu bahkan nggak bisa jalan! Iya, kan? Susan selalu digendong. Makanya Renita yakin dirinya lebih cakep daripada si boneka usil. Satu-satunya hal yang menyamakan keduanya adalah suara cempreng Renita dan keusilannya. Oke, itu dua hal.
“Serius, deh, Re,” kata Abel lagi. “Lo ngapain, sih, pakai iseng ngubah nada dering gue? Tadi itu gue lagi ada kuis. Mana ini kelasnya Pak Budi, lagi. Berkat lo, gue jadi diusir dari kelas.”
“Serius lo diusir?” tanya Renita. Dia nyengir lebar saat melihat anggukan Abel. “Pantesan lo bisa keluar lebih cepet.” Cewek itu makin ngakak saat Abel menimpuknya dengan selembar tisu. Ya elah, Bel, tisu selembar doang mana bikin sakit…. Kecuali kamu menimpuknya satu boks!
“Dasar Susan!” gerutu Abel. “Seneng banget lo ketawa di atas penderitaan gue.”
“Sori, sori…. Ya udah, sebagai permintaan maaf gue, lo gue traktir, deh.”
Wajah Abel berubah cerah macam ada bohlam menyala di kedua pipinya. Matanya berbinar-binar seperti baru mendapat hadiah semilyar.
“Gue tahu lo laper, kan, abis marah-marah. Hihi, sana pesen makan yang banyak.”
Abel berdiri. Tapi sebelum melangkah, dia memicingkan mata ke arah sohibnya sedari SMP itu. “Lo beneran traktir, kan? Nggak akan kabur, kan?”
“Iya, iya. Kapan, sih, gue bohong sama lo?”
“Sering!”
Kali ini Renita sukses ngakak sambil guling-guling. Benar-benar gegulingan. Cewek absurd itu melompat turun dari kursinya dan tertawa sambil memegangi perutnya.
“Dasar sarap!” umpat Abel sebelum berlalu. Renita abai. Dia masih tertawa sambil memegangi perutnya.
Sebuah telapak tangan mendarat di kening Renita nyaris membuat cewek itu terjengkang.
“Nggak panas,” gumam Iko si pemilik tangan. “Lo ngapain ketawa sampai segitunya?” tanya cowok cungkring kerempeng bin kering kerontang itu. Alisnya bertaut membentuk garis-garis manja di keningnya yang membuat siapa saja kepingin nabok. Sebuah kacamata yang selalu melorot bertengger di hidungnya. Iya, hidung, bukan mata. Eh, tunggu, kacamata kan nggak bisa nangkring di mata, ya? Oke sekip.
Cowok itu bernama Iko, anggota terakhir sekaligus paling ganteng di antara tiga sahabat yang memproklamasikan diri mereka sebagai Trio Ketoprak—keren, ngetop, dan antinorak—itu. Iya, Trio Ketoprak. Geng—yang nggak mau disebut geng—koplak itu beranggotakan Abel si gendut tembem bongsor pemarah, Renita si Harley ‘Susan’ Queen KW10, dan Iko si kurus kerempeng tinggi menjulang berkacamata minus sekian. Ketiganya kenal saat duduk di kelas yang sama sewaktu SMP, yaitu kelas 3C. Mereka bersahabat baik sejak saat itu.
Suatu ketika di siang hari saat ketiga insan beda segalanya itu berjalan tertatih-tatih karena kelaparan setelah mengikuti pelajaran tambahan—gara-gara nilai ketiganya jeblok, Abel melihat keajaiban. Keajaiban berwujud mamang-mamang berkaus entah-cokelat-entah-putih, memakai topi anyaman pandan dengan handuk lap di leher, dan mendorong gerobak ketoprak.
“Ketoprak!” seru Abel seketika saat itu. Dia pun langsung berlari menyerbu si tukang ketoprak, diikuti oleh Renita dan Iko. Ketiganya makan dengan barbar. Tak sampai tiga menit, tiga piring ketoprak porsi jumbo sudah habis mereka lahap. Abel bahkan nambah!
Setelah perut masing-masing terisi, ketiganya termenung menatap piring ketoprak yang kosong. Lalu, seolah bertelepati, ketiganya saling pandang.
Renita tersenyum. “Gue setuju!” Dia mengangguk yakin.
“Hah?” Abel dan Iko berpandangan. “Setuju apaan, Re?”
“Kelompok kita ini,” sahut Renita. “Kalian mau mengusulkan kalau nama kelompok kita adalah Trio Ketoprak, kan? Gue setuju.”
“Hah???” Abel dan Iko makin speechless. Kapan mereka ngomongin soal usul nama? Dan, apa-apaan nama ketoprak itu?
Tapi Renita sudah manggut-manggut sok paham. “Gue ngerti, kok. Kalian pasti sungkan, kan, mau ngungkapinnya. Nggak apa-apa, gue setuju, kok. Trio Ketoprak lumayan juga. Ketoprak. Keren, ngetop, antinorak. Oke deal!”
Abel dan Iko nggak bisa berkata-kata. Saat itu mereka belum lama kenal dan Renita terlihat sangat bersemangat. Mereka merasa kasihan ingin menolak. Maka, sejak saat itu mereka menjadi Trio Ketoprak. Siapa sangka, ternyata semangat Renita nggak pernah pudar. Bahkan, semakin hari cewek itu semakin absurd saja. Kalau Abel dan Iko ditanya kenapa mau berteman dengan cewek absurd itu, jawabannya… telanjur!
“Biasa, Ko, dia lagi kumat sarapnya.” Abel yang sudah kembali dengan semangkuk bakso porsi jumbo menyahut.
Iko mengikuti Abel duduk. “Ngapain lagi?” tanyanya, mencomot bakso di mangkuk Abel.
Si bongsor melotot gemas. “Balikin nggak tuh?” ancamnya mengacungkan garpu.
Mulut Iko yang sudah menganga lebar siap menampung bakso dengan terpaksa mingkem lagi. Abel itu kerjaannya marah-marah. Kayaknya, nggak ada hari tanpa mencak-mencak di hidupnya. Makanya selain Si Susan, Iko juga kadang menjahilinya. Tapi tentu saja, kejahilan Iko hanya sebatas mencomot makanan yang dipegang si bongsor atau nyeruput minumannya tanpa izin. Cowok yang lebih mirip tiang listrik itu bakal langsung mengkeret kalau Abel sudah melotot. Ya iyalah. Dibandingkan Abel yang sesempurna angka nol, Iko cuma segaris tipis angka satu. Pokoknya, kalau mereka lagi jalan berdua, mereka bakal terlihat persis seperti angka sepuluh. Nah, dengan perbedaan fisik yang mencolok begitu, Iko mana berani adu otot sama Abel. Bisa-bisa dia malah terempas ke tembok!
Berbeda dengan Iko, Renita sama sekali nggak ada tampang bersalah meski sudah usil. Cewek absurd yang mengaku masih saudara dengan Harley Queen gara-gara tanda cinta di pipinya itu sepertinya sudah karatan urat sarafnya. Ada saja tingkah-tingkah konyolnya yang kadang agak keterlaluan. Seperti mengganti nada dering ponsel Abel, misalnya. Ya, kalau lagu yang dipilih jenis lagu yang kalem mendayu-dayu begitu. Lha ini, sudah musiknya nggak jelas, nyanyinya pun cuma ‘wacaca caca caca’ gitu doang. Setidaknya, itu yang terdengar di telinga Abel.
Nah, tentu saja abel ngamuk. Sudah dasarnya si bongsor nggak suka musik macam begitu, eh ponselnya malah bunyi di saat yang nggak tepat. Pak Budi itu terkenal seantero kampus sebagai dosen super duper killer kuadrat dikali empat. Benar-benar saat itu Abel kepingin memutilasi cewek absurd bernama Renita yang sialnya adalah sahabatnya semenjak SMP itu!
Renita menguap lalu menengok jam di ponselnya. “Bosen, nih. Main, yuk!”
“Gue masih ada kelas,” sahut Iko. Abel ikut-ikutan mengangguk, dia lagi nggak bisa ngomong karena mulutnya penuh. Dan dia masih ada kelas.
“Ah, kalian nggak asyik!’’ Renita mengucapkan kata terakhir dengan ‘sy’ tebal ala si Ratu Dangdut. Cewek bertanda lahir model cinta di pipinya—sebenarnya tompel yang entah bagaimana sang malaikat melukisnya jadi berbentuk begitu—itu bangkit. “Kalau gitu gue duluan, deh. Daaah…!”
Melihat sahabatnya hendak pergi, Abel buru-buru menelan bakso di mulutnya. “Tungguin, Nyet!” seru Abel. Setelah terbatuk-batuk sebentar dan menyeruput jusnya untuk melegakan kerongkongan, dia melanjutkan, “Jangan main kabur, dong!”
Renita balas menatap heran. “Hah? Kan lo bilang nggak bisa main karena ada kelas.”
“Dasar Susan! Kan lo janji mau traktir gue. Nih, bayar dulu sebelum pergi.”
“Kok gue nggak ditraktir juga?” Iko nyerobot. “Gue ikut!” Si cungkring langsung memelesat ke depan dan memesan semangkuk bakso porsi jumbo. Dia kembali beberapa saat kemudian sambil cengengesan.
Renita mendengus. “Makan sebanyak itu, kok lo bisa tetep cungkring, sih.”
“Lo nyindir gue?” Di luar dugaan, Abel yang emang dasar sifatnya gampang kesetrum itu sewot. Memang, masalah berat badan selalu sensitif bagi Abel. Padahal, baik Iko maupun Renita nggak menganggap itu sebagai kekurangan. Ya, jelas, itu kelebihan Abel. Kelebihan daging dan lemak. Eh, enggak ding. Renita dan Iko serius, kok, nggak mempermasalahkan itu. Mereka berdua menerima Abel apa adanya. Mereka tetap sayang, kok. Meski sering jahil.
Other Stories
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Cinta Dua Rasa
Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...