Susan Ngesot Reborn

Reads
2.9K
Votes
0
Parts
13
Vote
Report
susan ngesot reborn
Susan Ngesot Reborn
Penulis Mega Yohana

Akhir Bahagia

Renita membelalak. Tangannya bergerak mengucek kedua matanya. Boneka susan itu nggak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Di ujung jalan sana, sesosok pocong melompat-lompat mendekat.
Renita gugup. Dia harus bagaimana, ya? Apa kabur saja? Oke, sebaiknya begitu.
Cepat-cepat Renita mengesot pergi. Tapi baru semeter, boneka susan itu berhenti. Kalau dia kabur, nggak bisa ketemu si hantu bungkus, dong!
Eh, tapi kan Nico sudah kalah dalam duel tempo hari. Sesuai perjanjian, dedemit cowok itu harus menjauhi Renita. Dan sudah sebulan ini Renita nggak pernah lagi melihat Nico.
Temui. Enggak. Temui. Enggak. Temui?
Aduh, Renita bingung!
Kalau ketemu, memangnya dia mau ngobrolin apa?
Tapi kalau nggak ketemu….
Renita menatap Nico yang sudah semakin dekat. Boneka susan itu semakin gugup nggak keruan.
“Ha-hai, Nic—”
Aduh, mulutmu, Re…!
Renita mingkem seketika. Dia nggak mau, ah, menyapa duluan. Nico bisa Ge-eR nanti. Tapi telanjur. Mulutnya sudah bergerak lebih dulu.
“Hai, Re,” balas Nico. Si hantu bungkus tersenyum sekilas, tapi dia nggak berhenti. Dedemit cowok itu terus melompat melewati Renita.
Renita bengong. Dia melongo. Cengo.
Kok Nico nggak berhenti? Kok dedemit cowok itu terus saja?
“Nico!” panggil Renita.
Nico berhenti dan berbalik. “Ya?”
“Eh? Ah… apa kabar?”
“Baik. Lo?”
“Baik juga.”
“Oh.”
“Oh.”
Renita kepingin salto sekarang. Obrolan macam apa ini? Boneka susan itu canggung. Nico juga sepertinya nggak ingin melanjutkan obrolan.
“Oke. Gue duluan,” pamit Nico.
“Ke mana?” tanya Renita cepat. Dia nggak rela. Dia benar-benar nggak rela Nico pergi. Jadi, dedemit cewek itu melakukan hal paling memalukan dalam kamus matinya: menahan Nico apa pun caranya.
“Pulang.”
“Ke kuburan?”
“Ke rumah.”
“Rumah?”
Nico mengedikkan bahu. “Rumah sebelum gue meninggal.”
Renita mengangguk-angguk. Dia menatap Nico kemudian. “Bo-boleh ikut?”
“Lo nggak bisa pergi dari sini, Re.”
Mampus! Renita lupa kalau dia nggak bisa meninggalkan perempatan di luar radius 500 meter. Sekarang si boneka susan nggak punya alasan lagi. Dia nggak bisa menahan Nico. Juga nggak bisa ikut.
Nico memperhatikan perubahan raut muka Renita. Pocong itu melompat mendekat dan berjongkok di samping si boneka susan.
“Pengen ngomong sesuatu?” tanya Nico.
Renita nggak tahan lagi. Dia menghambur ke arah Nico, membuat pocong itu terjengkang. Biar saja dia jadi terlihat seperti cewek agresif. Pokoknya Renita nggak mau melepas Nico lagi.
Renita merambat ke dada Nico.
“Re?”
“Susan!” sergah Renita. “Lo selalu manggil gue Susan sebelumnya.”
“Itu karena gue suka lo.”
“Sekarang nggak?”
“Memangnya lo suka?”
“Gu-gue….”
“Apa?”
“Gu-gue …,” Renita panas dingin. Kok kesannya kayak dia mau nembak, sih? Enggak, enggak!
Renita menggeleng kencang. “Gue nggak sangguuup!” teriaknya sambil melorot dari dada Nico. Renita mau kabur. Pokoknya dia harus kabur!
Sayangnya Nico lebih cekatan. Entah sejak kapan tangan dedemit cowok itu keluar dari bungkusannya. Dia menyambar lengan Renita sebelum boneka seukuran piyik itu bisa mengesot ke mana pun.
“Dan gue nggak tahan,” kata Nico. Dia menelengkan kepala mencari mata Renita. Dedemit cowok itu tersenyum. “Gue nggak tahan jauh dari lo.”
Oh, Tuhan …, Renita kepingin menggali tanah dan mengubur dirinya sekarang. Dia malu. Benar-benar malu. Kenapa hanya dengan begitu saja si boneka susan merasa seperti cokelat yang meleleh? Padahal sebelum-sebelumnya juga si pocong kredibel sering menggombalinya. Tapi Renita nggak sealay ini menanggapinya. Kenapa sekarang dia jadi norak? Kenapaaa…?
Fiuuuh!
Nico meniup pipi Renita.
“Apa?!” teriak Renita nyaris membentak. Dia sendiri kaget dengan reaksinya yang spontan itu.
“Nah.” Nico duduk dan menarik Renita lebih dekat, “Susan gue kembali.”
“Su-susan gue? Sejak kapan gue jadi Susan lo?” Renita kembali ketus. Padahal sebenarnya jauh di lubuk hatinya dedemit cewek berwujud boneka susan itu berbunga-bunga. Dia ketus justru untuk menutupi kegugupannya.
“Ngaku aja deh, Re!”
Eh? Renita celingukan. Barusan sepertinya dia mendengar suara Abel. Apa cuma perasaannya? Nggak mungkin Abel ada di sini, kan? Cewek itu belum memaafkannya.
Nico melingkarkan lengannya di pinggang kecil Renita.
“Mau kenalan sama adik gue?”
“Adik?”
Renita memicing curiga. Ada binar-binar keusilan di mata Nico. Renita bisa mengendusnya karena semasa hidup si Harley Queen KW10 sering memperlihatkan binar serupa. Terutama ketika dia merencanakan sesuatu.
Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang. Spontan Renita menoleh. Matanya membelalak.
“Hai, Re,” sapa Abel. Dia bersama Iko. Persis seperti angka 10. Eh, tapi ini bukan saatnya bercanda.
Renita menatap Nico. “Dia…?”
Nico mengangguk. “Adik gue.”
“Kok?”
“Panjang.”
“Hah?”
Nico mengangkat tubuh boneka Renita dan berdiri. “Siap?”
“Hah???”
Cup.
Nico mengecup kening Renita. Yang dikecup hanya bengong. Nggak ngerti mesti bereaksi bagaimana. Apa dia harus tersipu dengan manis? Tersenyum? Mengatakan cinta—eh?
Saat Renita masih sibuk memproses apa yang baru saja terjadi, dia merasakan kaki bonekanya menghangat. Rasa hangat yang menjalar naik. Terus naik diiringi percik-percik api di sekitarnya. Udara bergerak-gerak di sekitarnya seperti menahannya agar tetap melayang.
Nico melepas pelukannya dan membiarkan si boneka susan melayang-layang di udara.
Renita menatap lengan bonekanya. “Apa yang…?”
“Gue maafin lo, Re,” sahut Abel seraya tersenyum. “Maaf sudah membuat lo terjebak di tubuh boneka susan.”
Pendaran-pendaran cahaya di sekeliling Renita semakin banyak dan semakin terang. Mengelilingi tubuhnya, membungkusnya, mengangkatnya naik lebih tinggi. Rasa hangat yang dirasakan Renita berubah panas. Lalu tubuh bonekanya yang terbuat dari kain mulai terbakar. Renita melihat lengannya yang begitu saja terbakar dan menjadi debu yang menghilang tersapu angin.
Samar-samar di balik lengan bonekanya yang terbakar… Renita dapat melihat tangannya. Benar-benar tangannya sendiri. Tampak transparan dan berkilau tertimpa sinar bulan. Dan, ketika tubuh bonekanya telah sepenuhnya terbakar menjadi abu… Renita memiliki wujudnya kembali. Seorang perempuan bermata sipit dengan kaki jenjang dan tanda lahir berbentuk hati di pipinya. Renita kembali ke wujud aslinya. Dalam versi transparan.
Angin dan pendaran cahaya yang melingkupi Renita mulai memudar. Mengantarkan Renita melayang pelan ke permukaan.
Renita menatap lengannya dan menyentuh wajahnya. “Gue?”
“Lo pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik, Re,” kata Abel. “Sekalipun setelah mati.”
Air mata berkilauan membuncah dari kedua mata Renita. Mantan boneka susan itu melayang ke hadapan Abel, memeluknya.
“Makasih, Bel, dan maaf gue udah jahat banget sama lo selama ini.”
“Gue juga minta maaf udah biarin lo menderita cukup lama di kehidupan kedua lo ini.”
“Nah,” sela Nico tiba-tiba, “kalau sudah selesai acara maaf-maafan dan temu kangen kalian… boleh gue usul sesuatu?”
“Ih, Abang gangguin momen penting, deh!” protes Abel seraya tersenyum dan menyeka air matanya. “Mau dipeluk juga sama Renita?”
“Abel!” Semburat kemerahan tampak di kedua pipi Renita yang transparan dan berkilau. Dia melepas pelukannya dan mengusap bekas air mata di pipinya.
“Ini bukan tentang gue.” Nico menunjukkan cengirannya yang mencurigakan.
“Lalu?”
Si hantu bungkus mendengus. “Kalian cewek-cewek terlalu sibuk sama dunia kalian, sampai nggak sadar sedari tadi ada tokoh yang kalian lupakan,” katanya sok bijak dengan sebelah tangan berkacak pinggang dan tangan yang lain menutup wajahnya.
Abel dan Renita berpandangan. “Hah?”
“Iko,” panggil Nico, “lo nggak pengen ngomong sesuatu sama Abel?”
Abel menoleh. Renita juga ikut penasaran. Tapi Nico menarik lengannya dan membawanya mundur.
“Biar mereka selesaikan sendiri,” bisik Nico seraya membawa Renita pergi.
Abel mendekat ke arah Nico. “Mau ngomong apa, Ko?” tanya Abel.
“Mungkin semacam pernyataan cinta,” sahut Nico cepat dari kejauhan. Hantu pocong itu terkikik kemudian, mengabaikan tatapan bertanya-tanya dari Renita.
Iko sendiri masih bungkam. Tangannya bergerak menggaruk tengkuk. Dia tampak gugup. Kikuk. Canggung.
“Bener, Ko?” tanya Abel.
Iko menarik napas panjang dan mengembuskannya. Dia mengangguk setelahnya.
“Sejak kapan?”
Iko menatap ke samping. “Sejak gue melihat seorang anak perempuan menangis diam-diam di belakang kelas saat kelas 1 SMP.”
Kedua mata Abel melebar. “Selama itu?”
Iko tersenyum miris. Hari itu adalah pertama kalinya dia melihat Abel. Anak perempuan bertubuh besar, mata bulat, pita merah jambu. Anak itu sendirian di belakang kelas. Menangis. Itu… adalah pertama kalinya Iko merasakan desir aneh di dadanya. Meski dia nggak kenal anak perempuan itu, Iko yakin itu adalah pertama kalinya dia merasa jatuh cinta.
Ketika kelas 3, Iko bersyukur dia bisa satu kelas dengan anak perempuan itu. Berkenalan. Dan akhirnya bersahabat hingga sekarang. Itu… waktu yang lama sekali untuk memendam cinta, bukan?
Air mata kembali meleleh di pipi Abel. Cewek itu menubruk Iko, membuat si cowok cungkring kurus kering terjengkang dan merasakan kerasnya aspal. Ditambah dengan berat badan Abel, pula!
Iko mengerang. “Lo… nggak marah, Bel?”
Abel mengerjap. “Kenapa harus marah?”
“Gue pikir lo suka sama Egi.”
“Nggak usah bahas soal playboy cap kampung itu, deh.” Abel mendengus.
Oh, jadi Abel sudah move on.
“Abel,” panggil Iko.
“Ya?”
“Gue… nggak kuat lagi….”
“Hah?”
“Badan gue ….” Iko kembali mengerang. Jujur saja, ditubruk cewek bongsor hingga terjengkang di aspal itu benar-benar sakit. Lebih-lebih tertindih tubuhnya. Sebagai cowok kurus kerempeng bagai kurang makan, Iko bisa apa?
Abel tersipu. Pelan-pelan di berdiri dan membantu Iko bangkit.
Iko memeluk Abel. “Gue sayang banget sama lo, Bel,” bisik si cungkring.
Abel mengangguk. “Gue juga,” jawabnya lirih.
Kedua insan beda ketebalan lemak itu terus berpelukan cukup lama. Mereka tidak menyadari kalau sedari tadi diam-diam Nico dan Renita mengintip dari balik pohon besar. Sepasang hantu baru jadian itu terkikik di sana.
Setelah memastikan adiknya baik-baik saja, Nico menarik lengan Renita dan membawanya ke titik yang merupakan batas radius 500 meter Renita.
“Siap?” tanya Nico.
Renita mengangguk. Nico menarik lengannya melewati batas itu. Renita bebas. Dia sudah bebas sekarang. Dedemit cewek itu mengikuti Nico terbang tinggi.
“Lo berhutang penjelasan sama gue, Nic,” kata Renita. “Soal Abel.”
Nico mengedikkan bahu. Dia nyengir lebar. “Cium dulu.”
TAMAT

Other Stories
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Cinta Di Ibukota

Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...

Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

Air Susu Dibalas Madu

Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...

Kucing Emas

Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...

Dari Luka Menjadi Cahaya

Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...

Download Titik & Koma