Susan Ngesot Reborn

Reads
2.9K
Votes
0
Parts
13
Vote
Report
Penulis Mega Yohana

Kangen

Baru seminggu sejak duel Manusia vs Dedemit yang dimenangkan oleh Iko sahabatnya, Renita sudah gelisah-galau-merana. Dia jadi baper sekarang. Merasa kesepian. Nggak ada yang mengajaknya ngobrol, membuatnya tertawa dengan tingkah-tingkah konyol, atau membuat Renita sebal dengan pernyataan-pernyataan cinta.
Seminggu ini jadi sunyi tanpa Nico. Biasanya, pada saat seperti ini Renita akan mendengar suara lompatan Nico dengan kostum kafan khasnya. Lalu Renita menjadi sebal. Apalagi saat Nico menampakkan batang hidungnya disertai cengiran lebar. Kemudian, dedemit cowok itu akan merecoki Renita dengan tingkah-tingkah absurd konyol nggak jelas-nya. Belum lagi rayuan gombal si pocong kredibel yang nggak jauh-jauh dari ide menjadikan Renita pacarnya.
Hhh…. Renita mendesah. Kok hidup—eh, gentayangannya jadi membosankan begini, ya.
Renita mengingat lagi akhir dari duel manusia cungkring versus si hantu bungkus tempo hari. Iko memanfaatkan kesempatan saat Nico mengendurkan pitingannya. Cowok kerempeng itu langsung melemparkan pukulan.
Nico terjengkang. Kunti mulai menghitung. Tapi Renita dapat melihat tatapan si hantu bungkus lurus mengarah padanya. Dan saat itu… tiba-tiba Renita merasa dadanya sesak. Dia melihat tatapan terluka di mata Nico. Tatapan kecewa.
Nico tahu.
Dedemit cowok itu tahu Renita sengaja memosisikan dirinya di sana. Boneka susan itu sengaja agar saat Iko terjatuh, cowok itu menindihnya.
“Sepuluh!” Kunti sampai pada hitungan terakhir.
Sorak-sorai para hantu ramai terdengar. Mereka bertepuk tangan, melompat, melayang, berhamburan ke arah Iko yang masih melongo. Nggak percaya satu pukulan darinya bisa langsung membawa si cungkring pada kemenangan.
Baru setelah beberapa detik kemudian, kedua sudut bibir Iko tertarik lebar.
“Yes!” Cowok kerempeng itu meninju udara. “Ye…, ye, gue menang, gue menang…. Wuhuuu…!” Iko melompat-lompat kegirangan dan mulai menari alay.
Dia lalu menghampiri Renita dan menatap ke arah Nico yang masih terduduk di aspal. “Inget, ya,” katanya, “sesuai perjanjian lo harus jauhin Renita!”
Nico bangkit. Tanpa berkata apa pun dia mengambil kain kafan dan talinya yang teronggok di trotoar. Para dedemit menyingkir saat si hantu bungkus lewat.
Sebelum pergi, Nico berbalik dan menatap Renita.
“Gue harap lo bahagia dengan ini, Renita.”
Renita. Ini kali pertama si hantu bungkus memanggilnya begitu. Dan mungkin yang terakhir.
Tiba-tiba dada Renita terasa sakit. Boneka susan itu hanya menatap nanar saat wujud hantu Nico memudar lalu menghilang. Dedemit-dedemit lain pun ikut menghilang, kembali ke persemayaman masing-masing.
Iko masih larut dalam euforia kemenangannya. Cowok itu kini malah selfie sambil tetap bertelanjang dada.
“Meski cungkring asal selamat.” Begitu kata Iko sambil mengetikkan caption untuk foto yang dia unggah. Bibirnya masih nyengir-nyengir nggak jelas. Setelahnya dia malah sibuk membalas komentar-komentar yang masuk sampai-sampai nggak menyadari kalau Renita sudah mengesot pergi.
Selesai dengan ponselnya, Iko celingukan.
“Re?” panggilnya. “Lo di mana?”
Nggak ada sahutan. Iko menggaruk tengkuknya. Dia merinding—eh, nggak jadi ding. Dia kan baru saja menang duel lawan pocong. Disaksikan puluhan dedemit pula.
Cowok itu merengut. Padahal Renita berjanji akan merawat lukanya. Tapi ternyata si boneka susan malah pergi entah ke mana. Terpaksa Iko mengompres sendiri memar-memarnya dan menempelkan plester. Setelah selesai, cowok cungkring kurus kering itu menyantelkan kotak P3K-nya, memakai kembali jaket gombrangnya, dan pulang dengan motor bututnya.
Selepas Iko pergi, Renita muncul dari balik semak-semak. Dia tadi nggak pergi jauh, kok. Cuma ngumpet di balik semak. Dia kepingin keluar tadi saat Iko memanggil, tapi kakinya keserimpet akar semak. Si boneka susan perlu berusaha keras membebaskan kakinya. Dan saat berhasil, Iko sudah melaju dengan motornya.
Renita meraih ponsel di kantung bajunya. Dia mengirim pesan terima kasih kepada Iko. Nggak lupa ditambahkannya dengan emoticon senyum. Meski senyum yang sama nggak terlihat di wajahnya.
Esok dan esoknya lagi, Nico nggak datang. Meski Renita menunggu di tempat si hantu bungkus biasanya muncul, dedemit cewek itu nggak pernah lagi bertemu dengan si pocong kredibel. Renita pernah bertanya kepada Kunti dan Sundel, tapi keduanya hanya menggeleng. Seminggu berlalu dan sekarang Renita jadi makin merana karena diam-diam… dia kangen.
Bunyi pesan masuk mengusik Renita. Dari Iko.
Seminggu ini Renita memang menghindari sahabatnya itu. Dia selalu beralasan setiap kali Iko bilang akan mengunjunginya. Pernah sekali Iko datang tanpa memberi tahu, tapi begitu melihat motornya dari jauh, Renita langsung mengesot pergi dan ngumpet di balik semak.
Renita membuka pesan Iko.
Sebelum Renita menjawab, pesan lain muncul dari Iko.
Renita mendesah. Ponsel dia letakkan. Nggak ingin melanjutkan obrolan. Dia sendiri masih bingung. Bukankah ini yang boneka susan itu inginkan? Kok, sekarang malah baper.
Nggak, nggak.
Renita menggeleng. Dia hanya merasa nggak enak waktu melihat tatapan Nico yang tampak terluka. Tatapan kecewa si hantu bungkus. Kepadanya. Renita.
Kemenangan Iko nggak fair. Renita sudah melakukan trik agar konsentrasi si hantu pocong terganggu. Boneka susan itu tahu, perhatian Nico akan teralihkan jika melihat dirinya dalam bahaya. Renita sangat tahu ini karena dedemit cowok itu pernah melakukannya sebelumnya.
Saat itu Renita sedang kesal. Dia sebal karena Nico terus merecokinya dengan pernyataan cinta yang terdengar absurd alay lebay di telinga si boneka susan. Jadi Renita pun mengesot pergi. Nico melompat mengejarnya, tapi lagi-lagi si pocong kredibel keserimpet dan berakhir menggeliat-geliat di trotoar. Renita nggak peduli. Dia terus mengesot pergi menyeberangi perempatan. Tanpa dia sadari, sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi. Renita hampir saja terlindas. Tapi tidak. Begitu melihat si boneka susan terancam gepeng, Nico langsung memelentingkan tubuhnya dan terbang menyambar Renita.
Bunyi pesan lagi-lagi mengalihkan Renita dari acara melamunnya. Masih dari Iko.
Renita nggak membalasnya. Nggak tahu mesti menjawab apa.
***

Other Stories
Kisah Cinta Super Hero

cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Saat Cinta Itu Hadir

Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

Download Titik & Koma